بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ


Manfaat ilmu tasawuf adalah penyucian hati dan pengenalan kepada Zat yang mengetahui hal-hal gaib. Atau dapat dikatakan, buahnya adalah kemurahan nafsu, kebersihan dada, dan kebaikan akhlak terhadap setiap makhluk. Ketahuilah bahwa ilmu yang telah kami sebutkan ini bukan sekadar ocehan lidah, melainkan rasa dan penemuan batin. Ia tidak diambil dari lembaran-lembaran kertas, melainkan dari orang-orang yang memiliki rasa. Ia tidak diperoleh dengan perkataan semata, melainkan dari pelayanan kepada para lelaki (yang saleh) dan pergaulan dengan orang-orang yang sempurna. Demi Allah, tidaklah beruntung orang yang beruntung kecuali dengan pergaulan bersama orang yang beruntung. Keberhasilan itu dari Allah.
Biografi Penulis
Beliau adalah Syaikh Imam Tajuddin, penerjemah para gnostic (al-arif), Abu al-Fadhl Ahmad bin Muhammad bin Abd al-Karim bin Abd ar-Rahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Husain bin Ataillah al-Judzami dari segi nasab, Maliki dari segi mazhab, Iskandari dari segi tempat tinggal, Qarafi dari segi tempat pemakaman, sufi dari segi hakikat, Syadzili dari segi thariqah, keajaiban zamannya, dan pilihan terbaik pada masanya.
Beliau wafat pada bulan Jumadil Akhir tahun tujuh ratus sembilan, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Zarruq. Dalam ad-Dibaj al-Mudzahhab, dikatakan bahwa ia adalah seorang yang menguasai berbagai jenis ilmu, seperti tafsir, hadits, fikih, nahwu, ushul, dan lainnya. Ia—semoga Allah merahmatinya—adalah seorang pembicara dalam metode kaum sufi dan seorang pemberi nasihat yang memberi manfaat kepada banyak orang, sehingga mereka mengikuti thariqah-nya.
Hemat penulis, syaikhnya, Abu al-Abbas al-Mursi, telah menyaksikan keunggulannya.
Dalam Latha’if al-Minan, ia berkata kepadaku, Syaikh berkata kepadaku, ‘Tetaplah bersamaku, demi Allah, jika engkau bertahan, engkau pasti akan menjadi mufti dalam dua mazhab,’ maksudnya mazhab ahli syariat—yaitu ahli ilmu zahir—dan mazhab ahli hakikat—yaitu ahli ilmu batin.” Ia juga berkata tentangnya, “Demi Allah, pemuda ini tidak akan mati hingga ia menjadi seorang yang menyeru kepada Allah.” Ia juga berkata tentangnya, “Demi Allah, engkau pasti akan memiliki kedudukan yang besar. Demi Allah, engkau pasti akan memiliki kedudukan yang besar.”
Ia juga berkata, “Maka jadilah demikian, dengan puji syukur kepada Allah, tanpa ada yang dapat mengingkarinya.”

Karyanya terdiri dari lima buah: at-Tanwir fi Isqath at-Tadbir, Latha’if al-Minan fi Manaqib Syaikh-nya Abu al-Abbas dan Syaikh-nya Abu al-Hasan, Taj alArus—yang merupakan karya kami—, Miftah al-Falah fi adz-Dzikr wa Kaifiyyah as-Suluk, dan juga al-Qaul al-Mujarrad fi al-Ism al-Mufarrad, serta al-Hikam yang ingin kami bahas. Isinya dari ilmu-ilmu kaum (tasawuf) terdiri dari empat hal:
Pertama, ilmu pengingatan dan nasihat, yang telah ia kuasai dengan porsi paling besar. Ini untuk maqam orang awam, dan materinya diambil dari kitab-kitab Ibn al-Jauzi, beberapa karya al-Muhasibi, bagian awal kitab Ihya’ dan Qut, ringkasan al-Qusyairi, dan yang sejalan dengannya. Wallahu a’lam.
Kedua, pemurnian amal dan pembetulan keadaan dengan menghiasi batin dengan akhlak-akhlak terpuji dan membersihkannya dari sifat-sifat tercela. Ini adalah bagian orangorang yang menghadap dengan jujur dan pemula dari para pejalan. Ia telah menguasai sebagian yang cukup darinya, dan materinya dari kitab-kitab al-Ghazali, as-Sahrwardi, dan sejenisnya.
Ketiga, penetapan keadaan-keadaan, maqam-maqam, hukum-hukum rasa, dan tingkatan-tingkatan. Ini adalah bagian para calon dari murid-murid dan pemula dari para gnostic (al-arif). Jenis ini adalah yang paling banyak ia bahas, dan materinya dari kitab-kitab seperti al-Mu‘amalat karya al-Hatimi, an-Nazilat karya al-Buni, dan lainnya.
Keempat, pengenalan-pengenalan dan ilmu-ilmu ilham ilahi. Bagian ini ada padanya dan tidak tersembunyi, tetapi kitab-kitabnya dipenuhi dengan penjelasannya, terutama at-Tanwir dan Latha’if al-Minan, yang seperti syarah untuk keseluruhan kitab ini.
Secara keseluruhan, ia mengumpulkan apa yang ada dalam kitab-kitab sufi yang panjang dan ringkas, dengan tambahan penjelasan dan pemendekan ungkapan. Jalan yang ia tempuh di dalamnya adalah jalan tauhid yang tidak memungkinkan siapa pun mengingkarinya atau mencelanya. Ia tidak meninggalkan sifat terpuji bagi yang memperhatikannya kecuali ia memakaikannya kepadanya, dan tidak ada sifat tercela kecuali ia menghilangkannya darinya dengan izin Allah, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Ibn Abbad dalam deskripsi atTanwir. Keduanya (at-Tanwir dan Latha’if al-Minan) adalah saudara dari satu ayah dan satu ibu, sebagaimana dikatakan oleh Sidi Ahmad Zarruq dalam beberapa syarahnya.
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.