بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
14.Bab tentang
Kesedihan.
بابُ الحُزْنِ
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَقَالُوا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ﴾
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ
عَبْدَانَ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ
حَبِيشٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ قَالَ:
حَدَّثَنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ اللَّيْثِيُّ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
عَطَاءٍ قَالَ: سَمِعْتُ عَطَاءَ بْنَ يَسَارٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ
يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
«مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ العَبْدَ المُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ أَوْ نَصَبٍ
أَوْ حَزَنٍ أَوْ هَمٍّ يُهِمُّهُ .. إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
قَالَ الأُسْتَاذُ: الحُزْنُ يَقْبِضُ القَلْبَ عَنِ التَّفَرُّقِ فِي
أَوْدِيَةِ الغَفْلَةِ، وَالحُزْنُ مِنْ أَوْصَافِ أَهْلِ السُّلُوكِ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ:
(صَاحِبُ الحُزْنِ يَقْطَعُ مِنْ طَرِيقِ اللَّهِ فِي شَهْرٍ مَا لاَ يَقْطَعُهُ مَنْ
فَقَدَ حُزْنَهُ بِسِنِينَ
وَفِي الخَبَرِ: «إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُحِبُّ كُلَّ قَلْبٍ حَزِينٍ».
وَفِي التَّوْرَاةِ: إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ تَعَالَى عَبْدًا .. نَصَبَ
فِي قَلْبِهِ نَائِحَةً، وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا .. جَعَلَ فِي قَلْبِهِ مِزْمَارًا
وَرُوِيَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
مُتَوَاصِلَ الأَحْزَانِ، دَائِمَ الفِكْرِ
وَقَالَ بِشْرُ بْنُ الحَارِثِ: (الحُزْنُ مَلِكٌ، فَإِذَا سَكَنَ فِي
مَوْضِعٍ .. لَمْ يَرْضَ أَنْ يُسَاكِنَهُ أَحَدٌ
وَقِيلَ: القَلْبُ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ حُزْنٌ .. خَرِبَ؛ كَمَا أَنَّ
الدَّارَ إِذَا لَمْ يَكُنْ فِيهَا سَاكِنٌ .. خَرِبَتْ
وَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ القُرَشِيُّ: (بُكَاءُ الأَحْزَانِ يُعْمِي، وَبُكَاءُ
الشَّوْقِ يُغَشِّي عَلَى البَصَرِ وَلاَ يُعْمِي)؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: ﴿وَابْيَضَّتْ
عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ﴾
وَقَالَ ابْنُ خَفِيفٍ: (الحُزْنُ: حَصْرُ النَّفْسِ عَنِ النَّهُوضِ
فِي الطَّرَبِ
وَسَمِعَتْ رَابِعَةُ رَجُلاً يَقُولُ: وا حُزْنَاهُ! فَقَالَتْ: قُلْ:
وا قِلَّةَ حُزْنَاهُ؛ لَوْ كُنْتَ مَحْزُونًا .. لَمْ يَتَهَيَّأْ لَكَ أَنْ تَتَنَفَّسَ
وَقَالَ سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: (لَوْ أَنَّ مَحْزُونًا بَكَى فِي
أُمَّةٍ .. لَرَحِمَ اللَّهُ تِلْكَ الأُمَّةَ بِبُكَائِهِ
Allah Azza wa
Jalla berfirman:“Dan mereka berkata: ‘Segala puji bagi Allah yang telah
menghilangkan kesedihan dari kami.’” (QS. Fatir: 34)
Sanad
Hadis:Ali bin Ahmad bin 'Abdan mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin
'Ubaid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ali bin Hubaisy menceritakan kepada
kami, ia berkata: Ahmad bin 'Isa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibn Wahb
menceritakan kepada kami, ia berkata: Usamah bin Zaid Al-Laitsi menceritakan
kepada kami, dari Muhammad bin 'Amr bin 'Atha', ia berkata: Aku mendengar
'Atha' bin Yasar berkata: Aku mendengar Abu Sa'id Al-Khudri berkata: Aku
mendengar Rasulullah SAW bersabda:“Tidak ada satu pun yang menimpa seorang
hamba mukmin—baik berupa rasa sakit, kelelahan, kesedihan, maupun duka yang
mengguncangnya—melainkan Allah akan menghapuskan dosa-dosanya karenanya.
”Al-Ustadz
(Al-Qusyairi) berkata:“Kesedihan menahan hati agar tidak bercerai-berai di
lembah-lembah kelalaian, dan kesedihan termasuk dari sifat para penempuh jalan
spiritual (ahli suluk).
”Abu 'Ali
Ad-Daqqaq berkata:Aku mendengar Al-Ustadz Abu 'Ali Ad-Daqqaq rahimahullah
berkata:“Orang yang memiliki kesedihan (karena Allah) dapat menempuh perjalanan
menuju Allah dalam waktu satu bulan, melebihi apa yang ditempuh oleh orang yang
tidak memiliki rasa sedih selama bertahun-tahun.
”Dalam sebuah
riwayat (hadis):“Sesungguhnya Allah Ta'ala mencintai setiap hati yang bersedih.
”Dalam Kitab
Taurat disebutkan:“Apabila Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, Dia akan
menempatkan penatap/peratap duka di dalam hatinya.
Dan apabila
Dia membenci seorang hamba, Dia akan menempatkan seruling/alat musik
(kelalaian) di dalam hatinya.
”Diriwayatkan
bahwasanya:Rasulullah SAW adalah sosok yang senantiasa bersedih (karena
kepedulian dan keimanan) serta sentiasa berfikir.
Bishr bin
Al-Harith berkata:“Kesedihan adalah seorang raja. Jika ia bersemayam di suatu
tempat, ia tidak akan rela tempat itu ditinggali oleh siapapun bersamanya.
”Dikatakan
pula:“Hati yang di dalamnya tidak ada kesedihan adalah hati yang runtuh/roboh;
sebagaimana rumah yang tidak ada penghuninya, maka rumah tersebut akan hancur
runtuh.
”Abu Sa'id
Al-Qurasyi berkata:“Tangisan karena kesedihan dapat membutakan mata, sedangkan
tangisan karena kerinduan (kepada Allah) menyelimuti pandangan namun tidak
membutakannya.
”Allah Ta'ala
berfirman: “Dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia menahan
amarahnya (kesedihannya).” (QS. Yusuf: 84)
Ibn Khafif
berkata:“Kesedihan adalah kemampuan menahan diri agar tidak terbuai dalam
euforia/kegembiraan yang melalaikan.
”Rabiah
Al-Adawiyah:Rabiah pernah mendengar seorang laki-laki mengeluh: “Aduhai, betapa
sedihnya aku!
”Maka Rabiah
menegurnya: “Katakanlah: Betapa sedikitnya rasa sedihku! Sebab jika engkau
benar-benar seorang yang bersedih, niscaya engkau tidak akan sempat untuk
sekadar bernapas.
”Sufyan bin
'Uyaynah berkata:“Seandainya ada seseorang yang benar-benar bersedih (karena
Allah) menangis di tengah suatu umat, niscaya Allah akan merahi seluruh umat
tersebut berkat tangisannya.”
وَكَانَ دَاوُودُ الطَّائِيُّ الغَالِبُ عَلَيْهِ الحُزْنُ ، وَكَانَ
يَقُولُ بِاللَّيْلِ : ( إِلَهِي ؛ هَمُّكَ عَطَّلَ عَلَيَّ الهُمُومَ ، وَحَالَ بَيْنِي
وَبَيْنَ الرُّقَادِ
وَكَانَ يَقُولُ : ( كَيْفَ يَتَسَلَّى مِنَ الحُزْنِ مَنْ تَتَجَدَّدُ
عَلَيْهِ المَصَائِبُ فِي كُلِّ وَقْتٍ ؟
وَقِيلَ : الحُزْنُ يَمْنَعُ مِنَ الطَّعَامِ ، وَالخَوْفُ يَمْنَعُ مِنَ
الذُّنُوبِ
وَسُئِلَ بَعْضُهُمْ : بِمَ يُسْتَدَلُّ عَلَى حُزْنِ الرَّجُلِ ؟ فَقَالَ
: بِكَثْرَةِ أَنِينِهِ
وَقَالَ سَرِيٌّ السَّقَطِيُّ : ( وَدِدْتُ أَنَّ حُزْنَ كُلِّ النَّاسِ
أُلْقِيَ عَلَيَّ
وَتَكَلَّمَ النَّاسُ فِي الحُزْنِ ، فَكُلُّهُمْ قَالُوا : إِنَّمَا
يُحْمَدُ حُزْنُ الآخِرَةِ ، وَأَمَّا حُزْنُ الدُّنْيَا .. فَغَيْرُ مَحْمُودٍ ، إِلاَّ
أَبَا عُثْمَانَ الحِيرِيَّ فَإِنَّهُ قَالَ : الحُزْنُ بِكُلِّ وَجْهٍ فَضِيلَةٌ وَزِيَادَةٌ
لِلْمُؤْمِنِ مَا لَمْ يَكُنْ بِسَبَبِ مَعْصِيَةٍ ؛ لأَنَّهُ إِنْ لَمْ يُوجِبْ تَخْصِيصاً
.. فَإِنَّهُ يُوجِبُ تَمْحِيصاً
وَعَنْ بَعْضِ المَشَايِخِ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَافَرَ وَاحِدٌ مِنْ
أَصْحَابِهِ .. يَقُولُ : إِنْ رَأَيْتَ مَحْزُوناً .. فَأَقْرِئْهُ مِنِّي السَّلاَمَ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ يَقُولُ : كَانَ بَعْضُهُمْ
يَقُولُ لِلشَّمْسِ عِنْدَ غُرُوبِهَا : هَلْ طَلَعْتِ اليَوْمَ عَلَى مَحْزُونٍ ؟
وَكَانَ الحَسَنُ البَصْرِيُّ لاَ يَرَاهُ أَحَدٌ إِلاَّ ظَنَّ أَنَّهُ
حَدِيثُ عَهْدٍ بِمَصِيبَةٍ
وَقَالَ وَكِيعٌ لَمَّا مَاتَ الفُضَيْلُ : ( ذَهَبَ الحُزْنُ اليَوْمَ
مِنَ الأَرْضِ
وَقَالَ بَعْضُ السَّلَفِ : أَكْثَرُ مَا يَجِدُهُ المُؤْمِنُ فِي صَحِيفَتِهِ
مِنَ الحَسَنَاتِ .. الهَمُّ وَالحُزْنُ
سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ الشِّيرَازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَلِيَّ
بْنَ بَكْرَانَ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ المَرْوَزِيَّ يَقُولُ
: سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ أَبِي رَوْحٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ : سَمِعْتُ
الفُضَيْلَ بْنَ عِيَاضٍ يَقُولُ : ( كَانَ السَّلَفُ يَقُولُونَ : إِنَّ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ زَكَاةً ، وَزَكَاةُ العَقْلِ طُولُ الحُزْنِ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ :
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ الفَرَّاءَ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الحُسَيْنِ
الوَرَّاقَ يَقُولُ : سَأَلْتُ أَبَا عُثْمَانَ [ الحِيرِيَّ ] يَوْماً عَنِ الحُزْنِ
، فَقَالَ : الحَزِينُ لاَ يَتَفَرَّغُ إِلَى سُؤَالِ الحُزْنِ ، فَاجْتَهِدْ فِي طَلَبِ
الحُزْنِ ثُمَّ سَلْ
Dawud
Ath-Tha'i adalah seorang yang senantiasa diselimuti rasa sedih (karena takut
kepada Allah). Ia pernah bermunajat di malam hari:
“Ya Ilahi, kerinduan dan kepedulian
pada-Mu telah mengabaikan seluruh kekhawatiranku yang lain, dan menghalangiku
dari lelapnya tidur.”
Ia juga pernah berkata:
“Bagaimana bisa seseorang terhibur
dari kesedihan, jika musibah-musibah terus diperbaharui padanya setiap saat?!”
Dikatakan pula:
“Rasa sedih itu mencegah seseorang
dari nafsu makan, sedangkan rasa takut (kepada Allah) mencegah seseorang dari
berbuat dosa.”
Sebagian ulama ditanya: “Dengan
apa dapat diketahui/dibuktikan kesedihan seseorang?”
Maka ia menjawab: “Dengan
banyaknya rintihan dan desah napasnya (karena penyesalan dan kepasrahan).”
Sari As-Saqathi berkata:
“Aku sangat berharap seandainya
kesedihan seluruh manusia ditimpakan kepadaku.”
Orang-orang (para ulama)
membicarakan tentang kesedihan, lalu mereka semua sepakat:
“Bahwasanya hanya kesedihan demi
akhirat-lah yang terpuji, adapun kesedihan karena urusan duniawi maka tidak
terpuji.”
Kecuali Abu 'Utsman Al-Hiri,
ia berpendapat lain dengan mengatakan:
“Kesedihan dalam segala bentuknya adalah
sebuah keutamaan dan nilai tambah bagi seorang mukmin selama bukan disebabkan
oleh kemaksiatan. Karena jika kesedihan itu tidak mendatangkan keistimewaan
(kedudukan khusus), maka ia pasti mendatangkan peleburan (pembersihan dari
dosa-dosa).”
Diriwayatkan dari sebagian
guru/syekh, bahwasanya apabila salah seorang sahabatnya hendak bepergian (safar),
ia akan berpesan:
“Jika engkau bertemu dengan orang
yang sedang bersedih (karena Allah), maka sampaikanlah salam dariku kepadanya.”
Aku mendengar Al-Ustadz Abu 'Ali
Ad-Daqqaq berkata: Dahulu ada sebagian dari mereka yang berkata kepada matahari
ketika hendak terbenam:
“Apakah hari ini engkau menyinari
seseorang yang sedang bersedih (karena Allah)?”
Dan Al-Hasan Al-Bashri, tidaklah ada
seorang pun yang melihatnya melainkan akan mengira bahwa ia baru saja tertimpa
musibah (karena begitu mendalam rasa sedihnya dalam beribadah).
Ketika Al-Fudhayl bin 'Iyadh
meninggal dunia, Waki' berkata:
“Hari ini, rasa sedih (yang sejati)
telah diangkat dari muka bumi.”
Sebagian ulama Salaf berkata:
“Sesuatu yang paling banyak
ditemukan oleh seorang mukmin di dalam catatan kebaikannya (di akhirat kelak)
adalah duka (al-hamm) dan kesedihan (al-huzn) yang ia tanggung.”
Aku mendengar Abu 'Abdillah
Asy-Syirazi berkata: Aku mendengar 'Ali bin Bakran berkata: Aku mendengar
Muhammad bin 'Ali Al-Marwazi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abi Rauh berkata:
Aku mendengar ayahku berkata: Aku mendengar Al-Fudhayl bin 'Iyadh berkata:
“Para salaf terdahulu biasa berkata:
'Sesungguhnya segala sesuatu itu ada zakatnya, dan zakatnya akal adalah lamanya
kesedihan (merenung dan prihatin atas akhirat).'”
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
'Abdhirrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad Al-Farra'
berkata: Aku mendengar Abul Husain Al-Warraq berkata:
Aku pernah bertanya kepada Abu
'Utsman Al-Hiri suatu hari tentang hakikat kesedihan. Maka beliau menjawab:
“Orang yang benar-benar bersedih
tidak akan sempat bertanya tentang apa itu kesedihan. Maka
bersungguh-sungguhlah untuk menggapai rasa sedih itu terlebih dahulu, barulah
kemudian engkau boleh bertanyalah tentangnya.”
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.