بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
التعرف لمذهب أهل التَّصوُّف
Karya
Ibn Abi Ishaq Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari Al-Kalabadzi
Bab 13.
AJARAN
KAUM SUFI TENTANG TAKDIR DAN PENCIPTAAN TINDAKAN
البَابُ الثَّالِثَ عَشَرَ
قَوْلُهُمْ فِي القَدَرِ وَخَلْقِ الأَفْعَالِ
أَجْمَعُوا أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَالِقٌ لِأَفْعَالِ العِبَادِ كُلِّهَا، كَمَا أَنَّهُ خَالِقٌ لِأَعْيَانِهِمْ، وَأَنَّ كُلَّ مَا يَفْعَلُونَهُ مِنْ خَيْرٍ وَشَرٍّ فَبِقَضَاءِ اللَّهِ وَقَدَرِهِ وَإِرَادَتِهِ وَمَشِيئَتِهِ؛ وَلَوْلَا ذَلِكَ لَمْ يَكُونُوا عَبِيدًا وَلَا مَرْبُوبِينَ وَلَا مَخْلُوقِينَ، وَقَالَ جَلَّ وَعَلَا: ﴿قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ﴾ [الرعد: ١٦]، وَقَالَ: ﴿إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ﴾ [القمر: ٤٩]، ﴿وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُُّبُرِ﴾ [القمر: ٥٢] فَلَمَّا كَانَتْ أَفْعَالُهُمْ أَشْيَاءَ وَجَبَ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ خَالِقَهَا
وَلَوْ كَانَتِ الأَفْعَالُ غَيْرَ مَخْلُوقَةٍ لَكَانَ اللَّهُ جَلَّ وَعَزَّ خَالِقَ بَعْضِ الأَشْيَاءِ دُونَ جَمِيعِهَا! وَلَكَانَ قَوْلُهُ: ﴿خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ﴾ [الرعد: ١٦] كَذِبًا! تَعَالَى اللَّهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيرًا
وَمَعْلُومٌ أَنَّ الأَفْعَالَ أَكْثَرُ مِنَ الأَعْيَانِ، فَلَوْ كَانَ اللَّهُ تَعَالَى خَالِقَ الأَعْيَانِ، وَالعِبَادُ خَالِقِي الأَفْعَالِ، لَكَانَ الخَلْقُ أَوْلَى بِصِفَةِ المَدْحِ فِي الخَلْقِ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، وَلَكَانَ خَلْقُ العِبَادِ أَكْثَرَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ، وَلَوْ كَانُوا كَذَلِكَ لَكَانُوا أَتَمَّ قُدْرَةً مِنَ اللَّهِ تَعَالَى، وَأَكْثَرَ خَلْقًا مِنْهُ
وَقَدْ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿أَمْ جَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ خَلَقُوا كَخَلْقِهِ فَتَشَابَهَ الْخَلْقُ عَلَيْهِمْ ۚ قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ﴾ [الرعد: ١٦]. فَنَفَى أَنْ يَكُونَ خَالِقًا غَيْرُهُ
وَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ﴾ [سبأ: ١٨]. فَأَخْبَرَ أَنَّهُ قَدَّرَ سَيْرَ العِبَادِ
وَقَالَ: ﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ﴾ [الصافات: ٩٦]، وَقَالَ: ﴿مِن شَرِّ مَا خَلَقَ﴾ [الفلق: ٢]، فَدَلَّ أَنَّ مِمَّا خَلَقَ شَرًّا
وَقَالَ: ﴿وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا﴾ [الكهف: ٢٨]، أَيْ: خَلَقْنَا الغَفْلَةَ فِيهِ
وَقَالَ: ﴿وَأَسِرُّوا قَوْلَكُمْ أَوِ اجْهَرُوا بِهِ ۖ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ﴾ [الملك: ١٣ - ١٤]. فَأَخْبَرَ أَنَّ قَوْلَهُمْ وَسِرَّهُمْ وَجَهْرَهُمْ خَلْقٌ لَهُ
قَالَ عُمَرُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ مَا نَعْمَلُ فِيهِ أَعَلَى أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ أَوْ أَمْرٍ مُبْتَدَأٍ؟ فَقَالَ: «عَلَى أَمْرٍ قَدْ فُرِغَ مِنْهُ»، فَقَالَ عُمَرُ: أَفَلَا نَتَّكِلُ؟ فَقَالَ: «اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ رُقًى نَسْتَرْقِيهَا وَدَوَاءً نَتَدَاوَى بِهِ، هَلْ يَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ؟ قَالَ: «إِنَّهُ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ
وَقَالَ: «وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَبِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ مِنَ اللَّهِ
وَلَمَّا جَازَ أَنْ يَخْلُقَ اللَّهُ تَعَالَى العَيْنَ الَّذِي هُوَ شَرٌّ، جَازَ أَنْ يَخْلُقَ الفِعْلَ الَّذِي هُوَ شَرٌّ
وَمُجْمَعٌ عَلَى أَنَّ حَرَكَةَ الـمُرْتَعِشِ خَلْقُ اللَّهِ، فَكَذَلِكَ حَرَكَةُ غَيْرِهِ، غَيْرَ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى خَلَقَ لِهَذَا حَرَكَةً وَاخْتِيَارًا، وَخَلَقَ لِلآخَرِ حَرَكَةً وَلَمْ يَخْلُقْ لَهُ اخْتِيَارًا
قَالَ أَبُو بَكْرٍ الوَاسِطِيُّ فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَلَهُ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ﴾ [الأنعام: ١٣]، قَالَ: مَنِ ادَّعَى شَيْئًا مِنْ مُلْكِهِ وَهُوَ مَا سَكَنَ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، مِنْ خَطْرَةٍ وَحَرَكَةٍ— أَنَّهَا لَهُ، أَوْ بِهِ، أَوْ إِلَيْهِ، أَوْ مِنْهُ، فَقَدْ جَاذَبَ القَبْضَةَ، وَأَوْهَنَ العِزَّةَ
وَفِي قَوْلِهِ: ﴿أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالأَمْرُ﴾ [الأعراف: ٥٤]: خَلْقُ إِيجَادٍ وَأَمْرُ إِطْلَاقٍ، مَا لَمْ يَأْمُرِ الجَوَارِحَ أَمْرَ إِطْلَاقٍ لَمْ تُوَافِقْهُ فِي شَيْءٍ، كَذَلِكَ الـمُخَالَفَةُ
Para ulama sepakat bahwa Allah Ta'ala adalah Pencipta seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya, sebagaimana Dia adalah Pencipta zat/fisik mereka. Dan bahwasanya semua yang mereka kerjakan, baik berupa kebaikan maupun keburukan, terjadi dengan qada, takdir, kehendak (iradah), dan kemauan (masyi'ah) Allah. Seandainya tidak demikian, niscaya mereka bukanlah hamba, bukan yang diatur (marbub), dan bukan pula makhluk. Allah yang Maha Agung dan Maha Tinggi berfirman: "Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu" [QS. Ar-Ra'd: 16], dan berfirman: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)" [QS. Al-Qamar: 49], serta: "Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan" [QS. Al-Qamar: 52]. Maka, ketika perbuatan-perbuatan mereka merupakan "sesuatu", wajib hukumnya Allah menjadi Penciptanya.
Seandainya perbuatan-perbuatan itu tidak diciptakan (oleh Allah), niscaya Allah yang Maha Agung dan Maha Mulia hanya menjadi Pencipta sebagian sesuatu, bukan seluruh sesuatu! Dan niscaya firman-Nya: ﴿خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ﴾ [Pencipta segala sesuatu] adalah kebohongan! Mahasuci Allah dari hal yang demikian itu dengan keagungan yang sebesar-besarnya.
Telah diketahui bahwa perbuatan manusia itu jumlahnya lebih banyak daripada zat/fisik mereka. Maka jika Allah Ta'ala hanyalah Pencipta zat/fisik, sedangkan para hamba adalah pencipta perbuatan mereka sendiri, niscaya hamba-hamba itu lebih berhak mendapatkan sifat pujian dalam hal penciptaan daripada Allah Ta'ala. Dan niscaya ciptaan para hamba lebih banyak daripada ciptaan Allah. Seandainya mereka demikian, niscaya kemampuan/kekuasaan mereka lebih sempurna daripada Allah Ta'ala dan ciptaan mereka lebih banyak dari-Nya!
Padahal Allah Ta'ala telah berfirman: "Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka? Katakanlah: Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan" [QS. Ar-Ra'd: 16]. Maka Allah menafikan adanya pencipta selain diri-Nya.
Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan Kami telah menetapkan jarak perjalanan di antara negeri-negeri itu" [QS. Saba': 18]. Maka Dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang menakdirkan/menetapkan perjalanan para hamba.
Dan Dia berfirman: "Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu" [QS. Ash-Shaffat: 96], dan berfirman: "Dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan" [QS. Al-Falaq: 2], maka ini menunjukkan bahwa di antara yang diciptakan-Nya ada keburukan/kejahatan.
Dan Dia berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami kelalaikan dari mengingat Kami" [QS. Al-Kahf: 28], artinya: Kami ciptakan kelalaian di dalam hatinya.
Dan Dia berfirman: "Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui?" [QS. Al-Mulk: 13-14]. Maka Dia memberitahukan bahwa perkataan, rahasia, dan keterusterangan mereka adalah ciptaan-Nya.
Umar radhiyallahu 'anhu bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang apa yang kita kerjakan hari ini? Apakah pada urusan yang telah selesai ditetapkan (takdirnya) atau pada urusan yang baru dimulai?" Rasulullah bersabda: "Pada urusan yang telah selesai ditetapkan." Umar berkata: "Apakah tidak sebaiknya kita pasrah saja?" Beliau bersabda: "Beramallah kamu sekalian, karena masing-masing akan dimudahkan untuk apa ia diciptakan."
Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ juga ditanya: "Bagaimana pendapatmu tentang rukyah yang kami gunakan untuk pengobatan dan obat yang kami gunakan untuk berobat, apakah hal itu dapat menolak takdir Allah?" Beliau bersabda: "Hal itu sendiri merupakan bagian dari takdir Allah."
Beliau juga bersabda: "Demi Allah, tidaklah beriman seseorang hingga ia beriman kepada Allah, dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk dari Allah."
Ketika Allah Ta'ala boleh menciptakan zat/benda yang bersifat buruk, maka boleh juga bagi-Nya menciptakan perbuatan yang bersifat buruk.
Dan telah disepakati bahwa gerakan orang yang gemetar (karena sakit/keterpaksaan) adalah ciptaan Allah, maka demikian pula gerakan orang lain (yang sengaja). Hanya saja, Allah Ta'ala menciptakan pada orang yang sengaja itu gerakan beserta kehendak memilih (ikhtiyar), sedangkan pada orang lainnya (yang gemetar), Dia menciptakan gerakan tanpa menciptakan kehendak memilih padanya.
Abu Bakar Al-Wasiti berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan milik-Nyalah apa yang tersimpan pada malam dan siang hari" [QS. Al-An'am: 13], ia berkata: "Barang siapa yang mengklaim sesuatu dari kerajaan-Nya —yaitu apa yang ada pada malam dan siang hari, baik berupa terdetiknya hati maupun gerakan— bahwa itu milik dirinya, atau terjadi karena dirinya, atau ditujukan kepadanya, atau bersumber dari dirinya, maka sungguh ia telah mencoba merampas Kekuasaan Allah dan melemahkan Keagungan-Nya."
Dan mengenai firman-Nya: "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah" [QS. Al-A'raf: 54]: Penciptaan mewujudkan (khalqu ijad) dan perintah pelepasan/izin (amru itlaq). Selama Allah tidak memerintahkan anggota tubuh dengan perintah izin, anggota tubuh itu tidak akan dapat menyelarasi perintah tersebut sedikit pun, begitu pula dalam hal kemaksiatan/pelanggaran.
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Makna dan Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.