بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Karya
Ibn Abi Ishaq Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari Al-Kalabadzi
Bab 18.
AJARAN KAUM SUFI TENTANG SYAFAAT
**الباب الثامن عشر**
**قولهم في الشَّفاعة**
أجمعوا على أنَّ الإقرارَ بجُملة ما ذكر الله تعالى في كتابه وجاءت به الروايات عن النبيِّ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم في الشَّفاعة واجبٌ؛ لقوله تعالى: ﴿وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ﴾ [الضحى: ٥]، ﴿عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا﴾ [الإسراء: ٧٩]، ﴿وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ﴾ [الأنبياء: ٢٨]، وقول الكُفَّار: ﴿فَمَا لَنَا مِن شَافِعِينَ﴾ [الشعراء: ١٠٠]، وقال النبيُّ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم: «شَفاعتي لأهلِ الكبائر من أُمَّتي»، وقوده: «واختبَأتُ دعوتي الشَّفاعةَ لأُمَّتي
وأَقَرُّوا بالصِّراط، وأنَّه جِسْرٌ يُمدُّ على جهنَّم؛ قرأت عائشة: ﴿يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ﴾ [إبراهيم: ٤٨]، قالت: فأين النَّاس حينئذٍ يا رسول الله؟ فقال: «على الصِّراط
وأَقَرُّوا بالميزان، وأنَّ أعمال العِباد تُوزَن؛ كما قال الله تعالى: ﴿فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ﴾ [الأعراف: ٨-٩] الآية، وإن لم يعلموا كيفيَّة ذلك وقولهم في هذا وأمثاله -مما لا يُدرك العباد كيفيَّته-: آمَنَّا بما قال الله، على ما أراد الله، وآمَنَّا بما قال رسول الله صلَّى الله عليه وآله وسلَّم على ما أراد رسول الله
وأَقَرُّوا أنَّ الله تعالى يُخرِج من النَّار من كان في قلبه مِثقال ذَرَّةٍ من إيمان؛ على ما جاء في الحديث
وأَقَرُّوا بتأبيد الجنَّة والنَّار، وأنَّهما مخلوقتان، وأنَّهما باقيتان أَبَدَ الأَبَد، لا تفنيان ولا تَبيدان، وكذلك أهلوهما باقون فيهما خالدون مُخَلَّدون، مُنَعَّمون ومُعَذَّبون، لا ينفد نعيمهم ولا ينقطع عذابهم
وشهدوا لعامَّة المؤمنين بالإيمان في ظاهر أمورهم، وَوَكَّلوا سرائرهم إلى الله تعالى، وأَقَرُّوا أنَّ الدَّار دار إيمان وإسلام، وأنَّ أهلها مؤمنون مسلمون
وأهل الكبائر عندهم مسلمون، مؤمنون بما معهم من الإيمان، فاسقون بما فيهم من الفسق
ورَأوا الصَّلاة خلف كُلِّ بَرٍّ وفاجر. ورَأوا الصَّلاة على كُلِّ من مات من أهل القبلة
ورَأوا الجُمُعة والجماعات والأعياد واجبةً على من لم يكن له عُذْرٌ من المسلمين، مع كُلِّ إمامٍ بَرٍّ أو فاجر، وكذلك الجهاد معهم والحَجّ
ورَأوا الخلافة حقًّا، وأنَّها في قريش، وأجمعوا على تقديم أبي بكر وعمر وعثمان وعليّ رضي الله عنهم
ورَأوا الاقتداء بالصحابة والسلف الصالح، وسكتوا عن القول فيما كان بينهم من التشاجر، ولم يَروا ذلك قادحًا فيما سبق لهم من الله عزَّ وجلَّ من الحُسنى
وأَقَرُّوا أنَّ من شَهِد له رسول الله صلَّى الله عليه وآله وسلَّم بالجنَّة فهو في الجنَّة، وأنَّهم لا يُعَذَّبون بالنَّار
ولا يَرون الخروج على الوُلاة بالسَّيف وإن كانوا ظَلَمَة
ويَرون الأمر بالمعروف والنهي عن المنكر واجبًا لمن أمكنه بما أمكنه، مع شَفَقةٍ ورَأفةٍ ورِفقٍ ورحمةٍ ولُطفٍ ولِينٍ من القول
ويُؤمنون بعذاب القبر، وبسُؤال مُنْكَرٍ ونَكِير
وأَقَرُّوا بِمِعراج النبيِّ صلَّى الله عليه وآله وسلَّم، وأنَّه عُرِج به إلى السماء السابعة، وإلى ما شاء الله، في ليلةٍ، في اليَقَظة، ببدنه
ويُصدِّقون بالرُّؤيا، وأنَّها بشارةٌ للمؤمنين، وإنذارٌ لهم، وتوقيف. وعندهم أنَّ من مات أو قُتِل فبأَجَلِه، ولا يقولون باخترام الآجال، وأنَّه إذا جاء أجلهم لا يستأخرون ساعةً ولا يستقدمون
**Pendapat Mereka tentang Syafaat**
Para ulama sepakat bahwa mengakui secara keseluruhan apa yang telah disebutkan Allah Ta'ala dalam Kitab-Nya dan riwayat-riwayat dari Nabi صلى الله عليه وآله وسلم tentang syafaat adalah hal yang wajib; berdasarkan firman Allah Ta'ala: *"Dan kelak Rabbmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu hati kamu menjadi puas"* [QS. Ad-Dhuha: 5], *"Mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji"* [QS. Al-Isra: 79], *"Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diredai Allah"* [QS. Al-Anbiya: 28], dan perkataan orang-orang kafir: *"Maka kami tidak mempunyai seorang pemberi syafaat pun"* [QS. Asy-Syu'ara: 100]. Serta sabda Nabi صلى الله عليه وآله وسلم: *"Syafaatku adalah untuk para pelaku dosa besar dari umatku,"* dan sabda Beliau: *"Dan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku."*
Mereka mengimani adanya *Ash-Shirath* (jembatan), dan bahwasanya ia adalah jembatan yang dibentangkan di atas neraka Jahannam. Aisyah membaca ayat: *"Yaitu pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain"* [QS. Ibrahim: 48], lalu beliau bertanya: "Di manakah manusia saat itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: *"Di atas Shirath."*
Mereka mengimani adanya *Mizan* (timbangan) dan bahwa amal perbuatan para hamba akan ditimbang; sebagaimana firman Allah Ta'ala: *"Barang siapa yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangannya..."* [QS. Al-A'raf: 8-9], meskipun mereka tidak mengetahui secara pasti bagaimana bentuk/cara (*kaifiyah*) penimbangan tersebut.
Pandangan mereka dalam hal ini dan sejenisnya—yaitu hal-hal yang tidak dapat dijangkau tata caranya oleh para hamba—adalah: "Kami beriman kepada apa yang difirmankan Allah sesuai yang dikehendaki Allah, dan kami beriman kepada apa yang disabdakan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sesuai yang dimaksudkan oleh Rasulullah."
Mereka mengimani bahwa Allah Ta'ala akan mengeluarkan dari neraka siapa saja yang di dalam hatinya terdapat iman seberat zarrah; sebagaimana yang tercantum dalam hadis.
Mereka mengimani sifat keabadian surga dan neraka, bahwa keduanya adalah makhluk yang telah diciptakan, dan keduanya akan tetap ada selama-lamanya, tidak akan fana dan tidak akan musnah. Demikian pula para penghuninya akan kekal di dalamnya selama-lamanya; diberi kenikmatan (bagi penghuni surga) dan diazab (bagi penghuni neraka), nikmat mereka tidak akan habis dan azab mereka tidak akan terputus.
Mereka bersaksi atas keimanan orang-orang mukmin secara umum berdasarkan amalan lahiriah mereka, dan menyerahkan urusan batin/rahasia hati mereka kepada Allah Ta'ala. Mereka juga menetapkan bahwa negeri (wilayah) ini adalah negeri iman dan Islam, serta penduduknya adalah orang-orang mukmin dan muslim.
Adapun para pelaku dosa besar menurut mereka tetaplah orang muslim; mereka beriman sesuai dengan kadar keimanan yang ada pada diri mereka, dan dianggap fasik sesuai dengan kadar kefasikan yang ada pada diri mereka.
Mereka berpandangan boleh salat di belakang setiap pemimpin/imam, baik yang saleh (*barr*) maupun yang fajar/maksiat. Mereka juga berpandangan wajib menyalatkan setiap jenazah dari kalangan *Ahlul Qiblah* (umat Islam) yang meninggal dunia.
Mewajibkan pelaksanaan salat Jumat, salat berjemaah, dan salat Id bagi setiap muslim yang tidak memiliki uzur, di bawah pimpinan imam mana pun baik yang saleh maupun fajar, demikian pula pelaksanaan jihad dan ibadah haji bersama mereka.
Mereka meyakini bahwa kepemimpinan (*khilafah*) adalah hak yang sah dan berada di kalangan suku Quraisy, serta sepakat atas tingkatan keutamaan: Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, dan 'Ali radhiyallahu 'anhum.
Mereka berpandangan wajib meneladani para sahabat dan *Salafus Shalih*, serta menahan diri dari membicarakan perselisihan yang pernah terjadi di antara sesama sahabat. Mereka tidak menganggap perselisihan tersebut menggugurkan janji kebaikan (*al-husna*) yang telah ditetapkan Allah Azza wa Jalla bagi para sahabat.
Mereka menetapkan bahwa siapa saja yang telah disaksikan oleh Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم sebagai penghuni surga, maka ia pasti masuk surga dan mereka tidak akan diazab di dalam neraka.
Mereka tidak membenarkan tindakan memberontak (*khuruj*) terhadap para pemimpin dengan pedang/senjata, meskipun pemimpin tersebut zalim.
Mereka berpandangan bahwa *Amar Ma'ruf Nahi Munkar* adalah wajib bagi siapa saja yang sanggup melakukannya sesuai batas kemampuannya, yang disertai dengan rasa iba, kasih sayang, kelembutan, keramahan, dan tutur kata yang santun.
Mereka beriman kepada adanya azab kubur serta pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir.
Mereka mengimani peristiwa *Mi'raj* Nabi صلى الله عليه وآله وسلم, bahwasanya Beliau diperjalankan naik hingga ke langit ketujuh dan ke tempat yang dikehendaki Allah, dalam satu malam, dalam keadaan sadar (terjaga), dan dengan jasad Beliau.
Mereka membenarkan adanya mimpi yang benar (*ar-ru'ya*), bahwa mimpi tersebut adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman, peringatan bagi mereka, serta bentuk petunjuk. Menurut mereka, barang siapa yang meninggal atau terbunuh, maka hal itu terjadi tepat pada ajalnya; mereka tidak berpendapat adanya pemotongan/percepatan umur (*ikhtiram al-ajal*), dan bahwa apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya atau memajukannya sedikit pun.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Kembali ke Daftar isi Kitab
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 +
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Kitab Al-Ta-aruf Bab 18. AJARAN KAUM SUFI TENTANG SYAFAAT
Description : التعرف لمذهب أهل التَّصوُّف Karya Ibn Abi Ishaq Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Ya’qub Al-Bukhari Al-Kalabadzi Bab 18. AJARAN...