**Allah Ta'ala berfirman:*“Dan Kami pasti akan
menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan...”* (QS. Al-Baqarah: 155),
kemudian Dia berfirman di akhir ayat: *“Dan sampaikanlah kabar gembira kepada
orang-orang yang sabar.”
Maka
Allah memberikan kabar gembira berupa pahala yang indah atas kesabaran dalam
menanggung beratnya rasa lapar.
Allah Ta'ala juga berfirman:
“Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas
diri mereka sendiri, meskipun mereka dalam kekurangan.”* (QS. Al-Hashr: 9)
*Sanad Hadis:*
'Ali bin Ahmad Al-Ahwazi mengabarkan kepada
kami, ia berkata: Ahmad bin 'Ubaid Ash-Shaffar mengabarkan kepada kami, ia
berkata: 'Abdullah bin Ayyub menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Walid
At-Thayalisi menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Hasyim (sahabat
Az-Za'farani) menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin 'Abdillah
menceritakan kepada kami, dari Anas bin Malik bahwasanya ia menceritakan kepadanya:
Fatimah *radhiyallahu 'anha* datang membawa sepotong roti kepada Rasulullah SAW.
Beliau bersabda: “Kepingan roti apakah ini,
wahai Fatimah?”
Fatimah menjawab: “Ini adalah selembar roti
yang aku buat, dan hatiku tidak tenang sebelum membawakannya untukmu.”
Beliau bersabda: “Ketahuilah, ini adalah
makanan pertama yang masuk ke dalam mulut ayahmu sejak tiga hari yang lalu.”
Dalam sebagian riwayat disebutkan: Fatimah
*radhiyallahu 'anha* datang membawa sepotong roti dari gandum (*sya'ir*).
Al-Ustadz (Al-Qusyairi) berkata: “Rasa lapar
merupakan salah satu sifat kaum (para sufi/orang saleh), dan ia adalah salah
satu rukun riyadhah (latihan jiwa). Para penempuh jalan spiritual (*arbab
as-suluk*) melatih diri secara bertahap hingga terbiasa lapar dan menahan diri
dari makan. Mereka menemukan sumber-sumber hikmah di dalam rasa lapar, dan
banyak sekali kisah-kisah tentang hal tersebut dari mereka.”*
Diriwayatkan dari Ibnu Salim: Aku mendengar
Muhammad bin Ahmad bin Muhammad Ash-Shufi berkata: Aku mendengar 'Abdullah bin
'Ali At-Tamimi berkata: Aku mendengar Ibnu Salim berkata:
“Adab dalam melaparkan diri adalah tidak
mengurangi porsi makannya secara drastis, melainkan sedikit demi sedikit
sebesar telinga kucing saja.”
Dikatakan pula:
Sahl bin 'Abdillah (At-Tustari) tidak makan
kecuali sekali setiap lima belas hari. Jika masuk bulan Ramadan, ia tidak makan
sama sekali hingga melihat hilal (Syawal), dan ia hanya berbuka setiap malamnya
dengan air putih jernih.
Yahya bin Mu'adh berkata:
“Seandainya
rasa lapar diperjualbelikan di pasar, maka tidak sepatutnya bagi para pencari
akhirat saat masuk ke pasar untuk membeli barang selainnya.”
Sahl bin 'Abdillah At-Tustari berkata:
Aku mendengar Abu Muhammad 'Abdullah bin Ahmad
Al-Ishtakhri di Mekkah berkata: Sahl bin 'Abdillah At-Tustari berkata:
“Ketika
Allah Ta'ala menciptakan dunia, Dia menempatkan kemaksiatan dan kebodohan di
dalam kenyang, dan Dia menempatkan ilmu serta hikmah di dalam rasa lapar.”
Yahya bin Mu'adh berkata:
“Rasa
lapar bagi para murid (pencari kebenaran) adalah olah jiwa (riyadhah), bagi
orang-orang yang bertobat adalah ujian/pengalaman, bagi para zuhud adalah
strategi pengurusan diri (siyasah), dan bagi para 'arifin (orang yang kenal
Allah) adalah kemuliaan.”
Abu 'Ali Ad-Daqqaq menceritakan:
Aku mendengar Al-Ustadz Abu 'Ali Ad-Daqqaq
berkata: Seseorang pernah menemui salah seorang syekh/guru, lalu ia melihat
syekh tersebut sedang menangis.
Ia bertanya: “Mengapa engkau menangis?”
Syekh menjawab: *“Aku sedang lapar.”*
Orang itu heran: *“Apakah orang sepertimu
menangis hanya karena lapar?!”*
Maka Syekh menjawab: *“Diamlah! Tidakkah
engkau tahu bahwa maksud Allah membuaatku lapar adalah agar aku menangis di
hadapan-Nya?!”*
Riwayat tentang Al-Hajjaj bin Furafishah:
Aku mendengar Abu 'Abdillah Asy-Syirazi
berkata: Muhammad bin Bishr menceritakan kepada kami, ia berkata: Al-Husain bin
Manshur menceritakan kepada kami, ia berkata: Dawud bin Mu'adh menceritakan
kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Mukhallad berkata:
“Al-Hajjaj
bin Furafishah pernah bersama kami di Syam, ia bertahan selama lima puluh malam
tanpa meminum air, dan ia juga tidak menolak makanan apa pun yang hendak ia
makan.”
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الغَزَّالَ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدَ بْنَ يَحْيَى الجَلاَّ يَقُولُ : دَخَلَ أَبُو تُرَابٍ النَّخْشَبِيُّ مِنْ بَادِيَةِ البَصْرَةِ مَكَّةَ ، فَسَأَلْنَاهُ عَنْ أَكْلِهِ ، فَقَالَ : خَرَّجْتُ مِنَ البَصْرَةِ ، وَأَكَلْتُ بِنِبَاجٍ ، ثُمَّ بِذَاتِ عِرْقٍ ، وَمِنْ ذَاتِ عِرْقٍ إِلَيْكُمْ ، قَطَعَ البَادِيَةَ بِأَكْلَتَيْنِ
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ النَّحَّاسِ المِصْرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدَّقَّاقُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنُ الدَّرَفْسِيِّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الحَوَارِيِّ قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ العَزِيزِ بْنَ عُمَيْرٍ يَقُولُ : ( تَجَوَّعَ صِنْفٌ مِنَ الطَّيْرِ أَرْبَعِينَ صَبَاحاً ، ثُمَّ طَارُوا فِي الهَوَاءِ ، فَرَجَعُوا بَعْدَ أَيَّامٍ وَكَانَ يَفُوحُ مِنْهُمْ رَائِحَةُ المِسْكِ )
وَكَانَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ إِذَا جَاعَ .. قَوِيَ ، وَإِذَا أَكَلَ شَيْئاً .. ضَعُفَ
وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ المَغْرِبِيُّ : ( الرَّبَّانِيُّ لاَ يَأْكُلُ إِلاَّ فِي أَرْبَعِينَ يَوْماً ، وَالصَّمَدَانِيُّ فِي ثَمَانِينَ يَوْماً )
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ العَلَوِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ إِبْرَاهِيمَ القَاضِيَ بِدِمَشْقَ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيِّ بْنِ خَلَفٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ أَبِي الحَوَارِيِّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيَّ يَقُولُ : ( مِفْتَاحُ الدُّنْيَا الشِّبَعُ ، وَمِفْتَاحُ الآخِرَةِ الجُوعُ )
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ الحَسَنِ الأَرْجَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا مُحَمَّدٍ الإِصْطَخْرِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ وَقِيلَ لَهُ : الرَّجُلُ يَأْكُلُ فِي اليَوْمِ أَكْلَةً ؟ فَقَالَ : أَكْلُ الصِّدِّيقِينَ ، قَالَ : فَأَكْلَتَيْنِ ؟ قَالَ : أَكْلُ المُؤْمِنِينَ ، قَالَ : فَثَلاَثٌ ؟ قَالَ : قُلْ لِأَهْلِكَ يَبْنُونَ لَكَ مَعْلَفاً
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : حَدَّثَنَا عَبْدُ العَزِيزِ بْنُ الفَضْلِ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ السَّائِحُ قَالَ : سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ مُعَاذٍ يَقُولُ : ( الجُوعُ نُورٌ ، وَالشِّبَعُ نَارٌ ، وَالشَّهْوَةُ مِثْلُ الحَطَبِ يَتَوَلَّدُ مِنْهُ الإِحْرَاقُ ، لاَ تُطْفَأُ نَارُهُ حَتَّى يُحْرِقَ صَاحِبَهُ ) سَمِعْتُ أَبَا حَاتِمٍ السِّجِسْتَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ السَّرَّاجَ الطُّوسِيَّ يَقُولُ : دَخَلَ رَجُلٌ مِنَ الصُّوفِيَّةِ عَلَى شَيْخٍ ، فَقَدَّمَ إِلَيْهِ طَعَاماً ثُمَّ قَالَ لَهُ : مُنْذُ كَمْ لَمْ تَأْكُلْ ؟ فَقَالَ : مُنْذُ خَمْسَةِ أَيَّامٍ ، فَقَالَ : جُوعُكَ جُوعُ بُخْلٍ ؛ عَلَيْكَ ثِيَابٌ وَأَنْتَ تَجُوعُ ؟! لَيْسَ هَذَا جُوعَ فَقْرٍ
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ سَعِيدٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ العَبَّاسَ بْنَ حَمْزَةَ يَقُولُ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الحَوَارِيِّ قَالَ : قَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيُّ : ( لَأَنْ أَتْرُكَ مِنْ عَشَائِي لُقْمَةً أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُومَ اللَّيْلَ إِلَى آخِرِهِ ) وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا القَاسِمِ جَعْفَرَ بْنَ أَحْمَدَ الرَّازِيَّ يَقُولُ : تَشَهَّى أَبُو الخَيْرِ العَسْقَلاَنِيُّ السَّمَكَ سِنِينَ ، ثُمَّ ظَهَرَ لَهُ ذَلِكَ مِنْ مَوْضِعٍ حَلاَلٍ ، فَلَمَّا مَدَّ يَدَهُ إِلَيْهِ لِيَأْكُلَ .. أَخَذَتْ شَوْكَةٌ مِنْ عِظَامِهِ إِصْبَعَهُ فَذَهَبَتْ فِي ذَلِكَ يَدُهُ ، فَقَالَ : يَا رَبِّ ؛ هَذَا لِمَنْ مَدَّ يَدَهُ بِشَهْوَةٍ إِلَى حَلاَلٍ ، فَكَيْفَ بِمَنْ مَدَّ يَدَهُ بِشَهْوَةٍ إِلَى حَرَامٍ ؟
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Abu Bakr Al-Ghazzal berkata: Aku mendengar Muhammad bin 'Ali berkata:
Aku mendengar Abu 'Abdillah Ahmad bin Yahya Al-Jalla' berkata:
Abu Turab An-Nakhsyabi masuk ke
Makkah dari padang pasir Basrah. Kami bertanya kepadanya tentang pola makannya
selama perjalanan, maka ia menjawab: “Aku keluar dari Basrah, lalu aku makan
di Nibaj, kemudian di Dzat 'Irq, lalu dari Dzat 'Irq langsung menuju kalian.”
(Ia menyeberangi padang pasir yang
luas hanya dengan dua kali makan!)
Dan aku mendengarnya berkata: 'Ali
bin An-Nahhas Al-Mishri menceritakan kepada kami, ia berkata: Harun bin
Muhammad Ad-Daqqaq menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu 'Abdirrahman bin
Ad-Darafsi menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Abi Al-Hawari
menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar 'Abdul 'Aziz bin 'Umair
berkata:
“Sejenis burung melatih lapar selama
empat puluh pagi, kemudian mereka terbang di udara dan kembali beberapa hari
kemudian dalam keadaan menyebarkan aroma harum semerbak minyak misik.”
Sahl bin 'Abdillah (At-Tustari)
apabila lapar.. fisiknya justru menjadi kuat, namun apabila ia makan sesuatu..
tubuhnya menjadi lemah.
Abu 'Utsman Al-Maghribi berkata:
“Seorang Rabbani (yang dekat dengan
Allah) tidak makan kecuali sekali dalam empat puluh hari, sedangkan seorang
Samadani (yang bergantung sepenuhnya pada Allah) makan sekali dalam delapan
puluh hari.”
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
'Abdirrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Muhammad bin 'Ali Al-'Alawi
berkata: Aku mendengar 'Ali bin Ibrahim Al-Qadhi di Damaskus berkata: Aku
mendengar Muhammad bin 'Ali bin Khalaf berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abi
Al-Hawari berkata: Aku mendengar Abu Sulaiman Ad-Darani berkata:
“Kunci pintu dunia adalah rasa
kenyang, sedangkan kunci pintu akhirat adalah rasa lapar.”
Aku mendengar Muhammad bin 'Abdillah
bin 'Ubaidillah berkata: Aku mendengar 'Ali bin Al-Hasan Al-Arjani berkata: Aku
mendengar Abu Muhammad Al-Ishtakhri berkata: Aku mendengar Sahl bin 'Abdillah
pernah ditanya orang:
“Bagaimana jika seseorang makan
sekali dalam sehari?”
Sahl menjawab: “Itu adalah
makannya orang-orang yang jujur (ash-shiddiqin).”
Orang itu bertanya lagi: “Bagaimana
jika dua kali?”
Sahl menjawab: “Itu makannya
orang-orang mukmin.”
Orang itu bertanya lagi: “Bagaimana
jika tiga kali sehari?”
Sahl menjawab: “Katakan pada
keluargamu agar membuatkan kandang/tempat makan hewan untukmu!”
Dan aku mendengarnya berkata: 'Abdul
'Aziz bin Al-Fadhl menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Bakr As-Sa'ih
menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Yahya bin Mu'adh berkata:
“Rasa lapar adalah cahaya, sedangkan
rasa kenyang adalah api. Adapun hawa nafsu ibarat kayu bakar yang dapat memicu
pembakaran, apinya tidak akan padam hingga membakar pelakunya.”
Aku mendengar Abu Hatim As-Sijistani
berkata: Aku mendengar Abu Nasr As-Sarraj At-Thusi berkata:
Seorang lelaki sufi menemui seorang
syekh, lalu syekh itu menyajikan makanan padanya dan bertanya: “Sudah berapa
lama engkau tidak makan?”
Lelaki itu menjawab: “Sudah lima
hari.”
Maka Syekh menegurnya: “Rasa laparmu
adalah lapar karena kikir! Engkau memiliki pakaian (harta/kemampuan) tetapi
engkau melaparkan diri? Ini bukanlah kelaparan karena kemiskinan (yang
sebenarnya).”
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin Sa'id Ar-Razi berkata: Aku
mendengar Al-'Abbas bin Hamzah berkata: Ahmad bin Abi Al-Hawari menceritakan
kepada kami, ia berkata: Abu Sulaiman Ad-Darani berkata:
“Sungguh, menyisakan satu suapan
dari makan malamku lebih aku sukai daripada aku shalat malam hingga akhir
malam.”
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Abu Al-Qasim Ja'far bin Ahmad Ar-Razi berkata:
Abu Al-Khair Al-'Asqalani sangat
mengidamkan makan ikan selama bertahun-tahun. Suatu hari, ia mendapatkan ikan
dari sumber yang halal. Ketika ia mengulurkan tangannya untuk memakannya, duri
dari ikan tersebut menusuk jarinya hingga merusak/membuat tangannya luka parah.
Maka ia berkata: “Ya Rabbi, ini
adalah balasan bagi orang yang mengulurkan tangannya karena hawa nafsu kepada
hal yang halal, lalu bagaimana dengan orang yang mengulurkan tangannya karena
hawa nafsu kepada hal yang haram?!”
سَمِعْتُ أَبَا بَكْرِ ابْنَ فُورَكٍ يَقُولُ : ( شُغْلُ العِيَالِ نَتِيجَةُ مُتَابَعَةِ الشَّهْوَةِ بِالحَلاَلِ ، فَمَا ظَنُّكَ بِقَضِيَّةِ شَهْوَةِ الحَرَامِ ؟! )
سَمِعْتُ رُسْتَمَ الشِّيرَازِيَّ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : كَانَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ خَفِيفٍ فِي دَعْوَةٍ ، فَمَدَّ وَاحِدٌ مِنْ أَصْحَابِهِ يَدَهُ إِلَى الطَّعَامِ قَبْلَ الشَّيْخِ لِمَا كَانَ بِهِ مِنَ الفَاقَةِ ، فَأَرَادَ بَعْضُ أَصْحَابِ الشَّيْخِ أَنْ يَنْكُتَ عَلَيْهِ لِسُوءِ أَدَبِهِ حَيْثُ مَدَّ يَدَهُ إِلَى الطَّعَامِ قَبْلَ الشَّيْخِ ، فَوَضَعَ شَيْئاً بَيْنَ يَدَيِ هَذَا الفَقِيرِ ، فَعَلِمَ الفَقِيرُ أَنَّهُ نُكِتَ عَلَيْهِ لِسُوءِ أَدَبِهِ ، فَاعْتَقَدَ أَلَّا يَأْكُلَ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْماً عُقُوبَةً لِنَفْسِهِ وَتَأْدِيباً لَهَا ، وَإِظْهَاراً لِتَوْبَتِهِ مِنْ سُوءِ أَدَبِهِ ، وَكَانَ قَدْ أَصَابَهُ فَقْرٌ قَبْلَ ذَلِكَ
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الصُّوفِيَّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الفَرَجِ الوَرْثَانِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الحَارِثِ قَالَ : حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُودَ قَالَ : حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ : سَمِعْتُ مَالِكَ بْنَ دِينَارٍ يَقُولُ : ( مَنْ غَلَبَ شَهَوَاتِ الدُّنْيَا .. فَذَلِكَ الَّذِي يَفْرَقُ الشَّيْطَانُ مِنْ ظِلِّهِ )
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَصْبَهَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيَّ يَقُولُ : ( إِذَا قَالَ الصُّوفِيُّ بَعْدَ خَمْسَةِ أَيَّامٍ : أَنَا جَائِعٌ .. فَأَلْزِمُوهُ السُّوقَ ، وَأْمُرُوهُ بِالكَسْبِ )
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ حَاكِياً عَنْ بَعْضِ المَشَايِخِ أَنَّهُ قَالَ : إِنَّ أَهْلَ النَّارِ غَلَبَتْ شَهْوَتُهُمْ حَمِيَّتَهُمْ ، فَلِذَلِكَ افْتَضَحُوا
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : قِيلَ لِبَعْضِهِمْ : أَلاَ تَشْتَهِي ؟ فَقَالَ : أَشْتَهِي وَلَكِنْ أَحْتَمِي
وَقِيلَ لِبَعْضِهِمْ : أَلاَ تَشْتَهِي ؟ فَقَالَ : أَشْتَهِي أَلَّا أَشْتَهِيَ ، وَهَذَا أَتَمُّ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ مَخْلَدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الحُسَيْنِ الحَسَنُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الجَهْمِ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ التَّمَّارَ قَالَ : أَتَانِي بِشْرٌ لَيْلَةً ، فَقُلْتُ : الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَاءَ بِكَ ؛ جَاءَنَا قُطْنٌ مِنْ خُرَاسَانَ غَزَلَتْهُ البِنْتُ ، وَبَاعَتْهُ ، وَاشْتَرَتْ لَنَا لَحْماً ، فَتَفْطُرُ عِنْدَنَا
فَقَالَ : لَوْ أَكَلْتُ عِنْدَ أَحَدٍ .. أَكَلْتُ عِنْدَكُمْ ، ثُمَّ قَالَ : إِنِّي لَأَشْتَهِي البَاذِنْجَانَ مُنْذُ سِنِينَ ، لَمْ يَتَّفِقْ لِي أَكْلُهُ ، فَقُلْتُ : فَفِيهَا بَاذِنْجَانٌ مِنَ الحَلاَلِ ، فَقَالَ : حَتَّى يَصْفُوَ لِي حُبُّ البَاذِنْجَانِ
Aku mendengar Abu Bakr bin Furak
berkata:
“Kesibukan mengurus keluarga
merupakan dampak dari menuruti hawa nafsu pada hal yang halal, maka bagaimana
bayanganmu dengan akibat menuruti hawa nafsu pada hal yang haram?!”
Aku mendengar Rustam Asy-Syirazi
Ash-Shufi berkata:
Abu 'Abdillah bin Khafif menghadiri
suatu perjamuan makan. Salah seorang sahabatnya mendahului mengulurkan tangan
ke makanan sebelum Syekh (Ibnu Khafif) karena kelaparan yang sangat (faqah).
Maka sebagian sahabat Syekh hendak menegurnya atas kelakuannya yang kurang
beradab—karena mendahului Syekh mengambil makanan—dengan meletakkan sesuatu di
hadapan orang fakir tersebut.
Orang fakir itu pun sadar bahwa ia
sedang ditegur karena kelakuannya yang tidak beradab. Maka ia bertekad untuk
tidak makan selama lima belas hari sebagai hukuman dan pelajaran bagi dirinya,
serta bentuk penyesalan atas sikapnya yang buruk, padahal sebelumnya ia memang
dalam keadaan sangat miskin/lapar.
Aku mendengar Muhammad bin 'Abdillah
Ash-Shufi berkata: Abul Faraj Al-Warthani menceritakan kepada kami, ia berkata:
'Abdullah bin Muhammad bin Ja'far menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibrahim
bin Muhammad bin Al-Harith menceritakan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin
Dawud menceritakan kepada kami, ia berkata: Ja'far bin Sulaiman menceritakan
kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Malik bin Dinar berkata:
“Barang siapa mampu mengalahkan hawa
nafsu dunianya, maka dialah orang yang bahkan setan pun lari ketakutan dari
bayangannya.”
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Manshur bin 'Abdillah Al-Asbahani berkata: Aku mendengar Abu 'Ali
Ar-Rudzbari berkata:
“Apabila seorang sufi (penempuh
jalan spiritual) setelah lima hari berkata: 'Aku lapar', maka bawalah ia ke
pasar dan perintahlah ia untuk bekerja (mencari penghidupan).”
Aku mendengar Al-Ustadz Abu 'Ali
Ad-Daqqaq mengisahkan dari sebagian syekh bahwasanya ia berkata:
“Sesungguhnya penghuni neraka itu
dikalahkan oleh hawa nafsu mereka atas kehormatan diri mereka, maka karena
itulah mereka celaka/terkena kehinaan.”
Dan aku mendengarnya berkata:
Ditanyakan kepada sebagian ulama/sufi: “Apakah engkau tidak
berhasrat/berselera?”
Maka ia menjawab: “Aku berhasrat,
tetapi aku menahan/menjaga diri (ihmi).”
Dan ditanyakan pula kepada yang
lainnya: “Apakah engkau tidak berhasrat?”
Maka ia menjawab: “Hasratku
adalah agar aku TIDAK berhasrat (pada hawa nafsu), dan ini adalah tingkat
pencapaian yang lebih sempurna.”
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
'Abdirrahman As-Sulami berkata: Ahmad bin Manshur mengabarkan kepada kami, ia
berkata: Ibnu Makhlad menceritakan kepada kami, ia berkata: Abul Husain
Al-Hasan bin 'Amr bin Al-Jahm menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku
mendengar Abu Nasr At-Tammar berkata:
Bishr (Al-Hafi) datang kepadaku pada
suatu malam, maka aku berkata kepadanya: “Segala puji bagi Allah yang telah
membawamu kemari; putriku mendapatkan benang pintal kapas dari Khurasan lalu
menjualnya, dan uangnya dibelikan daging untuk kami. Maka berbukalah di tempat
kami malam ini.”
Bishr menjawab: “Seandainya aku
mau makan di rumah seseorang, tentu aku akan makan di rumahmu.” Kemudian ia
berkata: “Sesungguhnya aku sudah bertahun-tahun sangat ingin makan terong
(ba-dinjan), namun belum pernah berkesempatan memakannya.”
Abu Nasr berkata: “Di hidangan
ini ada terong dari hasil yang halal.”
Bishr menjawab: “(Aku belum akan
memakannya) sampai kecintaanku pada terong benar-benar murni (tidak didasari
hawa nafsu).”
سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ابْنَ بَاكُوَيْهِ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا أَحْمَدَ الصَّغِيرَ يَقُولُ : أَمَرَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ بْنُ خَفِيفٍ أَنْ أُقَدِّمَ إِلَيْهِ كُلَّ لَيْلَةٍ عَشْرَ حَبَّاتِ زَبِيبٍ لإِفْطَارِهِ ، فَلَيْلَةً أَشْفَقْتُ عَلَيْهِ ، فَحَمَلْتُ إِلَيْهِ خَمْسَ عَشْرَةَ حَبَّةً ، فَنَظَرَ إِلَيَّ وَقَالَ : مَنْ أَمَرَكَ بِهَذَا ؟! وَأَكَلَ عَشْرَ حَبَّاتٍ وَتَرَكَ البَاقِيَ
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا العَبَّاسِ أَحْمَدَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الفَرْغَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الحُسَيْنِ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ يُوسُفَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا تُرَابٍ النَّخْشَبِيَّ يَقُولُ : مَا تَمَنَّتْ نَفْسِي مِنَ الشَّهَوَاتِ إِلاَّ مَرَّةً وَاحِدَةً ؛ تَمَنَّتْ خُبْزاً وَبَيْضاً وَأَنَا فِي سَفَرٍ ، فَعَدَلْتُ إِلَى قَرْيَةٍ ، فَقَامَ وَاحِدٌ وَتَعَلَّقَ بِي وَقَالَ : هَذَا كَانَ مَعَ اللُّصُوصِ ، فَضَرَبُونِي سَبْعِينَ دُرَّةً ، ثُمَّ عَرَفَنِي رَجُلٌ مِنْهُمْ فَقَالَ : هَذَا أَبُو تُرَابٍ [ النَّخْشَبِيُّ وَاعْتَذَرُوا إِلَيَّ ، فَحَمَلَنِي رَجُلٌ إِلَى مَنْزِلِهِ وَقَدَّمَ إِلَيَّ خُبْزاً وَبَيْضاً ، فَقُلْتُ لِنَفْسِي : كُلِي بَعْدَ سَبْعِينَ دُرَّةً
Aku mendengar Abu 'Abdillah ibn
Bakuwaih Ash-Shufi berkata: Aku mendengar Abu Ahmad Ash-Shaghir berkata:
Abu 'Abdillah bin Khafif
memerintahkanku untuk menyajikan sepuluh butir kismis setiap malam sebagai menu
berbuka puasa baginya. Pada suatu malam, aku merasa kasihan kepadanya, lalu aku
membawakannya lima belas butir kismis.
Beliau melihat kepadaku lalu
menegur: “Siapa yang memerintahkanmu melakukan ini?!”
Kemudian beliau hanya memakan
sepuluh butir kismis dan meninggalkan sisanya.
Aku mendengar Muhammad bin 'Abdillah
bin 'Ubaidillah berkata: Aku mendengar Abul 'Abbas Ahmad bin Muhammad bin
'Abdillah Al-Farghani berkata: Aku mendengar Abul Husain Ar-Razi berkata: Aku
mendengar Yusuf bin Al-Husain berkata: Aku mendengar Abu Turab An-Nakhsyabi
berkata:
“Jiwaku (hawa nafsuku) tidak pernah
menginginkan/mengidamkan suatu keinginan kecuali hanya satu kali saja. Yaitu
jiwaku mengidamkan makan roti dan telur saat aku sedang dalam suatu perjalanan
(safar).”
“Maka aku pun belok mampir ke sebuah
desa. Tiba-tiba ada seseorang yang berdiri lalu mencengkeramku seraya
berteriak: 'Orang ini tadi bersama para pencuri!' Mereka pun memukuliku
sebanyak tujuh puluh kali pukulan pecut (durrah).”
“Kemudian ada seorang pria dari
mereka yang mengenaliku dan berkata: 'Ini adalah Abu Turab An-Nakhsyabi!' Maka
mereka pun meminta maaf kepadaku. Lalu salah seorang pria membawaku ke rumahnya
dan menyajikan roti beserta telur kepadaku.”
“Maka aku pun berkata kepada jiwaku:
'Makanlah sekarang setelah engkau menerima tujuh puluh kali pukulan pecut!'”