بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Wasiat No. (46)
Wara' adalah Menjauhi Syubhat
dan Meneladani Sunnah para Nabi
الوصية رقم (٤٦)
الورع اجتناب الشبهات واقتداء بسنن الأنبياء
وعليك بالورع في النطق كما تتورع في المأكل والمشرب والورع عبارة عن اجتناب الحرام والشبهات، أما الشبهة فما حاك في صدرك، ثبت عن رسول الله ﷺ أنه قال (الإثم ما حاك في صدرك)(١) قال بعض العلماء من أهل الله: ما رأيت أسهل عليّ من الورع، كلما حاك في نفسي شيء تركته. وقد ورد في الخبر (دَعْ ما يَريبُكَ إلى ما لا يريبُكَ)(٢) وورد أيضاً (استفتِ قلبَك وإن أفتاك المفتون) يعني بالحل، وتجد أنت في نفسك وقفةً في ذلك فاجتنبه، فهو أولى بك ولا تُحرِّمه
وعليك بالهدي الصالح وهو: هدي الأنبياء، وهو: اتباع آثارهم الذي أُمر رسول الله ﷺ باتباعهم في قوله {أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۖ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ}(٣) وكذلك السمتُ الصالح والاقتصاد في أمورك كلها، فإن النبي ﷺ قد ثبت عنه أن الهدي الصالح والسمت الصالح والاقتصاد جزءٌ من خمسة وعشرين جزءاً من النبوة، وتحفَّظ من العجلة إلا في المواطن التي أمرك رسول الله ﷺ بالعجلة فيها والمسارعة إليها، مثل الصلاة لأول ميقاتها، وإكرام الضيف، وتجهيز الميت، والبِكر إذا أدركت، بل وكلُّ عملٍ للآخرة فالمسارعة إليه أولى من التؤَدة فيه، واجعل التسويف والتؤَدة في أمور الدنيا، فإنه ما فاتك من الدنيا ما تندم عليه بل تفرح بفوته، وما فاتك من أمور الآخرة فإنك تندم عليه، وقد ثبت عن رسول الله ﷺ أنه قال (التؤَدة في كل شيء إلا في عمل الآخرة)(١) وقد ذكر مسلم أن رسول الله ﷺ قال للأشج - أشج عبد القيس (إنَّ فيك لخَصْلتين يُحبُّهما الله ورسوله) قال: وما هما يا رسول الله؟ قال (الحِلمُ والأناةُ)(٢) أراد الحِلم عمن جنى عليك، والأناة في أمور الدنيا وأغراض النفس. وإن كان لك عائلة فكُدَّ عليهم فإن الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله، وكن خير الرعاة في كل ما استرعاك الله فيه على الاطلاق فالسلطان: راعٍ وكلُّ راعٍ مسؤول عن رعيته: ما فعل فيهم؟ هل اتقى الله فيهم أو لم يتَّقِ؟ والرجلُ راعٍ على أهل بيته، والمرأة راعيةٌ على بيت زوجها وولده، والعبدُ راعٍ على مال سيده. ولا تغفُل عن الصلاة على رسول الله ﷺ إذا ذكرته أو ذُكر عندك تأمن من البخل، فإنه ثبت عنه ﷺ أنه قال (البخيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عنده فلم يُصَلِّ عليَّ)(٣) ولو لم يكن في ذلك إلا إطلاق البخل عليك - وهو من أذمِّ الصفات وأرداها - ومعنى البخيل هنا: بخله على نفسه، فإنه قد ثبت فيمن صلّى على النبي ﷺ مرةً صلّى الله عليه وسلم بها عشراً، فمن ترك الصلاة على النبي ﷺ فقد بخل على نفسه حيث حرمها صلاة الله عليه عشراً إذا صلى هو مرة واحدة فما زاد
Hendaklah engkau bersikap wara' (berhati-hati) dalam ucapan sebagaimana engkau
bersikap wara' dalam makanan dan minuman. Wara' adalah ungkapan untuk menjauhi perkara yang haram
dan syubhat (samar/ragu-ragu). Adapun syubhat adalah apa saja yang mengganjal
di dalam dadamu. Telah tsabit (sahih) dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: "Dosa adalah apa yang
mengganjal di dalam dadamu." Sebagian ulama dari kalangan Ahli Allah (orang-orang yang dekat dengan Allah)
berkata: "Aku tidak melihat sesuatu yang lebih mudah bagiku daripada
wara'; setiap kali ada sesuatu yang mengganjal di dalam jiwaku, maka aku
meninggalkannya." Telah disebutkan pula dalam sebuah hadis: "Tinggalkanlah apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak
meragukanmu." Dan disebutkan juga: "Mintalah fatwa kepada
hatimu, meskipun orang-orang telah memberimu fatwa." Maksudnya,
meskipun mereka memfatwakannya halal, namun engkau mendapati adanya keraguan
atau ganjalan di dalam dirimu, maka jauhilah ia. Hal itu lebih utama bagimu,
tanpa engkau mengharamkannya (untuk orang lain).
Dan hendaklah engkau
berpegang pada petunjuk yang baik, yaitu: petunjuk para nabi, dengan cara
mengikuti jejak-jejak mereka yang mana Rasulullah ﷺ sendiri diperintahkan untuk mengikuti mereka melalui
firman-Nya: "Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh
Allah, maka ikutilah petunjuk mereka." Demikian pula dengan
perangai yang baik dan sikap hemat (proporsional) dalam segala urusanmu. Karena
sesungguhnya telah sahih dari Nabi ﷺ
bahwa beliau bersabda: "Petunjuk yang baik, perangai yang baik,
dan sikap hemat adalah satu bagian dari dua puluh lima bagian kenabian."
Jagalah dirimu dari
sifat tergesa-gesa, kecuali pada tempat-tempat yang Rasulullah ﷺ perintahkan untuk bergegas dan bersegera di dalamnya, seperti:
mendirikan salat di awal waktunya, memuliakan tamu, mengurus jenazah, dan
menikahkan anak gadis jika telah bertemu jodohnya. Bahkan, setiap amal untuk
akhirat, maka bersegera kepadanya lebih utama daripada memperlambatnya.
Jadikanlah sikap menunda-nunda dan pelan-pelan itu dalam urusan dunia, karena
apa yang luput darimu dari urusan dunia tidak akan membuatmu menyesal,
melainkan engkau akan senang dengan luputnya hal itu. Sebaliknya, apa yang
luput darimu dari urusan akhirat pastilah engkau akan menyesalinya. Telah sahih
dari Rasulullah ﷺ
bahwa beliau bersabda: "Sikap pelan-pelan (hati-hati) itu baik
dalam segala sesuatu, kecuali dalam amal akhirat."
Imam Muslim telah
menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda kepada Al-Asyajj (Asyajj Abdul Qais): "Sesungguhnya pada dirimu
terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya." Ia
bertanya: "Apakah kedua sifat itu, wahai Rasulullah?"
Beliau bersabda: "Sifat santun (mampu menahan amarah) dan
sifat tenang (tidak tergesa-gesa)." Yang dimaksud dengan santun
adalah memaafkan orang yang berbuat jahat kepadamu, sedangkan tenang adalah
dalam urusan dunia dan pemenuhan nafsu.
Jika engkau memiliki
keluarga, maka bekerjalah dengan giat untuk memberi nafkah kepada mereka,
karena orang yang berusaha menyantuni janda dan orang miskin pahalanya seperti
orang yang berjihad di jalan Allah. Jadilah pemimpin (pemelihara) yang paling
baik dalam segala hal yang Allah amanahkan kepadamu secara mutlak. Pemimpin
(penguasa) adalah pemelihara, dan setiap pemelihara akan dimintai
pertanggungjawaban atas apa yang dipeliharanya: Apa yang telah ia lakukan
kepada mereka? Apakah ia bertakwa kepada Allah dalam memimpin mereka atau
tidak? Seorang laki-laki adalah pemelihara bagi anggota keluarganya, seorang
wanita adalah pemelihara di dalam rumah suaminya dan anak-anaknya, dan seorang
budak adalah pemelihara atas harta tuannya.
Janganlah engkau lalai
untuk berselawat kepada Rasulullah ﷺ
apabila engkau mengingat beliau atau nama beliau sebut di dekatmu, niscaya
engkau akan selamat dari sifat kikir. Karena telah sahih dari beliau ﷺ bahwa beliau bersabda: "Orang yang kikir adalah
orang yang ketika namaku disebut di dekatnya, ia tidak berselawat
kepadaku." Kalaulah tidak ada dampak buruk dari hal itu kecuali
disematkannya sifat kikir kepadamu—yang mana kikir merupakan salah satu sifat
tercela dan paling buruk—maka itu sudah cukup (sebagai kerugian). Makna kikir
di sini adalah ia kikir terhadap dirinya sendiri. Sebab, telah sahih tentang
orang yang berselawat kepada Nabi ﷺ
satu kali, maka Allah akan berselawat (memberi rahmat) kepadanya sepuluh kali.
Barangsiapa yang meninggalkan selawat kepada Nabi ﷺ, maka sesungguhnya ia telah kikir kepada dirinya sendiri karena
telah menghalangi dirinya dari mendapatkan sepuluh kali selawat (rahmat) dari
Allah hanya dengan berselawat satu kali atau lebih.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Al-Washaya li Ibn al-‘Arabi 46: Wara' adalah Menjauhi Syubhat dan Meneladani Sunnah para Nabi
Description : Wasiat No. (46) Wara' adalah Menjauhi Syubhat dan Meneladani Sunnah para Nabi الوصية رقم (٤٦) الورع اجتناب الشبهات واقتداء بسنن الأ...