بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Al-Ta-aruf li-Madzhabi Ahl Al-Tashawwuf
{AJARAN KAUM SUFI}
التعرف لمذهب أهل التَّصوُّف
Karya
Ibn Abi Ishaq Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari Al-Kalabadzi
Bab 11.
AJARAN
KAUM SUFI TENTANG RU'YATULLAH (MELIHAT ALLAH) البَابُ الحَادِي عَشَرَ
قَوْلُهُمْ فِي الرُّؤْيَةِ
أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُرَى بِالأَبْصَارِ فِي الآخِرَةِ، وَأَنَّهُ يَرَاهُ المُؤْمِنُونَ دُونَ الكَافِرِينَ؛ لِأَنَّ ذَلِكَ كَرَامَةٌ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، لِقَوْلِهِ: ﴿لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ﴾ [يونس: ٢٦]
وَجَوَّزُوا الرُّؤْيَةَ بِالعَقْلِ، وَأَوْجَبُوهَا بِالسَّمْعِ؛ وَإِنَّمَا جَازَ فِي العَقْلِ: لِأَنَّهُ مَوْجُودٌ، وَكُلُّ مَوْجُودٍ فَجَائِزٌ رُؤْيَتُهُ إِذَا وَضَعَ اللَّهُ تَعَالَى فِينَا الرُّؤْيَةَ لَهُ
وَلَوْ لَمْ تَكُنِ الرُّؤْيَةُ جَائِزَةً عَلَيْهِ لَكَانَ سُؤَالُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ: ﴿أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ﴾ [الأعراف: ١٤٣] جَهْلًا وَكُفْرًا
وَلَمَّا عَلَّقَ اللَّهُ تَعَالَى الرُّؤْيَةَ بِشَرِيطَةِ اسْتِقْرَارِ الجَبَلِ بِقَوْلِهِ: ﴿فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي﴾ [الأعراف: ١٤٣]، وَكَانَ مُمْكِنًا فِي العَقْلِ اسْتِقْرَارُهُ لَوْ أَقَرَّهُ اللَّهُ، وَجَبَ أَنْ تَكُونَ الرُّؤْيَةُ المُعَلَّقَةُ بِهِ جَائِزَةً فِي العَقْلِ، مُـمْكِنَةً، فَإِذَا ثَبَتَ جَوَازُهُ فِي العَقْلِ، ثُمَّ جَاءَ السَّمْعُ بِوُجُوبِهِ بِقَوْلِهِ: ﴿وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَّاضِرَةٌ إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾ [القيامة: ٢٢ - ٢٣]، وَقَوْلِهِ: ﴿كَلَّا إِنَّهُمْ عَن رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوبُونَ﴾ [المطففين: ١٥]، وَقَوْلِهِ: ﴿لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ﴾ [يونس: ٢٦]، وَجَاءَتِ الرِّوَايَةُ بِأَنَّهَا الرُّؤْيَةُ، وَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ القَمَرَ لَيْلَةَ البَدْرِ لَا تُضَامُونَ فِي رُؤْيَتِهِ»، وَالأَخْبَارُ فِي هَذَا مَشْهُورَةٌ مُتَوَاتِرَةٌ، وَجَبَ القَوْلُ بِهِ، وَالإِيمَانُ وَالتَّصْدِيقُ لَهُ
وَمَا تَأَوَّلَتِ النَّافِيَةُ لَهَا فَمُسْتَحِيلٌ، كَقَوْلِهِمْ فِي ﴿إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾ [القيامة: ٢٣]: أَيْ: إِلَى ثَوَابِ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ؛ لِأَنَّ ثَوَابَ اللَّهِ غَيْرُ اللَّهِ
وَقَوْلُهُمْ فِي ﴿أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ﴾ [الأعراف: ١٤٣]: سُؤَالُ آيَةٍ؛ فَإِنَّهُ قَدْ أَرَاهُ آيَاتِهِ
وَقَوْلُهُ: ﴿لَّا تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ﴾ [الأنعام: ١٠٣]: أَنَّهُ كَمَا لَا تُدْرِكُهُ الأَبْصَارُ فِي الدُّنْيَا، كَذَلِكَ فِي الآخِرَةِ؛ وَإِنَّمَا نَفَى اللَّهُ تَعَالَى الإِدْرَاكَ بِالأَبْصَارِ؛ لِأَنَّ الإِدْرَاكَ يُوجِبُ كَيْفِيَّةً وَإِحَاطَةً، فَنَفَى مَا يُوجِبُ الكَيْفِيَّةَ وَالإِحَاطَةَ دُونَ الرُّؤْيَةِ الَّتِي لَيْسَتْ فِيهَا كَيْفِيَّةٌ وَإِحَاطَةٌ
وَأَجْمَعُوا أَنَّهُ لَا يُرَى فِي الدُّنْيَا بِالأَبْصَارِ وَلَا بِالقُلُوبِ إِلَّا مِنْ جِهَةِ الإِيقَانِ؛ لِأَنَّهُ غَايَةُ الكَرَامَةِ، وَأَفْضَلُ النِّعَمِ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ إِلَّا فِي أَفْضَلِ المَكَانِ، وَلَوْ أُعْطُوا فِي الدُّنْيَا أَفْضَلَ النِّعَمِ، لَمْ يَكُنْ بَيْنَ الدُّنْيَا الفَانِيَةِ وَالجَنَّةِ البَاقِيَةِ فَرْقٌ، وَلَمَّا مَنَعَ اللَّهُ سُبْحَانَهُ كَلِيمَهُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ ذَلِكَ فِي الدُّنْيَا، كَانَ مَنْ هُوَ دُونَهُ أُخْرَى
وَأُخْرَى: أَنَّ الدُّنْيَا دَارُ فَنَاءٍ، وَلَا يَجُوزُ أَنْ يُرَى البَاقِي فِي الدَّارِ الفَانِيَةِ، وَلَوْ رَأَوْهُ فِي الدُّنْيَا لَكَانَ الإِيمَانُ بِهِ ضَرُورَةً
وَالجُمْلَةُ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَخْبَرَ أَنَّهَا تَكُونُ فِي الآخِرَةِ، وَلَمْ يُخْبِرْ أَنَّهَا تَكُونُ فِي الدُّنْيَا، فَوَجَبَ الَانْتِهَاءُ إِلَى مَا أَخْبَرَ اللَّهُ تَعَالَى
Para ulama sepakat bahwa Allah Ta'ala dapat dilihat dengan mata telanjang di akhirat kelak, dan bahwa kaum mukminin akan melihat-Nya, sedangkan orang-orang kafir tidak. Hal itu karena melihat Allah merupakan sebuah kemuliaan (karamah) dari-Nya, berdasarkan firman-Nya: "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat Allah)." [QS. Yunus: 26].
Para ulama membolehkan kemungkinan ru'yah (melihat Allah) secara akal, dan mewajibkan kepastiannya berdasarkan dalil syariat (sam'i). Ru'yah itu boleh secara akal karena Allah itu Ada (maujud), dan setiap yang ada maka boleh/memungkinkan untuk dilihat jika Allah Ta'ala menciptakan kemampuan melihat itu pada diri kita.
Seandainya melihat Allah itu tidak boleh secara akal, niscaya permintaan Nabi Musa 'alaihissalam: "Ya Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat-Mu" [QS. Al-A'raf: 143] akan menjadi suatu kebodohan dan kekufuran!
Ketika Allah Ta'ala mengaitkan kemudahan ru'yah dengan syarat tetapnya/kokohnya gunung melalui firman-Nya: "Jika gunung itu tetap di tempatnya, niscaya kamu dapat melihat-Ku" [QS. Al-A'raf: 143] —dan secara akal tetapnya gunung itu adalah hal yang mungkin terjadi jika Allah mengukuhkannya— maka wajib hukumnya ru'yah yang dikaitkan dengan syarat tersebut bersifat boleh (ja'iz) dan mungkin secara akal.
Setelah kebolehannya terbukti secara akal, lalu datang dalil wahyu/syariat (sam'i) yang mewajibkan keberadaannya melalui firman-Nya: "Wajah-wajah (orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhan nyalah mereka melihat." [QS. Al-Qiyamah: 22-23], serta firman-Nya: "Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhan mereka." [QS. Al-Muthaffifin: 15], dan firman-Nya: "Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik dan tambahannya." [QS. Yunus: 26].
Telah diriwayatkan puluhan hadis bahwa yang dimaksud "tambahan" itu adalah melihat Allah. Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat Tuhan kalian sebagaimana kalian melihat bulan di malam purnama, kalian tidak akan saling berdesakan/dirugikan dalam melihat-Nya." Hadis-hadis mengenai hal ini sangat mashyur dan mutawatir, sehingga wajib hukumnya untuk meyakini, beriman, dan membenarkannya.
Adapun penafsiran (ta'wil) yang dilakukan oleh kelompok yang menolak (an-nafiyah) ru'yah adalah mustahil (keliru). Seperti pendapat mereka tentang ayat: ﴿إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ﴾ [Kepada Tuhan nyalah mereka melihat], yang mereka artikan: "melihat pahala Tuhannya". Padahal pahala Allah itu bukanlah Dzat Allah.
Atau pendapat mereka tentang firman-Nya: ﴿أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ﴾ [Perlihatkanlah kepadaku agar aku dapat melihat-Mu], yang mereka artikan sebagai: permintaan memperlihatkan mukjizat/tanda kekuasaan-Nya. Padahal Allah telah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada Nabi Musa.
Begitu pula pendapat mereka tentang firman Allah: "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata" [QS. Al-An'am: 103], yang mereka anggap bahwa sebagaimana mata tidak dapat melihat-Nya di dunia, begitu pula di akhirat. Padahal Allah Ta'ala hanya menafikan al-idrak (mencapai/meliputi dengan penglihatan); karena al-idrak menuntut adanya batas bentuk (kaifiyyah) dan liputan (ihatah). Maka Allah menafikan sesuatu yang menuntut batas bentuk dan liputan, bukan menafikan ru'yah (melihat) yang di dalamnya tidak ada batas bentuk maupun liputan.
Para ulama juga sepakat bahwa Allah tidak dapat dilihat di dunia dengan mata telanjang maupun dengan mata hati, kecuali melalui jalan keyakinan (al-iiqan). Hal itu karena melihat Allah adalah puncak kemuliaan dan kenikmatan yang paling utama, sehingga tidak boleh terjadi kecuali di tempat yang paling utama (surga). Seandainya mereka diberikan kenikmatan paling utama tersebut di dunia, niscaya tidak ada bedanya antara dunia yang fana dengan surga yang kekal. Lagipula, ketika Allah mencegah hamba-Nya yang diajak bicara (Nabi Musa 'alaihissalam) dari melihat-Nya di dunia, maka orang yang derajatnya di bawah beliau tentu lebih utama untuk tidak dapat melihat-Nya.
Sebab lainnya: bahwa dunia adalah tempat yang fana, dan tidak boleh Zat Yang Maha Kekal dilihat di tempat yang fana. Jika mereka dapat melihat-Nya di dunia, niscaya keimanan kepada-Nya menjadi hal yang terpaksa/pasti (dharurah).
Kesimpulannya, Allah Ta'ala telah memberitahukan bahwa ru me'yah itu akan terjadi di akhirat dan tidak memberitahukan bahwa itu terjadi di dunia. Maka wajib bagi kita untuk berhenti/tunduk pada apa yang telah diberitahukan oleh Allah Ta'ala.
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Makna dan Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.