Hendaklah engkau melakukan ribath
(siaga/istiqamah dalam ketaatan), karena ia termasuk sebaik-baik keadaan
seorang mukmin. Setiap manusia apabila mati, amalannya akan terputus kecuali
orang yang ber-ribath, karena amalannya akan terus bertambah
(berkembang) hingga hari kiamat, serta ia akan aman dari fitnah dua malaikat
penanya di dalam kubur. Hal ini telah valid diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ.
Ribath adalah ketika seseorang senantiasa mewajibkan dirinya untuk
selalu taat kepada Allah tanpa batas waktu tertentu yang membatasinya atau yang
ia tentukan sendiri dalam hatinya. Jika ia telah mengikat dirinya dengan
perkara ini, maka ia adalah seorang murabith (orang yang ber-ribath).
Ribath mencakup seluruh kebaikan; sebagian kebaikan lebih utama daripada
sebagian yang lain, namun semuanya adalah jalan Allah (sabilillah).
Sebab jalan Allah adalah apa yang disyariatkan Allah untuk diamalkan
hamba-hamba-Nya, dan tidak hanya terbatas pada penjagaan pos perbatasan (tsughur)
semata, tidak pula hanya jihad fisik. Rasulullah ﷺ
bersabda tentang orang yang menunggu shalat setelah shalat: (Itu adalah
ribath).
Allah Ta'ala berfirman kepada
orang-orang beriman dalam Kitab-Nya: “Bersabarlah kamu dan kuatkanlah
kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (rabiṭū) dan bertakwalah kepada Allah”,
maksudnya dalam semua urusan tersebut adalah jadikanlah Allah Subhanahu sebagai
perisai yang dengannya engkau menjaga diri dari berbagai tekad/cobaan. Hal itu
merupakan pertolongan-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Mohonlah pertolongan
dengan sabar dan shalat”, dan “Mohonlah pertolongan kepada Allah”,
serta firman-Nya: “Dan hanya kepada-Engkaulah kami memohon pertolongan”.
Inilah makna dari firman-Nya: “Bertakwalah kepada Allah agar kalian
beruntung”, yakni agar kalian mendapatkan keselamatan dari kesulitan
kesabaran dan ribath.
Hendaklah engkau apabila hendak munajat
(berdialog/berinteraksi secara batin) kepada Rasulullah ﷺ—yaitu
pada saat waktu engkau membaca hadits-hadits yang diriwayatkan dari beliau ﷺ—agar
mendahului munajatmu dengan sedekah, sedekah apa pun bentuknya, karena
itu adalah kebaikan seluruhnya. Bersucilah, karena demikianlah engkau
diperintahkan. Sesungguhnya sedekah yang ditegaskan oleh syariat itu sangat
banyak; oleh karena itu diriwayatkan bahwa setiap ruas tulang manusia (salamah)
diwajibkan sedekah atasnya setiap hari tatkala matahari terbit. Kemudian
Rasulullah ﷺ memberitahukan bahwa setiap kalimat tahlil
adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tasbih
adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, berbuat amar makruf
adalah sedekah, dan mencegah dari kemungkaran (nahi mungkar) adalah
sedekah.
Maka perhatikanlah keadaanmu ketika
engkau hendak membaca hadits-hadits Nabi—yang mana tradisi ini merupakan
sisa-sisa adab dari munajat kepada Rasulullah ﷺ. Apa yang dapat
membantu keadaanmu saat itu adalah sedekah-sedekah yang engkau dahulukan di
hadapan bacaan haditsmu, apa pun bentuknya. Allah telah melapangkan bagimu
dalam hal ini, sehingga tidak ada lagi bagimu alasan untuk tertinggal setelah
beliau ﷺ memberitahukanmu tentang berbagai macam
sedekah. Maka keluarkanlah sedekah darinya di hadapan munajatmu sekemampuan
keadaanmu, berapapun jumlahnya, dan pada saat itulah engkau mulai membaca
hadits Nabi.
Dan jauhilah olehmu kelak pada hari kiamat dikumpulkan bersama para perupa/pembuat
gambar (makhluk bernyawa) yang melukis makhluk-makhluk bernyawa dari
kalangan hewan. Sesungguhnya engkau jika melukis satu gambar dari bentuk-bentuk
hewan, kelak ruhnya akan dituntutkan kepadamu dari sisi Allah tanpa engkau
sadari hal itu di dunia. Maka di akhirat nanti, Allah akan menjadikan bagi
setiap pembuat gambar di dalam neraka pada setiap gambar yang ia buat sebuah
jiwa yang akan menyiksanya di dalam neraka Jahanam.
Sesungguhnya penciptaan adalah hak
prerogatif Allah semata, maka barangsiapa yang menandingi-Nya dalam
ciptaan-Nya, Allah akan menyiksanya dengan apa yang ia ciptakan tersebut.
Penciptaan itu adalah milik Allah, bukan milik mereka, karena apa yang mereka
buat tidak dilakukan dengan izin Allah—berbeda dengan mukjizat Nabi Isa 'alaihissalam
yang menciptakan burung dari tanah liat atas izin Allah dan meniupkan ruh ke
dalamnya atas izin Allah. Seandainya Allah memberikan izin kepada pembuat
gambar untuk melakukan hal itu, tentu perbuatan tersebut menjadi ketaatan. Maka
ketahuilah bahwa setiap jiwa pada hari kiamat bertanggung jawab atas apa yang
telah diperbuatnya.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi