بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Kebatilan Adanya Hijab (Penghalang) 3
ثم ذكر التاسع فقال
[ كيف يتصور أن يحجبه شىء ولولاه لما ظهر وجود كل شىء ]
قال الله تعالى :( وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا ) وقال تعالى : ( إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
فكل ماظهر فى عالم الشهادة فهو فائض من عالم الغيب ، وكل ما برز فى عالم الملكوت فهو فائض من بحر الجبروت ، فلا وجود للأشياء إلا منه ، ولاقيام لها إلا به ، ولا نسبة لها معه ، إذ هى عدم محض ، وعلى توهم وجودها فهى حادثة فانية ولانسبة للعدم مع الوجود ، ولا للحادث مع القديم ولذلك تعجب الشيخ من اجتماعهما فقال
ياعجبًا كيف يظهر الوجود فى العدم ؟ أم كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم
قلت : وهذا هو العاشر ، فالوجود والعدم ضدان لايجتمعان ، والحادث والقديم متنافيان لايلتقيان . وقد تقرر أن الحق واجب الوجود ، وكل ماسواه عدم على التحقيق ، فإذا ظهر الوجود انتفى ضده وهو العدم ، فكيف يتصور أن يحجبه وهو عدم ؟ فالحق لايحجبه الباطل . قال تعالى : ( فَذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ ۖ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلَّا الضَّلَالُ )(١)
فلا وجود للأشياء مع وجوده ، فانتفى القول بالحلول ، إذ الحلول يقتضى وجود السِّوى حتى يحل فيه معنى الربوبية . والفرض أن السُّوى عدم محض فلا يتصور الحلول ، وإلى هذا أشار فى العينية بقوله
وَنَزِّهْهُ فِي حُكْمِ الْحُلُولِ فَمَا لَهُ ... سِوَى، وَإِلَى تَوْحِيدِهِ الْأَمْرُ رَاجِعُ
والقديم والحادث لايلتقيان ، فإذا قرن الحادث بالقديم تلاشى الحادث وبقى القديم .
قال رجل بين يدى الجنيد رضى الله عنه : الحمد لله ولم يقل رب العالمين ، فقال له الجنيد كمله يا أخى ، فقال له الرجل : وأى قدر للعالمين حتى يذكروا معه ؟ فقال الجنيد قله يا أخى ، فإن الحادث إذا قرن بالقديم تلاشى الحادث وبقى القديم اه
Perkara Kesembilan
Kemudian beliau
menyebutkan perkara yang kesembilan, lalu berkata:
كيف يتصور أن يحجبه شىء ولولاه لما ظهر وجود كل شىء
[Bagaimana mungkin dibayangkan
ada sesuatu yang dapat menghijabi-Nya, padahal jikalau bukan karena Dia,
niscaya tidak akan tampak wujud segala sesuatu?]
Allah Ta'ala berfirman:
"...dan Dia telah
menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan
serapi-rapinya." (QS. Al-Furqan: 2).
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Kami
menciptakan segala sesuatu menurut ukuran." (QS. Al-Qamar: 49).
Maka segala wujud yang
tampak di alam syahadah (alam nyata) adalah pancaran (faidh) dari alam gaib, dan segala sesuatu yang muncul
di alam malakut merupakan pancaran dari samudra jabarut. Oleh karena itu, tidak ada wujud bagi segala
sesuatu melainkan bersumber dari-Nya, tidak ada kelangsungan bagi makhluk
melainkan karena ditopang oleh-Nya, dan tidak ada nisbah
(perbandingan/kesetaraan) bagi makhluk di hadapan-Nya, sebab makhluk pada
hakikatnya adalah ketiadaan murni ('adam mahdh).
Kalalupun keberadaan makhluk itu diwahamkan (dianggap ada), statusnya hanyalah
sesuatu yang baru (hadits) lagi sirna (fani). Sungguh tidak ada perbandingan antara ketiadaan
dengan wujud, tidak pula antara yang baru dengan Yang Maha Dahulu (Al-Qadim). Karena itulah Syekh merasa heran atas
berhimpunnya kedua hal tersebut, lalu beliau berkata:
ياعجبًا كيف يظهر الوجود فى العدم ؟ أم كيف يثبت الحادث مع من له وصف القدم
[Sungguh mengherankan,
bagaimana mungkin wujud bisa tampak di dalam ketiadaan? Atau bagaimana mungkin
yang baru (makhluk) bisa tetap eksis bersama Zat yang memiliki sifat Maha
Dahulu?]
Aku (penulis) berkata:
Dan ini adalah perkara yang kesepuluh. Wujud dan
ketiadaan ('adam) adalah dua hal yang saling berlawanan yang tidak
mungkin bersatu, sedangkan yang baru (hadits) dan Yang
Maha Dahulu (قديم) adalah dua hal yang
saling menafikan sehingga tidak mungkin bertemu. Telah ditetapkan secara
prinsip bahwa Al-Haq (Allah) adalah Wajib al-Wujud
(Wajib adanya), sedangkan segala sesuatu selain-Nya pada hakikatnya adalah
ketiadaan ('adam). Maka apabila Wujud yang hakiki itu tampak,
sirnalah kebalikannya, yaitu ketiadaan. Lalu bagaimana mungkin dibayangkan
sesuatu dapat menghijabi-Nya padahal sesuatu itu adalah ketiadaan? Sungguh Al-Haq tidak dapat dihijabi oleh kebatilan. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka Zat yang demikian
itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu
melainkan kesesatan."
(QS. Yunus: 3).
Maka tidak ada wujud
yang mandiri bagi segala sesuatu di samping wujud-Nya, sehingga gugurlah paham hulul (penitisan Tuhan ke dalam makhluk). Sebab, paham hulul mensyaratkan adanya pihak lain (al-siwa) agar makna ketuhanan bisa menitis di dalamnya.
Padahal landasannya adalah bahwa selain Allah itu pada hakikatnya tiada murni ('adam mahdh), sehingga paham hulul
menjadi mustahil dibayangkan. Isyarat mengenai hal ini tertuang dalam kitab Al-'Ainiyyah melalui perkataannya:
Dan bersihkanlah (sucikanlah)
Dia dari hukum penitisan (hulul), karena tidak ada selain diri-Nya... dan hanya
kepada keesaan-Nya segala urusan dikembalikan.
Yang Maha Dahulu (Al-Qadim) dan yang baru (Al-Hadits) tidak
akan pernah bisa bertemu. Apabila yang baru disandingkan dengan Yang Maha
Dahulu, niscaya yang baru itu akan lebur/sirna dan yang tersisa hanyalah Yang
Maha Dahulu.
Ada seorang laki-laki
berucap di hadapan Imam Al-Junayd radhiyallahu 'anhu: "Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah),"
tanpa meneruskannya dengan kalimat Rabbil 'alamin. Maka
Al-Junayd berkata kepadanya: "Sempurnakanlah ucapannmu,
wahai saudaraku." Lelaki itu menjawab: "Apalah arti alam semesta ini hingga harus disebut-sebut di
samping nama-Nya?" Al-Junayd kembali berkata: "Ucapkanlah (sempurnakanlah) wahai saudaraku, karena
sesungguhnya sesuatu yang baru jika disandingkan dengan Yang Maha Dahulu,
niscaya yang baru itu akan lebur/sirna dan yang tersisa hanyalah Yang Maha
Dahulu." Selesai.
فقد تقرر أن الأشياء كلها فى حيز العدم إذ لايثبت الحادث مع من له وصف القدم ، فانتفى القول بالاتحاد ، إذ معنى الاتحاد هو اقتران القديم مع الحادث ، فيتحدان حتى يكونا شيئًا واحدًا وهو محال ، إذ هو مبنى أيضًا على وجود السوى ، ولاسوى ، وقد يطلقون الاتحاد على الوحدة كقول ابن الفارض
وَهَامَتْ بِهَا رُوحِي بِحَيْثُ تَمَازُجًا ... اِتِّحَادًا وَلَا جِرْمٌ تَخَلَّلَهُ جِرْمُ
فأطلق الاتحاد على اتصال الروح بأصلها بعد صفاتها ، ولذلك قال بعده "ولا جرم تخلله إلخ" فتحصل أن الحق سبحانه واحد فى ملكه ، قديم أزلى باق أبدى ، منزه عن الحلول والاتحاد ، مقدس عن الشركاء والأضداد ، كان ولا أين ولامكان ، وهو الآن على ماعليه كان ، ومما ينسب لسيدنا على كرم الله وجهه
رَأَيْتُ رَبِّي بِعَيْنِ قَلْبِي ... فَقُلْتُ لَا شَكَّ أَنْتَ أَنْتَ
أَنْتَ الَّذِي حُزْتَ كُلَّ أَيْنٍ ... بِحَيْثُ لَا أَيْنَ ثُمَّ أَنْتَ
فَلَيْسَ لِلْأَيْنِ مِنْكَ أَيْنٌ ... فَيَعْلَمُ الْأَيْنُ أَيْنَ أَنْتَ
وَلَيْسَ لِلْوَهْمِ فِيكَ وَهْمٌ ... فَيَعْلَمُ الْوَهْمُ كَيْفَ أَنْتَ
أَحَطْتَ عِلْمًا بِكُلِّ شَيْءٍ ... فَكُلُّ شَيْءٍ أَرَاهُ أَنْتَ
وَفِي فَنَائِي فَنَا فَنَائِي ... وَفِي فَنَائِي وَجَدْتُ أَنْتَ
وسئل أبو الحسن النُّوْرِيّ رضى الله عنه أين الله من مخلوقاته ؟ فقال : كان الله ولا أين والمخلوقات فى عدم فكان حيث هو ، وهو الآن حيث كان ، إذ لا أين ولامكان ، فقال له السائل وهو على بن ثور القاضى فى قصة محنة الصوفية ، فما هذه الأماكن والمخلوقات الظاهرة ؟ فقال : عزّ ظاهر ، وملك قاهر ، ومخلوقات ظاهرة به وصادرة عنه ، لاهى متصلة به ولامنفصلة عنه ، فرغ من الأشياء ولم تفرغ منه ، لأنها تحتاج إليه وهو لايحتاج إليها ؛ قال له صدقت ؛ فأخبرنى ماذا أراد الله بخلقها ؟ قال : ظهور عزّته وملكه وسلطانه ، قال صدقت ؛ فأخبرنى مامراده من خلقه ، قال : ماهم عليه ، قال أويريد من الكفرة الكفر ؟ قال : أفيكفرون به وهو يكره ؟ ثم قال : أخبرنى ماذا أراد الله باختلاف الشيع وتفريق الملل ؟ قال : أراد إبلاغ قدرته ، وبيان حكمته ، وإيجاب لطفه ، وظهور عدله وإحسانه اهـ المراد منه
وفيه إشارة إلى أن تجليات الحق على ثلاثة أقسام : قسم أظهرهم ليظهر فيهم كرمه وإحسانّه ، وهم أهل الطاعة والإحسان . وقسم أظهرهم ليظهر فيهم عفوّه وحلمه ، وهم أهل العصيان من أهل الايمان . وقسم أظهرهم ليظهر فيهم نقمته وغضبه ، وهم أهل الكفر والطغيان ؛ فهذا سر تجليه تعالى فى الجملة ، والله تعالى أعلم
Maka telah ditetapkan
secara prinsip bahwa segala sesuatu (makhluk) itu berada dalam ruang ketiadaan
('adam), karena yang baru (hadits) tidak akan
bisa tetap eksis di samping Zat yang memiliki sifat Maha Dahulu (Al-Qadim). Oleh karena itu, gugur pula paham ittihad (penyatuan hamba dengan Tuhan), sebab makna ittihad adalah bertemunya Yang Maha Dahulu dengan yang
baru, lalu keduanya menyatu sehingga menjadi satu kesatuan, dan hal ini adalah
mustahil. Mengapa? Karena paham ini juga didasarkan atas anggapan adanya wujud
selain Allah (al-siwa), padahal selain-Nya itu tidak ada (tiada).
Namun, terkadang para ulama sufi menggunakan istilah ittihad
untuk menggambarkan wahdah (keesaan/kedekatan yang
mendalam), seperti perkataan Ibnu al-Faridh:
Dan ruhku telah terpikat mabuk
kepayang kepada-Nya, sekira keduanya bercampur baur... Sebagai suatu penyatuan
(ittihad), tanpa adanya suatu fisik (jirm) yang menyusup ke dalam fisik yang
lain.
Beliau menggunakan
istilah ittihad untuk menggambarkan tersambungnya ruh dengan
asalnya setelah sifat-sifat kemakhlukannyanya sirna. Oleh karena itu, beliau
menyambungnya dengan kalimat "tanpa adanya suatu fisik
yang menyusup..." Maka kesimpulannya adalah bahwa Allah
Subhahahu wa Ta'ala Maha Esa di dalam kerajaan-Nya, Maha Dahulu (Qadim), Azali, Kekal (Baqi), lagi Abadi.
Dia disucikan dari paham hulul (penitisan)
dan ittihad (penyatuan fisik), serta Maha Suci dari
sekutu-sekutu maupun tandingan-tandingan. Dia telah ada ketika belum ada kata
"di mana" (arah) dan belum ada tempat, dan Dia yang sekarang adalah
tetap seperti ada-Nya yang semula.
Di antara bait syair
yang dinisbatkan kepada Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah
adalah:
Aku melihat Tuhanku dengan mata
hatiku... Maka aku berucap: "Tidak ada keraguan, Engkaulah Engkau."
Engkaulah Zat yang meliputi
segala arah (di mana)... Sekira tidak ada lagi arah di sana, namun di situlah
Engkau.
Maka tidak ada bagi ruang/arah
itu tempat di hadapan-Mu... Sehingga ruang itu tahu di mana Engkau berada.
Dan tidak ada bagi
prasangka/waham tempat untuk menjangkau-Mu... Sehingga waham itu tahu bagaimana
rupa-Mu.
Ilmu-Mu telah meliputi segala
sesuatu... Maka setiap sesuatu yang kulihat (hakikat penciptaannya) adalah
tanda wujud-Mu.
Dan di dalam kefanaanku, sirna
pulalah kefanaanku itu... Dan di dalam kefanaanku, aku menemukan Engkau.
Abu al-Hasan an-Nuri radhiyallahu 'anhu pernah ditanya: "Di manakah Allah dari makhluk-makhluk-Nya?"
Beliau menjawab: "Allah telah ada ketika belum ada kata
'di mana' (arah) dan makhluk masih berada dalam ketiadaan, maka Dia berada
sebagaimana keberadaan-Nya (yang mutlak). Dan Dia yang sekarang adalah tetap
berada di mana Dia berada dahulu, karena tidak ada arah dan tidak ada tempat
bagi-Nya."
Maka si penanya—yaitu
Ali bin Tsaur Al-Qadhi dalam kisah ujian/mihnah para ulama sufi—bertanya lagi: "Lalu apa maksud dari tempat-tempat dan makhluk-makhluk yang
tampak nyata ini?" Beliau menjawab: "Itu
adalah tanda keagungan-Nya yang tampak, kerajaan-Nya yang menundukkan, dan
makhluk-makhluk yang tampak karena-Nya serta bersumber dari-Nya.
Makhluk-makhluk itu tidaklah menempel (menyatu fisik) dengan-Nya dan tidak pula
terpisah (mandiri wujudnya) dari-Nya. Allah telah selesai dari penciptaan
segala sesuatu namun segala sesuatu tidak pernah lepas dari-Nya, karena makhluk
butuh kepada-Nya sedangkan Dia tidak butuh kepada makhluk."
Orang itu berkata: "Engkau benar. Maka kabarkan kepadaku, apa yang Allah
kehendaki dengan menciptakan makhluk-makhluk ini?" Beliau
menjawab: "Untuk menampakkan keagungan-Nya, kerajaan-Nya, dan
kekuasaan-Nya." Orang itu berkata: "Engkau benar. Maka
kabarkan kepadaku, apa kehendak-Nya atas apa yang dilakukan makhluk-Nya?"
Beliau menjawab: "Sesuai dengan kondisi yang sedang mereka
jalani." Orang itu bertanya lagi: "Apakah Dia menghendaki
kekufuran dari orang-orang kafir?" Beliau menjawab: "Apakah mereka bisa kufur kepada-Nya sedangkan Dia dipaksa
(tidak berkuasa)?" Kemudian orang itu berkata: "Kabarkan kepadaku, apa yang Allah kehendaki dengan adanya
perbedaan kelompok dan terpecah-belahnya berbagai penganut agama?"
Beliau menjawab: "Dia menghendaki tersampaikannya
kodrat/kekuasaan-Nya, kejelasan hikmah-Nya, kepastian kelembutan-Nya, serta
tampaknya keadilan dan kebaikan-Nya." Selesai maksud dari
nukilan tersebut.
Di dalam teks ini
terdapat isyarat bahwa tajalli (penampakan diri/kuasa) Al-Haq (Allah) terbagi menjadi tiga macam:
1.
Golongan yang dimunculkan-Nya untuk menampakkan kemurahan dan
kebaikan-Nya pada mereka, yaitu ahli ketaatan dan orang-orang yang berbuat
ikhsan (muhsinin).
2.
Golongan yang dimunculkan-Nya untuk menampakkan ampunan dan
kesantunan-Nya pada mereka, yaitu ahli maksiat dari kalangan orang-orang yang
beriman.
3.
Golongan yang dimunculkan-Nya untuk menampakkan siksaan dan
kemurkaan-Nya pada mereka, yaitu ahli kufur dan orang-orang yang melampaui
batas (thughyan).
Maka inilah rahasia
tajalli Allah Ta'ala secara garis besar, dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui.
فذلكة:حاصل مااشتمل عليه هذا الباب من أول الكتاب ثلاثة أمور : عمل الشريعة والطريقة والحقيقة . أو تقول : عمل الإسلام والإيمان والإحسان ، وهى البداية والوسط والنهاية . ومن علامة النجح فى النهاية الرجوع إلى الله فى البداية ، فأمرك بالرجوع إليه والاعتماد عليه دون الاعتماد على العمل مع وجود العمل ، ثم دَلّك على الأدب فى حال التجريد والأسباب ، ثم نهاك فى حالة المسير عن شغل باطنك بكدّ التدبير ، فإنه سبب التكدير . ثم أنهضك إلى الاجتهاد فى الأعمال المطلوبة منك مع التقصير فيها هو مضمون لك ، ليكون سببًا فى فتح بصيرتك ، ومن جملة ماهو مضمون ماتطلبه بدعائك فلا تستعجل ماتأخر عن وقته ، ولاتيأس من رحمته . وإذا وعدك بشيء فلاتشك فى وعده لاتتهمه فيما ينزل بك من تعرفاته وقهره ، فهذه أعمال أهل البدايات اختلفت أجناسها باختلاف أحوالهم ، فقوله : من علامة الاعتماد على العمل إلى قوله : الأعمال صور قائمة كله من عمل الشريعة الذى هو مقام الإسلام ، وقوله الأعمال صورة قائمة إلى قوله الكون كله ظلمة هو من عمل الطريقة الذى هو مقام الإيمان ، ومداره على تخليص الباطن وتهذيبه فأمرك بالإخلاص والصدق وهو سر الإخلاص والخمول ، لأنه محله ومظهره ، والعزلة لتتمكن من الفكرة وتصفية مرآة القلب من صور الأكوان لتتهيأ لإشراق شموس العرفان ثم فتح لك الباب ورفع عنك الحجاب وقال لك هاأنت وربك ، وهو قوله : الكون كله ظلمة إلى آخر الباب ، فقد قطع لك توهم الحجاب من جميع الوجوه فجزاه الله أحسن جزائه ، ومتعه برضوانه مع أنبيائه وأحبائه ، وخرطنا فى سلوكهم مع كافة الأحباب آمين
ولما أدخلك الحضرة دلك على آدابها فقال فى أول الباب الثانى مترجمًا عنها من بعض التلامذة بقوله : وقال رضى الله عنه : وجملة أبوابه خمسة وعشرون بابًا وثلاث رسائل وجواب ثم مناجاة
Fadzlakah (Ringkasan/Kesimpulan Keseluruhan)
Kesimpulan dari apa
yang terkandung di dalam bab ini sejak awal kitab mencakup tiga hal: Amal Syariat, Tarikat, dan Hakikat. Atau bisa engkau
katakan: Amal Islam, Iman, dan Ihsan, yang merupakan tahapan
awal (Bidayah), pertengahan (Wasath), dan akhir (Nihayah).
Di antara tanda
keberhasilan di masa akhir (nihayah) adalah
bersandar (kembali) kepada Allah sejak masa awal (bidayah). Maka dari
itu, pengarang memerintahkanmu untuk kembali kepada-Nya dan bersandar
kepada-Nya, bukan bersandar pada amal perbuatan meskipun amal itu tetap
dijalankan. Kemudian, beliau menunjukkan kepadamu tentang adab dalam kondisi tajrid (fokus ibadah tanpa bekerja) maupun kondisi asbab (bekerja mencari nafkah). Selanjutnya, beliau
melarangmu—saat menempuh jalan spiritual—untuk menyibukkan batinmu dengan
kepayahan dalam mengatur/merencana urusan duniawi (tadbir), karena hal
itu menjadi penyebab kekeruhan hati.
Lalu, beliau
mendorongmu untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan amal-amal yang dituntut
darimu, di samping tidak memedulikan (tidak mencemaskan) apa yang sudah dijamin
untukmu (seperti rezeki), agar hal tersebut menjadi sebab terbukanya mata
batinmu (bashirah). Di antara hal yang sudah dijamin adalah apa
yang engkau minta melalui doamu; maka janganlah engkau tergesa-gesa meminta
dikabulkan atas apa yang tertunda dari waktunya, dan jangan pula berputus asa
dari rahmat-Nya.
Apabila Dia
menjanjikan sesuatu kepadamu, janganlah engkau meragukan janji-Nya. Jangan
engkau berprasangka buruk kepada-Nya atas apa yang menimpamu, baik berupa
pengenalan-Nya (ta'arufat) maupun sifat
keperkasaan-Nya (qahar). Ini semua adalah
jenis-jenis amalan bagi para penempuh awal (ahlul bidayah) yang
beraneka ragam sesuai dengan perbedaan kondisi spiritual mereka.
·
Ranah Syariat (Makam Islam): Perkataan pengarang mulai dari "Di antara tanda bersandar
pada amal..." hingga perkataannya "Amal perbuatan itu adalah
kerangka-kerangka yang tegak..." seluruhnya adalah bagian dari amal Syariat, yang merupakan makam Islam.
·
Ranah Tarikat (Makam Iman): Sedangkan perkataan beliau mulai dari "Amal perbuatan itu adalah kerangka yang tegak..."
hingga perkataannya "Alam semesta ini seluruhnya adalah kegelapan..."
merupakan bagian dari amal Tarikat, yang merupakan makam
Iman. Inti bahasannya bertumpu pada pembersihan batin dan pendidikannya (tahdzib). Oleh karena itu, pengarang memerintahkanmu
untuk ikhlas dan jujur—yang merupakan rahasia dari ikhlas itu sendiri—serta
memilih ketidakterkenalan (khumul), karena di
situlah tempat dan wadah tampaknya keikhlasan. Beliau juga memerintahkan uzlah
agar engkau mampu bertafakur dan menjernihkan cermin hati dari gambaran
makhluk/alam semesta, sehingga hatimu siap menerima pancaran sinar makrifat (syumus al-'irfan).
·
Ranah Hakikat (Makam Ihsan): Kemudian pengarang membukakan pintu untukmu, menyingkap hijab
darimu, dan seolah berkata kepadamu: "Inilah engkau dan
Tuhanmu." Hal ini tertuang dalam perkataannya: "Alam semesta ini seluruhnya adalah kegelapan..."
sampai akhir bab. Sungguh, beliau telah memutus dugaan/waham adanya hijab
(penghalang antara hamba dan Allah) dari segala sisi.
Semoga Allah membalas
beliau dengan balasan terbaik-Nya, dan memberikan anugerah keridaan-Nya bersama
para nabi dan kekasih-Nya, serta memasukkan kita ke dalam jalan spiritual
mereka bersama seluruh orang-orang tercinta. Amin.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.