بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
بَابُ الحَسَدِ
18. Bab
tentang Dengki (Hasad)
قالَ اللهُ تعالىٰ : ﴿ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ﴾ ، ثم قالَ : ﴿ وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ ﴾ ، فَخَتَمَ السورةَ التي جعلَها عُوذَةً بذِكْرِ الحسَدِ
أخبرَنا أبو الحسنِ الأَهْوَازِيُّ قالَ : أخبرَنا أحمدُ بنُ عبيدٍ البصريُّ قالَ : حدَّثنا إسماعيلُ بنُ الفضلِ قالَ : حدَّثنا يحيَىٰ بنُ مَخْلَدٍ قالَ : حدَّثنا معافَىٰ بنُ عمرانَ ، عنِ الحارثِ بنِ شهابٍ ، عنْ معبدٍ ، عنْ أبي قلابةَ ، عنِ ابنِ مسعودٍ : أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ قالَ
« ثلاثٌ هُنَّ أصلُ كُلِّ خطيئةٍ ، فـاتَّقُوهُنَّ واحْذَرُوهُنَّ : إيَّاكُمْ والكِبْرَ ؛ فإنَّ إبليسَ حملَهُ الكِبْرُ علىٰ ألَّا يسجُدَ لآدمَ . وإيَّاكُمْ والحِرْصَ ؛ فإنَّ آدمَ حملَهُ الحِرْصُ علىٰ أنْ أكلَ مِنَ الشجرةِ . وإيَّاكُمْ والحسَدَ ؛ فإنَّ أبْنَيِ آدمَ إنَّما قتلَ أحدُهُما صاحبَهُ حسَداً
وقالَ بعضُهُمْ : الحاسدُ جاحِدٌ ؛ لأنَّهُ لا يرضَىٰ بقضاءِ الواحدِ
وقيلَ : الحسُودُ لا يسُودُ
وقيلَ في قولِهِ تعالىٰ : ﴿ قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ﴾ ؛ قيلَ : ما بطَنَ : الحسَدُ
وفي بعضِ الكتبِ : الحاسدُ عدوُّ نعمتِي
وقيلَ : أثَرُ الحسَدِ يتبَيَّنُ فيكَ قبلَ أنْ يتبَيَّنَ في عدوِّكَ
وقالَ الأصمعيُّ : رأيتُ أعرابيّاً أتَىٰ عليهِ مِئةٌ وعشرونَ سنةً ، فقلتُ : ما أطولَ عُمُرَكَ ! فقالَ : تركتُ الحسَدَ فبقِيتُ
وقالَ ابنُ المبارَكِ : ( الحمدُ للهِ الذي لمْ يجعلْ في قلبِ أميري ما جعلَ في قلبِ حاسِدِي
وفي بعضِ الآثارِ : إنَّ في السماءِ الخامسةِ ملَكاً يمُرُّ بهِ عملُ عبدٍ لهُ ضوءٌ كضوءِ الشمسِ ، فيقولُ : قِفْ ؛ فأنا ملَكُ الحسَدِ ، اضْرِبْ بهِ وجهَ صاحبِهِ ؛ فإنَّهُ حاسِدٌ
وقالَ معاويةُ رضيَ اللهُ عنهُ : ( كُلُّ إنسانٍ أقدِرُ علىٰ أنْ أُرْضِيَهُ إلَّا الحاسدَ ؛ فإنَّهُ لا يُرْضِيهِ إلَّا زوالُ النعمةِ )
ويُقالُ : الحسَدُ ظالمٌ عَسُوفٌ ، لا يُبْقِي ولا يَذَرُ
Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai
subuh (fajar).” Kemudian Dia berfirman: “Dan dari kejahatan orang yang
dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 1, 5). Maka Allah mengakhiri
surat yang dijadikan perlindungan ini dengan menyebutkan kejahatan dengki.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud
radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
“Ada tiga hal yang menjadi akar dari
setiap dosa/kesalahan, maka jauhilah dan waspadailah ketiganya:
1.
Jauhilah
kesombongan (kibr)! Karena sesungguhnya sombonglah yang
mendorong Iblis tidak mau bersujud kepada Adam.
2.
Jauhilah
ketakserakahan (hirsh)! Karena
sesungguhnya kerakusanlah yang mendorong Adam memakan buah dari pohon
terlarang.
3.
Jauhilah
kedengkian (hasad)! Karena sesungguhnya salah satu dari
dua putra Adam (Kabil) membunuh saudaranya (Habil) tidak lain karena rasa
dengki.”**
Sebagian ulama berkata: "Orang yang dengki adalah orang yang mengingkari
(pemberian Tuhan); karena ia tidak ridha dengan takdir/ketetapan Allah Yang
Maha Esa."
Dikatakan: "Orang yang pendengki tidak akan pernah menjadi
pemimpin/memperoleh kemuliaan (tidak akan bahagia)."
Dikatakan mengenai firman Allah
Ta'ala: “Katakanlah: Tuhanku hanya
mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.”
(QS. Al-A'raf: 33); dikatakan bahwa yang tersembunyi (ما بطن) adalah rasa dengki.
Dalam sebagian Kitab-kitab Terdahulu
(Wahyu): "Orang yang dengki adalah
musuh dari nikmat-Ku."
Dikatakan: "Dampak buruk dari dengki akan terlihat pada dirimu
(si pendengki) terlebih dahulu sebelum terlihat pada musuhmu."
Al-Asma'i menceritakan: Aku pernah melihat seorang Arab Badui yang usianya mencapai
120 tahun, lalu aku berkata: "Betapa panjang umurmu!" Badui
itu menjawab: "Aku meninggalkan rasa dengki, maka aku bisa bertahan
hidup (panjang umur)."
Ibnu al-Mubarok berkata: "Segala puji bagi Allah yang tidak menjadikan di
dalam hati pemimpinku (penguasa) apa yang telah dijadikan-Nya di dalam hati
orang yang mendengki padaku."
Dalam sebagian riwayat (atsar): Sesungguhnya di langit kelima ada malaikat yang dilewati
oleh amalan seorang hamba yang memiliki cahaya berkilauan seperti cahaya matahari.
Lalu malaikat itu berkata: "Berhentilah! Aku adalah malaikat penjaga
dosa dengki. Pukulkan amalan ini ke wajah pemiliknya, karena sesungguhnya dia
adalah seorang yang pendengki."
Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu
berkata: "Setiap orang mampu aku
buat ridha (senang) kecuali orang yang dengki; karena tidak ada yang mampu
membuatnya senang kecuali hilangnya nikmat dari orang lain."
Dikatakan pula: "Dengki adalah kezaliman yang sewenang-wenang
(sangat merusak), tidak meninggalkan dan tidak menyisakan apa pun."
وقالَ عمرُ بنُ عبدِ العزيزِ : ( ما رأيتُ ظالماً أشبهَ بِمظلومٍ مِنَ الحاسِدِ ؛ غَمٌّ دائمٌ ، ونَفَسٌ متتابعٌ )
وقيلَ : مِنْ علاماتِ الحاسِدِ : أنْ يَتَمَلَّقَ إذا شهِدَ ، ويغتابَ إذا غابَ ، ويشْمَتَ بالمصيبةِ إذا نزَلَتْ
وقالَ معاويةُ رضيَ اللهُ عنهُ : ( ليسَ في خلالِ الشرِّ خَلَّةٌ أعدلَ مِنَ الحسَدِ ؛ يقتلُ الحاسِدَ غَمّاً قبلَ المحسودِ )
وقيلَ : أَوْحَى اللهُ تعالىٰ إلىٰ سليمانَ بنِ داوودَ عليهما السلامُ : أُوصِيكَ بسَبْعةِ أشياءَ : لا تغتابَنَّ صالحَ عبادي ، ولا تحسُدَنَّ أحداً مِنْ عبادي ، فقالَ سليمانُ : يا ربِّ ؛ حسْبِي
وقيلَ : رأَىٰ موسَىٰ عليهِ السلامُ رجُلًا عندَ العرْشِ ، فغِبَطَهُ ، فقالَ : ما صِفَتُهُ ؟ فقيلَ : كانَ لا يحسُدُ الناسَ علىٰ ما آتاهُمُ اللهُ مِنْ فضْلِهِ
وقيلَ : الحاسِدُ إذا رأَىٰ نعمةً . . بُهِتَ ، وإذا رأَىٰ عثْرةً . . شَمِتَ
وقيلَ : إذا أردتَ أنْ تسلَمَ مِنَ الحاسِدِ . . فلْبِسْ عليهِ أمْرَكَ
وقيلَ : الحاسِدُ مغْتاظٌ علىٰ مَنْ لا ذنْبَ لهُ ، بخِيلٌ بما لا يملِكُهُ
وقيلَ : إيَّاكَ أنْ تتعَنَّىٰ في مودَّةِ مَنْ يحسُدُكَ ؛ فإنَّهُ لا يقبَلُ إحسانَكَ
وقيلَ : إذا أرادَ اللهُ أنْ يُسَلِّطَ علىٰ عبْدٍ عدُوّاً لا يرحَمُهُ . . سلَّطَ عليهِ حاسِدَهُ
أنشَدُوا : وَحَسْبُكَ مِنْ حَادِثٍ بِامْرِئٍ ... تَرَىٰ حَاسِدِيهِ لَهُ رَاحِمِينَا
وأنشَدُوا : كُلُّ الْعَدَاوَةِ قَدْ تُرْجَىٰ إِمَاتَتُهَا ... إِلا عَدَاوَةَ مَنْ عَادَاكَ مِنْ حَسَدِ
وقالَ ابنُ المعتَزِّ : قُلْ لِلْحَسُودِ إِذَا تَنَفَّسَ طَعْنَةً ... يَا ظَالِماً وَكَأَنَّهُ مَظْلُومُ
وأنشَدُوا : وَإِذَا أَرَادَ اللهُ نَشْرَ فَضِيلَةٍ ... طُوِيَتْ أَتَاحَ لَهَا لِسَانَ حَسُودِ
Umar bin Abdul Aziz berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang yang zalim tetapi
sangat menyerupai orang yang terzalimi melebihi seorang pendengki; ia
senantiasa dalam duka/kesedihan yang abadi dan napas yang terengah-engah (penuh
keesakan/penyesalan)."
Dikatakan: "Di antara tanda-tanda seorang pendengki adalah: ia
menjilat/menyanjung ketika hadir di depanmu, menggunjing (mengghibah) ketika
engkau tidak ada, dan merasa gembira (bergembira di atas penderitaan) ketika
musibah menimpamu."
Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu
berkata: "Tidak ada di antara
sifat-sifat keburukan suatu sifat yang lebih adil daripada dengki; karena ia
membunuh si pendengki dengan duka/kesedihan terlebih dahulu sebelum membunuh
orang yang didengkinya."
Dikatakan: Allah Ta'ala mewahyukan kepada Nabi Sulaiman bin Daud
'alaihimas salam: "Aku berwasiat kepadamu dengan tujuh perkara: Jangan
sekali-kali engkau menggunjing hamba-hamba-Ku yang saleh, dan jangan
sekali-kali engkau mendengki seorang pun dari hamba-hamba-Ku." Maka
Sulaiman berkata: "Wahai Tuhanku, cukuplah ini bagiku."
Dikatakan: Nabi Musa 'alaihissalam melihat seorang pria berada di
dekat Arasy, lalu beliau merasa cemburu/menginginkan kedudukan tersebut
(gbibthah). Beliau bertanya: "Apa sifat/amalan orang ini?"
Dijawab: "Dahulu ia tidak pernah mendengki manusia atas apa yang Allah
berikan kepada mereka dari karunia-Nya."
Dikatakan: "Seorang pendengki itu jika melihat nikmat (pada
orang lain).. ia akan terpukul/terperanjat (terdiam terkejut), dan jika melihat
kekhilafan/kesalahan.. ia akan bersuka cita."
Dikatakan: "Jika engkau ingin selamat dari orang yang dengki..
maka samarkanlah/rahasiakanlah urusanmu darinya."
Dikatakan: "Orang yang dengki selalu marah kepada orang yang
tidak berdosa kepadanya, dan ia pelit terhadap sesuatu yang bahkan bukan
miliknya."
Dikatakan: "Jauhilah bersusah payah mencari keakraban/kasih
sayang dari orang yang mendengkimu; karena sesungguhnya ia tidak akan pernah
menerima kebaikanmu."
Dikatakan: "Jika Allah hendak menimpakan kepada seorang hamba
seorang musuh yang tidak menyayanginya.. maka Allah akan menundukkan/menjadikan
orang yang dengki kepadanya sebagai musuhnya."
Lalu dibacakan bait syair (berirama
Bahr Al-Mutaqarib):
Cukuplah menjadi petaka besar bagi
seseorang, Ketika engkau melihat para
pendengkinya justru berubah menaruh rasa iba kepadanya.
Dan dibacakan bait syair (berirama
Bahr Al-Basith):
Setiap permusuhan masih dapat
diharapkan untuk padam/diakhiri,
Kecuali permusuhan dari orang yang memusuhimu karena rasa dengki.
Ibnu al-Mu'tazz berkata: (berirama Bahr Al-Kamil)
Katakanlah kepada si pendengki saat
ia mengembuskan napas yang penuh tikaman dengki: "Wahai orang yang zalim, namun tampak seolah-olah
ia adalah orang yang terzalimi!"
Dan dibacakan bait syair (berirama
Bahr Al-Kamil):
Jika Allah berkehendak menyebarkan
suatu keutamaan yang sebelumnya tersembunyi (terlipat), Niscaya Dia akan menyediakan baginya lisannya orang yang
dengki (sebab kedengkiannya justru membuat keutamaan itu makin dikenal).
ومِنَ الأخلاقِ المذمومةِ للنفسِ : اعتيادُ الغِيبةِ
Dan di antara akhlak tercela bagi nafsu
adalah: terbiasa melakukan ghibah (penggunjingan).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.