بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Adab Orang yang Makrifat (Al-Arif) 5
ثم ذكر الأدب الخامس
وهو ترك الطلب من حيث هو ، قال فيما
يأتي : ربما دلهم الأدب على ترك الطلب فقال
طلبك منه اتهام له ، وطلبك له غيبة منك عنه ، وطلبك
لغيره لقلة حيائك منه ، وطلبك من غيره لوجود بعدك منه
قلت : طلبك منه يكون بالتضرع والابتهال ، وطلبك له يكون
بالبحث والاستدلال وطلبك لغيره يكون بالتعرف والإقبال ، وطلبك من غيره يكون
بالتملق والسؤال
وحاصلها أربعة : طلب الحق ومنه طلب الباطل وكلها مدخولة عند
المحققين . أما طلبك منه فلوجود تهمتك له ، لأنك إنما طلبته مخافة أن يهملك أو
يغفل عنك ، فإنما ينبه من يجوز منه الإغفاء ، وإنما يذكَّر من يمكن منه الإهمال
(
وَمَا اللهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ ) (١) - (
أَلَيْسَ اللهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ ) (٢)
وقال ﷺ فيما يرويه
عن ربه : « مَنْ شَغَلَهُ ذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي أَعْطَيْتُهُ أَفْضَلَ مَا أُعْطِي
السَّائِلِينَ
فالسكون تحت مجاري الأقدار أفضل عند العارفين من التضرع
والابتهال . وكان شيخ شيوخنا مولاي العربي رضي الله عنه يقول : الفقير الصادق لم
تبق له حالة يطلبها ، وإن كان ولابد من الطلب فليطلب المعرفة اهـ
قلت : وإذا ورد منهم الدعاء فإنما هو عبودية وحكمة لا طلباً
للقسمة ، إذ ما قُسم لك واصل إليك ولو سألته أن يمنعه ما أجابك
وفي المسألة خلاف بين الصوفية ، هل السكوت أولى أو الدعاء ؟
والتحقيق أن ينظر ما يتجلى فيه وينشرح له الصدر فهو المراد منه
Kemudian penulis menyebutkan adab yang kelima, yaitu: Meninggalkan tuntutan/permohonan (tarkul thalab) dari segi esensinya. Beliau berkata pada
bagian selanjutnya: "Terkadang adab menunjukkan kepada mereka untuk
meninggalkan tuntutan," lalu beliau berkata:
طلبك منه اتهام له ، وطلبك له غيبة منك عنه ، وطلبك
لغيره لقلة حيائك منه ، وطلبك من غيره لوجود بعدك منه
[Permohonanmu
kepada-Nya merupakan bentuk tuduhan (keraguan) terhadap-Nya; pencarianmu
terhadap-Nya merupakan bentuk kealpaanmu dari-Nya; permohonanmu untuk
selain-Nya merupakan bentuk kurangnya rasa malumu kepada-Nya; dan permohonanmu
kepada selain-Nya merupakan bukti jauhnya dirimu dari-Nya.]
Aku
(penulis) berkata: Permohonanmu kepada-Nya dilakukan dengan berserah diri dan
meratap (tadharru' wal ibtihal); pencarianmu terhadap-Nya
dilakukan dengan penelitian dan pembuktian (al-bahts wastidalal);
permohonanmu untuk selain-Nya dilakukan dengan saling mengenal dan menghadap;
sedangkan permohonanmu kepada selain-Nya dilakukan dengan menjilat dan
meminta-minta.
Kesimpulannya
ada empat perkara: mencari Al-Haq (Allah) dan di antaranya mencari yang batil,
yang mana semuanya dianggap memiliki celah/cacat spiritual di mata para ulama muhaqqiqin (ahli hakikat).
·
Adapun
permohonanmu kepada-Nya, hal itu muncul
karena adanya tuduhan (keraguan) di dirimu terhadap-Nya. Sebab, engkau meminta
kepada-Nya hanyalah karena takut Dia akan menelantarkanmu atau lalai darimu.
Padahal, yang perlu diingatkan hanyalah zat yang mungkin terlelap, dan yang
perlu digugah hanyalah zat yang mungkin alpa.
(“Dan
Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan”) — (“Bukankah Allah yang mencukupi
hamba-Nya?”).
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda dalam apa yang beliau riwayatkan dari Tuhannya (Hadis Qudsi): "Barang siapa yang sibuk mengingat-Ku (berzikir) hingga tidak
sempat meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya sesuatu yang lebih utama
daripada apa yang Aku berikan kepada orang-orang yang meminta."
Maka,
bersikap tenang di bawah aliran ketentuan takdir (al-sukun tahta majaril aqdar)
menurut para arif adalah lebih utama daripada meratap dan berdoa
dengan bersungguh-sungguh. Syaikh dari guru-guru kami, Maulana Al-'Arabi
radhiyallahu 'anhu, sering kali berkata: "Seorang fakir spiritual yang
sejati (al-faqir al-shadiq) tidak lagi memiliki suatu kondisi
yang ia tuntut. Namun, jika memang harus meminta, maka mintalah makrifat."
(Selesai kutipan).
Aku
(penulis) berkata: Apabila ada doa yang terucap dari mereka (para wali), maka
doa itu hanyalah bentuk penghambaan ('ubudiyah) dan
hikmah, bukan karena menuntut bagian rezeki. Sebab, apa yang telah
didepanmatakan untukmu pasti akan sampai kepadamu, dan seandainya engkau
meminta kepada-Nya untuk menahannya pun, Dia tidak akan mengabulkan (penahanan)
itu.
Dalam
masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan kaum sufi: Apakah diam
lebih utama, ataukah berdoa? Dan kesimpulan yang mendalam (al-tahqiq) adalah hendaklah seseorang melihat apa yang
tampak jelas bagi dirinya dan apa yang membuat dadanya terasa lapang, maka
itulah yang dikehendaki darinya.
وأما طلبك له فهو دليل على غيبتك عنه بوجود نفسك ، فلو حضر
قلبك وغبت عن نفسك ووهمك لما وجدت غيره
أَرَاكَ تَسْأَلُ عَنْ نَجْدٍ وَأَنْتَ بِهَا ... وَعَنْ
تِهَامَةَ هَذَا فِعْلُ مُتَّهَمِ
وقال ابن المرحل السبتي رضي الله عنه
وَمِنْ عِجَبٍ أَنِّي أَحِنُّ إِلَيْهِمُ ... وَأَسْأَلُ
شَوْقًا عَنْهُمُ وَهُمُ مَعِي
وَتَبْكِيهُمُ عَيْنِي وَهُمْ بِسَوَادِهَا ... وَيَشْكُو النَّوَى
قَلْبِي وَهُمْ بَيْنَ أَضْلُعِي
وللرفاعي رضي الله عنه
قَالُوا أَتَنْسَى الَّذِي تَهْوَى فَقُلْتُ لَهُمْ ...
يَاقَوْمُ مَنْ هُوَ رُوحِي كَيْفَ أَنْسَاهُ؟
وَكَيْفَ أَنْسَاهُ وَالْأَشْيَا بِهِ حَسُنَتْ ... مِنَ
الْعَجَائِبِ يَنْسَى الْعَبْدُ مَوْلَاهُ
مَا غَابَ عَنِّي وَلَكِنْ لَسْتُ أَبْصَرَهُ ... إِلَّا
وَقُلْتُ جِهَارًا قُلْ هُوَ اللهُ
وأما طلبك لغيره : أى لمعرفة غيره فلقلة حيائك منه وعدم
أنسك به . أما وجه قلة حيائك منه ، فلأنه يناديك إلى الحضرة وأنت تفر منه إلى
الغفلة ، ومثال ذلك كمن كان فى حضرة الملك والملك مقبل عليه ثم يعجل هو يريد
الخروج منها ويلتفت إلى غيره ، فهذا يدل على قلة حيائه وعدم اعتنائه بالملك ، فهو
حقيق بأن يطرد إلى الباب إلى سياسة الدواب ، وقد قالوا : أنكر من تعرف ، ولا تتعرف
لمن لا تعرف
وأما وجه عدم أنسك به فلأنك لو أنست به لاستوحشت من خلقه ،
فلا يتصور منك طلب معرفتهم وأنت تفر منهم ، فإذا آنسك به أوحشك من خلقه وبالعكس ،
والاستئناس بالناس من علامة الإفلاس
إقبالك على الحق إدبارك عن الخلق ، وإقبالك على الخلق
إدبارك عن الحق ، وقد عدُّوا من أصول الطريق الإعراض عن الخلق فى الإقبال والإدبار
وأما طلبك من غيره فلوجود بعدك عنه ، إذ لو تحققت بقربه منك
وهو كريم ما احتجت إلى سؤال غيره وهو لئيم ، وسيأتى فى المناجاة : أم كيف يطلب من
غيرك وأنت ما قطعت عادة الامتنان ؟
Adapun
pencarianmu terhadap-Nya, hal itu
merupakan bukti atas kealpaanmu dari-Nya karena masih adanya eksistensi dirimu
(wujudul nafs). Seandainya hatimu hadir serta engkau
sirna dari dirimu sendiri dan dari ilusimu, niscaya engkau tidak akan mendapati
selain diri-Nya. Sebagaimana bait syair:
Aku
melihatmu bertanya tentang negeri Najd, padahal engkau sedang berada di
dalamnya...
Dan
bertanya tentang Tihamah, perbuatan ini sungguh seperti perbuatan orang yang
bimbang.
Ibnu
Al-Murahhal As-Sabti radhiyallahu 'anhu berkata dalam syairnya:
Dan
di antara hal yang mengherankan adalah aku sangat merindukan mereka...
Dan
aku bertanya penuh kerinduan tentang mereka, padahal mereka bersamaku.
Mataku
menangisi mereka, padahal mereka berada di hitam manik mataku...
Dan
hatiku mengeluhkan perpisahan, padahal mereka berada di antara tulang rusukku.
Imam
Al-Rifa'i radhiyallahu 'anhu juga berkata dalam bait syairnya:
Mereka
bertanya: "Apakah engkau melupakan sosok yang engkau cintai?" Maka
aku menjawab kepada mereka:
"Wahai
kaumku, bagaimanakah aku bisa melupakan sosok yang merupakan nyawaku
sendiri?"
Bagaimana
mungkin aku melupakan-Nya, padahal segala sesuatu menjadi indah karena-Nya...
Sungguh
termasuk perkara yang aneh jika seorang hamba sampai melupakan Tuannya.
Dia
tidak pernah gaib (hilang) dariku, dan tidaklah aku memandang sesuatu...
Melainkan
aku akan berkata dengan lantang: "Katakanlah, Dialah Allah."
Adapun
permohonanmu untuk selain-Nya—artinya
untuk mengetahui selain diri-Nya—maka hal itu disebabkan oleh kurangnya rasa
malumu kepada-Nya dan tidak adanya rasa nyaman (uns) berdua
dengan-Nya.
·
Sisi
kurangnya rasa malumu kepada-Nya adalah
karena Dia sedang memanggilmu untuk masuk ke hadirat-Nya, namun engkau justru
lari dari-Nya menuju kelalaian. Perumpamaannya seperti seseorang yang berada di
hadapan raja dan sang raja sedang menyambutnya dengan hangat, namun ia justru
tergesa-gesa ingin keluar dari sana dan menoleh kepada selain raja. Hal ini
menunjukkan betapa kurangnya rasa malu dan betapa ia tidak menghargai raja.
Orang seperti ini layak diusir ke pintu luar untuk mengurus hewan ternak. Para
ulama sufi berkata: "Ingkarilah (palingkanlah diri dari) apa
yang telah engkau ketahui (dunia), dan janganlah mencari tahu tentang apa yang
tidak engkau ketahui."
·
Sisi
tidak adanya rasa nyaman dengan-Nya
adalah karena seandainya engkau merasa nyaman dengan-Nya, niscaya engkau akan
merasa asing (tastauhisy) dari makhluk-Nya. Maka tidak akan terbayang
darimu keinginan untuk mencari tahu tentang mereka sementara engkau justru lari
dari mereka. Apabila Allah membuatmu merasa nyaman dengan-Nya, Dia akan
membuatmu merasa asing dari makhluk-Nya, begitu pula sebaliknya. Dan merasa
nyaman (bergantung) dengan manusia adalah salah satu tanda kepailitan spiritual
('alamat al-iflas).
Menghadapmu
kepada Al-Haq (Allah) berarti berpalingmu dari makhluk, dan menghadapmu kepada
makhluk berarti berpalingmu dari Al-Haq. Para guru thariqah telah memasukkan
perkara "berpaling dari makhluk, baik dalam kondisi maju (menerima) maupun
mundur (menolak)" sebagai salah satu prinsip utama dalam jalan spiritual
ini.
Adapun
permohonanmu kepada selain-Nya, hal itu
dikarenakan adanya rasa jauh di dirimu dari-Nya. Sebab, seandainya engkau
benar-benar menyadari kedekatan-Nya denganmu—padahal Dia Maha Pemurah—niscaya
engkau tidak akan butuh untuk meminta kepada selain-Nya yang bersifat hina. Dan
akan datang penjelasannya nanti dalam bab Munajat: "Atau bagaimana mungkin
seseorang meminta kepada selain-Mu, padahal Engkau tidak pernah memutuskan
kebiasaan-Mu dalam memberikan anugerah?"
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.