بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
باب الخشوع والتواضع
16.Bab Khusyu' dan Tawadu'
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى الْمُزَكِّي قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الْفَضْلِ سُفْيَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجَوْهَرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنْ أَبَانِ بْنِ تَغْلِبَ ، عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ ، وَلَا يَدْخُلُ النَّارَ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ » ، فَقَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ؛ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا ، فَقَالَ : « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ ، الْكِبْرُ مَنْ بَطِرَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ الأَهْوَازِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْبَصْرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو إِبْرَاهِيمَ قَالَ : حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ ، عَنْ مُسْلِمٍ الأَعْوَرِ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : ( كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُ الْمَرِيضَ ، وَيَشْهَدُ الْجَنَائِزَ ، وَيَرْكَبُ الْحِمَارَ ، وَيُجِيبُ دَعْوَةَ الْعَبْدِ ، وَكَانَ يَوْمَ قُرَيْظَةَ وَالنَّضِيرِ عَلَى حِمَارٍ مَخْطُومٍ بِحَبْلٍ مِنْ لِيفٍ عَلَيْهِ إِكَافٌ مِنْ لِيفٍ )
Allah Ta'ala berfirman: “Sungguh
beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam
shalatnya.” (QS. Al-Mu'minun: 1-2).
Telah mengabarkan kepada kami Abu
al-Hasan Abdurrahman bin Ibrahim bin Muhammad bin Yahya al-Muzakki, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Abu al-Fadhl Sufyan bin Muhammad al-Jauhari, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin al-Hasan, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Syu'bah, dari Aban bin Taghlib, dari Fudhail al-Fuqaimi, dari
Ibrahim an-Nakha'i, dari Alqamah bin Qais, dari Abdullah, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya
terdapat seberat zarrah (biji atom/debu) dari kesombongan, dan tidak akan masuk
neraka orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari keimanan."
Kemudian seorang laki-laki bertanya: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya
seseorang itu menyukai jika pakaiannya bagus (apakah itu termasuk
kesombongan?)." Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah itu Indah dan
menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan
meremehkan/merendahkan manusia."
Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Ahmad al-Ahwazi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid
al-Bashri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Fadhl bin
Jabir, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ibrahim, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Mushir, dari Muslim al-A'war, dari Anas bin
Malik, ia berkata: (Rasulullah ﷺ biasa menjenguk
orang sakit, menghadiri pengurusan jenazah, menunggangi keledai, dan memenuhi
undangan seorang hamba/budak. Dan pada hari [perang melawan Bani] Quraizhah dan
An-Nadhir, beliau menunggangi keledai yang kendalinya berupa tali dari sabut
kelapa dan pelana/alasnya pun dari sabut kelapa).
الخُشُوعُ : الانْقِيَادُ لِلْحَقِّ ، وَالتَّوَاضُعُ : هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلْحَقِّ ، وَتَرْكُ الاعْتِرَاضِ عَلَى الْحُكْمِ . وَقَالَ حُذَيْفَةُ : ( أَوَّلُ مَا تَفْقِدُونَ مِنْ دِينِكُمُ : الْخُشُوعُ ) . وَسُئِلَ بَعْضُهُمْ عَنْ مَعْنَى الْخُشُوعِ ، فَقَالَ : الْخُشُوعُ : قِيَامُ الْقَلْبِ بَيْنَ يَدَيِ الْحَقِّ بِهَمٍّ مَجْمُوعٍ . وَقَالَ سَهْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ : ( مَنْ خَشَعَ قَلْبُهُ . . لَمْ يَقْرَبْ مِنْهُ الشَّيْطَانُ ) . وَقِيلَ : مِنْ عَلامَاتِ الْخُشُوعِ لِلْعَبْدِ : أَنَّهُ إِذَا أُغْضِبَ أَوْ خُولِفَ أَوْ رُدَّ عَلَيْهِ . . أَنْ يَسْتَقْبِلَ ذَلِكَ بِالْقَبُولِ . وَقَالَ بَعْضُهُمْ : خُشُوعُ الْقَلْبِ قَيْدُ الْعُيُونِ عَنِ النَّظَرِ . وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ التِّرْمِذِيُّ : ( الْخَاشِعُ : مَنْ خَمَدَتْ نِيرَانُ شَهْوَتِهِ ، وَسَكَنَ دُخَانُ صَدْرِهِ ، وَأَشْرَقَ نُورُ التَّعْظِيمِ فِي قَلْبِهِ ، فَمَاتَتْ شَهَوَاتُهُ ، وَحَيِيَ قَلْبُهُ ، فَخَشَعَتْ جَوَارِحُهُ ) . وَقَالَ الْحَسَنُ : ( الخُشُوعُ : الخَوْفُ الدَّائِمُ الَّلازِمُ لِلْقَلْبِ وَسُئِلَ الجُنَيْدُ عَنِ الخُشُوعِ ، فَقَالَ : تَذَلُّلُ القُلُوبِ لِعَلَّامِ الغُيُوبِ . قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا ﴾ . سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ يَقُولُ : مَعْنَاهُ : مُتَوَاضِعِينَ مُتَخَاشِعِينَ . وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَحْسِنُونَ شِسْعَ نِعَالِهِمْ إِذَا مَشَوْا
- Khusyuk
adalah tunduk/patuh kepada kebenaran, sedangkan Tawaduk adalah
berserah diri kepada kebenaran dan meninggalkan penolakan/sanggahan
terhadap hukum.
- Hudzaifah berkata: (Sesuatu yang pertama kali hilang
dari agama kalian adalah khusyuk).
- Sebagian ulama ditanya tentang makna khusyuk, lalu ia
menjawab: Khusyuk adalah berdirinya hati di hadapan Yang Mahabenar
(Allah) dengan fokus/tekad yang terpusat.
- Sahl bin Abdullah berkata: (Barangsiapa yang hatinya
khusyuk, niscaya setan tidak akan mendekatinya).
- Dikatakan pula: Di antara tanda-tanda khusyuk bagi
seorang hamba adalah apabila ia dibuat marah, diselisahi, atau pendapatnya
ditolak, ia menghadapinya dengan penerimaan.
- Sebagian ulama berkata: Khusyuknya hati adalah
pengekang bagi mata dari pandangan (yang tidak baik).
- Muhammad bin Ali at-Tirmidzi berkata: (Orang yang
khusyuk adalah orang yang gejolak api syahwatnya telah padam, kepulan
dada/hawa nafsunya telah tenang, dan cahaya keagungan Allah telah memancar
di dalam hatinya; maka matilah syahwat-syahwatnya, hiduplah hatinya, dan
menjadi khusyuklah anggota tubuhnya).
- Al-Hasan al-Bashri berkata: (Khusyuk adalah rasa
takut yang terus-menerus dan melekat di dalam hati).
- Al-Junaid ditanya tentang khusyuk, maka ia menjawab: Rasa
tunduk dan hinanya hati di hadapan Dzat Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib.
Allah Ta'ala berfirman: “Dan
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di
atas bumi dengan rendah hati” (QS. Al-Furqan: 63).
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
ad-Daqqaq rahimahullah berkata: Maknanya adalah orang-orang yang
bertawaduk dan menampilkan kekhusyukan. Dan aku mendengar beliau berkata:
Mereka adalah orang-orang yang tidak membanggakan/mengagumi tali sandal mereka
ketika sedang berjalan.
واتفقوا على أنَّ الخشوعَ محلُّه القلبُ
ورأى بعضُهم رجلاً منقبضَ الظاهرِ، منكسرَ الشاهدِ، قد زوى منكبَيهِ، فقالَ لهُ: يا فلانُ؛ الخشوعُ ها هنا - وأشارَ إلى صدرِهِ - لا ها هنا، وأشارَ إلى منكبَيهِ
ورُوِيَ أنَّ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ رأى رجلاً يعبثُ في صلاتِهِ بلحيتِهِ، فقالَ: «لو خشعَ قلبُ هذا.. لخشعتْ جوارحُهُ
وقيلَ: شرطُ الخشوعِ في الصلاةِ: ألا يعرفَ مَنْ عن يمينِهِ ومَنْ عن شمالِهِ
ويحتملُ أنْ يُقالَ: الخشوعُ: إطراقُ السريرَةِ بشرطِ الأدبِ بمشهدِ الحقِّ
أو يُقالُ: الخشوعُ: ذُبولٌ يَرِدُ على القلبِ عندَ إطلاعِ الربِّ
أو يُقالُ: الخشوعُ: ذَوَبانُ القلبِ وانخناسُهُ عندَ سلطانِ الحقيقةِ
أو يُقالُ: الخشوعُ: مقدماتُ غلباتِ الهيبةِ
أو يُقالُ: الخشوعُ: قُشَعْريرةٌ ترِدُ على القلبِ بغتةً عندَ مفاجأةِ كشفِ الحقيقةِ
وقالَ الفضيلُ بنُ عياضٍ: (كانَ يُكرهُ أنْ يُريَ الرجلُ مِنَ الخشوعِ أكثرَ ممَّا في قلبِهِ)
وقالَ أبو سليمانَ الدارانيُّ: (لو اجتمعَ الناسُ على أنْ يضعوني كالتواضُعِ عندَ نفسي.. لما قدروا عليهِ)
وقيلَ: مَنْ لم يتَّضعْ عندَ نفسِهِ.. لم يرتفعْ عندَ غيرِهِ
وكانَ عمرُ بنُ عبدِ العزيزِ لا يسجدُ إلاَّ على الترابِ
أخبرَنا عليُّ بنُ أحمدَ الأهوازيُّ قالَ: أخبرَنا أحمدُ بنُ عبيدٍ البصريُّ قالَ: حدَّثَنا إبراهيمُ بنُ عبدِ اللهِ قالَ: حدَّثَنا أبو الحسنِ عليُّ بنُ زيدٍ الفرائضيُّ قالَ: حدَّثَنا محمدُ بنُ كثيرٍ وهوَ المِصِّيصيُّ، عنْ هارونَ بنِ حيَّانَ، عنْ خُصَيفٍ، عنْ سعيدِ بنِ جبيرٍ، عنِ ابنِ عباسٍ قالَ: قالَ رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: «لا يدخلُ الجنةَ مثقالُ حبَّةٍ مِنْ خردَلٍ مِنْ كبرٍ
وقالَ مجاهدٌ: (لمَّا أرقَ اللهُ تعالى قومَ نوحٍ عليهِ السلامُ.. شمخَتِ الجبالُ وتواضعَ الجُوديُّ، فجعلَهُ اللهُ قراراً لسفينةِ نوحٍ عليهِ السلامُ)
وكانَ عمرُ بنُ الخطابِ رضيَ اللهُ عنهُ يسرعُ في المشيِ ويقولُ: إنَّهُ أسرعُ للحاجةِ، وأبعدُ مِنَ الزَّهْوِ
وكانَ عمرُ بنُ عبدِ العزيزِ ليلةً يكتبُ شيئاً وعندَهُ ضيفٌ، فكادَ السراجُ ينطفئُ، فقالَ الضيفُ: أقومُ إلى المصباحِ فأصلحُهُ؟ فقالَ: لا، ليسَ مِنَ الكرمِ استعمالُ الضيفِ، قالَ: فأُنَبِّهُ الغلامَ؟ قالَ: لا؛ هيَ أولُ نومةٍ نامَها. فقامَ إلى البطَّةِ، وجعلَ الدُّهْنَ في المصباحِ، فقالَ الضيفُ: قمتَ بنفسِكَ يا أميرَ المؤمنينَ؟! فقالَ: ذهبتُ وأنا عمرُ، ورجعتُ وأنا عمرُ
Para ulama sepakat bahwa
tempat/pusat kekhusyukan adalah di dalam hati.
Sebagian ulama pernah melihat
seorang laki-laki yang secara lahiriah tampak sangat lunglai, bersikap pasrah,
dan menundukkan kedua bahunya. Maka ia berkata kepadanya: "Wahai Fulan,
khusyuk itu di sini" —sambil menunjuk ke dadanya— "bukan di
sini," —sambil menunjuk ke kedua bahunya.
Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah ﷺ
pernah melihat seorang laki-laki mempermainkan janggutnya saat sedang shalat,
maka beliau bersabda: "Seandainya hati orang ini khusyuk, niscaya
anggota badannya pun akan ikut khusyuk."
Dikatakan: Syarat khusyuk dalam
shalat adalah seseorang tidak mengetahui siapa yang ada di sebelah kanannya dan
siapa yang ada di sebelah kirinya.
Dapat pula dikatakan bahwa Khusyuk
adalah: Menunduknya jiwa (keheningan batin) dengan menjaga adab di hadapan Yang
Mahabenar (Allah).
Atau dikatakan: Khusyuk
adalah kelembutan/kepasrahan yang hinggap di dalam hati ketika menyadari
pengawasan Rabb.
Atau dikatakan: Khusyuk
adalah melelehnya hati dan tunduknya jiwa di bawah kekuasaan kebenaran hakiki.
Atau dikatakan: Khusyuk
adalah tanda-tanda awal dari dominasi rasa wibawa/keagungan Ilahi.
Atau dikatakan: Khusyuk
adalah rasa gemetar/getaran yang datang secara tiba-tiba ke dalam hati saat
tersingkapnya kebenaran secara mendadak.
Fudhail bin 'Iyadh berkata: (Dahulu
dibenci jika seseorang memperlihatkan kekhusyukan lebih banyak daripada apa
yang ada di dalam hatinya).
Abu Sulaiman ad-Darani berkata: (Seandainya
seluruh manusia berkumpul untuk merendahkanku sebagaimana rendahnya diriku di
mata batinku sendiri.. niscaya mereka tidak akan sanggup melakukannya).
Dikatakan: Barangsiapa yang tidak
merendahkan dirinya di hadapan dirinya sendiri, maka ia tidak akan diangkat
kedudukannya di hadapan orang lain.
Umar bin Abdul Aziz dahulu tidak
pernah bersujud melainkan di atas tanah langsung (tanpa alas/permaidani mewah).
Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Ahmad al-Ahwazi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid
al-Bashri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Abdullah, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Hasan Ali bin Zaid al-Fara'idhi,
ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir al-Mishshishi,
dari Harun bin Hiyyan, dari Khushaif, dari Said bin Jubair, dari Ibn Abbas, ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk surga
orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan."
Mujahid berkata: (Ketika Allah
Ta'ala tenggelamkan kaum Nabi Nuh 'alaihissalam, gunung-gunung menyombongkan
diri, sedangkan gunung Judiyy merendahkan diri [bertawaduk]. Maka Allah
menjadikannya tempat berlabuh bagi bahtera Nabi Nuh 'alaihissalam).
Dahulu Umar bin al-Khaththab radhiyallahu
'anhu selalu berjalan dengan cepat dan beliau berkata: Sesungguhnya
berjalan cepat itu lebih menyegarkan untuk menuntaskan hajat/keperluan dan
lebih jauh dari sikap kesombongan.
Suatu malam, Umar bin Abdul Aziz
sedang menulis sesuatu dan di dekatnya ada seorang tamu. Tiba-tiba lampu minyak
(siraj) hampir padam. Tamu itu berkata: "Bolehkah aku berdiri
menuju lampu itu untuk membetulkannya?" Umar menjawab: "Tidak,
bukanlah termasuk kemuliaan (kesopanan) jika kita mempekerjakan tamu."
Tamu itu bertanya lagi: "Kalau begitu, bolehkah aku membangunkan
pelayan?" Umar menjawab: "Jangan, ini adalah tidur pertamanya
(kasihan jika diganggu)." Lalu Umar sendiri yang berdiri mengambil wadah
minyak (al-baththah), kemudian menyuangkan minyak ke dalam lampu
tersebut. Tamu itu pun terkejut dan berkata: "Engkau sendiri yang berdiri
membetulkannya, wahai Amirul Mukminin?!" Umar menjawab: "Aku pergi
tadi aku adalah Umar, dan aku kembali pun aku tetaplah Umar (tidak ada yang
berkurang dari harga diriku)."
ورَوَى
أبُو سَعِيدٍ الخُدْرِيُّ أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ كَانَ
يَعْلِفُ البَعِيرَ ، ويَقُمُّ البَيْتَ ، ويَخْصِفُ النَّعْلَ ، ويَرْقَعُ
الثَّوْبَ ، ويَحْلُبُ الشَّاةَ ، ويَأْكُلُ مَعَ الخَادِمِ ، ويَطْحَنُ مَعَهُ
إِذَا أَعْيَا ، وكَانَ لا يَمْنَعُهُ الحَيَاءُ أنْ يَحْمِلَ بَضَاعَتَهُ مِنَ
السُّوقِ إلَى أَهْلِهِ ، وكَانَ يُصَافِحُ الغَنِيَّ والفَقِيرَ ، ويُسَلِّمُ
مُبْتَدِئاً ، ولا يَحْتَقِرُ مَا دُعِيَ إلَيْهِ ولَوْ إلَى حَشَفِ التَّمْرِ ،
وكَانَ هَيِّنَ المَؤُونَةِ ، لَيِّنَ الخُلُقِ ، كَرِيمَ الطَّبِيعَةِ ، جَمِيلَ
المُعَاشَرَةِ ، طَلْقَ الوَجْهِ ، بَسَّاماً مِنْ غَيْرِ ضَحِكٍ ، مَحْزُوناً
مِنْ غَيْرِ عَبُوسَةٍ ، مُتَوَاضِعاً مِنْ غَيْرِ مَذَلَّةٍ ، جَوَاداً مِنْ
غَيْرِ سَرَفٍ ، رَقِيقَ القَلْبِ ، رَحِيماً بِكُلِّ مُسْلِمٍ ، لَمْ يَتَجَشَّأْ
قَطُّ مِنْ شِبَعٍ ، ولَمْ يَمْدُدْ يَدَهُ إلَى الطَّمَعِ.
سَمِعْتُ
الشَّيْخَ أبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ
بنَ مُحَمَّدٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بنَ نَصْرٍ الصَّائِغَ
يَقُولُ : سَمِعْتُ مَرْدَوَيْهِ الصَّائِغَ يَقُولُ : سَمِعْتُ الفُضَيْلَ بنَ
عِيَاضٍ يَقُولُ : ( قُرَّاءُ الرَّحْمَنِ أصْحَابُ خُشُوعٍ وتَوَاضُعٍ ،
وقُرَّاءُ القُضَاةِ أصْحَابُ عُجْبٍ وتَكَبُّرٍ
).
وقَالَ
الفُضَيْلُ : ( مَنْ رَأَى لِنَفْسِهِ قِيمَةً . . فَلَيْسَ لَهُ فِي التَّوَاضُعِ
نَصِيبٌ ).
وسُئِلَ
الفُضَيْلُ عَنِ التَّوَاضُعِ ، فقَالَ : تَخْضَعُ لِلْحَقِّ ، وتَنْقَادُ لَهُ ،
وتَقْبَلُهُ مِمَّنْ قَالَهُ.
وقَالَ
الفُضَيْلُ : أوْحَى اللهُ تَعَالَى إلَى الجِبَالِ : إنِّي مُكَلِّمٌ عَلَى
وَاحِدٍ مِنْكُنَّ نَبِيّاً ، فَتَطَاوَلَتِ الجِبَالُ ، وتَوَاضَعَ طُورُ
سَيْنَاءَ ، فَكَلَّمَ اللهُ عليه مُوسَى عليه السَّلامُ ؛ لِتَوَاضُعِهِ.
سَمِعْتُ
مُحَمَّدَ بنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أحْمَدَ بنَ عَلِيِّ بنِ جَعْفَرٍ
يَقُولُ : سَمِعْتُ إبْرَاهِيمَ بنَ فَاتِكٍ يَقُولُ : سُئِلَ الجُنَيْدُ عَنِ
التَّوَاضُعِ ، فقَالَ : خَفْضُ الجَنَاحِ ، ولِينُ الجَانِبِ.
وقَالَ
وَهْبٌ : مَكْتُوبٌ فِي بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى مِنَ الكُتُبِ : إنِّي
أخْرَجْتُ الذُّرَّ مِنْ صُلْبِ آدَمَ ، فَلَمْ أجِدْ قَلْباً أشَدَّ تَوَاضُعاً
مِنْ قَلْبِ مُوسَى ، فَلِذَلِكَ اصْطَنَعْتُهُ وكَلَّمْتُهُ.
وقَالَ
ابْنُ المُبَارَكِ : ( التَّكَبُّرُ عَلَى الأغْنِيَاءِ والتَّوَاضُعُ
لِلْفُقَرَاءِ مِنَ التَّوَاضُعِ ).
وقِيلَ
لأبِي يَزِيدَ : مَتَى يَكُونُ الرَّجُلُ مُتَوَاضِعاً ؟ فقَالَ : إذَا لَمْ يَرَ
لِنَفْسِهِ مَقَاماً ولا حَالاً ، ولا يَرَى أنَّ فِي الخَلْقِ مَنْ هُوَ شَرٌّ
مِنْهُ.
وقِيلَ
: التَّوَاضُعُ نِعْمَةٌ لا يُحْسَدُ عَلَيْهَا ، والكِبْرُ مِحْنَةٌ لا يُرْحَمُ
عَلَيْهَا ، والعِزُّ فِي التَّوَاضُعِ ، فَمَنْ طَلَبَهُ فِي الكِبْرِ . . لَمْ
يَجِدْهُ.
سَمِعْتُ
الشَّيْخَ أبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أبَا بَكْرٍ
مُحَمَّدَ بنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ إبْرَاهِيمَ بنَ شَيْبَانَ يَقُولُ
: ( الشَّرَفُ فِي التَّوَاضُعِ ، والعِزُّ فِي التَّقْوَى ، والحُرِّيَّةُ فِي
القَنَاعَةِ ).
وسَمِعْتُهُ
يَقُولُ : سَمِعْتُ الحَسَنَ السَّاوِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ ابْنَ الأعْرَابِيِّ
يَقُولُ : بَلَغَنِي أنَّ سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ قَالَ : ( أَعَزُّ الخَلْقِ خَمْسَةُ
أَنْفُسٍ : عَالِمٌ زَاهِدٌ ، وفَقِيهٌ صُوفِيٌّ ، وغَنِيٌّ مُتَوَاضِعٌ ،
وفَقِيرٌ شَاكِرٌ ، وشَرِيفٌ سُنِّيٌّ ).
Terjemahan
Bahasa Indonesia
Abu Sa'id al-Khudri meriwayatkan
bahwasanya Nabi ﷺ dahulu biasa memberi makan untanya
sendiri, menyapu rumah, memperbaiki/menjahit terompahnya (sandal), menambal
pakaiannya, memerah susu domba, makan bersama pelayan, menumbuk gandum bersama
pelayan jika ia kelelahan, dan rasa malu tidak pernah menghalanginya untuk
membawa barang belanjaannya sendiri dari pasar ke rumah keluarganya. Beliau
berjabatan tangan baik dengan orang kaya maupun orang miskin, selalu
mengucapkan salam terlebih dahulu, tidak pernah meremehkan apa pun yang
disuguhkan kepadanya meskipun hanya berupa kurma yang keras/kering. Beliau
adalah sosok yang tidak memberatkan (ringan biaya/kebutuhannya), lembut
akhlaknya, mulia tabiatnya, indah dalam pergaulannya, berwajah ceria, banyak
tersenyum tanpa tertawa terbahak-bahak, senantiasa tampak prihatin/sedih tanpa
bermuka masam, bertawaduk tanpa merendahkan diri (menjadikan dirinya terhina),
dermawan tanpa berlebih-lebihan, berhati lembut, dan penuh kasih sayang kepada
setiap muslim. Beliau tidak pernah serdawa (terserdawa) karena kekenyangan, dan
tidak pernah mengulurkan tangannya kepada sifat serakah.
Aku mendengar Syaikh Abu Abdurrahman
as-Sulami berkata: Aku mendengar Abdullah bin Muhammad ar-Razi berkata: Aku
mendengar Muhammad bin Nashr ash-Sha'igh berkata: Aku mendengar Mardawaih
ash-Sha'igh berkata: Aku mendengar Al-Fudhail bin 'Iyadh berkata: "Para
ahli Al-Qur'an (yang ikhlas karena) Ar-Rahman adalah pemilik khusyuk dan
tawaduk, sedangkan para ahli Al-Qur'an (yang berambisi menjadi) hakim/pejabat
adalah pemilik sifat ujub dan sombong."
Al-Fudhail juga berkata: "Barangsiapa
yang memandang dirinya memiliki keberhargaan/keutamaan, maka ia tidak memiliki
bagian sedikit pun dalam sifat tawaduk."
Al-Fudhail pernah ditanya mengenai
makna tawaduk, maka beliau menjawab: "Engkau tunduk kepada kebenaran,
patuh padanya, dan menerima kebenaran itu dari siapa pun yang
mengucapkannya."
Al-Fudhail berkata: Allah Ta'ala
pernah mewahyukan kepada gunung-gunung: "Sesungguhnya Aku akan
berbicara kepada seorang Nabi di atas salah satu dari kalian." Maka gunung-gunung
pun saling menjulang tinggi (merasa bangga), sedangkan Gunung Tursina (Thur
Sina') justru merendahkan diri (bertawaduk). Maka Allah pun berbicara kepada
Musa 'alaihissalam di atas gunung tersebut karena sifat tawaduknya.
Aku mendengar Muhammad bin al-Husain
berkata: Aku mendengar Ahmad bin Ali bin Ja'far berkata: Aku mendengar Ibrahim
bin Fatik berkata: Al-Junaid pernah ditanya tentang tawaduk, lalu beliau
menjawab: "Merendahkan sayap (sikap ramah) dan bersikap
lembut/santun."
Wahb (bin Munabbih) berkata:
Tertulis dalam sebagian kitab yang Allah Ta'ala turunkan: "Sesungguhnya
Aku pernah mengeluarkan seluruh keturunan dari sulbi Adam, lalu Aku tidak
menemukan satu hati pun yang lebih tawaduk daripada hati Musa, maka karena
itulah Aku memilihnya dan berbicara kepadanya."
Ibnul Mubarak berkata: "Sikap
acuh/bersikap jual mahal kepada orang-orang kaya dan bertawaduk kepada
orang-orang miskin adalah bagian dari tawaduk."
Dikatakan kepada Abu Yazid
(Al-Busthami): "Kapan seseorang itu dinamakan orang yang
bertawaduk?" Beliau menjawab: "Apabila ia tidak memandang
dirinya memiliki kedudukan (maqam) maupun tingkatan spiritual (hal), serta
tidak memandang bahwa di antara makhluk ada yang lebih buruk daripada
dirinya."
Dikatakan pula: "Tawaduk
adalah nikmat yang tidak akan didengki, sedangkan kesombongan adalah musibah
yang tidak akan dikasihi. Kemuliaan itu ada pada tawaduk, maka barangsiapa
mencarinya dalam kesombongan, niscaya ia tidak akan menemukannya."
Aku mendengar Syaikh Abu Abdurrahman
as-Sulami berkata: Aku mendengar Abu Bakr Muhammad bin Abdullah berkata: Aku
mendengar Ibrahim bin Syaiban berkata: "Kemuliaan itu ada pada tawaduk,
keagungan ada pada ketakwaan, dan kebebasan (kemerdekaan jiwa) ada pada sifat
qana'ah (merasa cukup)."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Al-Hasan as-Sawi berkata: Aku mendengar Ibnul A'rabi berkata: Telah
sampai kepadaku bahwa Sufyan ats-Tsauri berkata: "Makhluk yang paling
mulia/langka itu ada lima golongan: orang alim yang zahid (zuhud), ahli fikih
yang juga seorang sufi, orang kaya yang bertawaduk, orang miskin yang
bersyukur, dan orang yang berketurunan mulia yang berpegang teguh pada Sunnah
(sunni)."
وقالَ يحيى بنُ معاذٍ : ( التواضُعُ حسنٌ في كلِّ أحدٍ ، لكنَّهُ في الأغنياءِ أحسنُ ، والتكبُّرُ سمِجٌ في كلِّ أحدٍ ، لكنَّهُ في الفقراءِ أسمَجُ )
وقالَ ابنُ عطاءٍ : ( التواضُعُ : قبولُ الحقِّ ممَّنْ كانَ )
وقيلَ : ركِبَ زيدُ بنُ ثابتٍ ، فدَنا ابنُ عباسٍ ليأخُذَ بركابِهِ ، فقالَ : مَهْ يا بنَ عمِّ رسولِ اللهِ ! فقالَ : هكذا أُمِرْنا أنْ نفعلَ بكُبرائِنا ، فقالَ زيدٌ : أَرِني يدَكَ ، فأخرجَها إليهِ ، فقبَّلَها وقالَ : هكذا أُمِرْنا أنْ نفعلَ بأهلِ بيتِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ
وقالَ عُروةُ بنُ الزبيرِ : رأيتُ عمرَ بنَ الخطابِ رضيَ اللهُ عنهُ وعلى عاتِقِهِ قِرْبةُ ماءٍ ، فقلتُ : يا أميرَ المؤمنينَ ؛ لا ينبغي لكَ هذا ! فقالَ : لمَّا أَتاني الوُفودُ سامِعينَ مُطيعينَ .. دخلَتْ نفسي نَخْوَةٌ ، فأحببتُ أنْ أكسِرَها ، ومضَى بالقِرْبةِ إلى حجرةِ امرأةٍ مِنَ الأنصارِ ، فأفرغَها في إنائِها
سمعتُ أبا حاتمٍ السِّجِسْتانيَّ قالَ : سمعتُ أبا نصرٍ السَّرّاجَ الطوسيَّ يقولُ : رُئِيَ أبو هريرةَ وهوَ أميرُ المدينةِ وعلى ظهرِهِ حُزْمةُ حَطَبٍ وهوَ يقولُ : طَرِّقوا للأميرِ
وقالَ عبدُ اللهِ الرازيُّ : ( التواضُعُ : ترْكُ التمييزِ في الخدمةِ )
سمعتُ محمدَ بنَ الحسينِ يقولُ : سمعتُ محمدَ بنَ أحمدَ بنِ هارونَ يقولُ : سمعتُ محمدَ بنَ العباسِ الدمشقيَّ يقولُ : سمعتُ أحمدَ بنَ أبي الحَواريِّ يقولُ : سمعتُ أبا سليمانَ الدارانيَّ يقولُ : ( مَنْ رأَى لنفسِهِ قيمةً .. لمْ يَذُقْ حلاوةَ الخدمةِ )
وقالَ يحيى بنُ معاذٍ : ( التكبُّرُ على مَنْ تكبَّرَ عليكَ بمالِهِ .. تواضُعٌ )
وقالَ الشبليُّ : ( ذلِّي عطَّلَ ذلَّ اليهودِ ) ؛ يعني : قولَهُ تعالى : ﴿ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ
وجاءَهُ رجلٌ ، فقالَ لهُ الشبليُّ : ما أَنْتَ ؟ فقالَ : يا سيِّدي ؛ النقطةُ التي تحتَ الباءِ ، فقالَ : أنْتَ شاهِدي ما لمْ تجعلْ لنفسِكَ مقاماً
وقالَ ابنُ عباسٍ : ( مِنَ التواضُعِ : أنْ يشربَ الرجلُ مِنْ سُؤْرِ أخيهِ )
وقالَ بِشْرٌ : ( سلِّموا على أبناءِ الدنيا بترْكِ السلامِ عليهم )
وقالَ شعيبُ بنُ حربٍ : بينا أنا في الطوافِ .. إذْ لَكَزَني إنسانٌ بمِرْفَقِهِ ، فالتفتُّ ، فإذا هوَ الفضيلُ ، فقالَ : يا أبا صالحٍ ؛ إنْ كُنْتَ تظُنُّ أنَّهُ شهِدَ الموسمَ شرٌّ منِّي ومِنْكَ .. فبِئْسَ ما ظنَنْتَ
وقالَ بعضُهم : رأيتُ في الطوافِ إنساناً بينَ يدَيهِ شاكِريَّةٌ يمنعونَ الناسَ لأجلِهِ عنِ الطوافِ ، ثمَّ رأيتُهُ بعدَ ذلكَ بمُدَّةٍ على جِسْرِ بغدادَ يسألُ الناسَ شيئاً ، فتعجَّبتُ منهُ ، فقالَ لي : أنا تكبَّرتُ في موضعٍ يتواضعُ الناسُ فيهِ ، فابتلاني اللهُ بالتذلُّلِ في موضعٍ يرتفِعُ الناسُ فيهِ
Yahya bin Mu'adz berkata: "Tawaduk
itu indah/baik pada setiap orang, namun pada orang-orang kaya ia jauh lebih
indah. Dan kesombongan itu buruk/buruk rupa pada setiap orang, namun pada
orang-orang miskin ia jauh lebih buruk."
Ibn 'Atha' berkata: "Tawaduk
adalah menerima kebenaran dari siapa pun yang mengucapkannya."
Dikatakan: Suatu ketika Zaid bin
Tsabit sedang menunggangi kendaraannya, lalu Ibnu Abbas mendekat untuk memegang
pijakan kaki (rikab) kendaraannya. Maka Zaid berkata: "Jangan
lakukan itu, wahai sepupu Rasulullah!" Ibnu Abbas menjawab:
"Begiutlah kami diperintahkan untuk memperlakukan orang-orang besar/ulama
kami." Zaid lalu berkata: "Perlihatkan tanganmu padaku." Ibnu
Abbas pun mengulurkan tangannya, lalu Zaid menciumnya seraya berkata:
"Begitulah kami diperintahkan untuk memperlakukan Ahli Bait (keluarga)
Rasulullah ﷺ."
Urwah bin az-Zubair berkata: Aku
melihat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memikul qirbah (kantong
kulit) berisi air di atas bahunya. Maka aku berkata: "Wahai Amirul
Mukminin, tidak pantas bagimu melakukan hal ini!" Umar menjawab:
"Ketika para utusan (dari berbagai daerah) datang kepadaku dalam keadaan
tunduk dan patuh, timbul sedikit rasa bangga/kesombongan di dalam hatiku, maka
aku ingin menghancurkannya." Lalu beliau berjalan membawa qirbah air
tersebut ke kediaman seorang wanita Anshar dan menuangkan air itu ke dalam
wadahnya.
Aku mendengar Abu Hatim as-Sijistani
berkata: Aku mendengar Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi berkata: Abu Hurairah
pernah terlihat saat ia menjabat sebagai wali/gubernur Madinah sedang memikul
seikat kayu bakar di punggungnya sambil berkata (kepada orang-orang di jalan): "Beri
jalan untuk sang wali/pangeran!"
Abdullah ar-Razi berkata: "Tawaduk
adalah tidak membeda-bedakan orang dalam memberikan pelayanan/khidmat."
Aku mendengar Muhammad bin al-Husain
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad bin Harun berkata: Aku mendengar
Muhammad bin al-Abbas ad-Dimasyqi berkata: Aku mendengar Ahmad bin Abil Hawari
berkata: Aku mendengar Abu Sulaiman ad-Darani berkata: "Barangsiapa
yang merasa dirinya memiliki keberhargaan/kedudukan, maka ia tidak akan pernah
merasakan manisnya pelayanan (pengabdian)."
Yahya bin Mu'adz berkata: "Bersikap
acuh/jual mahal kepada orang yang menyombongkan hartanya kepadamu.. adalah
bagian dari tawaduk."
Asy-Syibli berkata: "Kerendahan
hatiku sampai membatalkan (mengalahkan) kehinaan kaum Yahudi" —yang
beliau maksud adalah firman Allah Ta'ala: “Dan ditimpalkanlah kepada mereka
kehinaan” (QS. Al-Baqarah: 61).
Seseorang datang kepada asy-Syibli,
lalu asy-Syibli bertanya kepadanya: "Siapakah engkau?" Orang itu
menjawab: "Wahai tuanku, aku hanyalah titik yang berada di bawah huruf Ba'."
Maka asy-Syibli berkata: "Engkau adalah saksiku, selama engkau tidak
menetapkan suatu kedudukan (merasa tinggi) bagi dirimu sendiri."
Ibnu Abbas berkata: "Termasuk
bentuk tawaduk adalah seseorang mau meminum dari sisa minuman saudaranya."
Bishr berkata: "Ucapkanlah
salam kepada para pencinta/pemburu dunia dengan cara tidak mengucapkan salam
kepada mereka."
Syu'aib bin Harb berkata: Ketika aku
sedang melakukan tawaf, tiba-tiba ada seseorang yang menyenggolku dengan
sikunya. Aku pun menoleh, ternyata ia adalah Al-Fudhail (bin 'Iyadh). Lalu ia
berkata: "Wahai Abu Shalih, jika engkau mengira ada orang yang
menghadiri musim haji ini yang lebih buruk daripada aku dan engkau.. maka
betapa buruknya persangkaanmu itu."
Sebagian ulama bercerita: Aku
melihat seseorang saat tawaf diiringi oleh para pengawal (syakriyyah) di
hadapannya yang menghalangi orang-orang untuk tawaf demi dirinya. Beberapa
waktu kemudian, aku melihat orang itu berada di atas jembatan Baghdad sedang
meminta-minta (mengemis) kepada orang-orang. Aku pun terheran-heran melihatnya,
lalu ia berkata kepadaku: "Dahulu aku menyombongkan diri di tempat di
mana orang-orang justru bertawaduk (Baitullah), maka Allah mengujiku dengan
kehinaan di tempat di mana orang-orang justru diangkat derajatnya."
وبَلَغَ عمرَ بنَ عبدِ العزيزِ أنَّ ابناً لهُ اشْتَرَى خاتَماً بألفِ درهمٍ ، فكتَبَ إليهِ عمرُ : بلغَني أنَّكَ اشتريتَ فَصّاً بألفِ درهمٍ ، فإذا أتاكَ كتابي .. فبِعِ الخاتَمَ ، وأشْبِعْ بهِ ألفَ بطنٍ ، واتَّخِذْ خاتَماً مِنْ درهمَينِ ، واجعلْ فَصَّهُ حديداً صينيّاً ، واكتُبْ عليهِ : رحِمَ اللهُ امرأً عرَفَ قدْرَ نفسِهِ
وقيلَ : عُرِضَ على بعضِ الأمراءِ مملوكٌ بألوفِ دراهمَ ، فلـمَّا أُحْضِرَ الثمَنُ .. اسْتَكْثَرَهُ ، فبَدا لهُ في شراءِهِ ، فرُدَّ الثمَنُ إلى الخزانةِ ، فقالَ العبدُ : يا مولايَ ؛ اشترِني ؛ فإنَّ فيَّ بكلِّ درهمٍ مِنْ هذهِ الدراهمِ خَصْلةً تساوي أكثرَ مِنْ ألفِ درهمٍ ، فقالَ : وما هيَ ؟ فقالَ : أقلُّها وأدْناها ما لو اشتريْتَني وقدَّمْتَني على جميعِ مماليكِكَ .. لا أغْلَظُ في نفسي ، وأعلمُ أنِّي عبدُكَ ، فاشْتَراهُ
وحُكِيَ عنْ رجاءِ بنِ حَيْوةَ أنَّهُ قالَ : قَوَّمْتُ ثيابَ عمرَ بنِ عبدِ العزيزِ وهوَ يخطُبُ بـاثْنَيْ عشرَ درهماً ، وكانَ قَباءً وعِمامةً وقميصاً وسَراويلَ ورِداءً وخُفَّينِ وقَلَنْسُوةً
وقيلَ : مشَى عبدُ اللهِ بنُ محمدِ بنِ واسعٍ مشياً لا يُحمَدُ ، فقالَ لهُ أبوهُ : تدري بكَمِ اشتريتُ أُمَّكَ ؟ بثلاثِ مئةِ درهمٍ ، وأبوكَ لا أكثرَ اللهُ في المسلمينَ مِثْلَهُ أباً ، وأَنْتَ تمشي هذهِ المِشْيَةَ ؟
سمعتُ محمدَ بنَ الحسينِ يقولُ : سمعتُ محمدَ بنَ أحمدَ الفرَّاءَ يقولُ : سمعتُ عبدَ اللهِ بنَ مَنازِلَ يقولُ : سمعتُ حمدونَ القَصَّارَ يقولُ : ( التواضُعُ : ألاَّ ترَى لأحدٍ إلى نفسِكَ حاجةً ، لا في الدينِ ولا في الدنيا )
Telah sampai berita kepada Umar bin
Abdul Aziz bahwasanya salah seorang putranya membeli sebuah cincin seharga
seribu dirham. Maka Umar menulis surat kepadanya: "Telah sampai
kepadaku berita bahwa engkau membeli batu permata cincin seharga seribu dirham.
Apabila suratku ini sampai kepadamu.. maka juallah cincin itu, lalu gunakan
hasilnya untuk memberi makan seribu perut (orang lapar) hingga kenyang.
Kemudian buatlah cincin seharga dua dirham, dan jadikan matanya dari besi
Tionghoa (Besi Cina), serta ukirlah di atasnya kalimat: 'Semoga Allah merahmati
seseorang yang tahu kadar/kemampuan dirinya'."
Dikatakan: Ditawarkan kepada salah
seorang penguasa/pangeran seorang hamba sahaya dengan harga ribuan dirham.
Namun ketika uang pembayarannya dihadirkan.. sang penguasa merasa harganya
terlalu mahal, lalu ia enggan membelinya dan mengembalikan uang itu ke
perbendaharaan. Hamba sahaya itu pun berkata: "Wahai tuanku, belilah
aku; karena pada diriku, untuk setiap satu dirham dari uang ini, terdapat satu
kebiasaan/sifat baik yang nilainya lebih dari seribu dirham." Sang
penguasa bertanya: "Apakah itu?" Hamba itu menjawab: "Yang
paling rendah dan paling kecil di antaranya adalah: Jika engkau membeliku lalu
mengutamakanku di atas seluruh hamba sahayamu.. aku tidak akan merasa besar
kepala/sombong dalam hatiku, dan aku akan tetap menyadari bahwa aku adalah
hamba sahayamu." Maka sang penguasa pun membelinya.
Dikisahkan dari Raja' bin Haiwah
bahwasanya ia berkata: Aku pernah menaksir harga pakaian Umar bin Abdul Aziz
ketika beliau sedang berkhotbah, nilainya hanya dua belas dirham. Pakaian itu
sudah mencakup jubah (qaba'), sorban ('imamahi), baju kemeja (qamishi),
celana (sarawil), selendang (rida'), sepatu kulit (khuffain),
dan kopiah (qalansuwah).
Dikatakan: Abdullah bin Muhammad bin
Wasi' pernah berjalan dengan gaya berjalan (yang tercela/pamer) yang tidak
terpuji. Maka ayahnya berkata kepadanya: "Tahukah engkau berapa harga
aku membeli ibumu? Aku membelinya seharga tiga ratus dirham. Sedangkan ayahmu
ini—semoga Allah tidak memperbanyak orang seperti ayahmu ini di antara kaum
muslimin—adalah orang biasa, lalu mengapa engkau berjalan dengan gaya berjalan
seperti ini?!"
Aku mendengar Muhammad bin al-Husain
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad al-Farra' berkata: Aku mendengar
Abdullah bin Manazil berkata: Aku mendengar Hamdun al-Qashshar berkata: "Tawaduk
adalah engkau tidak melihat seorang pun membutuhkan dirimu, baik dalam urusan
agama maupun urusan dunia."
وقالَ إبراهيمُ بنُ أدهمَ : ( ما سُرِرْتُ في إسلامي إلاَّ ثلاثَ مرَّاتٍ : مرَّةً كُنْتُ في سفينةٍ وفيها رجلٌ مِضْحاكٌ ، كانَ يقولُ : كُنَّا نأخُذُ العِلْجَ في بلادِ التُّرْكِ هكذا ؛ وكانَ يأخُذُ بشَعْرِ رأسِي ويُهَزِّزُنِي ، فسرَّني ذلِكَ ؛ لأنَّهُ لمْ يكُنْ في تلكَ السفينةِ أحدٌ أحقَرَ في عينِهِ منِّي
والأُخْرَى : كُنْتُ عليلاً في مسجدٍ ، فدخلَ المُؤَذِّنُ وقالَ : اخْرُجْ ، فلمْ أُطِقْ ، فأخذَ برِجْلِي وجرَّنِي إلى خارجٍ
والثالثةُ : كُنْتُ بالشامِ وعلَيَّ فَرْوٌ ، فنظرتُ فيهِ ، فلمْ أُمَيِّزْ بينَ شَعَرِهِ وبينَ القَمْلِ لكَثْرَتِهِ ، فسرَّني ذلِكَ
وفي حكايةٍ أُخْرَى عنهُ قالَ : ( ما سُرِرْتُ بشيءٍ كسُرُورِي أنِّي كُنْتُ يوماً جالساً ، فجاءَ إنسانٌ وبالَ عليَّ )
وقيلَ : تشاجَرَ أبو ذَرٍّ وبِلالٌ رضيَ اللهُ عنهما ، فعيَّرَ أبو ذَرٍّ بِلالاً بالسَّوادِ ، فشكاهُ إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ ، فقالَ : « يا أبا ذَرٍّ ؛ ما علِمْتُ أنَّهُ قدْ بقِيَ في قلبِكَ مِنْ كِبْرِ الجاهليةِ شيءٌ » . فألقَى أبو ذَرٍّ نفسَهُ ، وحلَفَ ألاَّ يرفعَ رأسَهُ حتَّى يطَأَ بِلالٌ خدَّهُ بقدمِهِ ، فلمْ يرفعْ حتَّى فعَلَ بِلالٌ ذلِكَ
ومرَّ الحسنُ بنُ عليٍّ رضيَ اللهُ عنهما بصبيانٍ معهُمْ كِسَرُ خبزٍ ، فاسْتَضافُوهُ ، فنزلَ وأكلَ معهُمْ ، ثمَّ حمَلَهُمْ إلى منزلِهِ وأطعمَهُمْ وكَسَاهُمْ ، وقالَ : اليدُ لهُمْ ؛ لأنَّهُمْ لمْ يجِدوا غيرَ ما أطعمُونِي ، ونحنُ نجِدُ أكْثَرَ منهُ
وقيلَ : قسَمَ عمرُ بنُ الخطابِ رضيَ اللهُ عنهُ الحُلَلَ بينَ الصحابةِ مِنْ غنيمةٍ ، فبعثَ إلى معاذٍ حُلَّةً ثمينةً ، فباعَها واشْتَرَى سِتَّةَ أعبُدٍ وأعتقَهُمْ ، فبلغَ عمرَ ذلِكَ وكانَ يقسِمُ الحُلَلَ بعدَهُ ، فبعثَ إليهِ حُلَّةً دونَ ذلِكَ ، فعاتَبَهُ معاذٌ ، فقالَ عمرُ : لأنَّكَ بعْتَ الأُولَى ، فقالَ معاذٌ : وما عليكَ ؟! ادْفَعْ إليَّ نصيبي ، وقدْ حلَفْتُ لأضْرِبَنَّ بها رأسَكَ ، فقالَ عمرُ : ها رأسي بينَ يدَيْكَ ، وقدْ يرْفُقُ الشيخُ بالشيخِ
Ibrahim bin Adham berkata: "Aku
tidak pernah merasa gembira dalam Islamku kecuali pada tiga kesempatan:
Pertama, ketika aku berada di atas kapal yang di dalamnya terdapat seorang
laki-laki humoris (suka bercanda). Laki-laki itu berkata: 'Dahulu kami
menangkap tawanan kafir di negeri Turk seperti ini', lalu ia memegang rambut
kepalaku dan mengguncang-guncangku. Hal itu membuatku gembira, karena di dalam
kapal tersebut tidak ada seorang pun yang tampak lebih hina di matanya daripada
diriku.
Kesempatan kedua: Ketika aku sedang
sakit di dalam sebuah masjid, lalu muazin masuk dan berkata: 'Keluarlah!' Namun
aku tidak sanggup berdiri, maka ia memegang kakiku dan menyeretku hingga ke
luar.
Kesempatan ketiga: Ketika aku berada
di Syam dengan mengenakan pakaian dari bulu binatang. Aku melihat pakaian
tersebut, dan aku tidak bisa membedakan mana bulu pakaian dan mana kutu karena
saking banyaknya. Hal itu pun membuatku gembira."
Dalam riwayat lain darinya, beliau
berkata: "Aku tidak pernah merasa gembira atas sesuatu melebihi
kegembiraanku ketika pada suatu hari aku sedang duduk, lalu ada seseorang
datang dan mengencingiku."
Dikatakan: Abu Dzar dan Bilal radhiyallahu
'anhuma pernah terlibat perselisihan. Abu Dzar lantas mencela Bilal dengan
menyebut warna kulitnya yang hitam. Bilal kemudian mengadukannya kepada
Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda: "Wahai Abu
Dzar! Aku tidak menyangka bahwa di dalam hatimu masih tersisa sedikit dari
kesombongan era Jahiliah." Mendengar hal itu, Abu Dzar merebahkan
dirinya dan bersumpah tidak akan mengangkat kepalanya sampai Bilal menginjak
pipinya dengan kakinya. Ia tidak mengangkat kepalanya hingga Bilal benar-benar
melakukan hal tersebut.
Hasan bin Ali radhiyallahu
'anhuma pernah melintas di hadapan anak-anak kecil yang membawa
pecahan-pecahan roti. Anak-anak itu mengundangnya untuk makan bersama, maka
beliau pun turun dari kendaraannya dan makan bersama mereka. Kemudian beliau
membawa mereka ke rumahnya, memberi mereka makan, dan memberi mereka pakaian.
Beliau berkata: "Kebaikan (keutamaan) ada pada mereka, karena mereka
memberikan semua yang mereka miliki untuk memberiku makan, sedangkan kita masih
memiliki jauh lebih banyak daripada itu."
Dikatakan: Umar bin al-Khaththab radhiyallahu
'anhu pernah membagikan pakaian-pakaian indah (hulal) hasil rampasan
perang (ghanimah) kepada para sahabat. Beliau mengirimkan sestel pakaian
yang sangat mahal kepada Mu'adz. Namun Mu'adz menjualnya, lalu membeli enam
orang hamba sahaya dan memerdekakan mereka. Berita itu sampai kepada Umar.
Ketika Umar membagikan pakaian pada kesempatan berikutnya, beliau mengirimkan
kepada Mu'adz pakaian yang kualitasnya di bawah pakaian sebelumnya. Mu'adz pun
menegurnya, lalu Umar berkata: "Karena engkau menjual pakaian yang
pertama." Mu'adz membalas: "Apa urusanmu dengan hal itu?!
Berikanlah bagianku! Sungguh aku telah bersumpah akan memukulkan pakaian ini ke
kepalamu!" Umar menanggapi: "Ini kepalaku di hadapanmu, dan
terkadang seorang yang tua hendaknya bersikap lembut kepada sesama yang
tua."
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.