بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Ridha dengan
Pilihan Allah
الرضا باختيار الله
ولما كان الاجتهاد في المضمون كله مذموم كان بالفعل كما تقدم أو بالقول ، وهو الاستعجال في تحصيله قبل إبانه بالدعاء أو بغيره ، أشار إلى ذلك بقوله
لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء موجبا ليأسك ، فهو ضمن لك الإجابة فيما يختار لك لافيهما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد
قلت : الإلحاح فى الشيء هو تكرره من وجه واحد ، والدعاء : طلب مصحوب بأدب في بساط العبودية لجناب الربوبية ، والموجب للشيء ما كان. أصلا في وجوده ، واليأس قطع المطامع
اعلم أن من أسمائه تعالى القيوم ، وهو مبالغة في القيام ، فقد قام تعالى بأمر خلقه من عرشه إلى فرشه ، وعين لكل مظهر وقتاً محدوداً وأجلا معلوما ، ولكل واحد شكلا معلوما ورزقاً مقسوما
( فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ )
فإذا تعلق قلبك بحاجة من حوائج الدنيا والآخرة ، فارجع إلى وعد الله واقنع بعلم الله ، ولا تحرص ، ففى الحرص تعب ومذلة
قال شيخ شيخنا مولاى العربى رضى الله عنه : الناس تقضي حوائجهم بالحرص فيها والجرى عليها ، ونحن نقضى حوائجنا بالزهد فيها والاشتغال بالله عنها اهـ
Karena usaha
keras dalam apa yang telah dijamin sepenuhnya adalah tercela, baik melalui perbuatan
sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, maupun melalui ucapan, yaitu mempercepat
pencapaiannya sebelum waktunya dengan doa atau cara lain, ia menunjukkan hal ini
dengan berkata:
لاتكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح فى الدعاء موجبا ليأسك، فهو ضمن لك الإجابة فيما
يختار لك لا فيما تختار لنفسك، وفى الوقت الذى يريد لا فى الوقت الذي تريد
“Janganlah
keterlambatan waktu pemberian dengan kegigihan dalam doa menyebabkan
keputusasaanmu.
Sebab, Dia telah menjamin bagimu jawaban dalam apa yang Dia pilih untukmu, bukan
dalam apa yang engkau pilih untuk dirimu sendiri, dan pada waktu yang Dia
kehendaki, bukan
pada waktu yang engkau inginkan.”
Ilhāh
dalam sesuatu adalah
pengulangannya dari satu sisi. Du‘ā’
adalah permintaan
yang disertai
adab di hadapan keabdian untuk kebesaran ketuhanan. Mujib
sesuatu adalah apa yang
menjadi asal keberadaannya. Ya’s adalah
memutuskan harapan.
Ketahuilah
bahwa di antara nama-nama-Nya Yang Maha Tinggi adalah al-Qayyūm,
yaitu
kelebihan dalam keberdirian. Dia telah mengurus urusan ciptaan-Nya dari
‘ArsyNya hingga hamparan-Nya, menetapkan waktu yang terbatas dan batas yang
diketahui untuk setiap
penampakan, serta bentuk yang diketahui dan rezeki yang telah dibagi untuk setiap
individu. “Jika
waktu mereka tiba, mereka tidak akan tertunda satu jam pun dan tidak akan mendahului.” (QS.
al-A’raf: 34).
Maka, jika
hatimu terikat pada suatu kebutuhan dari kebutuhan dunia atau akhirat,
kembalilah
kepada janji Allah, puaslah dengan pengetahuan Allah, dan janganlah tamak.
Dalam
ketamakan ada keletihan dan kehinaan.
Guru dari
guru kami, Maulay al-Arabi—semoga Allah meridhainya—berkata,
‘Manusia
memenuhi kebutuhan mereka dengan ketamakan terhadapnya dan mengejarnya, sedangkan
kebutuhan kami terpenuhi dengan zuhud darinya dan kesibukan dengan Allah darinya.’
Jika harus
berdoa, maka jadikan doamu sebagai bentuk keabdian, bukan pencarian
bagian. Jika
engkau meninggalkan bagian-bagian, bagian-bagian akan tercurah kepadamu.
وإن كان ولابد من الدعاء فليكن دعاؤك عبودية لاطلبا للحظ ، فإن تركت الحظوظ صبت عليك الحظوظ ، وإن غلب عليك وارد الطلب وطلبت شيئا ثم تأخر عنك وقت العطاء فيه ، فلا تتهم الله في وعده حيث قال
( ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ )
ولا تيأس من نواله ورفده ، فإن الله قد ضمن لك الإجابة فيها يريد من خير الدنيا وخير الآخرة ، وقد يمنعك لطفا بك لكون ذلك المطلب لا يليق بك كما قال الشيخ أبو الحسن : اللهم إنا قد عجزنا عن دفع الضر عن أنفسنا من حيث نعلم بما نعلم ، فكيف لا نعجز عن ذلك من حيث لا نعلم بما لا نعلم ؟ وقد قال بعض المفسرين في قوله تعالى
( وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الخِيَرَةُ )
ما موصولة : أى ويختار الأمر الذى لهم فيه خيرتهم ، وقد يكون أجابك وعين لذلك وقتا هو أصلح لك وأنفع ، فيعطيك ذلك في الوقت الذي يريد لا في الوقت الذي تريد ، وقد يؤخر لك ذلك لدار الكرامة والبقاء وهو خير لك وأبقى . وفي الحديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم
مَا مِنْ دَاعِ إِلَّا وَهُوَ بَيْنَ إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ طَلِبَتُهُ وَإِمَّا أَن يُدْخَرَ لَهُ تَوَابُهَا ، وإِمَّا أَنْ يُصْرَفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلُهَا » الحديث
وقال الشيخ عبد العزيز المهدوى رضى الله عنه : من لم يكن في دعائه تاركا لاختياره راضيا باختيار الحق تعالى له ، فهو مستدرج ممن قيل له « اقضوا حاجته فإني أكره أن أسمع صوته » فإن كان مع اختيار الحق تعالى لا مع اختياره لنفسه كان مجابا وإن لم يعط ، والأعمال بخواتمها اهـ
Jika dorongan
pencarian menguasaimu dan engkau meminta sesuatu, lalu waktu
pemberiannya
tertunda darimu, jangan tuduh Allah dalam janji-Nya ketika Dia berfirman, ‘Berdoalah
kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.’ (QS. Ghafir:
60)
Jangan putus
asa dari pemberian dan bantuan-Nya. Sebab, Allah telah menjamin
bagimu
jawaban dalam apa yang Dia kehendaki dari kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
Kadang Dia
mencegahmu demi kelembutan kepadamu, karena apa yang engkau minta
itu tidak
pantas bagimu. Syaikh Abu al-Hasan berkata, ‘Ya Allah, kami telah lemah untuk
menolak
bahaya dari diri kami dalam hal yang kami ketahui dengan pengetahuan kami,
maka
bagaimana kami tidak lemah dalam hal yang kami tidak ketahui dengan ketidaktahuan
kami?’
Sebagian mufassir berkata tentang firman Allah, ‘Dan Tuhanmu
menciptakan apa yang Dia kehendaki
dan memilih, mereka tidak memiliki pilihan,’ bahwa mā
adalah kata sambung,
artinya ‘dan
memilih perkara yang di dalamnya ada pilihan baik bagi mereka.’ Kadang
Dia
mengabulkanmu dan menetapkan waktu yang lebih baik dan bermanfaat bagimu, lalu memberikannya
kepadamu pada waktu yang Dia kehendaki, bukan waktu yang engkau inginkan.
Kadang Dia menundanya untukmu ke negeri kemuliaan dan keabadian, yang lebih baik
dan kekal bagimu. Dalam hadits dari Rasulullah—shalawat dan salam Allah atasnya—disebutkan,
‘Tidak
ada seorang yang berdoa kecuali ia berada dalam salah satu dari tiga keadaan:
permintaannya dipercepat, pahalanya disimpan untuknya, atau keburukan yang
setara dengannya
dijauhkan darinya,’ (al-hadits).
Syaikh Abdul
Aziz al-Mahdawi—semoga Allah meridhainya—berkata, ‘Barang siapa
dalam doanya
tidak meninggalkan pilihannya dan tidak ridha dengan pilihan Hakikat Yang Maha Tinggi
untuknya, maka ia termasuk yang tertipu, yang dikatakan kepadanya, “Penuhi kebutuhannya,
karena Aku tidak suka mendengar suaranya.” Jika itu bersama pilihan Hakikat Yang
Maha Tinggi, bukan pilihannya untuk dirinya sendiri, maka ia dikabulkan meskipun
tidak diberi. Amal-amal dinilai dari akhirnya.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.