بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
Bab Keempat
15.LAWAIH, LAWAMI’ DAN THAWALI’
اللَّوَائِحُ وَاللَّوَامِعُ وَالطَّوَالِعُ
قَالَ الأُسْتَاذُ الإِمَامُ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ
: هَذِهِ الأَلْفَاظُ مُتَقَارِبَةُ المَعْنَى ، لَا يَكَادُ يَحْصُلُ بَيْنَهَا
كَثِيرُ فَرْقٍ ، وَهِيَ مِنْ صِفَاتِ أَصْحَابِ البِدَايَاتِ فِي التَّرَقِّي
بِالقَلْبِ ، فَلَمْ يَدُمْ لَهُمْ بَعْدُ ضِيَاءُ شُمُوسِ المَعَارِفِ ، لَكِنَّ
الحَقَّ سُبْحَانَهُ يُؤْتِي رِزْقَ قُلُوبِهِمْ فِي كُلِّ حِينٍ ؛ كَمَا قَالَ :
﴿ وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا ﴾
فَكُلَّمَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ سَمَاءُ القُلُوبِ
بِسَحَابِ الحَظُوظِ .. سَنَحَ لَهُمْ فِيهَا لَوَائِحُ الكَشْفِ ، وَتَلَأْلَأَ
لَوَامِعُ القُرْبِ ، وَهُمْ فِي زَمَانِ سَتْرِهِمْ يَرْقُبُونَ فَجْأَةَ
اللَّوَائِحِ ، فَهُمْ كَمَا قَالَ القَائِلُ
يَا أَيُّهَا البَرْقُ الَّذِي يَلْمَعُ ... مِنْ
أَيِّ أَكْنَافِ السَّمَا تَسْطَعُ
فَتَكُونُ أَوَّلاً لَوَائِحُ ، ثُمَّ لَوَامِعُ ،
ثُمَّ طَوَالِعُ
فَاللَّوَائِحُ كَالْبُرُوقِ ، مَا ظَهَرَتْ حَتَّى
اسْتَتَرَتْ ، كَمَا قَالَ القَائِلُ
إِفْتَرَقْنَا حَوْلاً فَلَمَّا الْتَقَيْنَا ...
كَانَ تَسْلِيمُهُ عَلَيَّ وَدَاعَا
وَأَنْشَدُوا
يَا ذَا الَّذِي زَارَ وَمَا زَارَا ... كَأَنَّهُ
مُقْتَبِسٌ نَارَا
مَرَّ بِبَابِ الدَّارِ مُسْتَعْجِلاً ... مَا
ضَرَّهُ لَوْ دَخَلَ الدَّارَا
وَاللَّوَامِعُ أَظْهَرُ مِنَ اللَّوَائِحِ ،
وَلَيْسَ زَوَالُهَا بِتِلْكَ السُّرْعَةِ ، فَقَدْ تَبْقَى وَقْتَيْنِ وَثَلَاثَةً
، وَلَكِنْ كَمَا قَالُوا
وَالْعَيْنُ بَاكِيَةٌ لَمْ تَشْبَعِ النَّظَرَا
أَوْ كَمَا قَالُوا
لَمْ تَرُدْ مَاءَ وَجْهِهِ العَيْنُ إِلَّا ...
شَرِقَتْ قَبْلَ رِيِّهَا بِرَقِيبِ
فَإِذَا لَمَعَ .. قَطَعَكَ عَنْكَ ، وَجَمَعَكَ بِهِ
، لَكِنْ لَمْ يَسْفُرْ نُورُ نَهَارِهِ حَتَّى كَرَّ عَلَيْهِ عَسَاكِرُ
اللَّيْلِ ، فَهَؤُلَاءِ بَيْنَ رَوْحٍ وَنَوْحٍ ؛ لِأَنَّهُمْ بَيْنَ كَشْفٍ
وَسَتْرٍ ، كَمَا قَالُوا
فَاللَّيْلُ يَشْمَلُنَا بِفَاضِلِ بُرْدِهِ ...
وَالصُّبْحُ يُلْحِفُنَا رِدَاءً مُذْهَبَا
وَالطَّوَالِعُ أَبْقَى وَقْتاً ، وَأَقْوَى
سُلْطَاناً ، وَأَدْوَمُ مَكْثاً ، وَأَذْهَبُ لِلظُّلْمَةِ ، وَأَنْفَى
لِلتُّهَمَةِ ، لَكِنَّهَا مَوْقُوفَةٌ عَلَى خَطَرِ الأُفُولِ ، لَيْسَتْ
بِرَفِيعَةِ الأَوْجِ ، وَلَا بِدَائِمَةِ المَكْثِ ، ثُمَّ أَوْقَاتُ حُصُولِهَا
وَشِيكَةُ الارتِحَالِ ، وَأَحْوَالُ أُفُولِهَا طَوِيلَةُ الأَذْيَالِ
وَهَذِهِ المَعَانِي - الَّتِي هِيَ اللَّوَائِحُ
وَاللَّوَامِعُ وَالطَّوَالِعُ - تَخْتَلِفُ فِي القَضَايَا ؛ فَمِنْهَا مَا إِذَا
فَاتَ .. لَمْ يَبْقَ عَنْهَا أَثَرٌ ؛ كَالشَّوَارِقِ إِذَا أَفَلَتْ فَكَأَنَّ
اللَّيْلَ كَانَ دَائِماً ، وَمِنْهَا مَا يَبْقَى عَنْهُ أَثَرٌ ؛ فَإِنْ زَالَ
رَقْمُهُ .. بَقِيَ أَلَمُهُ ، وَإِنْ غَرَبَ أَنْوَارُهُ .. بَقِيَ آثَارُهُ ،
فَصَاحِبُهُ بَعْدَ سُكُونِ غَلَبَاتِهِ يَعِيشُ فِي ضِيَاءِ بَرَكَاتِهِ ،
فَإِلَى أَنْ يَلُوحَ ثَانِياً يُزْجِي وَقْتَهُ عَلَى انْتِظَارِ عَوْدِهِ ،
وَيَعِيشُ بِمَا وَجَدَ فِي حِينِ كَوْنِهِ
Kilatan Awal (Al-Lawaih), Kilatan Cahaya (Al-Lawami'), dan Cahaya Terbit
(At-Thawali')
Al-Ustadz Al-Imam (Al-Qusyairi) rahimahullah berkata:
Istilah-istilah
ini memiliki makna yang berdekatan, hampir tidak ada perbedaan besar di antara
ketiganya. Istilah-istilah ini merupakan sifat-sifat bagi para pemula (ashāb
al-bidāyāt) dalam pendakian spiritual hati (at-taraqqī bi al-qalb).
Cahaya matahari makrifat belum bertahan lama bagi mereka, namun Allah Yang Maha
Suci senantiasa memberikan rezeki bagi hati mereka setiap saat; sebagaimana
firman-Nya: "Dan bagi mereka rezeki mereka di dalamnya pada waktu pagi
dan petang."
Setiap kali langit hati mereka menjadi gelap oleh awan bagian/keinginan
diri... muncullah kilatan-kilatan singkapan gaib (lawā'ih al-kasyf), dan
berkilauanlah kilatan-kilatan kedekatan (lawāmi' al-qurb). Dalam masa
penutupan (satr), mereka senantiasa menantikan datangnya kilatan (lawā'ih)
secara mendadak. Keadaan mereka adalah seperti yang dikatakan oleh penyair:
Wahai kilat yang berkilauan... dari penjuru langit manakah engkau
memancar?
Maka tingkatan awal yang muncul adalah Lawā'ih, kemudian Lawāmi',
lalu Thawāli'.
Lawā'ih itu seperti kilat, tidaklah ia tampak melainkan langsung
tersembunyi kembali. Sebagaimana kata penyair:
Kita berpisah selama setahun, lalu ketika kita bertemu... ucapan salamnya
kepadaku bagaikan ucapan selamat tinggal.
Dan mereka melantunkan syair:
Wahai orang yang berkunjung padahal sebenarnya tidak benar-benar
berkunjung... seolah-olah ia hanya mengambil sebongkah api.
Ia melewati pintu rumah dengan terburu-buru... apa ruginya sekiranya ia
masuk ke dalam rumah?
Sedangkan Lawāmi' tampak lebih jelas daripada Lawā'ih, dan
hilangnya tidak secepat kilatan Lawā'ih. Kadang ia bertahan selama dua
atau tiga waktu. Namun sebagaimana kata mereka:
Dan mata pun menangis karena belum puas memandang.
Atau sebagaimana kata mereka:
Tidaklah mata mendatangi keindahan wajahnya... melainkan ia dahaga oleh
pengawas sebelum terpuaskan haus pandangnya.
Ketika Lawāmi' memancar... ia memotongmu dari dirimu sendiri dan
menyatukanmu dengan-Nya. Namun, cahaya siangnya belum sempat terang benderang
hingga pasukan malam datang menyergapnya kembali. Maka mereka berada di antara
kedamaian (rawh) dan ratapan (nawh); karena mereka berada di
antara kasyf (singkapan) dan satr (penutup), sebagaimana kata
penyair:
Malam menyelimuti kita dengan jubah kelebihannya... dan pagi mengenakan
kepada kita selendang bersepuh emas.
Adapun Thawāli' bertahan lebih lama waktunya, lebih kuat
kekuasaannya, lebih lama menetapnya, lebih mampu mengusir kegelapan, dan lebih
bisa menepis prasangka/keraguan. Meskipun demikian, ia tetap berisiko terbenam
(afūl), belum berada di puncak ketinggian yang abadi, dan menetapnya
belum permanen. Waktu kedatangannya berlalunya cepat, sedangkan masa
terbenamnya berlangsung panjang.
Dan makna-makna ini — yaitu Lawā'ih, Lawāmi', dan Thawāli'
— memiliki dampak yang berbeda-beda; di antaranya ada yang jika telah
berlalu... tidak menyisakan bekas sama sekali, bagaikan benda-benda langit yang
terbit lalu terbenam sehingga seolah-olah malam berlangsung selamanya. Namun di
antaranya ada pula yang menyisakan bekas; jika guratannya telah hilang... rasa
perihnya masih tersisa, dan jika cahaya-cahayanya telah terbenam...
jejak-jejaknya tetap ada. Maka pemiliknya, setelah gejolak puncaknya mereda,
tetap hidup dalam naungan cahaya keberkahan-Nya. Hingga kilatan tersebut
memancar kembali, ia melintasi waktunya dengan menantikan kepulangannya, dan
hidup dari apa yang pernah ia dapatkan sewaktu kilatan itu hadir.
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.