بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Wasiat No. 41
Malu Kepada Allah
الوصية رقم ٤١
الحياء من الله
وعليك بالحياء فإن الله حيي، والحياء من الإيمان، والحياء خير كله، وإن الله يستحيي من ذي الشيبة يوم القيامة، فإن العبد إذا اتصف بالحياء من الله ترك كل ما لا يرضي الله وما يشينه عند الله تعالى وعند رسول الله ﷺ.
معناه الترك قال الله تعالى: ﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا﴾ في الصغر لقول مَنْ ضلَّ بهذا المثل من المشركين الذين تكلموا فيه فإن الله تعالى قال: ﴿يُضِلُّ بِهِ كَثِيراً وَيَهْدِي بِهِ كَثِيراً وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ﴾ فإنهم حاروا فيه - والضلالة الحيرة - ورأوا عزة الله وجلاله وكبرياءه وحقارة البعوضة في المخلوقات فاستعظموا جلال الله أن ينزل في ضرب المثل لعباده هذا النزول، وذلك لجهلهم بالأمور فإنه لا فرق بين أعظم المخلوقات - وهو العرش المحيط - وبين الذرة في الخلق وإخراجها من العدم إلى الوجود، فما هي حقيرة إلا من صِغَر جسمها إذا أضفته إلى ذي الجسم الكبير، بل الحكمة في البعوضة أتمّ، والقدرة أنفذ، فإن البعوضة على صغرها خلقها الله على صورة الفيل على عظمته، فخلق البعوضة أعظم في الدلالة على قدرة خالقها من الفيل لأهل النظر والاعتبار، ولهذا لم يصف الله نفسه بالحياء في ذلك لما فيها من الدلالة على تعظيم الحق.
ثم إن مواطن الحياء التي في الإنسان كثيرة فإن الحياء صفة يسري نفعها بمن قامت به في أكثر الأشياء ولهذا قال: (الحياء خير كله) و(الحياء لا يأتي إلا بخير) وهو: أن لا يفعل الإنسان ما يخجل فيه إذا عرف منه بأنه فَعَله، وقد علم المؤمن أن الله يعلم ويرى كلما يتحرك فيه العبد، فيلزمه الحياء منه لعلمه بذلك ولإيمانه بأنه لا بد أن يقرره يوم القيامة على ما عمله فيُخجله فيؤديه ذلك إلى ترك ما يخجل فيه وذلك هو الحياء، فمن هنا لا يأتي إلا بخير، والله أحقُّ أن يستحيا منه.
Hendaklah engkau
memiliki rasa malu, karena sesungguhnya Allah Maha Pemalu, dan malu adalah
bagian dari iman, serta malu itu seluruhnya adalah kebaikan. Sesungguhnya Allah
merasa malu terhadap orang yang telah beruban (tua) pada hari kiamat. Jika
seorang hamba memiliki sifat malu kepada Allah, ia akan meninggalkan segala
sesuatu yang tidak diridhai Allah dan apa yang memalukannya di hadapan Allah
Ta'ala serta di hadapan Rasulullah ﷺ. Maknanya adalah
"meninggalkan".
Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak
segan (malu) membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari
itu" dalam hal kecilnya. Hal ini sebagai jawaban bagi
orang-orang musyrik yang tersesat karena perumpamaan ini, di mana Allah Ta'ala
berfirman: "Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan-Nya, dan
dengan perumpamaan itu pula banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak
ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik."
Mereka merasa bingung—dan kesesatan adalah kebingungan—mereka melihat
keperkasaan, keagungan, dan kebesaran Allah, namun melihat rendahnya nyamuk di
antara makhluk lainnya, sehingga mereka menganggap mustahil bagi keagungan
Allah untuk turun derajat dalam memberikan perumpamaan seperti itu kepada
hamba-Nya. Hal itu dikarenakan kebodohan mereka, sebab tidak ada perbedaan
antara makhluk terbesar—yaitu Arsy yang meliputi segalanya—dengan sebuah atom
dalam hal penciptaan dan pengadaannya dari ketiadaan menjadi ada. Sesuatu itu
dianggap rendah hanya karena kecil fisiknya jika dibandingkan dengan yang
fisiknya besar. Padahal, hikmah pada nyamuk lebih sempurna dan kekuasaan
(Allah) lebih terlihat padanya; karena nyamuk meskipun kecil, Allah
menciptakannya dengan bentuk serupa gajah yang besar. Maka penciptaan nyamuk
lebih besar dalam menunjukkan kekuasaan Penciptanya daripada gajah bagi
orang-orang yang mau berpikir dan mengambil pelajaran. Oleh karena itu, Allah
tidak menyifati diri-Nya dengan rasa malu dalam hal tersebut karena di dalamnya
terdapat petunjuk akan keagungan Al-Haq (Allah).
Kemudian, letak rasa
malu pada manusia itu banyak. Malu adalah sifat yang manfaatnya mengalir pada
orang yang memilikinya dalam banyak hal. Oleh karena itu Nabi bersabda: "Malu itu semuanya baik" dan "Malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan".
Yaitu: seseorang tidak melakukan apa yang membuatnya malu jika diketahui bahwa
ia melakukannya. Seorang mukmin telah mengetahui bahwa Allah Maha Mengetahui
dan Maha Melihat setiap gerak-gerik hamba-Nya. Maka ia wajib merasa malu
kepada-Nya karena pengetahuannya akan hal itu dan karena keimanannya bahwa
Allah pasti akan meminta pertanggungjawabannya pada hari kiamat atas apa yang
telah ia perbuat, sehingga membuatnya malu. Hal inilah yang mendorongnya untuk
meninggalkan apa yang memalukan, dan itulah hakikat rasa malu. Maka dari
sinilah malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan, dan Allah lebih berhak untuk
kita merasa malu kepada-Nya.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Al-Washaya li Ibn al-‘Arabi 41: Malu Kepada Allah
Description : Wasiat No. 41 Malu Kepada Allah ا لوصية رقم ٤١ الحياء من الله وعليك بالحياء فإن الله حيي، والحياء من الإيمان، والحياء خير كله، وإن الله...