بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
6. *AT-TAWAJUD, AL-WAJD, WA AL-WUJUD*
**التواجد والوجد والوجود**
فالتواجدُ : استدعاءُ الوَجْدِ بضربِ اختيارٍ
، وليسَ لصاحبِهِ كمالُ الوجْدِ ؛ إذْ لَوْ كانَ . . لكانَ واجداً ، وبابُ التفاعُلِ
أكثَرُهُ علَى إظهارِ الصفَةِ وليْسَتْ كذلِكَ ، قالَ الشاعرُ
إِذَا تَخَازَرْتُ وَمَا بِي مِنْ خَزَرُ
... ثُمَّ كَسَرْتُ الْعَيْنَ مِنْ غَيْرِ عَوَرُ
فقومٌ قالوا : التواجُدُ غيرُ مسلَّمٍ لصاحِبِهِ
؛ لِما يتضمَّنُ مِنَ التكَلُّفِ ، ويبعُدُ عَنِ التحقُّقِ
وقومٌ قالوا : إنَّهُ مسلَّمٌ للفقراءِ
والمجرَّدينَ الذينَ ترصَّدوا لوجْدانِ هذِهِ المعاني
وأصْلُهُمْ : خبرُ الرسولِ صَلَّى اللهُ
عليه وسلَّمَ : « ابكوا ، فإنْ لَمْ تبكوا . . فتبارَكوا » .
والحكايةُ المعروفةُ لأبي محمدٍ الجُرَيْريِّ
أنَّهُ قالَ : كُنْتُ عندَ الجنيدِ وهناكَ ابنُ مسروقٍ وغيرُهُ ، وثَمَّ قَوَّالٌ ،
فقامَ ابنُ مسروقٍ وغيرُهُ والجُنيدُ ساكنٌ ، فقلْتُ : يا سيِّدي ؛ ما لكَ في السَّماعِ
شيءٌ ؟ فقالَ الجنيدُ : ﴿ وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ
مَرَّ السَّحَابِ ﴾ ، ثُمَّ قالَ : وأَنْتَ يا أبا محمدٍ ؛ ما لكَ في السَّماعِ شيءٌ
؟ فقلْتُ : يا سيِّدي ؛ أنا إذا حضرْتُ موضعاً فيهِ سماعٌ وهناكَ مُحتَشَمٌ . . أمسَكْتُ
علَى نفسي وجْدي ، فإذا خلوْتُ . . أرْسَلْتُ وجْدي فتواجَدْتُ
فأطلَقَ في هذِهِ الحكايةِ التواجدَ ولَمْ
ينْكِرْ عليهِ الجُنيدُ
سمعتُ الأستاذَ أبا عليٍّ الدَّقَّاقَ
- رحمهُ اللهُ - يقولُ : لَمَّا راعَى الأدبَ للأكابرِ في حالِ السماعِ . . حفِظَ اللهُ
عليهِ وقْتَهُ ببركاتِ الأدبِ ، حتَّى يقولُ : ( أمسَكْتُ علَى نفسي وجْدي ، فإذا خلوْتُ
. . أرسَلْتُ وجْدي فتواجَدْتُ ) لأنَّهُ لا يُمكنُ إرسالُ الوجدِ - إذا شئْتَ - بعدَ
ذهابِ الوقتِ وغلباتِهِ ، ولكنَّهُ لَمَّا كانَ صادقاً في مراعاةِ حرمةِ الشيوخِ .
. حفِظَ اللهُ عليهِ وقْتَهُ حتَّى أرْسَلَ وجْدَهُ عندَ الخلوةِ
فالتواجُدُ ابتداءُ الوجدِ علَى الوصفِ
الذي جرى ذكْرُهُ ، وبعدَ هذَا الوجدُ
**AT-TAWAJUD, AL-WAJD, WA AL-WUJUD**
**At-Tawajud (Upaya Mengondisikan Rasa Spiritual):**
Adalah usaha mendatangkan *wajd* (gejolak/rasa spiritual) dengan kesengajaan
atau ikhtiar sendiri. Pelakunya belum mencapai *wajd* yang sempurna; sebab
seandainya ia telah mencapainya, niscaya ia sudah menjadi *waajid* (orang yang
menemukan rasa itu secara alami). Bentuk kata *Tafā'ul* (seperti *Tawājud*)
sebagian besar menunjukkan sikap menampakkan suatu sifat padahal aslinya tidak
demikian. Seorang penyair bersyair:
* *Ketika aku pura-pura memicingkan mata padahal mataku
tidak sipit... lalu aku menyipitkannya padahal mataku tidak buta.*
**Pandangan Para Ulama tentang Tawajud:**
1. **Sebagian ulama berpendapat: *Tawajud* tidak dapat diterima bagi pelakunya,
karena di dalamnya terdapat unsur paksaan (*takalluf*) dan jauh dari hakikat
kebenaran (*tahaqquq*).
2. **Sebagian ulama lain berpendapat: *Tawajud* dapat
diterima bagi para *fuqara* (orang yang butuh Allah) dan orang-orang yang
melepaskan keterikatan duniawi (*mujarrapin*), yaitu mereka yang senantiasa
menantikan hadirnya makna-makna spiritual ini.
* Sandaran/dalil bagi kelompok kedua ini adalah sabda
Rasulullah {SAW}:
> *"Menangislah kalian! Jika kalian tidak bisa
menangis, maka pura-pura menangislah (usahakanlah untuk menangis)."*
# Kisah Abu Muhammad Al-Jurairi dan Al-Junaid
Dikisahkan dalam riwayat yang terkenal dari **Abu Muhammad
Al-Jurairi**, beliau berkata:
> *"Aku pernah berada di dekat Al-Junaid, dan di
sana ada pula Ibn Masruq serta yang lainnya, lalu seorang penyanyi (qawwal)
mulai melantunkan bait-bait spiritual. Ibn Masruq dan beberapa orang berdiri
(karena tersentuh perasaannya), sementara Al-Junaid tetap duduk tenang.*
> *Maka aku bertanya: 'Wahai Tuanku, apakah engkau tidak
merasakan sesuatu dari lantunan lagu spiritual (Sama') ini?' Al-Junaid menjawab
dengan membacakan ayat Al-Qur'an:*
> ﴿ وَتَرَى
الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ﴾
> *(Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia
tetap membeku, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. [QS. An-Naml: 88]).*
> *Kemudian Al-Junaid bertanya balik: 'Lalu bagaimana
denganmu wahai Abu Muhammad, apakah engkau tidak merasakan sesuatu dari Sama'
ini?'*
> *Aku menjawab: 'Wahai Tuanku, jika aku menghadiri
majelis Sama' dan di sana ada orang yang aku segani/hormati, aku menahan
gejolak jiwaku (wajd). Nanti jika aku telah menyendiri (berkhalwat), barulah
aku lepaskan gejolak jiwaku dan aku mengondisikan diriku (fatawajadtu).'*
Dalam kisah ini, Al-Jurairi menggunakan istilah *Tawajud*
dan Al-Junaid tidak mengingkarinya.
# Penjelasan Abu Ali Ad-Daqqaq
Saya mendengar Al-Ustadz Abu Ali Ad-Daqqaq *rahimahullah* berkata:
> *"Ketika Abu Muhammad Al-Jurairi menjaga adabnya
di hadapan para sesepuh/orang besar saat majelis Sama', Allah menjaga kondisi
spiritualnya (*waqt*) berkat keberkahan adab tersebut.*
> *Sampai-sampai ia berkata: 'Aku menahan gejolak jiwaku,
dan jika aku menyendiri aku lepaskan gejolak jiwa itu lalu aku bertawajud.'
Padahal, secara normal, gejolak *wajd* tidak mungkin ditunda dan dilepaskan
sesuka hati setelah lewat waktunya.*
> *Namun karena kejujurannya dalam menjaga kehormatan
para syekh/guru, Allah memelihara kondisi spiritualnya hingga ia dapat
meluapkan gejolak rasa (*wajd*) tersebut di saat ia menyendiri."*
**Kesimpulan:**
*Tawajud* adalah permulaan dari *Wajd* sesuai gambaran yang
telah disebutkan di atas, dan tingkatan setelah *Tawajud* ini adalah
**Al-Wajd**.
وصاحِبُ الوُجُودِ لهُ صَحْوٌ ومَحْوٌ ؛
فحالُ صَحْوِهِ بقاؤُهُ بالحقِّ ، وحالُ مَحْوِهِ فَناؤُهُ بالحقِّ ، وهاتانِ الحالتانِ
أبداً متعاقبتانِ عليهِ
فإذا غلَبَ عليهِ الصَّحْوُ بالحقِّ .
. فبِهِ يصُولُ ، وبِهِ يقُولُ ؛ قالَ عليهِ الصلاةُ والسلامُ فيما أخبَرَ عَنِ الحقِّ
: « فبي يسْمَعُ ، وبِي يُبْصِرُ
سمعتُ الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ
يقولُ : سمعتُ منصورَ بنَ عبدِ اللهِ يقولُ : وقَفَ رجلٌ على الشِّبْليِّ ، فسأَلَهُ
: هلْ يَظهَرُ آثارُ صِحَّةِ الوُجُودِ على الواجدِينَ ؟ فقالَ : نورٌ يزهَرُ مقارِناً
لنيرانِ اشتياقٍ ، فتلوحُ على الهياكِلِ آثارُهما ؛ كما قالَ ابنُ المعتَزِّ
وَأَمْطَرَتِ الْكَأْسُ مَاءً مِنْ أَبَارِقِهَا
... فَأَنْبَتَتِ الدُّرَّ فِي أَرْضٍ مِنَ الذَّهَبِ
وَسَبَّحَ الْقَوْمُ لَمَّا أَنْ رَأَوْا
عَجَباً ... نُوراً مِنَ الْمَاءِ فِي نَارٍ مِنَ الْعِنَبِ
سُلَافَةً وَرِثَتْهَا عَادُ عَنْ إِرَمَ
... كَانَتْ ذَخِيرَةَ كِسْرَى عَنْ أَبٍ فَأَبِ
وقِيلَ لأبي بكْرٍ الدُّقِّيِّ : إنَّ جَهْمَاً
الدُّقِّيَّ أخَذَ شجرةً بيدِهِ في حالِ السماعِ في ثَورانِهِ ، فقَـلَعَها مِنْ أصْلِها
فاجتمعا في دعْوةٍ ، وكانَ الدُّقِّيُّ
كُفَّ بصَرُهُ ، فقامَ جَهْمٌ الدُّقِّيُّ يدُورُ في هَيَجانِهِ ، فقالَ الدُّقِّيُّ
: إذا قرُبَ منِّي . . أرُونيهِ ، وكانَ الدُّقِّيُّ ضعيفاً بمرَّةٍ ، فلمَّا قرُبَ
منهُ . . قالوا لهُ : هذَا هُوَ ، فأخَذَ الدُّقِّيُّ بساقِ جَهْمٍ فوَقَفَهُ ، فلَمْ
يُمْكِنْهُ أنْ يتحَرَّكَ ، فقالَ جَهْمٌ : أيُّها الشيخُ ؛ التوبةَ التوبةَ ، فخلَّاهُ
قالَ الأستاذُ الإمامُ أبو القاسِمِ رحمهُ
اللهُ : فكانَ ثَورانُ جَهْمٍ في حقٍّ ، وإمساكُ الدُّقِّيِّ بساقِهِ بحقٍّ ، ولَمَّا
علِمَ جَهْمٌ أنَّ حالَ الدُّقِّيِّ فوقَ حالِهِ . . رجَعَ إلى الإنصافِ واستسلَمَ
، وكذَا مَنْ كانَ بحقٍّ لا يسْتَعْصِي عليهِ شيءٌ
# **Kondisi Pemilik Al-Wujud: Sahw (Sadar) dan Mahw
(Lebur)**
Orang yang telah mencapai tingkatan **Al-Wujud** memiliki
dua kondisi: *Sahw* (kesadaran) dan *Mahw* (peleburan/fana).
* Pada kondisi *Sahw* (sadar), keberadaannya (*baqa'*)
adalah bersama Allah.
* Pada kondisi *Mahw* (fana), penderitaannya/kebersamaannya
adalah lebur dalam Allah.
Kedua kondisi ini senantiasa bergantian dialaminya secara
terus-menerus.
Ketika kondisi *Sahw bersama Allah* mendominasi dirinya,
maka dengan kekuatan Allah ia melangkah, dan dengan firman Allah ia berkata.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad {SAW} dalam hadis qudsi dari Allah {SWT}:
> *"Maka dengan-Ku ia mendengar, dan dengan-Ku ia
melihat..."*
# Tanda-tanda Kebenaran Al-Wujud (Syaikh Asy-Syibli)
Saya mendengar Syekh Abu Abdurrahman As-Sulami menceritakan:
Saya mendengar Manshur bin Abdillah menceritakan:
Seseorang pernah berdiri di hadapan **Asy-Syibli** dan
bertanya: *"Apakah tampak tanda-tanda kebenaran pencapaian Al-Wujud pada
diri orang-orang yang mengalaminya?"*
Asy-Syibli menjawab: *"Tentu, yaitu cahaya yang
memancar beriringan dengan api kerinduan, sehingga bekas-bekas dari keduanya
membayang dan tampak jelas pada tubuh/fisik mereka.
Sebagaimana syair yang dilantunkan oleh Ibn Al-Mu'tazz :
* *Gelas sloki memercikkan air dari teko-tekonya... Maka
tumbuhlah permata di atas tanah yang terbuat dari emas.*
* *Orang-orang bertasbih saat menyaksikan keajaiban itu...
Cahaya dari air di dalam api perasan anggur.*
* *Sari minuman murni yang diwarisi bangsa 'Ad dari Iram...
Dulu merupakan simpanan Raja Kisra yang diwarisi dari leluhurnya.*
# Kisah Karamah Abu Bakr Ad-Duqqi dan Jahm Ad-Duqqi
Diceritakan kepada Abu Bakr Ad-Duqqi: Bahwa **Jahm
Ad-Duqqi** pernah memegang sebuah pohon dengan tangannya saat mengalami gelora
spiritual (*fawaran*) dalam majelis *Sama'*, lalu ia mencabut pohon itu hingga
ke akar-akarnya.
Suatu hari, keduanya bertemu dalam sebuah jamuan/undangan.
Abu Bakr Ad-Duqqi saat itu telah kehilangan penglihatannya (buta) dan fisiknya
sangat lemah. Ketika Jahm Ad-Duqqi berdiri dan berputar-putar meluapkan gejolak
spiritualnya (*hayajan*), Abu Bakr Ad-Duqqi berkata: *"Jika ia mendekat kepadaku,
tunjukkanlah padaku."*
Ketika Jahm mendekatinya, orang-orang berkata kepada Abu
Bakr Ad-Duqqi: *"Ini dia orangnya."* Maka Abu Bakr Ad-Duqqi langsung
memegang kaki Jahm dan menghentikan gerakannya seketika, sampai Jahm tidak
mampu bergerak sedikit pun.
Maka Jahm berseru: *"Wahai Syekh, aku bertobat! Aku
bertobat!"* Baru setelah itu Abu Bakr Ad-Duqqi melepaskannya.
# Penjelasan Imam Al-Qusyairi
Al-Ustadz Al-Imam **Abu Al-Qasim Al-Qusyairiy**
*rahimahullah* berkata:
> *"Maka gejolak spiritual yang dialami Jahm adalah
hal yang benar (*fi haqq*), dan cengkeraman tangan Ad-Duqqi pada kakinya juga
terjadi dengan kuasa Allah (*bi haqq*).*
> *Namun ketika Jahm menyadari bahwa kondisi spiritual
(*hal*) Abu Bakr Ad-Duqqi berada jauh di atas kondisinya, ia pun bersikap
sportif (*insyaf*) dan berserah diri.*
> *Begitulah orang yang bertindak bersama Allah (*bi
haqq*), tidak ada satu pun hal yang sanggup melawannya."*
وأمَّا إذا كانَ الغالِبُ عليهِ المَحْوَ
. . فلا عِلْمَ ولا عَقْلَ ، ولا فَهْمَ ولا حِسَّ
سمعتُ الشيخَ أبا عبدِ الرحمنِ السُّلَمِيَّ
يَذْكُرُ بإسنادِهِ أنَّ أبا عِقالٍ المَغْرِبِيَّ أقامَ بِمَكَّةَ أرْبَعَ سِنِينَ
لَمْ يَأْكُلْ ولَمْ يَشْرَبْ إِلى أنْ ماتَ
ودَخَلَ بعضُ الفُقَراءِ على أبي عِقالٍ
فقالَ لهُ : السلامُ عليكُم ، فقالَ أبو عِقالٍ : وعليكُمُ السلامُ ، فقالَ الرجلُ
: أنا فُلانٌ ، فقالَ أبو عِقالٍ : أنْتَ فُلانٌ ؟ كيفَ أنْتَ ؟ وكيفَ حالُكَ ؟ وغابَ
عَنْ حالتِهِ ، قالَ هذَا الرجلُ : فقلْتُ : سلامٌ عليكُم ، فقالَ : عليكُمُ السلامُ
، كأنَّهُ لَمْ يَرَني قَطُّ ، فقلْتُ : أنا فُلانٌ ، فقالَ : أنْتَ فُلانٌ ؟ كيفَ
أنْتَ ؟ وكيفَ كُنْتَ ؟ وغابَ كأنَّهُ لَمْ يَرَني ، ففعلْتُ مثْلَ هذَا غيرَ مَرَّةٍ
، فعلمْتُ أنَّ الرجلَ غائبٌ ، فترَكْتُهُ ، وخرجْتُ
سمعتُ محمدَ بنَ الحُسينِ يقولُ : سمعتُ
عمرَ بنَ محمدِ بنِ أحمدَ يقولُ : سمعتُ امرأةَ أبي عبدِ اللهِ التَّرُوغْبَذِيِّ تقولُ
: لَمَّا كانَ أيَّامُ المَجاعَةِ والناسُ يمُوتُونَ مِنَ الجُوعِ . . دخلَ أبو عبدِ
اللهِ التَّرُوغْبَذِيُّ بيتَهُ ، فرَأَى فيهِ مِقْدارَ مَنَّيْنِ حِنْطَةً ، فقالَ
: الناسُ يمُوتُونَ مِنَ الجُوعِ وفي بيتي حِنْطَةٌ ؟! فخُولِطَ في عَقْلِهِ ، فما
كانَ يَفِيقُ إلَّا في أوقاتِ الصلاةِ ، يصلِّي الفريضةَ ثُمَّ يعُودُ إلى حالتِهِ
، فلَمْ يزَلْ كذلِكَ إلى أنْ ماتَ
قالَ الأستاذُ قَدَّسَ اللهُ روحَهُ : دلَّتْ
هذِهِ الحكايةُ على أنَّ هذَا الرجلَ كانَ محفوظاً عليهِ آدابُ الشريعةِ عندَ غَلَباتِ
أحْكامِ الحقيقةِ ، وهذَا هُوَ صفَةُ أهْلِ الحقيقةِ ، ثُمَّ كانَ سببُ غيْبَتِهِ عنْ
تمييزِهِ شَفَقَتَهُ على المسلمينَ ، وهذِهِ أقْوَى سِمَةٍ لِتحَقُّقِهِ في حالِهِ
# **Keadaan Ketika Mahw (Peleburan Kesadaran)
Mendominasi**
Adapun apabila kondisi *Mahw* (peleburan kesadaran/fana)
yang lebih mendominasi seseorang, maka baginya tidak ada lagi ilmu, akal
pikiran, pemahaman, maupun rasa indrawi.
# Kisah Abu 'Iqal Al-Maghribi
Saya mendengar Syekh Abu Abdurrahman As-Sulami menyebutkan
dengan sanadnya: Bahwasanya **Abu 'Iqal Al-Maghribi** tinggal di Mekkah selama
empat tahun tanpa makan dan tanpa minum hingga beliau wafat.
Suatu hari, salah seorang *fuqara* (penempuh jalan tasawuf)
masuk menemui Abu 'Iqal lalu mengucapkan salam: *"Assalamu'alaikum."*
Abu 'Iqal menjawab: *"Wa'alaikumussalam."*
Orang itu berkata: *"Aku adalah Fulan."*
Abu 'Iqal bertanya: *"Engkau Fulan? Bagaimana kabarmu?
Bagaimana keadaanmu?"*
Namun setelah itu, Abu 'Iqal kembali gaib (hilang
kesadaran/fana) dari kondisinya.
Orang tersebut menceritakan: Maka aku kembali mengucapkan:
*"Salam 'alaikum."*
Abu 'Iqal menjawab: *"Alaikumussalam"*,
seolah-olah beliau belum pernah melihatku sama sekali.
Aku berkata lagi: *"Aku adalah Fulan."*
Beliau merespons: *"Engkau Fulan? Bagaimana kabarmu?
Bagaimana keadaanmu dulu?"*
Lalu beliau kembali gaib seolah-olah tidak pernah melihatku.
Aku melakukan hal itu beberapa kali, hingga aku sadar bahwa
orang ini memang sedang gaib kesadarannya (fana bersama Allah). Maka aku
meninggalkannya dan keluar.
# Kisah Abu 'Abdillah At-Tarughbadzi
Saya mendengar Muhammad bin Al-Husain berkata: Saya
mendengar 'Umar bin Muhammad bin Ahmad berkata: Saya mendengar istri dari **Abu
'Abdillah At-Tarughbadzi** menceritakan:
Ketika terjadi masa paceklik/kelaparan dan orang-orang
banyak yang meninggal dunia karena kelaparan, Abu 'Abdillah At-Tarughbadzi
masuk ke rumahnya. Beliau melihat di dalam rumah ada gandum seberat sekitar dua
*mann* (sekitar 1,5 - 2 kg).
Seketika beliau berseru: *"Masyarakat mati kelaparan,
sementara di rumahku masih ada gandum?!"*
Sejak saat itu, akal/kesadarannya langsung terguncang
(fana). Beliau tidak pernah sadar kembali kecuali saat masuk waktu-waktu
shalat; beliau menjalankan shalat fardhu, lalu setelah itu kembali lagi ke
kondisi fananya. Beliau terus-menerus dalam keadaan demikian hingga wafat.
# Penjelasan Imam Al-Qusyairi
Al-Ustadz (Imam Al-Qusyairi) *qaddasallāhu rūhah* berkata:
> *"Kisah ini menunjukkan bahwa orang tersebut tetap
terjaga adab-adab syariatnya meskipun hukum-hukum Hakikat sedang mendominasi
dirinya. Dan inilah sifat sejati dari Ahli Hakikat (Ahlul Haqiqah).*
> *Kemudian, penyebab dari hilangnya pemahaman/kesadaran
dirinya adalah rasa kasih sayang yang begitu besar (syafaqah) terhadap kaum
muslimin. Ini adalah tanda paling kuat atas kebenaran pencapaiannya dalam
kondisi spiritualnya (*haal*).*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.