البَابُ الخَامِسَ عَشَرَ
قَوْلُهُمْ فِي الجَبْرِ
وَأَحَالَ بَعْضُهُمُ الجَبْرَ، وَقَالَ: لَا يَكُونُ الجَبْرُ إِلَّا بَيْنَ المُمَتَنِعِينَ، وَهُوَ أَنْ يَأْمُرَ الآمِرُ وَيَمْتَنِعَ المَأْمُورُ فَيُجْبِرَهُ الآمِرُ عَلَيْهِ
وَمَعْنَى الإِجْبَارِ: أَنْ يُسْتَكْرَهَ الفَاعِلُ عَلَى إِتْيَانِ فِعْلٍ هُوَ لَهُ كَارِهٌ وَلِغَيْرِهِ مُؤْثِرٌ، فَيَخْتَارَ الـمُجْبَرُ إِتْيَانَ مَا يَكْرَهُهُ وَيَتْرُكَ الَّذِي يُحِبُّهُ، وَلَوْلَا إِكْرَاهُهُ لَهُ وَإِجْبَارُهُ إِيَّاهُ لَفَعَلَ الـمَتْرُوكَ وَتَرَكَ الـمَفْعُولَ
وَلَمْ نَجِدْ هَذِهِ الصِّفَةَ فِي اكْتِسَابِهِمُ الإِيمَانَ وَالكُفْرَ، وَالطَّاعَةَ وَالـمَعْصِيَةَ؛ بَلِ اخْتَارَ الـمُؤْمِنُ الإِيمَانَ وَأَحَبَّهُ وَاسْتَحْسَنَهُ وَأَرَادَهُ وَآثَرَهُ عَلَى ضِدِّهِ، وَكَرِهَ الكُفْرَ وَأَبْغَضَهُ وَاسْتَقْبَحَهُ وَلَمْ يُرِدْهُ وَآثَرَ عَلَيْهِ ضِدَّهُ
وَاللَّهُ خَلَقَ لَهُ الِاخْتِيَارَ وَالِاسْتِحْسَانَ وَالإِرَادَةَ لِلإِيمَانِ، وَالبُغْضَ وَالكَرَاهَةَ وَالِاسْتِقْبَاحَ لِلْكُفْرِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الكُفْرَ وَالفُسُوقَ وَالعِصْيَانَ﴾ [الحجرات: ٧]
وَاخْتَارَ الكَافِرُ الكُفْرَ وَاسْتَحْسَنَهُ وَأَحَبَّهُ وَأَرَادَهُ وَآثَرَهُ عَلَى ضِدِّهِ، وَكَرِهَ الإِيمَانَ وَأَبْغَضَهُ وَاسْتَقْبَحَهُ وَلَمْ يُرِدْهُ وَآثَرَ عَلَيْهِ ضِدَّهُ، وَاللَّهُ تَعَالَى خَلَقَ ذَلِكَ كُلَّهُ؛ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ﴾ [الأنعام: ١٠٨]، وَقَالَ: ﴿وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا﴾ [الأنعام: ١٢٥]، وَلَيْسَ أَحَدُهُمَا بِمَمْنُوعٍ عَنْ ضِدِّ مَا اخْتَارَهُ، وَلَا بِمَحْمُولٍ عَلَى مَا اكْتَسَبَهُ، وَلِذَلِكَ وَجَبَتْ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ، وَحَقَّ عَلَيْهِمُ القَوْلُ مِنْ رَبِّهِمْ، وَمَأْوَى الكَافِرِينَ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ، ﴿وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَكِن كَانُوا هُمُ الظَّالِمِينَ﴾ [الزخرف: ٧٦]، ﴿وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ﴾ [إبراهيم: ٢٧]، ﴿لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ﴾ [الأنبياء: ٢٣]
قَالَ ابْنُ الفَرَغَانِيِّ: «مَا مِنْ خَطْرَةٍ وَلَا حَرَكَةٍ إِلَّا بِالأَمْرِ، وَهُوَ قَوْلُهُ: ﴿كُن﴾ [البقرة: ١١٧]، فَلَهُ الخَلْقُ بِالأَمْرِ، وَلَهُ الأَمْرُ بِالخَلْقِ، وَالخَلْقُ صِفَتُهُ، فَلَمْ يَدَعْ بِهَذَيْنِ الحَرْفَيْنِ لِعَاقِلٍ يَدَّعِي شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، لَا لَهُ، وَلَا بِهِ، وَلَا إِلَيْهِ، وَفَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
PENDAPAT MEREKA TENTANG JABR (PAKSAAN/KETERPAKSAAN)
Sebagian dari mereka menganggap mustahil adanya jabr (paksaan mutlak), dan berkata: Jabr itu tidak akan terjadi kecuali di antara pihak-pihak yang enggan/menolak. Yaitu ketika pihak yang memerintah memberi perintah lalu pihak yang diperintah menolak, kemudian pihak yang memerintah memaksa orang tersebut untuk melakukannya.
Makna pemaksaan (ijbar) adalah: Pelaku dituntut dan dipaksa untuk melakukan suatu perbuatan yang sebenarnya dibencinya dan lebih memilih perbuatan lainnya. Maka orang yang dipaksa itu akhirnya memilih melakukan apa yang ia benci dan meninggalkan apa yang ia sukai. Seandainya bukan karena tekanan dan pemaksaan terhadapnya, niscaya ia akan mengerjakan apa yang ia tinggalkan dan meninggalkan apa yang ia kerjakan.
Kami tidak menemukan sifat/kondisi pemaksaan seperti ini dalam usaha (iktisab) manusia terhadap keimanan maupun kekufuran, serta ketaatan maupun kemaksiatan. Justru orang mukmin memilih keimanan, mencintainya, menganggapnya baik, menghendakinya, serta mengutamakannya daripada kebalikannya (kekufuran). Ia membenci kekufuran, menganggapnya buruk, tidak menghendakinya, dan mengutamakan keimanan daripada kekufuran tersebut.
Dan Allah-lah yang menciptakan baginya kemampuan memilih, rasa menganggap baik, serta kehendak menuju keimanan; sebagaimana Allah juga menciptakan rasa benci dan menganggap buruk terhadap kekufuran. Allah Ta'ala berfirman: "Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan." [QS. Al-Hujurat: 7].
Sebaliknya, orang kafir memilih kekufuran, menganggapnya baik, menyukainya, menghendakinya, serta mengutamakannya daripada kebalikannya (keimanan). Ia membenci keimanan, menganggapnya buruk, tidak menginginkannya, dan mengutamakan kekufuran daripada keimanan tersebut. Dan Allah Ta'ala-lah yang menciptakan itu semua; Allah 'Azza wa Jalla berfirman: "Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka." [QS. Al-An'am: 108], dan berfirman: "Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit." [QS. Al-An'am: 125].
Meskipun demikian, masing-masing dari keduanya tidaklah dihalangi dari kebalikan apa yang dipilihnya, dan tidak pula dipaksa tanpa kehendak atas apa yang diusahakannya. Oleh karena itulah, hujah Allah menjadi tetap atas mereka, dan ketetapan azab dari Tuhan mereka menjadi pasti bagi mereka. Tempat kembali orang-orang kafir adalah neraka disebabkan apa yang mereka usahakan. "Dan tidaklah Kami menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri." [QS. Az-Zukhruf: 76], "Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." [QS. Ibrahim: 27], "Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, melainkan merekalah yang akan ditanya." [QS. Al-Anbiya: 23].
Ibnu Al-Faraghani berkata: "Tidak ada satu pun bisikan hati dan tidak pula satu gerakan melainkan dengan perintah-Nya, yaitu firman-Nya: ﴿كُن﴾ [Jadilah!] [QS. Al-Baqarah: 117]. Maka milik-Nyalah penciptaan dengan perintah-Nya, dan milik-Nya pula perintah dengan penciptaan-Nya, sedangkan penciptaan adalah sifat-Nya. Dengan dua huruf ini (Kaf dan Nun), Allah tidak menyisakan ruang bagi orang yang berakal untuk mengklaim/mengaku-ngaku sesuatu pun dari dunia maupun akhirat—bukan milik dirinya, bukan karena dirinya, dan bukan ditujukan kepadanya. Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah."