بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
التعرف لمذهب أهل التَّصوُّف
Bab Ke 75
Tentang As-Sama' (Mendengarkan Simfoni Suci/Spiritual)
**الباب الخامس والسبعون**
**في السَّمَاع**
السَّمَاع: استجمامٌ من تعب الوقت، وتَنَفُّسٌ لأرباب الأحوال، واستحضار الأسرار لذوي الأشغال
وإنما اختير على غيره مما تستروح إليه الطِّباع؛ لبُعد النفوس عن التشبُّث به والسُّكون إليه، فإنه من القضاء يبدو، وإلى القضاء يعود
وأرباب الكُشوف والمشاهدات استغنوا عنها بالأسباب الحاملة لهم تنزّه أسرارهم في ميادين الكشوف
سمعت فارساً يقول: كنت عند قوطة الموصلي، وكان لزم سارية في جامع بغداد أربعين سنة، فقلنا له: هاهنا قَوَّالٌ طيب، ندعوه لك؟ قال: أنا أَجَلُّ من أن يستقطعني شخص، أو ينفَذ فيَّ قولٌ، أنا رِدمٌ كلُّه
فالسماع إذا قَرَع الأسماع أثار كوامِنَ أسرارها، فمن بين مضطربٍ لعجز الصفة عن حَمْل الوارد، ومن بين متمكِّنٍ بقوة الحال
قال أبو محمد رُوَيْم: إنَّ القوم سمعوا الذكر الأول؛ حين خاطبهم بقوله: ﴿أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ﴾ [الأعراف: ١٧٢] فَكُمِنَ ذلك في أسرارهم كما كَمُنَ كون ذلك في عقولهم، فلما سمعوا الذكر ظهرت كوامن أسرارهم فانزعجوا، كما ظهرت كوامن عقولهم عند إخبار الحق لهم عن ذلك فصدقوا
سمعت أبا القاسم البغدادي يقول: السماع على ضربين: فطائفةٌ سمعت الكلام فاستخرجت منه عِبرةً، وهذا لا يُسمع إلا بالتمييز، وحضور القلب
وطائفةٌ سمعت النغمة، وهي: قوت الرُّوح، فإذا ظفر الرُّوح بقوته أشرف على مقامه وأعرض عن تدبير الجسم، فظهر عند ذلك من المستمع الاضطراب والحركة
قال أبو عبد الله النباجي: السماع: ما أثار فكرةً، واكتسب عبرةً. وما سواه فتنة
قال الجنيد: «الرحمة تنزل على الفقير في ثلاثة مواضع: عند الأكل فإنه لا يأكل إلا عند الحاجة، وعند الكلام فإنه لا يتكلم إلا للضرورة، وعند السماع فإنه لا يسمع إلا عند الوجد
**تَمَّ كتاب التَّعَرُّف بحمد الله**
**As-Sama'** adalah peristirahatan dari keletihan waktu, kelegaan bagi para pemilik maqam/kondisi spiritual (*arbab al-ahwal*), dan penghadiran rahasia-rahasia batin bagi orang-orang yang sibuk dengan amal.
Ia dipilih melebihi hal lain yang disukai oleh tabiat manusia karena jiwa terhindar dari keterikatan dan ketergantungan padanya. Sebab, ia muncul dari takdir (*al-qadha*) dan akan kembali kepada takdir pula.
Sementara para pemilik ketersingkapan batin (*arbab al-kushuf*) dan penyaksian (*al-musyahadat*) tidak lagi membutuhkannya karena sebab-sebab yang membawa mereka telah menyucikan rahasia batin mereka di medan ketersingkapan.
Aku mendengar Faris berkata: Aku pernah berada di dekat Quthah al-Maushili, ia selalu menetap di dekat sebuah tiang di Masjid Jami' Baghdad selama empat puluh tahun. Kami berkata kepadanya, "Di sini ada seorang pelantun syair (*qawwal*) yang bagus suaranya, bolehkah kami memanggilnya untukmu?" Ia menjawab, "Aku terlalu agung untuk dipengaruhi oleh seseorang, atau agar sebuah ucapan merasuk ke dalam diriku. Aku adalah bendungan seluruhnya (telah kokoh/tersumbat dari pengaruh luar)."
Maka *As-Sama'*, apabila mengetuk pendengaran, ia akan membangkitkan rahasia-rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Di antara pendengar ada yang berguncang (mengalami ekstase) karena sifat kemanusiaannya lemah untuk menanggung limpahan spiritual (*al-warid*) yang datang, dan di antara mereka ada yang tetap tenang dan kokoh karena kuatnya kondisi spiritual (*hal*) mereka.
Abu Muhammad Ruwaym berkata: "Kaum sufi telah mendengar zikir (seruan) yang pertama ketika Allah menyapa mereka dengan firman-Nya: *'Bukankah Aku ini Tuhanmu?'* (QS. Al-A'raf: 172). Maka ingatan itu tersimpan di dalam rahasia batin mereka sebagaimana hal itu terpatri dalam akal mereka. Ketika mereka mendengar zikir (nyanyian spiritual di dunia), rahasia batin yang tersembunyi itu muncul kembali sehingga mereka berguncang (terharu/ekstase), sebagaimana isi akal mereka yang tersembunyi muncul ketika Allah mengabarkan hal itu kepada mereka, lalu mereka membenarkannya."
Aku mendengar Abul Qasim al-Baghdadi berkata: "*As-Sama'* itu ada dua macam: Satu kelompok mendengar untaian kata-katanya lalu mengambil pelajaran (*'ibrah*) darinya, dan ini tidak bisa didengar kecuali dengan pemilahan (tajamnya pemikiran) dan kehadiran hati (*hudhurul qalb*)."
"Kelompok lain mendengar nadanya (alunannya), dan nada itu adalah asupan bagi ruh. Apabila ruh telah mendapatkan asupannya, ia akan naik mengawasi maqamnya dan berpaling dari pengaturan tubuh fisik. Pada saat itulah tampak guncangan dan gerakan dari si pendengar."
Abu Abdullah an-Nabaji berkata: "*As-Sama'* adalah apa saja yang membangkitkan pikiran dan menghasilkan pelajaran (*'ibrah*). Selain dari itu, ia adalah fitnah (ujian/kesia-siaan)."
Al-Junayd berkata: "Rahmat turun kepada seorang fakir (sufi) di tiga tempat: ketika makan, karena ia tidak makan kecuali saat butuh; ketika berbicara, karena ia tidak berbicara kecuali dalam keadaan darurat; dan ketika *As-Sama'*, karena ia tidak mendengarkannya kecuali saat merasakan *wajd* (ekstase spiritual)."
**Kitab At-Ta'arruf telah selesai dengan memuji Allah.**
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Kitab Al-Ta-aruf Bab ke 75: Tentang As-Sama' (Mendengarkan Simfoni Suci/Spiritual)
Description : التعرف لمذهب أهل التَّصوُّف Bab Ke 75 Tentang As-Sama' (Mendengarkan Simfoni Suci/Spiritual) ** الباب الخامس والسبعون ** ** في ال...