Karya
Ibn Abi Ishaq Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari Al-Kalabadzi
Bab 10.
PERSELISIHAN
KAUM SUFI TENTANG SIFAT FIRMAN
**الباب العاشر**
**واختلفوا في الكلام ما هو؟**
فقال الأكثرون منهم: كلام الله: صفة الله لذاته لم يزل، وإنه لا يُشْبِه كلام المخلوقين بوجهٍ من الوجوه، وليست له مائية؛ كما أنَّ ذاته ليست لها مائيةٌ إلَّا من جهة الإثبات
وقال بعضهم: كلام الله: أمرٌ ونهيٌ، وخبرٌ، ووعدٌ ووعيدٌ، وقصصٌ وأمثالٌ، والله تعالى لم يزل آمرًا ناهيًا مُخبِرًا واعدًا مُوعِدًا حامدًا ذامًّا: إذا خُلِقْتُم وبَلغتْ عقولكم فافعلوا كذا، وأنتم مذمومون على معاصيكم مثابون على طاعتكم إذا خُلِقْتُم، كما أنَّا مأمورون مُخاطَبون بما نزل من القرآن على النبيِّ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم، ولم نُخلق بعد ولم نكن موجودين
وأجمع الجمهور منهم على أنَّ كلام الله تعالى: ليس بحروفٍ ولا صوتٍ ولا هجاء، بل الحروف والصَّوت والهجاء دلالاتٌ على الكلام
وأنها لذوي الآلات والجوارح - التي هي: اللَّهَوات، والشفاه، والألسنة - والله تعالى ليس بذي جارحةٍ، ولا مُحتاجٍ إلى آلةٍ، فليس كلامه بحروفٍ ولا صوتٍ
وقال بعض كبرائهم في الكلام له: من تكلَّم بالحروف فهو معلولٌ، ومن كان كلامه باعتقابٍ فهو مضطرٌّ
وقالت طائفة منهم: كلام الله حروف وصوت! وزعموا أنه لا يُعرف كلامه إلَّا كذلك، مع إقرارهم أنه صفةٌ الله تعالى في ذاته غير مخلوق! وهذا قول حارث المحاسبي، ومن المتأخرين ابن سالم
والأصل في هذا: أنه لما ثبت أنَّ الله تعالى قديمٌ، وأنه غير مُشْبِهٍ للخلق من جميع الوجوه، كذلك صفاته لا تُشبه صفات المخلوقين، فلا يكون كلامه حروفًا وصوتًا ككلام المخلوقين
ولما أثبت الله لنفسه كلامًا بقوله: ﴿وَكَلَّمَ اللهُ مُوسَى تَكْلِيمًا﴾ [النساء: ١٦٤]، وقوله: ﴿إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ﴾ [النحل: ٤٠]، وقال: ﴿حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللهِ﴾ [التوبة: ٦]، وجب أن يكون موصوفًا به لم يزل؛ لأنه لو لم يكن موصوفًا به فيما لم يزل، لكان كلامه كلام المُحدثين، ولكان في الأزل موصوفًا بضدِّه من سكونٍ أو آفةٍ
ولما ثبت أنه غير مُتغيِّرٍ، وأنَّ ذاته ليست بمحلٍّ للحوادث، وجب أن لا يكون ساكتًا ثُمَّ صار متكلِّمًا، فإذا ثبت كلامه وثبت أنه ليس بمُحدَثٍ وجب الإقرار به
ولمَّا لم يثبت أنه حروفٌ وصوتٌ، وجب الإمساك عنه
**Perbedaan Pendapat Mereka Mengenai Hakikat Kalam (Firman Allah)**
Mayoritas (*aktsarun*) di antara mereka berkata: Kalam Allah adalah sifat bagi zat-Nya yang senantiasa ada sejak azali (*lam yazal*). Sesungguhnya kalam-Nya sama sekali tidak menyerupai ucapan makhluk dari sisi mana pun, dan kalam-Nya tidak memiliki hakikat bentuk materi (*ma'iyyah* / bagaimanakah bentuknya), sebagaimana zat-Nya juga tidak memiliki *ma'iyyah* kecuali sekadar dari sisi penetapan keberadaan (*itsbat*).
Sebagian dari mereka berpendapat: Kalam Allah itu berupa perintah, larangan, kabar berita, janji (*wa'ad*), ancaman (*wa'id*), kisah-kisah, dan perumpamaan-perumpamaan. Allah Ta'ala senantiasa Maha Memerintah, Maha Melarang, Maha Mengabarkan, Maha Menjanjikan, Maha Memberi Ancaman, Maha Memuji, dan Maha Mencela (dengan ketentuan-Nya yang azali): "Apabila kalian telah diciptakan dan akal kalian telah sampai (balig), maka lakukanlah ini dan itu, dan kalian tercela atas kemaksiatan kalian serta diberi pahala atas ketaatan kalian jika kalian telah diciptakan." Sebagaimana halnya kita saat ini diperintah dan diajak bicara oleh apa yang diturunkan dalam Al-Qur'an kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam, padahal saat itu kita belum diciptakan dan belum ada di dunia.
Mayoritas (*jumhur*) dari mereka sepakat bahwa kalam Allah Ta'ala itu bukan berupa huruf, bukan suara, dan bukan pula ejaan kata (*hija'*). Melainkan huruf, suara, dan ejaan tersebut hanyalah petunjuk-petunjuk (*dalalat*) yang menunjukkan adanya kalam.
Dan sesungguhnya (huruf dan suara) itu hanya dimiliki oleh pemilik alat ucap dan anggota tubuh—yaitu anak tekak, bibir, dan lidah—sedangkan Allah Ta'ala tidak memiliki anggota tubuh dan tidak membutuhkan alat ucap, maka kalam-Nya tidaklah berupa huruf maupun suara.
Sebagian dari tokoh-tokoh besar mereka berkata mengenai kalam-Nya: "Barang siapa yang berbicara dengan huruf-huruf maka ia memiliki cacat/sebab (*ma'lul*), dan barang siapa yang ucapannya terjadi secara berurutan (satu huruf setelah huruf lainnya) maka ia memiliki keterbatasan (*mudhtarr*)."
Sementara satu kelompok (*tha'ifah*) dari mereka berkata: Kalam Allah itu berupa huruf dan suara! Mereka mengklaim bahwa kalam-Nya tidak dapat dikenali melainkan harus demikian, disamping mereka tetap mengakui bahwa kalam tersebut adalah sifat Allah Ta'ala pada zat-Nya yang bukan makhluk! Ini adalah pendapat Al-Harits Al-Muhasibi, dan dari kalangan ulama mutakhirin adalah pendapat Ibnu Salim.
Adapun landasan utama (*al-ashl*) dalam masalah ini adalah: Ketika telah terbukti secara kuat bahwa Allah Ta'ala itu *qadim* (maha terdahulu tanpa permulaan) dan Dia sama sekali tidak menyerupai makhluk dari segala sisi, maka demikian pula sifat-sifat-Nya tidak menyerupai sifat-sifat makhluk. Karena itu, kalam-Nya tidaklah berupa huruf dan suara seperti ucapan makhluk.
Dan tatkala Allah menetapkan sifat kalam bagi diri-Nya melalui firman-Nya: *"Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung"* [QS. An-Nisa': 164], dan firman-Nya: *"Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: 'Kun' (jadilah), maka jadilah ia"* [QS. An-Nahl: 40], serta firman-Nya: *"Sehingga ia mendengar kalam Allah"* [QS. At-Tawbah: 6]; maka wajiblah Dia disifati dengan kalam tersebut sejak azali. Sebab, jika Dia tidak disifati dengannya sejak azali, niscaya kalam-Nya akan serupa dengan ucapan makhluk (*al-muhdatsin*), dan pada masa azali Dia akan disifati dengan lawan dari kalam yaitu diam atau bisu (*afat*).
Dan ketika telah terbukti bahwa Dia tidak berubah-ubah dan bahwa zat-Nya bukanlah tempat bagi hal-hal baru yang mengalami perubahan (*bukan mahal lil-hawadits*), maka wajiblah bagi-Nya untuk tidak berada dalam kondisi diam lalu kemudian baru berbicara. Maka apabila kalam-Nya telah terbukti keberadaannya dan terbukti pula bahwa kalam itu bukan makhluk (*muhdats*), wajib hukumnya untuk mengimaninya.
Dan selama tidak terbukti (dari dalil syar'i) bahwa kalam-Nya itu berupa huruf dan suara, maka wajib hukumnya untuk menahan diri (*al-imsak*) dari menetapkan hal tersebut.
ثُمَّ القرآن ينصرف في اللغة على وجوه، منها: مصدر القراءة، كما قال الله تعالى: ﴿فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ﴾ [القيامة: ١٨]، أي: قراءته، والحروف المعجمة في المصاحف: تُسمَّى قرآنًا؛ قال النبيُّ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم: «لا تُسافروا بالقرآن إلى أرض العدوّ».(١)
ويُسمَّى كلام الله: قرآنًا
فكلُّ قرآنٍ سوى كلام الله فمُحدثٌ مخلوقٌ، والقرآن الذي هو كلام الله غيرُ مُحدَثٍ ولا مخلوقٍ
والقرآن إذا أُرسل وأُطلق لم يُفهم منه غير كلام الله تعالى، فهو إذًا غير مخلوقٍ
والوقف فيه لأحد أمرين: إمَّا أن يقف فيه وهو يصفه بصفة المُحدث والمخلوق، فهو عنده مخلوقٌ، ووقوفه تَقِيَّةٌ
أو يقف وهو منطوٍ على أنه صفةٌ لله في ذاته، فلا معنى لوقوفه عن عبارة الخلق والنطق به، اللهمَّ إلَّا أن ينطوي على أنه صفةٌ لله، وصفات الله غير مخلوقةٍ، ولم يُمتحن بنافٍ يجب عليه إثباته فيقول: القرآن كلام الله، ويسكت؛ إذ لم يأت بغير مخلوقٍ روايةٌ، ولا تُليَتْ به آيةٌ، فهو عند ذلك مصيبٌ
Kemudian kata "Al-Qur'an" secara bahasa ditafsirkan ke dalam beberapa makna, di antaranya: sebagai bentuk *masdar* (kata benda asal/proses) dari kata membaca (*al-qira'ah*), sebagaimana firman Allah Ta'ala: *"Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu"* [QS. Al-Qiyamah: 18], yakni: bacaannya. Selain itu, huruf-huruf tertulis di dalam mushaf-mushaf juga dinamakan "Al-Qur'an"; sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallam: *"Janganlah kalian bepergian membawa Al-Qur'an ke tanah musuh."* (1)
Dan firman Allah (*kalamullah*) juga dinamakan "Al-Qur'an".
Maka setiap "Al-Qur'an" (bacaan atau teks fisik) selain dari kalam Allah adalah sesuatu yang baru diadakan (*muhdats*) lagi makhluk (ciptaan). Sedangkan Al-Qur'an yang merupakan kalam Allah itu tidaklah baru (*ghairu muhdats*) dan bukan pula makhluk.
Dan kata "Al-Qur'an" itu apabila diucapkan secara mutlak (tanpa batasan), maka tidak dipahami darinya selain kalam Allah Ta'ala, sehingga ia (dalam konteks ini) bukanlah makhluk.
Adapun bersikap *waqf* (abstain/diam tidak menentukan sikap apakah Al-Qur'an itu makhluk atau bukan) dalam masalah ini, hal itu merujuk pada salah satu dari dua kondisi:
* **Pertama:** Seseorang bersikap *waqf* namun di dalam hatinya ia menyifati Al-Qur'an dengan sifat baru (*muhdats*) dan makhluk. Maka di sisinya Al-Qur'an itu adalah makhluk, sedangkan sikap diamnya hanyalah karena *taqiyyah* (mencari aman/menyembunyikan keyakinan).
* **Kedua:** Seseorang bersikap *waqf* namun meyakini di dalam hatinya bahwa Al-Qur'an adalah sifat bagi Allah pada zat-Nya. (Jika demikian), maka sebenarnya tidak ada alasan baginya untuk menahan diri dari menyatakan bahwa itu bukan makhluk atau enggan mengucapkannya, melainkan ia harus meyakini bahwa Al-Qur'an adalah sifat Allah, sedangkan sifat-sifat Allah itu bukanlah makhluk.
Dan selama ia tidak diuji/ditekan oleh orang yang menolak (sifat kalam) sehingga ia wajib menegaskan dan menjelaskan kedudukannya, lalu ia cukup mengatakan: "Al-Qur'an adalah kalam Allah," kemudian diam; maka sikapnya tersebut adalah benar (*mushib*). Hal ini karena memang tidak ada riwayat (*atsar*) eksplisit yang menggunakan redaksi kata "bukan makhluk" (*ghairu makhluq*), dan tidak ada pula ayat Al-Qur'an yang diturunkan dengan lafaz tersebut.