بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 43.
Tentang Tafakur
وعن أبي سعيد الخدري قال: قال رسول الله ﷺ: "اعطوا أعينكم حظها من العبادة"، فقالوا: يا رسول الله وما حظها من العبادة؟ قال: "النظر في المصحف والتفكر فيه والاعتبار عند عجائبه". وعن امرأة كانت تسكن البادية قريباً من مكة إنها قالت: لو تطالعت قلوب المتقين بفكرها إلى ما قد ادخر لها في حجب الغيب من خير الآخرة لم يصفُ لهم في الدنيا عيش ولم تقرّ لهم في الدنيا عين. وكان لقمان يطيل الجلوس وحده، فكان يمر به مولاه فيقول: يا لقمان إنك تطيل الجلوس وحدك فلو جلست مع الناس كان آنس لك، فيقول: إن طول الوحدة أدوم للفكر وطول الفكر دليل على طريق الجنة.
(وقال وهب بن منبه): ما طالت فكرة امرئ قط إلا علم، وما علم امرؤ قط إلا عمل. وقال عمر بن عبد العزيز: الفكرة في نعم الله عز وجل من أفضل العبادة. وقال عبد الله بن المبارك يوماً لسهل بن علي ورآه ساكتاً متفكراً: أين بلغت؟ قال: الصراط. وقال بشر: لو تفكر الناس في عظمة الله ما عصوا الله عز وجل.
وعن ابن عباس: ركعتان مقتصدتان في تفكر خير من قي ليلة بلا قلب. وبينا أبو شريح يمشي إذ جلس فتقنع بكسائه فجعل يبكي، فقيل له ما يبكيك؟ قال: تفكرت في ذهاب عمري وقلة عملي واقتراب أجلي. وقال أبو سليمان: عوّدوا أعينكم البكاء وقلوبكم التفكر. وقال أبو سلي أيضاً: الفكر في الدنيا حجاب عن الآخرة وعقوبة لأهل الولاية، والفكر في الآخرة يورث الحكمة ويحيي القلوب
Hak Mata dalam Ibadah
Dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Berikanlah mata kalian bagian dari ibadah." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apa bagian mata dari ibadah?" Beliau menjawab: "Melihat ke dalam mushaf (Al-Qur'an), merenungi isinya, dan mengambil pelajaran dari keajaiban-keajaibannya."
Renungan Wanita Pedalaman dan Luqman al-Hakim
Diriwayatkan dari seorang wanita yang tinggal di pedalaman dekat Mekkah, ia berkata: "Seandainya hati orang-orang yang bertakwa melihat dengan pemikirannya apa yang telah disimpan untuk mereka di balik tirai gaib berupa kebaikan akhirat, niscaya kehidupan dunia tidak akan terasa murni lagi bagi mereka, dan mata mereka tidak akan merasa tenang di dunia ini."
Dahulu Luqman (al-Hakim) sering duduk sendirian dalam waktu yang lama. Tuannya lewat dan berkata: "Wahai Luqman, engkau terlalu lama duduk sendirian. Seandainya engkau duduk bersama orang-orang, itu akan lebih menghiburmu." Luqman menjawab: "Sesungguhnya kesendirian yang lama itu lebih melanggengkan pikiran, dan pemikiran yang lama adalah penunjuk jalan menuju surga."
Kata-Kata Hikmah Para Ulama
Wahab bin Munabbih: "Tidaklah seseorang memanjangkan pemikirannya melainkan ia akan mengetahui (berilmu), dan tidaklah seseorang mengetahui melainkan ia akan beramal."
Umar bin Abdul Aziz: "Memikirkan nikmat-nikmat Allah Azza wa Jalla termasuk ibadah yang paling utama."
Abdullah bin al-Mubarak: Suatu hari beliau bertanya kepada Sahl bin Ali yang sedang diam merenung: "Sudah sampai mana (pikirannya)?" Sahl menjawab: "Sampai ke jembatan Shirath."
Bishr: "Seandainya manusia merenungkan keagungan Allah, niscaya mereka tidak akan bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla."
Kualitas Ibadah dan Objek Pemikiran
· Ibnu Abbas: "Dua rakaat yang sederhana namun disertai tafakkur (perenungan), lebih baik daripada shalat malam suntuk namun hati kosong."
· Kisah Abu Shuraih: Ketika sedang berjalan, ia tiba-tiba duduk dan menutupi kepalanya dengan kain lalu menangis. Saat ditanya apa yang membuatnya menangis, ia menjawab: "Aku merenungkan tentang umurku yang terus berkurang, amal yang sedikit, dan ajalku yang semakin dekat."
· Abu Sulaiman: "Biasakanlah matamu untuk menangis dan hatimu untuk merenung." Beliau juga berkata: "Memikirkan (duniawi) adalah penghalang dari akhirat dan hukuman bagi para wali Allah. Sebaliknya, memikirkan akhirat akan mewariskan hikmah dan menghidupkan hati."
وقال حاتم: من العبرة يزيد العلم ومن الذكر يزيد الحب ومن التفكر يزيد الخوف، وقال ابن عباس: التفكر في الخير يدعو إلى العمل به والندم على الشر يدعو إلى تركه
ويروى أن الله تعالى قال في بعض كتبه: إني لست أقبل كلام كل حكيم ولكن أنظر إلى همه وهواه، فإذا كان همه وهواه لي جعلت صمته تفكراً وكلامه حمداً وإن لم يتكلم
وقال الحسن: أن أهل العقل لم يزالوا يعودون بالذكر على الفكر وبالفكر على الذكر حتى استنطقوا قلوبهم فنطقت بالحكمة. وقال اسحق بن خلف: كان داود الطائي رحمه الله تعالى على سطح في ليلة قمراء فتفكر في ملكوت السموات والأرض وهو ينظر إلى السماء ويبكي حتى وقع في دار جار له. قال: فوثب صاحب الدار من فراشه عرياناً وبيده سيف وظن أنه لص، فلما نظر إلى داود رجع ووضع السيف، وقال: من الذي طرحك من السطح؟ قال: ما شعرت بذلك
وقال الجنيد: أشرف المجالس وأعلاها الجلوس مع الفكرة في ميدان التوحيد والتنسم بنسيم المعرفة والشرب بكأس المحبة من بحر الوداد والنظر بحسن الظن بالله عز وجل، ثم قال: يا لها من مجالس ما أجلها ومن شراب ما ألذه طوبى لمن رزقه
وقال الشافعي رحمه الله تعالى: استعينوا على الكلام بالصمت وعلى الاستنباط بالفكر، وقال أيضاً: صحة النظر في الأمور نجاة من الغرور والعزم في الرأي سلامة من التفريط والندم. الرؤية والفكر يكشفان عن الحرام والفطنة ومشاورة الحكماء ثبات في النفس وقوة في البصيرة، ففكر قبل أن تعزم وتدبر قبل أن تهجم وشاور قبل أن تتقدم
وقال أيضاً: الفضائل أربعة: إحداها الحكمة وقوامها الفكرة، والثانية العفة وقوامها في الشهوة، والثالثة القوة وقوامها في الغضب، والرابعة العدل وقوامه في اعتدال قوى النفس
Buah dari Perenungan
Hatim (Al-Asham): "Dari mengambil pelajaran (ibrah) bertambahlah ilmu, dari dzikir bertambahlah cinta, dan dari berpikir (tafakkur) bertambahlah rasa takut (kepada Allah)."
Ibnu Abbas: "Memikirkan kebaikan akan mendorong untuk mengamalkannya, dan menyesali keburukan akan mendorong untuk meninggalkannya."
Fokus Hati dan Hikmah
Diriwayatkan bahwa Allah SWT berfirman dalam sebagian kitab-Nya: "Aku tidak menerima ucapan setiap orang bijak (hakim), melainkan Aku melihat pada keinginan dan kecenderungannya. Jika keinginan dan kecenderungannya adalah untuk-Ku, maka Aku jadikan diamnya sebagai pemikiran dan bicaranya sebagai pujian, meskipun ia tidak berbicara."
Al-Hasan Al-Bashri berkata: "Sesungguhnya orang yang berakal senantiasa mengembalikan dzikir kepada pikir dan pikir kepada dzikir, hingga mereka mengajak hati mereka berbicara, lalu hati itu pun berbicara dengan hikmah."
Kisah Dawud Ath-Tha'i
Ishaq bin Khalaf bercerita: Suatu malam yang terang bulan, Dawud Ath-Tha'i berada di atas atap rumahnya. Beliau merenungi kerajaan langit dan bumi sambil memandang ke langit dan menangis, hingga (tanpa sadar) beliau terjatuh ke rumah tetangganya. Pemilik rumah melompat dari tempat tidur tanpa pakaian sambil membawa pedang karena mengira ada pencuri. Namun, saat melihat itu adalah Dawud, ia kembali dan meletakkan pedangnya seraya bertanya: "Siapa yang melemparkanmu dari atap?" Dawud menjawab: "Aku tidak menyadari hal itu (karena asyik bertafakkur)."
Majelis yang Paling Mulia
Al-Junayd berkata: "Majelis yang paling mulia dan paling tinggi adalah duduk bersama pemikiran di medan tauhid, menghirup semilir angin makrifat, minum dengan piala cinta dari lautan kasih sayang, dan memandang dengan prasangka baik (husnudzon) kepada Allah Azza wa Jalla." Kemudian beliau berkata: "Aduhai, betapa agungnya majelis itu dan betapa lezatnya minuman itu. Beruntunglah bagi siapa yang dikaruniai hal tersebut."
Nasihat Imam Syafi'i
Imam Syafi'i berkata: Mintalah bantuan untuk bicara dengan diam, dan untuk mengambil kesimpulan (istinbath) dengan berpikir."
"Ketepatan pandangan dalam berbagai urusan adalah penyelamat dari tipu daya, dan keteguhan dalam pendapat adalah keselamatan dari kelalaian dan penyesalan."
"Visi dan pemikiran akan menyingkap keharaman dan kecerdasan. Bermusyawarah dengan orang bijak adalah ketetapan bagi jiwa dan kekuatan bagi mata hati (bashirah). Maka berpikirlah sebelum bertekad, renungkanlah sebelum menyerang, dan bermusyawarahlah sebelum melangkah maju."
Empat Keutamaan Utama
Beliau juga berkata: "Keutamaan itu ada empat:
Hikmah (Kebijaksanaan): Fondasinya adalah berpikir.
Iffah (Menjaga Kehormatan): Fondasinya ada pada pengendalian syahwat.
Quwwah (Kekuatan/Keberanian): Fondasinya ada pada pengendalian amarah.
Adl (Keadilan): Fondasinya adalah keseimbangan kekuatan-kekuatan jiwa."
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
KEMBALI KE AWAL (Daftar isi)
Download Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Download Kitab Mukasyafatul Qulub (Arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.