بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB 1. KETUHANAN (Sifat-sifat Allah) 7
Selain itu, kita juga sungguh menyaksikan alam raya
yang demikian agung dan indah, tertata dengan sistem-sistem hukumnya yang
rumit, berikut aktifitas dan bentuk-bentuk yang sempurna dan indah. Di dalamnya
banyak sekali kreasi yang amat menakjubkan, hukumhukum, kemanfaatan-kemanfaatan
dan berbagai keindahan yang bahkan tidak bisa ditelusuri akal secara
menyeluruh. Itu semua pasti diciptakan oleh Sang Kreator Yang Maha tahu dan
Maha bijaksana. Ketika kita melihat tulisan yang bagus atau mendengar
kata-kata yang indah, yang muncul dari makna-makna yang mendalam, kita tentu
tahu bahwa yang membuatnya pasti orang yang pintar. Demikian pula ketika
manusia memandang langit atau memandang dirinya sendiri, merenungi hubungan
antara alam atas dan alam bawah, mengamati dunia binatang yang amat beragam,
mengamati bagaimana perilaku mereka, bagaimana mereka membangun sarang, berburu
makan di gu, nung-gunung dengan perangkat tubuh yang sesuai dengan kebutuh,
annya, tentu ia tidak akan ragu bahwa Dia Yang Menciptakan semua itu sungguh
Mahatahu dan Mahabijaksana.
Allah mesti bersifat mengetahui, dan pengetahuan-Nya
melipun segala sesuatu secara seluruh, tidak sekadar meliputi sebagian tanpa
sebagian lainnya. Sebab, jika pengetahuan-Nya tidak meliputi keseluruhan dan
hanya sebagian, tentu Dia jahl (tidak mengetahui), dan ini sungguh batil.
Ada banyak sekali dalil dari Alqur’an dan hadis yang
menunjukkan kemestian Allah Ta’ala bersifat mengetahui. Di antaranya adalah
firman Allah Ta’ala, “…Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Allah Ta’ala berfirman, “Apakah Allah Yang menciptakan
itu tidak mengelahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan): dan Dia Maha Halus
lagi Maha Mengetahui?”
Allah Ta’ala berfirman, “Dia mengetahui apa yang ada di
langit dan di bumi, dan mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu
nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.”
Demikian pula para rasul telah bersepakat akan
kemestian Allah Ta’ala bersifat mengetahui. Seperti ditegaskan di dalam
Alqur’an, “(Ingatlah), hari di waktu Allah mengumpulkan para rasul, lalu Allah
bertanya (kepada mereka): “Apa jawaban kaummu terhadap (seruan)-mu?” Para rasul
menjawab: “Tidak ada pengetahuan kami (tentang itu), sesungguhnya Engkaulah
yang mengetahui perkara yang gaib.” Maksudnya adalah, pada Hari Kiamat Allah
Ta’ala befirman kepada para rasul, “Apa jawaban umat kalian terhadap kalian?
Bagaimana penerimaan mereka terhadap kalian saat kalian mengajak mereka untuk
mengesakan Aku dan menaati-Ku?” Lalu para rasul berkata, “Pengetahuan kami
tentang mereka tidak seperti pengetahuan-Mu tentang mereka, Engkau sungguh Maha
Mengetahui alam-alam gaib. Engkau sungguh mengetahui apa pun yang mereka
sembunyikan dan apa pun yang mereka tampakkan, sedangkan kami hanya mengetahui
apa yang mereka tampakkan. PengetahuanMu tentang mereka lebih meliputi dan
lebih sempurna daripada pengetahuan kami.”
Sifat kesepuluh yang mesti adanya pada Allah Ta’ala
adalah al hayat (hidup). Al-hayat yang mesti adanya pada Allah Ta’ala
merupakan sifat wujudi terdahulu yang ada dengan keberadaan Dzat-Nya, yang
merupakan syarat mutlak bagi adanya sifat al-gudrah, al-iradah, al-‘ilm,
as-sama’, al-bashar dan al-kalam. Sifat hayat Allah Ta’ala tidak berkaitan
dengan apa pun. Kebalikannya adalah al-maut (mati).
Dalil akal yang menunjukkan kemestian Allah Ta’ala
bersifat hidup dan mustahil mati adalah kenyataan bahwa hidup merupakan sifat
kesempurnaan, sedangkan maut merupakan sifat kekurangan. Allah Ta’ala mesti
suci dari semua sifat kekurangan dan mesti bersifat sempurna. Karena itu Allah
Ta’ala mesti bersifat hidup. Lalu, seandainya Allah tidak bersifat hidup,
niscaya tidak sah Dia bersifat kuasa dan memiliki sifat-sifat sempurna lainnya.
Adapun dalil naqli yang menunjukkan kemestian Allah
Ta’ala bersifat hidup, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala, “Dialah Yang
hidup kekal, tiada Tuhan selain Dia, maka sembahlah Dia dengan memurnikan
ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
Allah Ta’ala berfirman, “Dan bertawakkallah kepada
Allah Yang Hidup (Kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.
Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.“ Demikian pula para
rasul dan seluruh orang berakal menyatakan kemestian Allah Ta’ala bersifat
hidup.
Sifat kesebelas yang mesti adanya pada Allah Ta’ala
adalah as-sama’ (mendengar), as-sama’ merupakan sifat terdahulu yang ada
dengan adanya Dzat Allah dan berkaitan dengan semua maujud secara utuh apa
adanya, yang keterkaitannya dengan semua itu lain dari ke. terkaitan ilmu dan
bashar-Nya. Kaitan sifat sama’ Allah dengan maujud bukan merupakan kaitan sifat
ilmu-Nya dengan maujud, sebagaimana maklum kita saksikan sifat itu pada
makhluk.
Kita wajib meyakini bahwa ilmu Allah mustahil tercemari
kesamaran, pada semua segi. Dan keberlainan antara kaitan pendengaran-Nya dan
kaitan pengetahuan-Nya dengan semua maujud, itu bukan seperti yang kita
bayangkan, bahwa kejelasan yang dihasilkan dari penglihatan itu lebih banyak
daripada kejelasan dengan ilmu, karena semua sifat Allah Ta’ala sungguh
sempurna, mustahil tercemar oleh kesamaran, kekurangan dan tambahan. Apabila sifat
Allah tidak sempurna demikian, tentu sifat-sifat-Nya itu serupa dengan
sifat-sifat bawadus dan menuntut kebaharuan Dzat-Nya. Padahal sebagaimana telah
kami jelaskan bahwa Al. lah Ta’ala bersifat qadim dan mustahil bersifat hudus.
Maksud ungkapan kami, “…berkaitan dengan semua maujud”,
adalah bahwa pendengaran Allah berkaitan dengan semua maujud secara utuh dan
menyeluruh, entah maujud itu terdahulu maupun baru, dzat maupun sifat. Dan
pendengaran-Nya itu tidak hanya menangkap suara. Berbeda dengan pendengaran
kita yang umumnya hanya menangkap suara, meskipun terjadinya perbedaan
pendengaran di antara kita juga merupakan hal yang lazim terjadi. Seperti yang
terjadi pada Rasulullah saw. yang mendengar kalam Allah Ta’ala yang gadim.
Tidak diragukan bahwa kalam Allah Ta’ala yang didengar Rasulullah saw. sesungguhnya
kalam Allah itu tidak bersuara.

dan mustahil Dia bersifat kebalikannya, yakni al-shamam
(tuli). Dalilnya menurut akal, setiap yang hidup pasti punya salah satu dari
dua sifat berlawanan tersebut, mendengar atau tuli. Dan jika Allah disifati
dengan sifat tuli, itu sungguh merupakan kekurangan dalam hak-Nya. Karena itu
Allah Ta’ala mesti bersifat mendengar, karena mendengar merupakan sifat
kesempurnan dalam hak Allah Ta’ala.
Ada banyak dalil naqli yang menunjukkan kemestian Allah
Ta’ala bersifat mendengar dan mustahil tuli. Di antaranya adalah firman Allah
Ta’ala, “(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis
kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan
(pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu
pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah kamu berdua
khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.”
Di dalam kitab ash-Shafih disebutkan bahwa Rasulullah
saw. bersabda, “Rendahkanlah suara kalian. Sungguh kalian tidak sedang berdoa
kepada si tuli yang tiada. Kalian sedang berdoa kepada Dia Yang Maha Mendengar
nan Maha Melihat.” Hadis ini diriwayatkan oleh al imam al-Bukhari. Dan para
ahli Filosuf pun telah sepakat bahwa Allah Ta’ala mesti bersifat sama’dan
bashar.
Sifat kedua belas yang mesti ada pada Allah Ta’ala
adalah al-Bashar (melihat). Al-bashar merupakan sifat terdahulu yang ada
dengan adanya Dzat Allah dan berkaitan dengan semua maujud secara utuh apa
adanya, yang keberkaitannya dengan semua itu lain dari keberkaitan ‘ilmu dan
sama -Nya. Allah Ta’ala melihat semua maujud secara utuh dan menyeluruh, entah
yang gadim maupun yang hadits, yang berupa dzat maupun sifat. Kebalikannya
adalah al ‘umyu (buta). Dalil yang menunjukkan kemestian Allah Ta’ala bersifat
melihat dan mustahil buta, dalil aqli maupun naqli, telah kami ungkapkan di
dalam penjelasan tentang sifat sama’-Nya. Kami tidak perlu mengulangnya di
sini.
Sifat ketiga belas yang mesti ada pada Allah Ta’ala
adalah al-Kalam (berfirman). Al-kalam merupakan sifat terdahulu yang ada
dengan adanya Dzat Allah Ta’ala, berkaitan dengan semua yang wajib, yang mustahil
dan yang mungkin. Keberkaitannya dengan semua itu adalah ta’allug dilalah
(penunjukan).
Kami sudah menjelaskan bahwa Allah Ta’ala berbeda
dengan makhluk, dalam dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya. Dan
sifat kalam Allah tentu berbeda dengan sifat kalam makhluk. Sifat kalam Allah
tidak dengan huruf, tidak pula dengan suara. Kalam Allah tidak bermula dan
tidak berakhir. Kalam Allah tidak mengenal diam, tidak pula rusak seperti
bicara anak kecil atau orang yang gagu atau seperti sifat-sifat yang dimiliki
oleh makhluk. Sebab, jika kalam Allah Ta’ala tidak sempurna, tentu sifat
kalam-Nya baru seperti sifat-sifat kita. Padahal sebagaimana telah ditegaskan
bahwa Allah Ta’ala mesti bersifat qidam (terdahulu), Dzat-Nya maupun
sifat-sifat-Nya.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.