بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية Bab Ke Tiga
Tentang Penyebutan Guru-Guru
(Masyayikh) Thariqah Ini
dan Apa yang Menunjukkan dari Perjalanan Hidup serta Ucapan Mereka atas
Pengagungan Terhadap Syariat.
باب
في ذكر مشايخ هذه الطريقة وما يدل من سيرهم وأقوالهم على تعظيم الشريعة
اعلموا - رحمكم الله تعالى - : أنَّ المسلمين بعد رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم لم يتسمَّ أفاضلهم في عصرهم بتسمية علمٍ سوى صحبة رسول الله صلَّى الله عليه وسلَّم ؛ إذ لا فضيلة فوقها ، فقيل لهم : الصحابة ، ولما أدرك أهل العصر الثاني .. سُمِّيَ مَنْ صحب الصحابة : التابعينَ ، ورأوا ذلك أشرَفَ سِمَةٍ ، ثمَّ قيل لمن بعدهم : أتباع التابعين . ا
ثمَّ اختلف الناسُ مباينتِ المراتبُ ، فقيل لخواصِّ الناس ممن لهم شدَّةُ عنايةٍ بأمرِ الدين : الزُّهَّادُ والعُبَّادُ . ا
ثمَّ ظهرتِ البدعُ ، وحصل التداعي بين الفِرقِ ، فكلُّ فريقٍ ادَّعوا أنَّ فيهم زُهّاداً ، فانفرد خواصُّ أهلِ (السُّنَّةِ) المراعونَ أنفاسَهم مع الله تعالى ، الحافظونَ قلوبَهُمْ عن طوارقِ الغفلةِ .. باسمِ التصوُّفِ ، واشتهرَ هذا الاسمُ لهؤلاءِ الأكابرِ قبلَ المئتين من الهجرةِ. ا
ا
ونحنُ نذكرُ في هذا البابِ أسامي جماعةٍ من شيوخِ هذه الطائفةِ من الطبقةِ الأولى إلى وقتِ المتأخّرينَ منهم ، ونذكرُ جُمَلاً من سيرهم وأقاويلهم بما يكونُ فيه تنبيهٌ على أصولهم وآدابهم إن شاء الله تعالى . ا
Ketahuilah —semoga Allah Ta'ala
merahmatimu— bahwa umat Islam setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam tidaklah orang-orang utama di antara mereka pada masanya dinamai
dengan suatu sebutan/gelar khusus selain sebagai sahabat Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam; karena tidak ada keutamaan yang melebihi keutamaan
tersebut. Maka dipanggillah mereka: Ash-Shahabah (Para Sahabat).
Ketika memasuki generasi kedua,
orang yang menyertai para sahabat dinamai: At-Tabi'in, dan mereka
memandang gelar tersebut sebagai julukan yang paling mulia. Kemudian,
orang-orang setelah mereka dipanggil: Atba'ut Tabi'in (Pengikut Tabi'in).
Kemudian manusia mulai berselisih
dan tingkatan/derajat mereka menjadi berbeda-beda. Maka dikatakan kepada
orang-orang khusus di antara manusia yang memiliki perhatian sangat kuat
terhadap urusan agama sebagai: Az-Zuhhad (Orang-orang yang Zuhud) dan Al-'Ubbad
(Ahli Ibadah).
Kemudian muncullah kebid'ahan dan
terjadi saling klaim di antara berbagai kelompok, di mana setiap kelompok
mengklaim bahwa di antara mereka terdapat orang-orang zuhud. Maka orang-orang
khusus dari kalangan Ahlus Sunnah—yaitu mereka yang senantiasa menjaga
setiap helai nafasnya bersama Allah Ta'ala serta menjaga hati mereka dari
ketukan/gangguan kelalaian—menggunakan secara khusus nama At-Tasawwuf.
Nama ini menjadi masyhur bagi para tokoh besar tersebut sebelum tahun 200
Hijriah (3).
Dan kami akan menyebutkan dalam bab
ini nama-nama sekumpulan guru (syekh) dari kelompok ini, mulai dari tingkatan
(generasi) pertama hingga masa orang-orang belakangan dari mereka. Kami juga
akan menyebutkan ringkasan dari perjalanan hidup dan ucapan-ucapan mereka yang
memuat peringatan/penjelasan atas prinsip-prinsip dan adab-adab mereka, insya
Allah Ta'ala.
*وَمِنْهُمْ*
**أبو إِسْحَاقَ إِبْرَاهِيمُ بنُ أَدْهَمَ بنِ مَنْصُورِ بنِ يَزِيدَ العِجْلِيُّ**
مِنْ كُورَةِ بَلْخَ (١) ، كَانَ مِنْ أَبْنَاءِ المُلُوكِ (٢) ، فَخَرَجَ يَوْماً مُتَصَيِّداً ، فَأَثَارَ ثَعْلَباً أَوْ أَرْنَباً وَهُوَ فِي طَلَبِهِ ، فَهَتَفَ بِهِ هَاتِفٌ : أَلِهَذَا خُلِقْتَ ، أَمْ بِهَذَا أُمِرْتَ ؟! ا
ثُمَّ هَتَفَ بِهِ مِنْ قَرْبُوسِ سَرْجِهِ (٣) : وَاللَّهِ ؛ مَا لِهَذَا خُلِقْتَ ، وَلا بِهَذَا أُمِرْتَ ! ا
فَنَزَلَ عَنْ دَابَّتِهِ ، وَصَادَفَ رَاعِياً لِأَبِيهِ ، فَأَخَذَ جُبَّةَ الرَّاعِي مِنْ صُوفٍ فَلَبِسَهَا (٤) ، وَأَعْطَاهُ فَرَسَهُ وَمَا مَعَهُ (٥) . ا
ثُمَّ إِنَّهُ دَخَلَ البَادِيَةَ ، ثُمَّ دَخَلَ مَكَّةَ ، وَصَحِبَ بِهَا سُفْيَانَ الثَّوْرِيَّ وَالفُضَيْلَ بنَ عِيَاضٍ ، وَدَخَلَ الشَّامَ وَمَاتَ بِهَا . ا
وَكَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ؛ مِثْلَ الحَصَادِ وَحِفْظِ البَسَاتِينِ وَغَيْرِ ذَلِكَ . ا
وَإِنَّهُ رَأَى فِي البَادِيَةِ رَجُلاً عَلَّمَهُ اسْمَ اللَّهِ الأَعْظَمَ ، فَدَعَا بِهِ بَعْدَهُ ، فَرَأَى الخَضِرَ عَلَيْهِ السَّلامُ وَقَالَ : إِنَّمَا عَلَّمَكَ أَخِي دَاوُودُ اسْمَ اللَّهِ الأَعْظَمَ (٦) . ا
أَخْبَرَنِي بِذَلِكَ الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بنُ الحَسَنِ بنِ الخَشَّابِ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو الحَسَنِ عَلِيُّ بنُ مُحَمَّدٍ المِصْرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الخَرَّازُ قَالَ : حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بنُ بَشَّارٍ قَالَ : صَحِبْتُ إِبْرَاهِيمَ بنَ أَدْهَمَ ، فَقُلْتُ : خَبِّرْنِي عَنْ بَدْءِ أَمْرِكَ ، فَذَكَرَ هَذَا (١) . ا
وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ بنُ أَدْهَمَ كَبِيرَ الشَّأْنِ فِي بَابِ الوَرَعِ . ا
يُحْكَى عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ :( أَطِبْ مَطْعَمَكَ ، وَلا عَلَيْكَ أَلَّا تَقُومَ بِاللَّيْلِ وَلا تَصُومَ بِالنَّهَارِ )(٢ . ا
وَقِيلَ : كَانَ عَامَّةُ دُعَائِهِ : اللَّهُمَّ ؛ انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ مَعْصِيَتِكَ إِلَى عِزِّ طَاعَتِكَ (٣) . ا
وَقِيلَ لإِبْرَاهِيمَ بنِ أَدْهَمَ : إِنَّ اللَّحْمَ قَدْ غَلا ، فَقَالَ : أَرْخِصُوهُ ؛ أَيْ : لا تَشْتَرُوهُ (٤) . ا
**Abu Ishaq, Ibrahim bin Adham bin Mansur bin Yazid
Al-'Ijli**
Ia berasal dari wilayah Balkh. Ia merupakan keturunan
raja-raja. Suatu hari ia keluar untuk berburu, lalu ia mengusik seekor rubah
atau kelinci. Ketika ia sedang mengejarnya, tiba-tiba ada suara tanpa rupa
(hatif) yang berseru kepadanya: *"Apakah untuk ini engkau diciptakan,
ataukah untuk ini engkau diperintahkan?!"*
Kemudian suara itu berseru lagi dari bagian depan pelana
kudanya: *"Demi Allah, bukan untuk ini engkau diciptakan, dan bukan untuk
ini engkau diperintahkan!"*
Maka ia pun turun dari hewan tunggangannya dan bertemu
dengan seorang penggembala milik ayahnya. Ia mengambil jubah wol (suf) milik
penggembala itu lalu mengenakannya, serta menyerahkan kuda dan segala yang
dibawanya kepada penggembala tersebut.
Kemudian ia memasuki padang sahara, lalu menuju Makkah. Di
sana ia berguru/bersahabat dengan Sufyan At-Tsauri dan Al-Fudhayl bin 'Iyadh.
Setelah itu ia masuk ke wilayah Syam dan wafat di sana.
Ia selalu makan dari hasil jerih payahnya sendiri, seperti
bekerja memanen gandum, menjaga kebun, dan pekerjaan lainnya.
Pernah suatu ketika di padang sahara ia bertemu dengan
seorang lelaki yang mengajarkannya *Ismullah Al-A'zham* (Nama Allah Yang Maha
Agung). Setelah itu ia berdoa dengannya, lalu ia bertemu dengan Nabi Khadhir
*'alaihis salam* yang berkata kepadanya: *"Sesungguhnya yang mengajarkanmu
Nama Allah Yang Maha Agung itu adalah saudaraku, Daud."*
Syekh Abu 'Abdirrahman As-Sulami *rahimahullah* mengabarkan
hal itu kepadaku, ia berkata: Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Khasshab
menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Al-Hasan 'Ali bin Muhammad Al-Mishri
menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Sa'id Al-Kharraz menceritakan
kepadaku, ia berkata: Ibrahim bin Basysyar menceritakan kepada kami, ia
berkata: Aku pernah menyertai/menjadi sahabat Ibrahim bin Adham, lalu aku
berkata kepadanya: *"Beritahukanlah kepadaku tentang awal mula
kisahmu,"* maka beliau pun menceritakan hal ini.
Ibrahim bin Adham adalah sosok yang sangat agung
kedudukannya dalam hal *wara'* (kehati-hatian dari perkara haram/syubhat).
Diriwayatkan darinya bahwa beliau pernah berkata:
*(Perbaikilah/halalkanlah makananmu, maka tidak mengapa bagimu meskipun engkau
tidak bangun shalat malam dan tidak berpuasa di siang hari)*.
Dan dikatakan bahwa doa yang paling sering beliau panjatkan
adalah: *"Ya Allah, pindahkanlah aku dari kehinaan bermaksiat kepada-Mu
menuju kemuliaan taat kepada-Mu."*
Pernah dikatakan kepada Ibrahim bin Adham:
*"Sesungguhnya harga daging sedang mahal."* Maka beliau menjawab:
*"Murahkanlah ia!"* Maksudnya: Janganlah kalian membelinya.
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بنُ الحُسَيْنِ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْهِ قَالَ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بنَ حَامِدٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بنَ خَضْرُويَهِ يَقُولُ : قَالَ إِبْرَاهِيمُ بنُ أَدْهَمَ لِرَجُلٍ فِي الطَّوَافِ : ( اعْلَمْ أَنَّكَ لا تَنَالُ دَرَجَةَ الصَّالِحِينَ حَتَّى تَجُوزَ سِتَّ عِقَابٍ : ا
أَوَّلُهَا : تُغْلِقُ بَابَ النِّعْمَةِ ، وَتَفْتَحُ بَابَ الشِّدَّةِ .ا
وَالثَّانِي : تُغْلِقُ بَابَ العِزِّ ، وَتَفْتَحُ بَابَ الذُّلِّ .ا
وَالثَّالِثُ : تُغْلِقُ بَابَ الرَّاحَةِ ، وَتَفْتَحُ بَابَ الجَهْدِ .ا
وَالرَّابِعُ : تُغْلِقُ بَابَ النَّوْمِ ، وَتَفْتَحُ بَابَ السَّهَرِ .ا
وَالخَامِسُ : تُغْلِقُ بَابَ الغِنَى ، وَتَفْتَحُ بَابَ الفَقْرِ .ا
وَالسَّادِسُ : تُغْلِقُ بَابَ الأَمَلِ ، وَتَفْتَحُ بَابَ الاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ ) (١) .ا
ا
وَكَانَ إِبْرَاهِيمُ بنُ أَدْهَمَ يَحْفَظُ كَرْماً ، فَمَرَّ بِهِ جُنْدِيٌّ فَقَالَ : أَعْطِنَا مِنْ هَذَا العِنَبِ ، فَقَالَ : مَا أَمَرَ بِهِ صَاحِبُهُ ، فَأَخَذَ يَضْرِبُهُ بِسَوْطِهِ ، فَطَأْطَأَ رَأْسَهُ وَقَالَ : اضْرِبْ رَأْساً طَالَمَا عَصَى اللَّهَ تَعَالَى ، فَأَعْجَزَ الرَّجُلَ وَمَضَى (٢) .ا
ا
وَقَالَ سَهْلُ بنُ إِبْرَاهِيمَ : صَحِبْتُ إِبْرَاهِيمَ بنَ أَدْهَمَ ، فَمَرِضْتُ ، فَأَنْفَقَ عَلَيَّ نَفَقَتَهُ ، فَاشْتَهَيْتُ شَهْوَةً ، فَبَاعَ حِمَارَهُ وَأَنْفَقَ عَلَيَّ [ ثَمَنَهُ ] ، فَلَمَّا تَمَاثَلْتُ .. قُلْتُ : يَا إِبْرَاهِيمُ ؛ أَيْنَ الحِمَارُ ؟ فَقَالَ : بَعْنَاهُ ، فَقُلْتُ : فَعَلَى مَاذَا أَرْكَبُ ؟! فَقَالَ : يَا أَخِي ؛ عَلَى عُنُقِي ، فَحَمَلَنِي ثَلاثَ مَنَازِلَ (٣) .ا
Muhammad bin Al-Husain *rahmatullah 'alaihi* mengabarkan
kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Manshur bin 'Abdillah berkata: Aku
mendengar Muhammad bin Hamid berkata: Aku mendengar Ahmad bin Khadhruwayh
berkata: Ibrahim bin Adham pernah berkata kepada seorang lelaki saat sedang
tawaf:
*(Ketahuilah, sesungguhnya engkau tidak akan mencapai
derajat orang-orang saleh hingga engkau melewati enam rintangan/pendakian
terjal:
1. **Pertama:** Engkau menutup pintu kenikmatan/kemewahan,
dan membuka pintu kesusahan/kesederhanaan.
2. **Kedua:** Engkau menutup pintu kemuliaan
(duniawi/kesombongan), dan membuka pintu kerendahan hati.
3. **Ketiga:** Engkau menutup pintu santai/kemudahan, dan
membuka pintu kesungguhan/kesukaran.
4. **Keempat:** Engkau menutup pintu tidur, dan membuka
pintu terjaga (untuk beribadah di malam hari).
5. **Kelima:** Engkau menutup pintu kekayaan, dan membuka pintu
kefakiran (merasa butuh kepada Allah).
6. **Keenam:** Engkau menutup pintu angan-angan panjang, dan
membuka pintu persiapan menghadapi kematian)*.
Ibrahim bin Adham pernah bekerja menjaga sebuah kebun
anggur. Lalu lewatlah seorang prajurit dan berkata: *"Berikan kami
sebagian anggur ini!"* Ibrahim menjawab: *"Pemilik kebun tidak
memerintahkanku untuk itu (tidak mengizinkannya)."* Maka prajurit itu
mulai memukulnya dengan cambuk. Ibrahim pun menundukkan kepalanya seraya berkata:
*"Pukullah kepala yang sudah sekian lama bermaksiat kepada Allah
Ta'ala!"* Sikap tersebut membuat prajurit itu tertegun tak berdaya, lalu
ia pun pergi.
Sahl bin Ibrahim menceritakan: Aku pernah menyertai Ibrahim
bin Adham dalam perjalanan, lalu aku jatuh sakit. Beliau pun menafkahkan
seluruh uangnya untuk merawatku. Suatu ketika aku menginginkan sesuatu (makanan
khusus), maka beliau menjual keledainya dan menafkahkan [hasil jualnya]
untukku. Ketika aku sudah mulai membaik.. aku bertanya: *"Wahai Ibrahim,
di mana keledaimu?"* Beliau menjawab: *"Kami telah menjualnya."*
Aku berkata: *"Lalu dengan apa aku akan menunggangi/membonceng?!"*
Beliau menjawab: *"Wahai saudaraku, di atas leherku."* Maka beliau
menggendongku sejauh tiga tempat perhentian (pos perjalanan).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.