بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Definisi Tasawuf
تعريفات التصوف :
أما حده : فقال الجنيد :
هو أن يميتك الحق عنك ويحييك به وقال أيضا : أن تكون مع الله بلا علاقة
وقيل : الدخول في كل خُلُق سَنى ، والخروج من كل خلق دنى .
وقيل : هو أخلاق كريمة ظهرت في زمان كريم مع قوم كرام .
وقيل : ألا تملك شيئا ولا يملكك شيء .
وقيل استرسال النفس مع الله على ما يريد .
وقيل التصوف مبنى على ثلاث خصال : التمسك بالفقر والافتقار ، والتحقق بالبذل والإيثار ، وترك التدبير والاختيار .
وقيل الأخذ بالحقائق ، والإياس مما في أيدى الخلائق . وقيل ذكر مع اجتماع ، ووجد مع استماع ، وعمل مع اتباع .
وقيل الإناخة على باب الحبيب وإن طرد . وقيل صفوة القرب بعد كدرة البعد . وقيل الجلوس مع الله بلا هم ، وقيل هو العصمة عن رؤية الكون
والصوفى الصادق : علامته أن يفتقر بعد الغنى ، ويذل بعد العز ، ويخفى بعد الشهرة .
وعلامة الصوفى الكاذب : أن يستغنى بعد الفقر ، ويعز بعد الذل ، ويشتهر بعد الخفاء . قاله أبو حمزة البغدادي :
وقال الحسن بن منصور : الصوفى واحد في الذات لا يقبله أحد أحدا ، ولا يقبل
ويطؤه البر والفاجر وقيل الصوفى كالأرض يطرح عليه كل قبيح ، ولا يخرج منه إلا كل مليح ،
وقالوا : من أقبح كل قبيح صوفي شحيح . وقال الشبلي : الصوفي منقطع عن الخلق ، متصل بالحق ، لقوله تعالى : ( وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي ((۱)
ثم قال أيضًا : الصوفية أطفال في حجر الحق
Syekh Junayd berkata, “Tasawuf adalah bahwa Hakikat mematikanmu dari dirimu dan menghidupkanmu dengan-Nya.”
Adapun definisi-definisi lain tentang tasawuf adalah
sebagai berikut:
• Tasawuf adalah berada bersama Allah tanpa keterkaitan.
• Tasawuf adalah memasuki setiap akhlak yang luhur dan keluar dari setiap akhlak yang rendah.
• Tasawuf adalah akhlak-akhlak mulia yang muncul pada zaman mulia bersama kaum yang mulia.
• Tasawuf adalah engkau tidak memiliki sesuatu dan tidak dimiliki oleh sesuatu.
• Tasawuf adalah kelepasan nafsu bersama Allah sesuai dengan apa yang Dia kehendaki.
• Tasawuf dibangun atas tiga sifat: keterkaitan dengan kefakiran dan kebutuhan, verifikasi dengan pemberian dan pengutamaan (orang lain), serta pelepasan dari pengaturan dan pilihan.
• Tasawuf adalah pengambilan hakikat-hakikat dan keputusasaan dari apa yang ada di tangan makhluk.
• Tasawuf adalah dzikir dengan kebersamaan, ekstase dengan pendengaran, dan amal dengan kepatuhan.
• Tasawuf adalah kesetiaan di pintu Sang Kekasih meskipun diusir.
• Tasawuf adalah kejernihan kedekatan setelah kekeruhan jarak.
• Tasawuf adalah duduk bersama Allah tanpa keluh kesah.
• Tasawuf adalah perlindungan dari melihat alam semesta.
Tanda seorang sufi yang jujur adalah bahwa ia menjadi fakir setelah kaya, menjadi hina setelah mulia, dan menjadi tersembunyi setelah terkenal.
Sedangkan tanda seorang sufi yang dusta adalah bahwa ia menjadi kaya setelah fakir, menjadi mulia setelah hina, dan menjadi terkenal setelah tersembunyi, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hamzah al-Baghdadi.
Hasan bin Mansur berkata, Sufi adalah satu dalam Zat, tidak diterima oleh siapapun dan tidak menerima siapa pun.
Dikatakan pula, Sufi seperti bumi: segala yang buruk dilemparkan kepadanya, tetapi yang keluar darinya hanyalah yang baik, dan ia diinjak oleh yang saleh maupun yang jahat. Mereka menyatakan bahwa yang paling buruk dari segala
keburukan adalah sufi yang kikir.
Syibli berkata, Sufi adalah yang terputus dari makhluk dan tersambung dengan
Hakikat, sebagaimana firman-Nya, ‘Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.’ Ia juga berkata, Kaum sufi adalah anak-anak di pangkuan Hakikat.
وقيل الصوفى لاتقله الأرض ولا تظله السماء ، يعنى لا يحصره الكون
وقال الشيخ زروق رضى الله عنه : قد حد التصوف ورسم وفسر بوجوه تبلغ نحو الألفين ، ترجع كلها لصدق التوجه إلى الله تعالى ، وإنما هي وجوه فيه ، والله أعلم . ثم قال : والاختلاف في الحقيقة الواحدة إن كثر دل على بعد إدراك جملتها ، ثم هو إن رجع لأصل واحد يتضمن جملة ماقيل فيها كانت العبارة عنه بحسب ما فهم منه ، وجملة الأقوال واقعة على تفاصيله ، واعتبار كل واحد على حسب مثاله علما وعملاً وحالاً وذوقًا وغير ذلك ، والاختلاف في التصوف من ذلك ، فمن أجل ذلك ألحق الحافظ أبو نعيم ، رحمه الله ، بغالب أهل حليته عند تحلية كل شخص قولا من أقوالهم يناسب حاله قائلا : وقيل إن التصوف كذا ، فاقتضى أن كل من له نصيب من صدق التوجه له نصيب من التصوف ، وان تصوف كل احد صدق توجهه فافهم اهـ .
وقال أيضا : قاعدة . صدق التوجه مشروط بكونه من حيث يرضاه الحق تعالى وبما يرضاه ، ولا يصح مشروط بدون شرطه :
) وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ( فلزم تحقيق الإيمان ( وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لكم ))
فلزم العمل بالإسلام ، فلا تصوف إلا بفقه ، إذ لا تعرف أحكام الله تعالى الظاهرة إلا منه ، ولا فقه إلا بتصوف ، إذ لا عمل إلا بصدق توجه ، ولا هما إلا بإيمان ، إذ لا يصح واحد منهما بدونه فلزم الجمع ، لتلازمهما في الحكم كتلازم الأرواح للأجساد ، إذ لا وجود لها إلا فيها كما لا كمال لها : أي للأشباح ، إلا بها .
ومنه قول مالك رحمه الله : « من تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ، ومن تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ، ومن جمع بينهما فقد تحقق » .
قلت : تزندق ، الأول ، لأنه قائل بالجبر الموجب لنفى الحكمة والأحكام ، وتفسق الثاني ، لخلو علمه عن صدق التوجه الحاجز عن معصية الله عن الإخلاص المشروط في الأعمال ، وتحقق الثالث لقيامه بالحقيقة في عين تمسكه بالحق ، فاعرف ذلك، إذ لا وجود لها إلا فيها، كما لاكمال له إلا به فافهم اهـ.
Dikatakan pula bahwa sufi adalah yang tidak ditopang oleh bumi dan tidak dinaungi oleh langit, maksudnya, ia tidak dibatasi oleh alam semesta.
Syaikh Zarruq—semoga Allah meridhainya—berkata bahwa tasawuf telah dibatasi, digambarkan, dan dijelaskan dengan cara-cara yang mencapai sekitar dua ribu definisi, yang semuanya kembali kepada kejujuran dalam menghadap kepada Allah Yang Maha Tinggi. Itu hanyalah berbagai wajah darinya, dan Wallahu a’lam. Kemudian ia berkata,
“Perbedaan dalam hakikat yang satu, jika banyak, menunjukkan jauhnya pemahaman menyeluruh tentangnya. Jika hakikat itu kembali kepada satu asal yang mencakup seluruh apa yang dikatakan tentangnya, maka ungkapan tentangnya bergantung pada apa yang dipahami darinya. Seluruh perkataan mencakup detail-detailnya, dan pertimbangan setiap orang sesuai dengan teladannya dalam ilmu, amal, keadaan, rasa, dan lainnya. Perbedaan
dalam tasawuf berasal dari hal itu.
Oleh karena itu, al-Hafizh Abu Nu‘aim—semoga Allah merahmatinya membuktikan kebenaran mayoritas tokoh dalam Hilyah-nya dengan mengaitkan setiap individu dengan perkataan dari ucapan-ucapan mereka yang sesuai dengan keadaannya, seraya berkata, ‘Dikatakan bahwa tasawuf adalah demikian.’ Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang yang memiliki bagian dari kejujuran dalam menghadap memiliki bagian dari tasawuf, dan tasawuf setiap orang adalah kejujuran dalam menghadapnya. Maka pahamilah.
Ia (Syaikh Zarruq) juga mengatakan bahwa prinsip kejujuran dalam menghadap (kepada Allah) disyaratkan dengan keadaan yang diridhai oleh Hakikat Yang Maha Tinggi dan dengan apa yang diridhai-Nya. Sesuatu yang bersyarat tidak sah tanpa syaratnya, dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-hamba-Nya, maka wajib mewujudkan keimanan.
‘Dan bersyukurlah kepada-Ku, itu diridhai untukmu,’ maka wajib beramal dengan Islam. Tidak ada tasawuf kecuali dengan fikih, karena hukum-hukum Allah Yang Maha Tinggi yang zahir tidak diketahui kecuali darinya. Tidak ada fikih kecuali dengan tasawuf, karena tidak ada amal kecuali dengan kejujuran dalam menghadap. Tidak ada keduanya kecuali dengan keimanan, karena tidak satu pun dari keduanya sah tanpanya. Maka wajib menggabungkan
keduanya karena keterkaitan mutualnya dalam hukum, sebagaimana keterkaitan ruh-ruh dengan jasad-jasad, sebab tidak ada keberadaan bagi ruh-ruh kecuali di dalam jasad-jasad, sebagaimana tidak ada kesempurnaan bagi jasad-jasad yaitu bentuk-bentuk kecuali dengannya.
Dari sini perkataan Malik—semoga Allah merahmatinya—berbunyi, ‘Barang siapa bertasawuf tanpa berfikih, maka ia telah menjadi zindiq. Barang siapa berfkih tanpa bertasawuf, maka ia telah menjadi fasik. Barang siapa menggabungkan keduanya, maka ia telah mewujudkan hakikat.’
Menurut pendapat saya, yang pertama menjadi zindiq karena ia berpegang pada jabariyah yang menyebabkan penafian hikmah dan hukum-hukum.
Yang kedua menjadi fasik karena ilmunya kosong dari kejujuran dalam menghadap, yang menjadi penghalang dari maksiat kepada Allah dan dari keikhlasan yang disyaratkan dalam amal-amal.
Yang ketiga mewujudkan hakikat karena ia berdiri dengan hakikat di dalam keterkaitannya dengan Hakikat.’ Maka ketahuilah itu, sebab tidak ada keberadaan baginya kecuali di dalamnya, sebagaimana tidak ada kesempurnaan baginya kecuali dengannya. Maka pahamilah.
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.