بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Bagian Kedua
(Fasal tentang syarat-syarat wajib shalat dan syarat
sahnya shalat)
**( فصل في شروط وجوب الصلاة وصحتها )**
شروط وجوب الصلاة ستة أشياء: وهي الإسلام، والبلوغ، والعقل، والخلو من الحيض والنفاس، وبلوغ دعوة النبي صلى الله عليه وسلم، ووجود السمع أو البصر. ا
ا
وأما المجنون والمغمى عليه والسكران فلا وجوب ولا قضاء عليهم لكن يجب القضاء على من تعدى منهم، وعلى المرتد إذا أسلم، ولا وجوب على حائض ونفساء، ولا قضاء عليهما ولكن تقضيان الصوم. ا
وإذا أسلم الكافر أو بلغ الصبي أو أفاق المجنون أو المغمى عليه أو انقطع دم الحائض والنفساء وقد بقي من الوقت قدر زمن تكبيرة الإحرام لزمته هذه الصلاة مع الفرض الذي يجمع معها كالمغرب مع العشاء والظهر مع العصر. ا
ويؤمر الصبي ذكرا كان أو أنثى بها لسبع سنين ويضرب عليها لعشر وجوبا فيهما على سبيل فرض الكفاية على أصوله أبا أو أما أو جداً. ا
ا
**( وشروط صحتها سبعة )**
ا
طهارة الأعضاء من الحدثين الأكبر والأصغر. ا
وطهارة البدن والثوب والمكان من النجاسة غير المعفو عنها. ا
وستر العورة، وهي ما بين السرة والركبة من الرجل والأمة، وما عدا الوجه والكفين من الحرة بحرم يمنع رؤية اللون. وإذا تخرق ثوب المصلي وظفرت عورته وأمكنه سترها بدون مس محل ينقض الوضوء كقبل وجب عليه سترها بيده، فإذا سجد ترك الستر لوجوب السجود على الأعضاء السبعة، ولكونه حينئذ صار عاجزا عن الستر وهو لا يجب إلا عند القدرة. ا
والعلم بدخول الوقت يقينا أو ظنا، ولو أحرم بفريضة قبل دخول وقتها ظانا دخوله انعقدت نفلا ما لم يكن عليه فائتة نظيرها وإلا وقعت عنها. ولو مكث رجل في مكان عشرين سنة يتراءى له الفجر فيصلي ثم تبين له أنه كان يصليه كل يوم قبل الوقت وجب عليه قضاء صلاة واحدة لأن صلاة كل يوم تقع قضاء عما قبله. ويصح الأداء بنية القضاء وعكسه مع العذر كأن ظن خروج الوقت فنوى القضاء ثم تبين بقاء الوقت وبالعكس، أو مع عدم العذر لكن قصد المعنى اللغوي كقولك: قضيت الدين وأديته بمعنى واحد وإلا لم تصح صلاته لتلاعبه. ا
واستقبال عين الكعبة بالصدر يقينا في القرب وظنا في البعد. ا
ويجوز ترك استقبال القبلة في شدة الخوف في قتال مباح فرضا كانت الصلاة أو نفلا فيصلي كيف أمكنه. وفي النافلة وفي السفر المباح ولو قصيراً فإن كان المسافر ماشياً لزمه أن يستقبل القبلة ماكثاً في تحرمه وركوعه وسجوده وجلوسه بين السجدتين ، وأن يستقبل جهة مقصده ماشياً في قيامه واعتداله وتشهد ه وسلامه . فإن كان راكباً على دابة ، ولو في مرقد ونحوه كهودج وشقذف فإن سهل عليه التوجه في جميع صلاته وإتمام جميع أركانها أو الركوع والسجود لزمه ذلك : وإن لم يسهل عليه ما ذكر فلا يلزمه إلا التوجه في التحرم إن سهل وإلا فلا ، ويومىء بركوعه وسجوده ويكون سجوده أخفض من ركوعه وجوباً ولا يلزم وضع الجبهة على نحو سرج الدابة
وإن كان في سفينة وهو غير ملاح وأمكنه الاستقبال في جميع صلاته جاز له التنفل وإلا وجب تركه . وأما إذا كان ملاحا فلا يلزمه توجه القبلة ، وله التنفل إلى جهة مقصده ، ومعرفة كيفية الصلاة ، وترك مبطلاتها . ا
**Syarat wajib shalat ada 6 (enam) hal:**
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal
4. Suci dari haid dan nifas
5. Sampainya dakwah Nabi Muhammad SAW
6. Memiliki/berfungsinya pendengaran atau penglihatan.
Adapun orang gila, orang pingsan, dan orang mabuk, tidak ada
kewajiban shalat dan tidak ada kewajiban mengada (*qadha*), kecuali jika
timbulnya kondisi tersebut disebabkan oleh kesengajaan/kelalaian mereka sendiri
(maka wajib *qadha*). Kewajiban *qadha* juga berlaku bagi orang murtad apabila
ia kembali masuk Islam. Wanita haid dan nifas tidak wajib shalat dan tidak
wajib *qadha* shalat, tetapi wajib mengada (*qadha*) puasa.
Apabila seorang kafir masuk Islam, atau anak kecil mencapai
usia baligh, atau orang gila/pingsan sadar kembali, atau darah haid/nifas
terhenti, sedangkan waktu shalat yang tersisa masih cukup sekadar takbiratul ihram,
maka shalat tersebut wajib dikerjakan, beserta shalat sebelumnya yang bisa
dijamak dengannya (seperti Maghrib yang dijamak dengan Isya, atau Dzuhur yang
dijamak dengan Ashar).
Anak kecil (laki-laki maupun perempuan) diperintahkan shalat
pada usia 7 tahun, dan dipukul (pukulan mendidik) jika meninggalkannya pada
usia 10 tahun. Hal ini hukumnya wajib secara *fardhu kifayah* atas para
leluhurnya (seperti ayah, ibu, atau kakek).
**(Syarat sahnya shalat ada 7 [tujuh] hal)**
1. Sucinya anggota tubuh dari dua hadats (hadats besar dan
hadats kecil).
2. Sucinya badan, pakaian, dan tempat shalat dari najis yang
tidak dimaafkan (*ma'fu*).
3. Menutup aurat. Aurat bagi laki-laki dan budak perempuan
adalah antara pusar dan lutut. Sedangkan aurat bagi wanita merdeka adalah
seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan, dengan penutup yang
mencegah terlihatnya warna kulit. Jika pakaian orang yang shalat robek hingga
tersingkap auratnya, dan ia mampu menutupinya tanpa menyentuh bagian yang
membatalkan wudhu (seperti kemaluan), maka ia wajib menutupnya dengan
tangannya. Apabila ia sujud, ia melepaskan tangannya (tidak lagi menutupi aurat
tersebut) karena kewajiban menempelkan tujuh anggota sujud, dan karena saat itu
ia dalam kondisi tidak mampu menutupi (kewajiban menutupi aurat hanya berlaku
ketika mampu).
4. Mengetahui masuknya waktu shalat secara yakin atau
berdasarkan persangkaan kuat (*zhann*). Jika seseorang ber-takbiratul ihram
untuk shalat fardhu sebelum masuk waktunya karena menyangka sudah masuk waktu,
maka shalatnya berubah menjadi shalat sunnah, selama ia tidak memiliki utang
shalat fardhu serupa (yang tertinggal); jika ada, maka shalat itu dihitung
sebagai *qadha* shalat yang tertinggal tersebut.
*Contoh kasus:* Jika seorang pria tinggal di suatu tempat
selama 20 tahun dan menyangka telah masuk waktu subuh lalu shalat, kemudian
terbukti baginya bahwa selama ini ia selalu shalat sebelum waktunya, maka ia
hanya wajib mengada (*qadha*) 1 (satu) shalat saja, karena shalat pada hari
berikutnya dihitung sebagai *qadha* untuk shalat hari sebelumnya.
Sah melakukan shalat *ada'* (pada waktunya) dengan niat
*qadha* atau sebaliknya karena adanya udzur (alasan)—misalnya menyangka waktu
sudah habis lalu berniat *qadha*, tetapi ternyata waktu masih ada, atau
sebaliknya. Demikian pula sah jika tanpa udzur tetapi yang dimaksudkan adalah
makna secara bahasa (seperti perkataan "aku melunasi/menunaikan
hutang" dengan makna yang sama). Jika tidak bermaksud demikian, maka
shalatnya tidak sah karena dianggap mempermainkan ibadah.
5. Menghadap ke arah zat Ka'bah (*'ainul Ka'bah*) dengan
dada; secara yakin bagi yang dekat, atau secara persangkaan kuat (*zhann*) bagi
yang jauh.
Dan diperbolehkan meninggalkan menghadap kiblat dalam
kondisi *shiddatul khauf* (ketakutan yang sangat) pada peperangan yang
diperbolehkan, baik untuk shalat fardhu maupun shalat sunnah, maka ia shalat
sedapat/sebisa yang ia mampu.
(Begitu pula diperbolehkan meninggalkan menghadap kiblat)
dalam shalat sunnah saat perjalanan (*safar*) yang mubah meskipun jaraknya
pendek.
* **Jika musafir tersebut berjalan kaki**, ia wajib
menghadap kiblat sambil berhenti (berdiam) pada saat *takbiratul ihram*, ruku',
sujud, dan duduk di antara dua sujud. Dan ia menghadap ke arah tujuannya sambil
berjalan pada saat berdiri, *i'tidal*, *tasyahhud*, dan salam.
* **Jika ia berkendara di atas hewan ternak/kendaraan**,
meskipun di atas tempat tidur penerbangan/tandu (seperti *haudaj* atau
*syaqdaf*):
* Jika mudah baginya untuk menghadap kiblat di sepanjang
shalatnya serta menyempurnakan seluruh rukunnya, atau menyempurnakan ruku' dan
sujudnya, maka ia wajib melakukannya.
* Namun jika tidak mudah baginya melakukan hal tersebut,
maka tidak wajib baginya kecuali hanya menghadap kiblat saat *takbiratul ihram*
saja jika mudah; jika tidak mudah, maka tidak wajib sama sekali. Ia cukup
memberi isyarat untuk ruku' dan sujudnya, dan posisi sujudnya harus lebih rendah
daripada ruku'nya secara wajib, serta tidak diwajibkan menempelkan dahi pada
pelana kendaraan.
**Jika ia berada di kapal laut** dan ia bukan seorang
nahkoda/awak kapal, lalu ia mampu menghadap kiblat di seluruh shalatnya, maka
boleh baginya shalat sunnah; jika tidak mampu, maka wajib meninggalkannya.
Adapun jika ia adalah seorang nahkoda/awak kapal, maka tidak wajib baginya
menghadap kiblat dan ia boleh melakukan shalat sunnah ke arah tujuannya.
6. mengetahui tata cara/kaifiat shalat,
7. meninggalkan hal-hal yang membatalkannya.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah dan Kitab Makna. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.