بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
BAB KELIMA:
TAUBAT 3
سمعتُ محمدَ بنَ الحسينِ يقولُ: سمعتُ النصراباذيَّ يقولُ: سمعتُ ابنَ يزدانيارَ يقولُ وقد سُئِلَ عن العبدِ إذا خرجَ إلى اللهِ على أيِّ أصلٍ يخرجُ؟ فقالَ: على أَلَّا يعودَ إلى ما منهُ خرجَ، ولا يراعيَ غيرَ مَنْ إليهِ خرجَ، ويحفظَ سِرَّهُ عن ملاحظةِ ما تبرَّأَ منهُ
فقيلَ لهُ: هذا حكمُ مَنْ خرجَ عن وجودٍ، فكيفَ حكمُ مَنْ خرجَ عن عدمٍ؟ فقالَ: وجودُ حلاوةٍ في المستأنَفِ عوضاً عن المرارةِ في السالفِ
وسُئِلَ البوشَنْجِيُّ عن التوبةِ، فقالَ: إذا ذكرتَ الذنبَ ثمَّ لا تجدُ حلاوتَهُ عندَ ذكْرِهِ.. فهو التوبةُ
وقالَ ذو النونِ: (حقيقةُ التوبةِ: أَنْ تضيقَ عليكَ الأرضُ بما رحُبَتْ حتى لا يكونَ لكَ قرارٌ، ثمَّ تضيقَ عليكَ نفسُكَ كما أخبرَ اللهُ تعالى في كتابِهِ بقولِه: ﴿ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ﴾).
وقالَ ابنُ عطاءٍ: (التوبةُ توبتانِ: توبةُ الإنابةِ، وتوبةُ الاستجابةِ؛ فتوبةُ الإنابةِ: أَنْ يتوبَ العبدُ خوفاً مِنْ عقوبتِهِ، وتوبةُ الاستجابةِ: أَنْ يتوبَ حياءً مِنْ كرمِهِ)
وقيلَ لأبي حفصٍ: لِمَ يبغضُ التائبُ الدنيا؟ فقالَ: لأنَّها دارٌ باشرَ فيها الذنوبَ
فقيلَ لهُ: فهيَ أيضاً دارٌ أكرَمَهُ اللهُ تعالى فيها بالتوبةِ! فقالَ: إنَّهُ مِنَ الذنبِ على يقينٍ، ومِنْ قَبولِ توبتِهِ على خطرٍ
وقالَ الواسطيُّ: (طربُ داوودَ عليهِ السلامُ وما هوَ فيهِ مِنْ حلاوةِ الطاعةِ.. أوقعَهُ في أنفاسٍ متصاعدةٍ، وهوَ في حالِهِ الثانيةِ أتمُّ منهُ في وقتِ ما سُتِرَ عليهِ أَمْرُهُ)
وقالَ بعضُهُمْ: (توبةُ الكذَّابينَ على أطرافِ ألسنتِهِمْ)؛ يعني: قولَ: أستغفرُ اللهَ
Saya mendengar Muhammad bin
al-Husain berkata: Saya mendengar An-Nashrabadzi berkata: Saya mendengar Ibn
Yazdaniyar berkata ketika ditanya tentang seorang hamba yang menuju (bertaubat)
kepada Allah, atas dasar apa ia berangkat? Maka ia menjawab: "Atas
dasar tidak kembali kepada apa yang telah ia tinggalkan, tidak berpaling kepada
selain Dia yang menjadi tujuannya, dan menjaga hatinya dari memperhatikan apa
yang telah ia lepas darinya."
Maka ditanyakan kepadanya: "Ini
adalah hukum bagi orang yang keluar dari keberadaan (yang nyata/punya modal),
lalu bagaimana hukum bagi orang yang keluar dari ketiadaan (tidak punya
modal)?" Ia menjawab: "Adanya kemanisan di masa depan sebagai
ganti dari kepahitan di masa lalu."
Al-Busyanji ditanya tentang taubat,
lalu ia berkata: "Jika engkau mengingat dosa kemudian engkau tidak
merasakan kemanisannya saat mengingatnya... maka itulah taubat."
Dhu an-Nun berkata: "Hakikat
taubat adalah ketika bumi terasa sempit bagimu padahal ia begitu luas hingga
engkau tidak memiliki ketenangan, kemudian dirimu sendiri terasa sempit bagimu,
sebagaimana yang diberitahukan Allah Ta'ala dalam kitab-Nya melalui firman-Nya:
'Dan terasa sempit pula oleh mereka jiwa mereka, serta mereka telah yakin bahwa
tidak ada tempat berlindung dari (siksaan) Allah melainkan kepada-Nya jua.
Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya' (QS.
At-Tawbah: 118)."
Ibn 'Atha' berkata: "Taubat
itu ada dua macam: taubat inabah dan taubat istijabah. Taubat inabah adalah
seorang hamba bertaubat karena takut akan siksa-Nya, sedangkan taubat istijabah
adalah bertaubat karena rasa malu atas kemuliaan/kemurahan-Nya."
Dikatakan kepada Abu Hafsh: "Mengapa
orang yang bertaubat membenci dunia?" Ia menjawab: "Karena
dunia adalah tempat ia melakukan dosa-dosa."
Lalu dikatakan kepadanya: "Tetapi
dunia juga tempat Allah Ta'ala memuliakannya dengan memberikan taubat!"
Ia menjawab: "Sesungguhnya ia yakin telah melakukan dosa, namun berada
dalam ketidakpastian (kekhawatiran) apakah taubatnya diterima."
Al-Wasithi berkata: "Kerinduan/kegembiraan
Daud 'alaihissalam dan kemanisan ketaatan yang dirasakannya... telah membawanya
ke dalam napas yang terengah-engah (penuh penyesalan/kerinduan), dan keadaannya
pada tahap kedua ini lebih sempurna daripada saat keadaannya (dosanya) masih
ditutupi."
Sebagian dari mereka berkata: "Taubatnya
para pembohong hanya berada di ujung lidah mereka," yaitu sekadar
mengucapkan: Astaghfirullah (tanpa kesungguhan di dalam hati).
وسُئِلَ أبو حفصٍ عن التوبةِ، فقالَ: ليسَ للعبدِ في التوبةِ شيءٌ؛ لأنَّ التوبةَ إليهِ لا منهُ
وقيلَ: أُوحِيَ اللهُ سبحانهُ إلى آدمَ عليهِ السلامُ: يا آدمُ؛ ورَّثْتَ ذُرِّيَّتَكَ التعبَ والنَّصَبَ، وورَّثْتَهُمُ التوبةَ؛ مَنْ دعاني منهُم لبَّيْتُهُ.. لبَّيْتُهُ كتلبِيَتِكَ، يا آدمُ؛ أشرُ التائبينَ مِنَ القبورِ مستبشرينَ ضاحكينَ، ودعاؤُهُم مستجابٌ.
وقالَ رجلٌ لرابعةَ: إنِّي قدْ أكثَرْتُ مِنَ الذنوبِ والمعاصي، فلوْ تُبْتُ.. هلْ يتوبُ عليَّ؟ فقالَتْ: لا، بلْ لوْ تابَ عليكَ.. لَتُبْتَ
قالَ الأستاذُ الإمامُ رضيَ اللهُ عنهُ: واعلَمْ: أنَّ اللهَ تعالى قالَ: ﴿ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ ﴾، ومَنْ قارَفَ الزَّلَّةَ.. فهو مِنْ خطَئِهِ على يقينٍ، فإذا تابَ.. فإنَّهُ مِنَ القَبُولِ على شكٍّ، لا سيَّما إذا كانَ مِنْ شرطِه وحقِّهِ أنْ يكونَ مستحقَّاً لمحبَّةِ الحقِّ، وإلى أنْ يبلغَ العاصي محلاًّ يجدُ في أوصافِه أمارةَ محبَّةِ اللهِ تعالى إيَّاهُ.. مسافةٌ بعيدةٌ!
فالواجبُ إذاً على العبدِ إذا علِمَ أنَّهُ ارتَكَبَ ما تجِبُ عنهُ التوبةُ.. دوامُ الانكِسارِ، وملازمةُ التَّنصُّلِ والاستغفارِ؛ كما قالوا: استشعارُ الوَجَلِ إلى الأجَلِ
وقالَ عزَّ مِنْ قائلٍ: ﴿ قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ ﴾، وكانَ مِنْ سُنَّتِه صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ دوامُ الاستغفارِ؛ قالَ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: « إنَّهُ لَيُغانُ على قلبي، حتَّى أستغفِرَ اللهَ في اليومِ سبعينَ مرَّةً
سمعتُ أبا عبدِ الرحمنِ الصوفيَّ يقولُ: سمعتُ الحسينَ بنَ عليٍّ يقولُ: سمعتُ محمدَ بنَ أحمدَ يقولُ: سمعتُ عبدَ اللهِ بنَ سهلٍ يقولُ: سمعتُ يحيى بنَ معاذٍ يقولُ: (زلَّةٌ واحدةٌ بعدَ التوبةِ.. أَقْبَحُ مِنْ سبعينَ قبلَها)
سمعتُ محمدَ بنَ الحسينِ يقولُ: سمعتُ عبدَ اللهِ الرازيَّ يقولُ: سمعتُ أبا عثمانَ يقولُ في قولِه عزَّ وجلَّ: ﴿ إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ﴾، قالَ: رجوعُهُم، وإنْ تمادَى بهِمُ الجَوَلانُ في المخالَفاتِ
سمعتُ الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ يقولُ: سمعتُ أبا بكرٍ الرازيَّ يقولُ: سمعتُ أبا عمرٍ الأنماطيَّ يقولُ: ركِبَ عليُّ بنُ عيسى الوزيرُ في موكِبٍ عظیمٍ، فجعلَ الغرباءُ يقولونَ: مَنْ هذا؟ مَنْ هذا؟ فقالَتِ امرأةٌ قائمةٌ على الطريقِ: إلى متى تقولونَ مَنْ هذا؟! مَنْ هذا؟! هذا عبدٌ سقَطَ مِنْ عينِ اللهِ، فابتلاهُ اللهُ بما ترَوْنَ
فسَمِعَ عليُّ بنُ عيسى ذلكَ، فرجَعَ إلى منزلِه، واستَعْفى مِنَ الوزارةِ، وذهَبَ إلى مكَّةَ وجاوَرَ بها
Abu Hafsh ditanya tentang taubat,
lalu ia berkata: "Hamba tidak memiliki andil apa pun dalam taubat,
karena taubat itu (datang) dari Allah kepada hamba, bukan dari hamba (dengan
kemampuannya sendiri)."
Dan dikatakan: Allah Subhanahu wa
Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Adam 'alaihissalam: "Wahai
Adam, engkau mewariskan lelah dan kepayahan kepada anak cucumu, tetapi engkau
juga mewariskan taubat kepada mereka. Siapa di antara mereka yang berdoa
kepada-Ku, niscaya Aku sambut... Aku sambut sebagaimana Aku menyambutmu. Wahai
Adam, Aku akan membangkitkan orang-orang yang bertaubat dari kubur dalam
keadaan berseri-seri dan tertawa, serta doa mereka dikabulkan."
Seorang laki-laki berkata kepada
Rabi'ah: "Aku telah banyak berbuat dosa dan maksiat. Jika aku
bertaubat, apakah Allah akan menerima taubatku?" Rabi'ah menjawab: "Tidak
(bukan begitu), tetapi jika Allah telah memberikan taufik-Nya padamu untuk bertaubat,
niscaya engkau akan bertaubat."
Al-Ustadz Al-Imam radhiyallahu
'anhu berkata: "Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala berfirman:
'Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang menyucikan diri' (QS. Al-Baqarah: 222). Barang siapa melakukan
kesalahan, ia yakin telah berbuat dosa. Namun ketika ia bertaubat, ia berada
dalam keraguan apakah taubatnya diterima atau tidak, terlebih lagi karena
syarat dan hak taubat adalah menjadikan dirinya berhak mendapat kecintaan dari
Al-Haq (Allah). Dan untuk seorang pemaksiat sampai pada kedudukan di mana ia
menemukan tanda kecintaan Allah Ta'ala pada dirinya... adalah jarak yang sangat
jauh!"
"Maka kewajiban seorang hamba
ketika mengetahui ia telah melakukan hal yang mewajibkannya bertaubat adalah:
senantiasa merasa rendah hati (tunduk/remuk hatinya di hadapan Allah),
terus-menerus memohon lepas dari dosa dan beristigfar; sebagaimana para ulama
katakan: 'Merasakan rasa takut hingga ajal menjemput'."
Dan Allah 'Azza wa Jalla
berfirman: "Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah,
ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'" (QS.
Ali 'Imran: 31). Dan di antara sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam adalah
senantiasa beristigfar; beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya hatiku kadang diliputi (kelalaian ringan), sehingga aku
memohon ampun kepada Allah dalam sehari sebanyak tujuh puluh kali."
Saya mendengar Abu 'Abdirrahman
Ash-Shufi berkata: Saya mendengar Al-Husain bin 'Ali berkata: Saya mendengar
Muhammad bin Ahmad berkata: Saya mendengar 'Abdullah bin Sahl berkata: Saya
mendengar Yahya bin Mu'adz berkata: "Satu kesalahan yang dilakukan
setelah bertaubat... lebih buruk daripada tujuh puluh kesalahan sebelum
bertaubat."
Saya mendengar Muhammad bin
al-Husain berkata: Saya mendengar 'Abdullah Ar-Razi berkata: Saya mendengar Abu
'Utsman berkata tentang firman-Nya 'Azza wa Jalla: "Sesungguhnya
kepada Kami-lah kembali mereka" (QS. Al-Ghasyiyah: 25), ia berkata:
"Yaitu kepulangan mereka (kepada Allah), meskipun mereka telah terlarut
terlalu jauh dalam penyimpangan/kemaksiatan."
Saya mendengar Asy-Syaikh Abu
'Abdirrahman As-Sulami berkata: Saya mendengar Abu Bakr Ar-Razi berkata: Saya
mendengar Abu 'Umar Al-Anmathi berkata: "Wazir (Menteri) 'Ali bin 'Isa
pernah berkendara dalam sebuah iring-iringan megah. Orang-orang asing lalu
bertanya-tanya: 'Siapa orang ini? Siapa orang ini?' Tiba-tiba seorang wanita
yang berdiri di tepi jalan berkata: 'Sampai kapan kalian bertanya-tanya siapa
orang ini?! Siapa orang ini?! Ini adalah seorang hamba yang telah jatuh (hina) dari
pandangan Allah, lalu Allah mengujinya dengan (kenikmatan duniawi) yang kalian
lihat ini!'"
"'Ali bin 'Isa mendengar
perkataan itu, lalu ia pulang ke rumahnya, mengundurkan diri dari jabatan
menteri, berangkat ke Mekkah, dan menetap (menjadi tetangga Baitullah) di
sana."
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.