قال الله تعالى : ﴿ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا
أخبرنا أبو بكر محمد بن أحمد بن عبدوس الحيري العدل قال : أخبرنا أبو بكر محمد بن أحمد بن دلويه الدقاق قال : حدثنا محمد بن يزيد قال : حدثنا عامر بن أبي الفرات قال : حدثنا المسعودي ، عن محمد بن عبد الرحمن ، عن عيسى بن طلحة ، عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لا يدخل النار من بكى من خشية الله حتى يلج اللبن في الضرع ، ولا يجتمع غبار في سبيل الله ودخان جهنم في منخري عبد أبداً
حدثنا أبو نعيم أحمد بن محمد بن إبراهيم المهرجاني قال : حدثنا أبو محمد عبد الله بن محمد بن الحسن بن الشرقي قال : حدثنا عبد الله بن هاشم قال : حدثنا يحيى بن سعيد القطان قال : حدثنا شعبة قال : حدثنا قتادة ، عن أنس رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لو تعلمون ما أعلم . . لضحكتم قليلاً ، ولبكيتم كثيراً
قال الأستاذ أبو القاسم : الخوف معناه متعلق بالمستقبل ؛ لأنه إنما يخاف أن يحل به مكروه أو يفوته محبوب ، ولا يكون هذا إلا لشيء سيحصل في المستقبل ، فأما ما يكون في الحال موجوداً . . فالخوف لا يتعلق به . والخوف من الله سبحانه وتعالى : هو أن يخاف أن يعاقبه الله إما في الدنيا وإما في الآخرة
وقد فرض الله سبحانه على العباد أن يخافوه ، فقال تعالى : ﴿ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴾ ، وقال : ﴿ وَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ ﴾ ، ومدح المؤمنين بالخوف ، فقال : ﴿ يَخَافُونَ رَبَّهُم مِّن فَوْقِهِمْ
سمعت الأستاذ أبا علي الدقاق يقول : ( الخوف على مراتب : الخوف ، والخشية ، والهيبة ؛ فالخوف من شرط الإيمان وقضيته ، قال الله تعالى : ﴿ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
والخشية من شرط العلم ، قال الله تعالى : ﴿ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَؤُا
والهيبة من شرط المعرفة ، قال الله تعالى : ﴿ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ﴾
سمعت الشيخ أبا عبد الرحمن السلمي يقول : سمعت محمد بن علي الحيري يقول : سمعت محفوظاً يقول : سمعت أبا حفص يقول : ( الخوف سوط الله ، يقوم به الشاردين عن بابه )
وقال أبو القاسم الحكيم : ( الخوف على ضربين : رهبة ، وخشية ؛ فصاحب الرهبة يلتجئ إلى الهرب إذا خاف )
وَرَهَبَ وَهَرَبَ يَصِحُّ أَنْ يُقَالَ : هُمَا وَاحِدٌ ؛ مِثْلُ : جَذَبَ وَجَبَذَ . فَإِذَا هَرَبَ . . انْجَذَبَ فِي مُقْتَضَى هَوَاهُ ؛ كَالرُّهْبَانِ الَّذِينَ اتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ ، فَإِذَا كَبَحَهُمْ لِجَامُ الْعِلْمِ وَقَامُوا بِحَقِّ الشَّرْعِ . . فَهُوَ الْخَشْيَةُ
Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman: “Mereka berdoa kepada Rabbnya dengan rasa takut dan harap.”
(QS. As-Sajdah: 16)
Telah mengabarkan kepada kami Abu
Bakr Muhammad bin Ahmad bin Abdus Al-Hiri Al-'Adl, ia berkata: Telah
mengabarkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Dalawaih Ad-Daqqaq, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami 'Amir bin Abil Furat, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Al-Mas'udi, dari Muhammad bin Abdurrahman, dari 'Isa bin Talhah,
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk neraka seseorang yang
menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali ke dalam teteknya.
Dan tidak akan berkumpul debu di jalan Allah dengan asap neraka Jahannam dalam
rongga hidung seorang hamba selama-lamanya.”
Telah menceritakan kepada kami Abu
Nu'aim Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim Al-Mahrajani, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Al-Hasan bin
Ash-Syarqi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Hasyim, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id Al-Qatthan, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami
Qatadah, dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku
ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”
Ustadz Abu Al-Qasim berkata: Khaf
(rasa takut) itu maknanya berkaitan dengan masa depan. Sebab, seseorang hanya
takut akan tertimpa sesuatu yang tidak disukai atau kehilangan sesuatu yang
dicintai, dan hal ini tidak terjadi kecuali pada sesuatu yang akan terjadi di
masa depan. Adapun sesuatu yang sedang ada/terjadi saat ini, maka rasa takut
tidak berkaitan dengannya. Dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala
adalah: Rasa takut bahwa Allah akan menghukumnya, baik di dunia maupun di
akhirat.
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta'ala
telah mewajibkan atas para hamba-Nya untuk takut kepada-Nya, Allah berfirman: “Dan
takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali 'Imran:
175), dan Dia berfirman: “Dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut (gentar).”
(QS. Al-Baqarah: 40). Allah juga memuji orang-orang beriman karena memiliki
rasa takut, Dia berfirman: “Mereka takut kepada Rabb mereka yang ada di atas
mereka.” (QS. An-Nahl: 50).
Aku mendengar Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq berkata: (Rasa takut itu memiliki tingkatan: Khauf, Khasyah, dan
Haibah. Khauf adalah syarat dan tuntutan dari iman, Allah Ta'ala berfirman:
“Dan takutlah kepada-Ku jika kamu orang-orang yang beriman.”
Khasyah adalah syarat dari ilmu,
Allah Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang yang berilmu).” (QS. Fathir: 28).
Dan Haibah adalah syarat dari
ma'rifah (pengenalan mendalam kepada Allah), Allah Ta'ala berfirman: “Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap diri-Nya.”
(QS. Ali 'Imran: 28 & 30)).
Aku mendengar Asy-Syaikh Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ali Al-Hiri berkata:
Aku mendengar Mahfuzh berkata: Aku mendengar Abu Hafsh berkata: (Khauf/rasa
takut adalah cambuk Allah yang digunakan untuk meluruskan orang-orang yang lari
dari pintu-Nya).
Dan Abu Al-Qasim Al-Hakim berkata: (Khauf/rasa
takut itu ada dua jenis: Rahbah dan Khasyah. Orang yang memiliki sifat Rahbah
akan berusaha melarikan diri (menjauh) ketika ia merasa takut).
Kata rahiba (takut/takut yang
disertai penghormatan) dan haraba (lari/kabur) dapat dikatakan bermakna
sama; seperti halnya kata jadhaba dan jabadha (menarik/menyeret).
Jika ia lari (haraba), ia
akan terseret oleh tuntutan hawa nafsunya; seperti para rahib yang mengikuti
hawa nafsu mereka. Namun jika kekang ilmu menahan mereka dan mereka menegakkan
hak-hak syariat, maka itulah yang dinamakan khasyyah (rasa takut yang
didasari keagungan ilmu).
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُحَمَّدٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا حَفْصٍ يَقُولُ : (الْخَوْفُ سِرَاجُ الْقَلْبِ، بِهِ يُبْصِرُ مَا فِيهِ مِنَ الْخَيْرِ وَالشَّرِّ)
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ عَلَيْهِ يَقُولُ : (الْخَوْفُ : أَلَّا تُعَلِّلَ نَفْسَكَ بِعَسَى وَسَوْفَ)
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ الدِّمَشْقِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عُمَرَ الدِّمَشْقِيَّ يَقُولُ : (الْخَائِفُ : مَنْ يَخَافُ مِنْ نَفْسِهِ أَكْثَرَ مِمَّا يَخَافُ مِنَ الشَّيْطَانِ)
وَقَالَ ابْنُ الْجَلَّاءِ : (الْخَائِفُ : مَنْ تُؤْمِنُهُ الْمَخُوفَاتُ)
وَقِيلَ : لَيْسَ الْخَائِفُ الَّذِي يَبْكِي وَيَمْسَحُ عَيْنَيْهِ ، إِنَّمَا الْخَائِفُ مَنْ يَتْرُكُ مَا يَخَافُ أَنْ يُعَذَّبَ عَلَيْهِ
وَقِيلَ لِلْفُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ : مَا لَنَا لَا نَرَى خَائِفًا ؟ فَقَالَ : لَوْ كُنْتَ خَائِفًا . . لَرَأَيْتَ الْخَائِفِينَ ، إِنَّ الْخَائِفَ لَا يَرَاهُ إِلَّا الْخَائِفُونَ ، وَإِنَّ الثَّكْلَى هِيَ الَّتِي تُحِبُّ أَنْ تَرَى الثَّكْلَى
وَقَالَ يَحْيَى بْنُ مُعَاذٍ : (مِسْكِينٌ ابْنُ آدَمَ ، لَوْ خَافَ مِنَ النَّارِ كَمَا يَخَافُ مِنَ الْفَقْرِ . . لَدَخَلَ الْجَنَّةَ)
وَقَالَ شَاهُ الْكِرْمَانِيُّ : (عَلَامَةُ الْخَوْفِ : الْحُزْنُ الدَّائِمُ)
وَقَالَ أَبُو الْقَاسِمِ الْحَكِيمُ : (مَنْ خَافَ مِنْ شَيْءٍ . . هَرَبَ مِنْهُ ، وَمَنْ خَافَ اللهَ . . هَرَبَ إِلَيْهِ).
وَسُئِلَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ : مَتَى يَتَيَسَّرُ عَلَى الْعَبْدِ سَبِيلُ الْخَوْفِ ؟ فَقَالَ : إِذَا أَنْزَلَ نَفْسَهُ مَنْزِلَةَ السَّقِيمِ ؛ يَحْتَمِي مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَخَافَةَ طُولِ السَّقَامِ
وَقَالَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ : (إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَطْمَئِنُّ قَلْبُهُ وَلَا تَسْكُنُ رَوْعَتُهُ حَتَّى يُخَلِّفَ جِسْرَ جَهَنَّمَ وَرَاءَهُ)
وَقَالَ بِشْرٌ الْحَافِي : (الْخَوْفُ مَلَكٌ لَا يَسْكُنُ إِلَّا فِي قَلْبِ مُتَّقٍ)
وَقَالَ أَبُو عُثْمَانَ الْجِيرِيُّ : (عَيْبُ الْخَائِفِ فِي خَوْفِهِ السُّكُونُ إِلَى خَوْفِهِ ؛ لِأَنَّهُ أَمْنٌ خَفِيٌّ)
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ : (الْخَوْفُ حِجَابٌ بَيْنَ اللهِ وَبَيْنَ الْعَبْدِ). وَهَذَا اللَّفْظُ فِيهِ إِشْكَالٌ ، وَمَعْنَاهُ : أَنَّ الْخَائِفَ مُطَّلِعٌ لِوَقْتٍ ثَانٍ ، وَأَبْنَاءُ الْوَقْتِ لَا تَطَلُّعَ لَهُمْ لِلْمُسْتَقْبَلِ ، وَحَسَنَاتُ الأَبْرَارِ سَيِّئَاتُ الْمُقَرَّبِينَ
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Abdullah bin Muhammad Ar-Razi berkata: Aku mendengar Abu
Utsman berkata: Aku mendengar Abu Hafsh berkata: "Rasa takut (al-khauf)
adalah pelita hati, dengannya hati dapat melihat kebaikan dan keburukan yang
ada di dalamnya."
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Rasa takut adalah
engkau tidak memanjakan dirimu dengan kata 'semoga' dan 'nanti saja'."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Abu Al-Qasim Ad-Dimasyqi berkata: Aku mendengar Abu Umar
Ad-Dimasyqi berkata: "Orang yang takut adalah orang yang lebih takut
terhadap dirinya sendiri daripada ketakutannya terhadap setan."
Ibnul Jalla berkata: "Orang
yang takut adalah orang yang dikaruniai rasa aman oleh hal-hal yang
menakutkan."
Dan dikatakan: "Bukanlah
orang yang takut itu orang yang menangis lalu mengusap matanya, melainkan orang
yang takut adalah orang yang meninggalkan apa yang ia takuti akan menyebabkan
dirinya diazab."
Dikatakan kepada Fudhayl bin 'Iyadh:
"Mengapa kami tidak melihat orang yang benar-benar takut?"
Beliau menjawab: "Seandainya engkau sendiri orang yang takut, niscaya
engkau akan melihat orang-orang yang takut. Karena orang yang takut tidak dapat
dilihat kecuali oleh sesama orang yang takut. Sungguh, wanita yang kehilangan
anaknya (yang sedang berduka) hanyalah senang melihat wanita lain yang juga
kehilangan anaknya."
Yahya bin Mu'adz berkata: "Kasihan
sekali anak Adam, seandainya ia takut kepada neraka sebagaimana ia takut kepada
kemiskinan, niscaya ia akan masuk surga."
Syah Al-Kirmani berkata: "Tanda
rasa takut adalah kesedihan yang terus-menerus."
Abu Al-Qasim Al-Hakim berkata: "Barangsiapa
takut kepada sesuatu, ia akan lari darinya. Namun barangsiapa takut kepada
Allah, ia akan lari menuju kepada-Nya."
Dzul Nun Al-Misri pernah ditanya: "Kapan
jalan rasa takut menjadi mudah bagi seorang hamba?" Beliau menjawab: "Ketika
ia menempatkan dirinya seperti posisi orang yang sakit; ia menjaga dirinya dari
segala sesuatu karena takut sakitnya berkepanjangan."
Mu'adz bin Jabal berkata: "Sesungguhnya
seorang mukmin hatinya tidak akan tenang dan rasa takutnya tidak akan reda
sampai ia berhasil melewati jembatan Jahanam di belakangnya."
Bishr Al-Hafi berkata: "Rasa
takut adalah malaikat (atau raja) yang tidak akan bertempat tinggal kecuali di
dalam hati orang yang bertakwa."
Abu Utsman Al-Jiri berkata: "Cacat
bagi orang yang takut di dalam rasa takutnya adalah ketika ia merasa nyaman
dengan rasa takutnya itu sendiri; karena hal itu merupakan bentuk rasa aman
yang terselubung."
Al-Wasiti berkata: "Rasa
takut adalah penghalang antara Allah dan hamba-Nya." (Lafaz ini
mengandung persoalan/kesulitan dipahami, dan maknanya adalah: Bahwa orang yang
takut masih berorientasi pada waktu yang akan datang, padahal orang-orang yang
fokus pada waktunya saat ini (ibn al-waqt) tidak sibuk menatap masa depan. Dan
kebaikan orang-orang yang berbuat baik (al-abrar) bisa jadi dianggap sebagai
keburukan bagi orang-orang yang didekatkan (al-muqarrabun)).
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَلِيٍّ النَّهَاوَنْدِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ فَاتِكٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ النَّوَرِيَّ يَقُولُ : (الْخَائِفُ يَهْرُبُ مِنْ رَبِّهِ إِلَى رَبِّهِ)
وَقَالَ بَعْضُهُمْ : عَلَامَةُ الْخَوْفِ : التَّحَيُّرُ عَلَى بَابِ الْغَيْبِ
سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ اللهِ الصُّوفِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَلِيَّ بْنَ إِبْرَاهِيمَ الْعُكْبَرِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الْجُنَيْدَ يَقُولُ وَسُئِلَ عَنِ الْخَوْفِ فَقَالَ : تَوَقُّعُ الْعُقُوبَةِ مَعَ مَجَارِي الأَنْفَاسِ
وَسَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الْحُسَيْنَ بْنَ أَحْمَدَ الصَّفَّارَ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ : سَمِعْتُ هَاشِمَ بْنَ خَالِدٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا سُلَيْمَانَ الدَّارَانِيَّ يَقُولُ : (مَا فَارَقَ الْخَوْفُ قَلْبًا إِلَّا خَرِبَ)
وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ مُحَمَّدٍ ابْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ يَقُولُ : (صِدْقُ الْخَوْفِ : هُوَ الْوَرَعُ عَنِ الآثَامِ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا)
وَقَالَ ذُو النُّونِ : (النَّاسُ عَلَى الطَّرِيقِ مَا لَمْ يَزُلْ عَنْهُمُ الْخَوْفُ ، فَإِذَا زَالَ عَنْهُمُ الْخَوْفُ . . ضَلُّوا عَنِ الطَّرِيقِ)
وَقَالَ حَاتِمٌ الأَصَمُّ : (لِكُلِّ شَيْءٍ زِينَةٌ ، وَزِينَةُ الْعِبَادَةِ : الْخَوْفُ ، وَعَلَامَةُ الْخَوْفِ : قِصَرُ الأَمَلِ)
وَقَالَ رَجُلٌ لِبِشْرٍ الْحَافِي : أَرَاكَ تَخَافُ الْمَوْتَ ؟ فَقَالَ : الْقُدُومُ عَلَى اللهِ شَدِيدٌ
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ عَلَيْهِ يَقُولُ : دَخَلْتُ عَلَى الإِمَامِ أَبِي بَكْرِ ابْنِ فُورَكٍ عَائِدًا ، فَلَمَّا رَآنِي . . دَمِعَتْ عَيْنَاهُ ، فَقُلْتُ لَهُ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُعَافِيكَ وَيَشْفِيكَ ، فَقَالَ لِي : تَرَانِي أَخَافُ مِنَ الْمَوْتِ ؟! إِنَّمَا أَخَافُ مِمَّا وَرَاءَ الْمَوْتِ
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ الأَهْوَازِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ قَالَ : حَدَّثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَمَانٍ ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ مَوْهَبٍ ، عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ؛ ﴿ وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ ﴾ أَهُوَ الرَّجُلُ يَسْرِقُ وَيَزْنِي وَيَشْرَبُ الْخَمْرَ ؟ قَالَ : «لا ، وَلَكِنَّ الرَّجُلَ يَصُومُ وَيُصَلِّي وَيَتَصَدَّقُ وَيَخَافُ أَلَّا يُقْبَلَ مِنْهُ
وَقَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ : (الَّذِي يُهَيِّجُ الْخَوْفَ حَتَّى يَسْكُنَ فِي الْقَلْبِ : دَوَامُ الْمُرَاقَبَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ)
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ بْنَ أَبِي مُوسَى يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ أَحْمَدَ يَقُولُ : حَدَّثَنَا عَلِيٌّ الرَّازِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ ابْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ ذَلِكَ
وَسَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ شَيْبَانَ يَقُولُ : (إِذَا سَكَنَ الْخَوْفُ الْقَلْبَ . . أَحْرَقَ مَوَاضِعَ الشَّهَوَاتِ مِنْهُ ، وَطَرَدَ رَغْبَةَ الدُّنْيَا عَنْهُ)
وَقِيلَ : الْخَوْفُ : قُوَّةُ الْعِلْمِ بِمَجَارِي الأَحْكَامِ . وَقِيلَ : الْخَوْفُ : حَرَكَةُ الْقَلْبِ مِنْ جَلَالِ الرَّبِّ
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ali An-Nahawandi berkata: Aku mendengar
Ibrahim bin Fatik berkata: Aku mendengar An-Nuri berkata: "Orang yang
takut akan lari dari Tuhannya menuju kepada Tuhannya."
Sebagian mereka berkata: "Tanda
rasa takut adalah kebingungan (rasa takjub/takut) di depan pintu gaib."
Aku mendengar Abu Abdullah Ash-Shufi
berkata: Aku mendengar Ali bin Ibrahim Al-'Ukbari berkata: Aku mendengar
Al-Junaid berkata ketika ditanya tentang rasa takut, beliau menjawab: "Selalu
mengantisipasi/menantikan datangnya siksaan pada setiap helaan napas."
Dan aku mendengar Asy-Syaikh Abu
Abdurrahman As-Sulami berkata: Aku mendengar Al-Husain bin Ahmad Ash-Shaffar
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Al-Musayyab berkata: Aku mendengar Hasyim
bin Khalid berkata: Aku mendengar Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Tidaklah
rasa takut berpisah dari suatu hati melainkan hati itu akan hancur/rusak."
Dan aku mendengarnya berkata: Aku
mendengar Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman berkata: Aku mendengar Abu
Utsman berkata: "Kejujuran rasa takut adalah wara' (menjaga diri) dari
dosa-dosa, baik secara lahir maupun batin."
Dzul Nun berkata: "Manusia
akan tetap berada di jalan yang lurus selama rasa takut tidak hilang dari
mereka. Jika rasa takut hilang dari mereka, niscaya mereka akan tersesat dari
jalan itu."
Hatim Al-Asham berkata: "Segala
sesuatu memiliki perhiasan, dan perhiasan ibadah adalah rasa takut, sedangkan
tanda rasa takut adalah pendeknya angan-angan."
Seseorang berkata kepada Bishr
Al-Hafi: "Aku melihatmu begitu takut akan kematian?" Beliau
menjawab: "Menghadap kepada Allah itu adalah hal yang sangat berat/dahsyat."
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq (semoga Allah merahmatinya) berkata: Aku menjenguk Imam Abu Bakr bin
Furak yang sedang sakit. Ketika beliau melihatku, kedua matanya meneteskan air
mata. Maka aku berkata kepadanya: "Sesungguhnya Allah Ta'ala akan
memberikan kesembuhan dan memulihkanmu." Lalu beliau berkata kepadaku:
"Apakah engkau mengira aku takut pada kematian?! Sesungguhnya aku hanya
takut pada apa yang ada di balik kematian itu."
Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Ahmad Al-Ahwazi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid,
ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Utsman, ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim bin Muhammad, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Yaman, dari Malik bin Mighwal, dari
Abdurrahman bin Said bin Mawhab, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia
berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, firman Allah: {Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut...} (QS. Al-Mu'minun: 60), apakah itu tentang orang yang
mencuri, berzina, dan meminum khamar?" Beliau menjawab: "Bukan,
melainkan tentang seseorang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, namun ia
takut ibadahnya tidak diterima darinya."
Ibnul Mubarak berkata: "Hal
yang membangkitkan rasa takut hingga bertempat di dalam hati adalah
kesinambungan rasa diawasi Allah (muraqabah) baik dalam keadaan rahasia maupun
terang-terangan."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Muhammad bin Al-Hasan berkata: Aku mendengar Abu
Al-Qasim bin Abi Musa berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ahmad berkata: Telah
menceritakan kepada kami Ali Ar-Razi, ia berkata: Aku mendengar Ibnul Mubarak
mengatakan hal tersebut.
Dan aku mendengar Muhammad bin
Al-Husain berkata: Aku mendengar Abu Bakr Ar-Razi berkata: Aku mendengar
Ibrahim bin Syaiban berkata: "Jika rasa takut telah bersemayam di dalam
hati, ia akan membakar tempat-tempat syahwat di dalamnya dan mengusir keinginan
terhadap dunia darinya."
Dan dikatakan: Rasa takut adalah
kuatnya pemahaman terhadap berjalannya hukum-hukum Allah. Dan dikatakan
pula: Rasa takut adalah getaran hati karena keagungan Tuhan.
وَقَالَ أَبُو سُلَيْمَانَ [ الدَّارَانِيُّ ] : ( يَنْبَغِي لِلْقَلْبِ أَلَّا يَكُونَ الْغَالِبُ عَلَيْهِ إِلَّا الْخَوْفَ ؛ فَإِنَّهُ إِذَا غَلَبَ الرَّجَاءُ عَلَى الْقَلْبِ . . فَسَدَ الْقَلْبُ ) ، ثُمَّ قَالَ : ( يَا أَحْمَدُ ؛ بِالْخَوْفِ ارْتَفَعُوا ، فَإِنْ ضَيَّعُوهُ . . نَزَلُوا )
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ : ( الْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ زِمَامَانِ عَلَى النُّفُوسِ ؛ لِئَلَّا تَخْرُجَ إِلَى رُعُونَاتِهَا
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ : ( إِذَا ظَهَرَ الْحَقُّ عَلَى السَّرَائِرِ . . لَا يَبْقَى فِيهَا فَضْلَةٌ لِرَجَاءٍ وَلَا لِخَوْفٍ )
قَالَ الأُسْتَاذُ الإِمَامُ أَبُو الْقَاسِمِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : وَهَذَا فِيهِ إِشْكَالٌ ، وَمَعْنَاهُ : إِذَا اصْطَلَمَتْ شَوَاهِدُ الْحَقِّ بِالأَسْرَارِ . . مَلَكَتْهَا ، فَلَا يَبْقَى فِيهَا مَسَاغٌ لِذِكْرِ حَدَثَانٍ ، وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ مِنْ آثَارِ بَقَاءِ الإِحْسَاسِ بِالأَحْكَامِ الْبَشَرِيَّةِ
وَقَالَ الْحُسَيْنُ : ( مَنْ خَافَ مِنْ شَيْءٍ سِوَى اللهِ ، أَوْ رَجَا سِوَاهُ . . أُغْلِقَتْ عَلَيْهِ أَبْوَابُ كُلِّ شَيْءٍ ، وَسُلِّطَ عَلَيْهِ الْمَخَافَةُ ، وَحُجِبَ [ قَلْبُهُ ] بِسَبْعِينَ حِجَابًا أَيْسَرُهَا الشَّكُّ )
وَإِنَّ مِمَّا أَوْجَبَ شِدَّةَ خَوْفِهِمْ : فِكْرَتُهُمْ فِي الْعَوَاقِبِ ، وَخَشْيَةُ تَغَيُّرِ أَحْوَالِهِمْ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ ، وَقَالَ تَعَالَى : ﴿ قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
فَكَمْ مِنْ مَغْبُوطٍ فِي أَحْوَالِهِ انْعَكَسَتْ عَلَيْهِ الْحَالُ ، وَمُنِيَ بِمُقَارَفَةِ قَبِيحِ الأَعْمَالِ ، فَأُبْدِلَ بِالأُنْسِ وَحْشَةً ، وَبِالْحُضُورِ غَيْبَةً
سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ يُنْشِدُ كَثِيرًا : [ من البسيط ] أَحْسَنْتَ ظَنَّكَ بِالأَيَّامِ إِذْ حَسُنَتْ ... وَلَمْ تَخَفْ سُوءَ مَا يَأْتِي بِهِ الْقَدَرُ وَسَالَمَتْكَ اللَّيَالِي فَأْغْتَرَرْتَ بِهَا ... وَعِنْدَ صَفْوِ اللَّيَالِي يَحْدُثُ الْكَدَرُ
سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ خَلَفٍ الْمَغْرِبِيَّ يَقُولُ : كَانَ رَجُلَانِ اصْطَحَبَا فِي الإِرَادَةِ بُرْهَةً مِنَ الزَّمَانِ ، ثُمَّ إِنَّ أَحَدَهُمَا سَافَرَ وَفَارَقَ صَاحِبَهُ ، وَأَتَى عَلَيْهِ مُدَّةٌ وَلَمْ يَسْمَعْ مِنْهُ خَبَرًا ، فَبَيْنَا هَذَا الآخَرُ كَانَ فِي غَزَاةٍ يُقَاتِلُ عَسْكَرَ الرُّومِ . . إِذْ خَرَجَ عَلَى الْمُسْلِمِينَ رَجُلٌ [ مُقَنَّعٌ ] فِي السِّلاحِ يَطْلُبُ الْمُبَارَزَةَ ، فَخَرَجَ إِلَيْهِ مِنْ أَبْطَالِ الْمُسْلِمِينَ وَاحِدٌ ، فَقَتَلَهُ الرُّومِيُّ ، ثُمَّ خَرَجَ آخَرُ فَقَتَلَهُ ، ثُمَّ ثَالِثٌ فَقَتَلَهُ
فَخَرَجَ هَذَا الصُّوفِيُّ وَتَطَارَدَا ، فَحَسَرَ الرُّومِيُّ عَنْ وَجْهِهِ ، فَإِذَا هُوَ صَاحِبُهُ الَّذِي صَحِبَهُ فِي الإِرَادَةِ وَالْعِبَادَةِ سِنِينَ ! فَقَالَ هَذَا لَهُ : أَيُّشِي الْخَبَرُ ؟! فَقَالَ : إِنِّي ارْتَدَدْتُ ، وَخَالَطْتُ الْقَوْمَ ، وَوُلِدَ لِي أَوْلَادٌ ، وَاجْتَمَعَ لِي مَالٌ ، فَقَالَ لَهُ : فَكُنْتَ تَقْرَأُ الْقُرْآنَ بِقِرَاءَاتٍ كَثِيرَةٍ ! فَقَالَ : لَا أَذْكُرُ مِنْهُ حَرْفًا ، فَقَالَ لَهُ هَذَا الصُّوفِيُّ : لَا تَفْعَلْ وَارْجِعْ ، فَقَالَ : لَا أَفْعَلُ ؛ فَلِي فِيهِمْ جَاهٌ وَمَالٌ ، فَانْصَرِفْ أَنْتَ ، وَإِلَّا . . فَعَلْتُ بِكَ مَا فَعَلْتُ بِأُولَئِكَ
فَقَالَ الصُّوفِيُّ : اعْلَمْ أَنَّكَ قَتَلْتَ ثَلَاثَةً مِنَ الْمُسْلِمِينَ ، وَلَيْسَ عَلَيْكَ أَنْفَةٌ فِي الانْصِرَافِ ، فَانْصَرِفْ أَنْتَ وَأَنَا أُمْهِلُكَ ، فَرَجَعَ الرَّجُلُ مُوَلِّيًا ، فَتَبِعَهُ هَذَا الصُّوفِيُّ وَطَعَنَهُ وَقَتَلَهُ
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Sepatutnya
bagi hati untuk tidak didominasi melainkan oleh rasa takut (khauf);
sebab jika rasa harap (raja') lebih mendominasi hati, niscaya hati itu
akan rusak." Kemudian beliau berkata: "Wahai Ahmad, dengan
rasa takutlah mereka naik derajatnya, dan jika mereka menyia-nyiakannya,
niscaya mereka akan jatuh."
Al-Wasiti berkata: "Rasa
takut (khauf) dan rasa harap (raja') adalah dua kendali bagi jiwa
agar ia tidak terperosok ke dalam ketidakpedulian/keliaran nafsunya."
Al-Wasiti juga berkata: "Apabila
kebenaran (Al-Haqq) telah tampak pada lubuk hati yang terdalam, tidak
akan tersisa lagi di dalamnya ruang untuk rasa harap maupun rasa takut."
Ustadz Imam Abu Al-Qasim
(Al-Qusyairi) radhiyallahu 'anhu menjelaskan: Pernyataan ini mengandung
persoalan (sulit dipahami), dan maknanya adalah: Apabila bukti-bukti kebenaran
(Al-Haqq) telah menguasai rahasia-rahasia hati, ia akan menguasainya
secara penuh, sehingga tidak tersisa lagi ruang untuk mengingat hal-hal yang
baru/fana. Padahal rasa takut dan rasa harap itu muncul dari sisa-sisa
kesadaran terhadap hukum-hukum kemanusiaan.
Al-Husain berkata: "Barangsiapa
yang takut kepada sesuatu selain Allah, atau berharap kepada selain-Nya, maka
akan ditutup baginya pintu-pintu segala sesuatu, dipaksakan padanya rasa takut
(kepada makhluk), dan hatinya ditutupi oleh tujuh puluh hijab, yang paling
ringannya adalah keraguan (syak)."
Dan di antara hal yang mewajibkan
besarnya rasa takut mereka (para arifin) adalah: Pemikiran mereka tentang akhir
kesudahan (al-'awaqib) serta ketakutan akan berubahnya keadaan spiritual
mereka. Allah Ta'ala berfirman: "Dan jelasklah bagi mereka azab dari
Allah yang belum pernah mereka perkirakan." (QS. Az-Zumar: 47),
dan Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah: 'Apakah perlu Kami
beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling rugi perbuatannya?' Yaitu
orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini,
sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya."
(QS. Al-Kahfi: 103-104).
Berapa banyak orang yang tadinya
dicemburui karena kebaikan keadaannya, kemudian keadaannya berbalik dan ia
diuji dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk, sehingga keakrabannya
(dengan Allah) berganti menjadi rasa asing/takut, dan kehadiran (hudhur)
berganti menjadi kelalaian (ghaibah)!
Aku mendengar Al-Ustadz Abu Ali
Ad-Daqqaq sering melantunkan bait syair (berirama Al-Basith):
Engkau berprasangka baik pada
hari-hari ketika ia sedang menyenangkan,
Dan engkau tidak takut akan keburukan yang dibawa oleh takdir.
Malam-malam terasa damai bagimu
sehingga engkau terperdaya olehnya,
Padahal justru di saat indahnya malam-malam itulah keruhan tiba-tiba
terjadi.
Aku mendengar Manshur bin Khalaf
Al-Maghribi bercerita: Ada dua orang pria yang saling bersahabat dalam menuntut
jalan spiritual (iradah) dalam kurun waktu yang lama. Kemudian salah
satu dari keduanya bepergian meninggalkan sahabatnya. Berlalu waktu yang lama
dan sahabatnya tidak pernah mendengar kabar darinya. Suatu ketika, sahabat yang
tinggal ini ikut serta dalam pasukan perang melawan tentara Romawi. Tiba-tiba
keluar dari barisan musuh seorang pria Romawi yang tertutup rapat oleh baju
besi menantang duel satu lawan satu.
Seorang pahlawan Muslim maju
menghadapinya, tetapi pria Romawi itu berhasil membunuhnya. Lalu maju pahlawan
Muslim kedua, dan ia pun membunuhnya. Kemudian maju yang ketiga, dan ia pun
berhasil membunuhnya.
Maka keluarlah sufi ini untuk
bertarung menghadapinya. Ketika mereka saling beradu, pria Romawi itu membuka
penutup mukanya. Betapa terkejutnya sang sufi, ternyata dia adalah sahabatnya
sendiri yang dulu pernah bersamanya dalam iradah dan ibadah selama
bertahun-tahun! Sufi ini berkata kepadanya: "Kabar apa ini (apa yang
terjadi padamu)?!" Pria itu menjawab: "Aku telah murtad dan
bergabung dengan kaum ini. Aku telah dikaruniai anak-anak dan mengumpulkan
banyak harta." Sufi itu bertanya lagi: "Bukankah dulu engkau
membaca Al-Qur'an dengan berbagai qira'at?!" Pria itu menjawab: "Aku
tidak ingat lagi satu huruf pun darinya."
Sufi itu berkata: "Jangan
lakukan ini, kembalilah (ke Islam)!" Pria itu menjawab: "Aku
tidak akan kembali. Aku memiliki kedudukan dan harta di antara mereka. Pergilah
engkau, jika tidak... aku akan melakukan kepadamu apa yang telah kulakukan pada
orang-orang sebelummu!"
Sufi itu berkata: "Ketahuilah
bahwa engkau telah membunuh tiga orang Muslim, dan tidak ada cela bagimu jika
engkau berbalik (kembali ke barisanmu). Berbaliklah engkau dan aku akan
memberimu waktu." Pria itu pun berbalik untuk pergi. Saat pria itu
berpaling, sufi tersebut mengikutinya dari belakang, memukulnya dengan
tombak/pedang, dan membunuhnya.
فَبَعْدَ تِلْكَ الْمُجَاهَدَاتِ وَمُقَانَاةِ تِلْكَ الرِّيَاضَاتِ قُتِلَ عَلَى النَّصْرَانِيَّةِ
وَقِيلَ : لَمَّا ظَهَرَ عَلَى إِبْلِيسَ مَا ظَهَرَ . . طَفِقَ جِبْرِيلُ وَمِيكَائِيلُ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ يَبْكِيَانِ زَمَانًا طَوِيلًا ، فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَيْهِمَا : مَا لَكُمَا تَبْكِيَانِ كُلَّ هَذَا الْبُكَاءَ ؟ فَقَالَا : يَا رَبِّ ؛ لَا نَأْمَنُ مَكْرَكَ ، فَقَالَ اللهُ تَعَالَى : هَكَذَا كُونَا ، لَا تَأْمَنَا مَكْرِي
وُحُكِيَ عَنِ السَّرِيِّ السَّقَطِيِّ أَنَّهُ قَالَ : ( إِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَى أَنْفِي فِي الْيَوْمِ كَذَا وَكَذَا مَرَّةً مَخَافَةَ أَنْ يَكُونَ قَدِ اسْوَدَّ ؛ لِمَا أَخَافُهُ مِنَ الْعُقُوبَةِ )
وَقَالَ أَبُو حَفْصٍ : ( مُنْذُ أَرْبَعِينَ سَنَةً اعْتِقَادِي فِي نَفْسِي أَنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْظُرُ إِلَيَّ نَظَرَ السَّخَطِ ، وَأَعْمَالِي تَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ )
وَقَالَ حَاتِمٌ الأَصَمُّ : ( لَا تَغْتَرَّ بِمَوْضِعٍ صَالِحٍ ؛ فَلَا مَكَانَ أَصْلَحُ مِنَ الْجَنَّةِ وَلَقِيَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِيهَا مَا لَقِيَ ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْعِبَادَةِ ؛ فَإِنَّ إِبْلِيسَ بَعْدَ طُولِ تَعَبُّدِهِ . لَقِيَ مَا لَقِيَ ، وَلَا تَغْتَرَّ بِكَثْرَةِ الْعِلْمِ ؛ فَإِنَّ بَلْعَامَ كَانَ يُحْسِنُ اسْمَ اللهِ الأَعْظَمَ ، فَانْظُرْ مَا لَقِيَ ، وَلَا تَغْتَرَّ بِرُؤْيَةِ الصَّالِحِينَ ؛ فَلَا شَخْصٌ أَكْبَرُ [ قَدْرًا ] مِنَ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَنْتَفِعْ بِلِقَائِهِ أَقَارِبُهُ وَأَعْدَاؤُهُ )
وَخَرَجَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يَوْمًا عَلَى أَصْحَابِهِ فَقَالَ : ( إِنِّي قَدِ اجْتَرَأْتُ الْبَارِحَةَ عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ ؛ سَأَلْتُهُ الْجَنَّةَ ! )
وَقِيلَ : خَرَجَ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَمَعَهُ صَالِحٌ مِنْ صَالِحِي بَنِي إِسْرَائِيلَ ، فَتَبِعَهُمَا رَجُلٌ خَاطِئٌ مَشْهُورٌ بِالْفِسْقِ فِيهِمْ ، فَقَعَدَ مُنْتَبِذًا عَنْهُمَا مُنْكَسِرًا ، فَدَعَا اللهَ سُبْحَانَهُ وَقَالَ : اللَّهُمَّ ؛ اغْفِرْ لِي ، وَدَعَا هَذَا الصَّالِحُ وَقَالَ : اللَّهُمَّ ؛ لَا تَجْمَعْ غَدًا بَيْنِي وَبَيْنَ ذَلِكَ الْعَاصِي
فَأَوْحَى اللهُ تَعَالَى إِلَى عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : إِنِّي قَدِ اسْتَجَبْتُ دُعَاءَهُمَا جَمِيعًا ؛ رَدَدْتُ ذَلِكَ الصَّالِحَ ، وَغَفَرْتُ لِذَلِكَ الْمُجْرِمِ
وَقَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ : قُلْتُ لِعُلَيْمٍ : لِمَ سُمِّيتَ مَجْنُونًا ؟ قَالَ : لَمَّا طَالَ حَبْسِي عَنْهُ . . صِرْتُ مَجْنُونًا لِخَوْفِ فِرَاقِهِ
وَفِي مَعْنَاهُ أَنْشَدُوا : لَوْ أَنَّ مَا بِي عَلَى صَخْرٍ لَأَنَحَلَهُ ... فَكَيْفَ يَحْمِلُهُ خَلْقٌ مِنَ الطِّينِ
وَقَالَ بَعْضُهُمْ : مَا رَأَيْتُ رَجُلًا أَعْظَمَ رَجَاءً لِهَذِهِ الأُمَّةِ وَلَا أَشَدَّ خَوْفًا عَلَى نَفْسِهِ . . مِنْ ابْنِ سِيرِينَ
وَقِيلَ : مَرِضَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ ، فَعُرِضَ دَلِيلُهُ عَلَى الطَّبِيبِ ، فَقَالَ : هَذَا رَجُلٌ قَطَعَ الْخَوْفُ كَبِدَهُ ، ثُمَّ جَاءَ وَجَسَّ عِرْقَهُ ، ثُمَّ قَالَ : مَا عَلِمْتُ أَنَّ فِي الْحَنِيفِيَّةِ مِثْلَهُ
وَسُئِلَ الشِّبْلِيُّ : لِمَ تَصْفَرُّ الشَّمْسُ عِنْدَ الْغُرُوبِ ؟ فَقَالَ : لِأَنَّهَا عُزِلَتْ عَنْ مَكَانِ التَّمَامِ ، فَاصْفَرَّتْ لِخَوْفِ الْمَقَامِ ، وَكَذَا الْمُؤْمِنُ إِذَا قَارَبَ خُرُوجُهُ مِنَ الدُّنْيَا . . اصْفَرَّ لَوْنُهُ ؛ لِأَنَّهُ يَخَافُ الْمَقَامَ ، فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ . . طَلَعَتْ مُضِيئَةً ، كَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ إِذَا بُعِثَ مِنْ قَبْرِهِ . . خَرَجَ وَوَجْهُهُ يُشْرِقُ
وَيُحْكَى عَنْ أَحْمَدَ ابْنِ حَنْبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ : سَأَلْتُ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَفْتَحَ عَلَيَّ بَابًا مِنَ الْخَوْفِ ، فَفُتِحَ ، فَخِفْتُ عَلَى عَقْلِي ، فَقُلْتُ : يَا رَبِّ ؛ عَلَى قَدْرِ مَا أَطِيقُ ، فَسَكَنَ ذَلِكَ
Maka setelah berbagai perjuangan (mujahadah)
dan beban riyadhah spiritual tersebut, ia mati terbunuh dalam keadaan membawa
agama Nasrani!
Dan dikatakan: Ketika tampak pada
iblis apa yang tampak (kejatuhan/laknat baginya), Malaikat Jibril dan Mikail 'alaihimas
salam menangis dalam waktu yang sangat lama. Lalu Allah Ta'ala mewahyukan
kepada keduanya: "Mengapa kalian berdua menangis sejadi-jadinya seperti
ini?" Keduanya menjawab: "Wahai Tuhan kami, kami tidak merasa
aman dari makr (rencana/ketetapan)-Mu." Maka Allah Ta'ala berfirman: "Begitulah
hendaknya kalian berdua, janganlah merasa aman dari makr-Ku."
Dikisahkan dari As-Sari As-Saqathi
bahwa beliau berkata: "Sungguh aku melihat hidungku dalam sehari
beberapa kali karena takut warnanya telah berubah menjadi hitam; akibat siksaan
yang aku takuti."
Abu Hafsh berkata: "Sejak
empat puluh tahun lalu, prasangka terhadap diriku sendiri adalah bahwa Allah
Ta'ala memandangku dengan pandangan murka, dan amal-amalku menunjukkan hal
itu."
Hatim Al-Asham berkata: "Janganlah
engkau terperdaya oleh tempat yang shaleh; sebab tidak ada tempat yang lebih
shaleh daripada surga, namun Nabi Adam 'alaihissalam mengalami apa yang beliau
alami di dalamnya. Dan janganlah engkau terperdaya oleh banyaknya ibadah; sebab
iblis setelah lama beribadah... ia mengalami apa yang ia alami. Dan janganlah
engkau terperdaya oleh banyaknya ilmu; sebab Bal'am dahulu menguasai Ismullah
Al-A'zham (Nama Allah yang Agung), maka lihatlah apa yang dialaminya. Dan
jangan pula engkau terperdaya karena melihat/bersama orang-orang shaleh; sebab
tidak ada seorang pun yang lebih agung derajatnya daripada Al-Musthafa (Nabi
Muhammad) shallallahu 'alaihi wa sallam, namun perjumpaan dengan beliau tidak
memberi manfaat bagi kerabat-kerabatnya (yang kafir) maupun
musuh-musuhnya."
Ibnul Mubarak suatu hari keluar
menemui sahabat-sahabatnya lalu berkata: "Sesungguhnya tadi malam aku
telah berani/berkurang ajar kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala; aku meminta surga
kepada-Nya!"
Dikatakan: Nabi Isa 'alaihissalam
pernah berjalan bersama seorang shaleh dari kalangan Bani Israil. Lalu ada
seorang pria pelaku dosa yang terkenal dengan kefasikannya mengikut mereka dari
belakang. Pria itu kemudian duduk menyendiri dari mereka berdua dengan hati
yang hancur dan Penuh penyesalan, lalu ia berdoa kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala: "Ya Allah, ampunilah aku." Sementara si orang shaleh
berdoa: "Ya Allah, jangan Engkau kumpulkan aku dengan si pemaksiat itu
besok (di akhirat)."
Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada
Nabi Isa 'alaihissalam: "Aku telah mengabulkan doa mereka berdua
sekaligus; Aku menolak (pahalanya) si orang shaleh itu, dan Aku mengampuni si
pelaku dosa tersebut."
Dzul Nun Al-Misri berkata: Aku
bertanya kepada 'Ulaim: "Mengapa engkau dinamakan orang gila?"
Ia menjawab: "Ketika penahananku jauh dari-Nya begitu lama... aku
menjadi gila karena takut berpisah dengan-Nya."
Mengenai makna ini, mereka
melantunkan syair :
Seandainya penderitaan yang
kurasakan ini ditimpakan pada batu karang, niscaya ia akan hancur lebur, Maka bagaimana mungkin makhluk yang diciptakan dari
tanah liat ini sanggup menanggungnya?
Sebagian mereka berkata: "Aku
tidak pernah melihat seorang pria yang lebih besar rasa harapnya (raja')
untuk umat ini, dan tidak ada yang lebih keras rasa takutnya (khauf)
atas dirinya sendiri... melebihi Ibn Sirin."
Dikatakan: Sufyan Ats-Tsauri jatuh
sakit, lalu spesimen (sampel tes urine/kondisinya) diperlihatkan kepada seorang
dokter. Dokter itu berkata: "Ini adalah pria yang organ hatinya telah
terpotong-potong oleh rasa takut (kepada Allah)." Kemudian dokter itu
datang dan memegang urat nadinya, lalu berkata: "Aku tidak pernah tahu
ada orang seperti ini dalam agama yang lurus ini."
Asy-Syibli pernah ditanya: "Mengapa
matahari tampak menguning saat tenggelam?" Beliau menjawab: "Karena
ia dilengserkan dari kedudukan sempurnanya, maka ia menguning karena takut akan
posisinya. Demikian pula seorang mukmin ketika sudah mendekati saat keluar dari
dunia... warnanya memucat/menguning karena takut akan posisinya (di hadapan
Allah). Namun ketika matahari terbit... ia terbit dengan memancarkan cahaya,
demikian pula seorang mukmin jika dibangkitkan dari kuburnya... ia keluar
dengan wajah yang bersinar cerah."
Dikisahkan dari Ahmad bin Hanbal radhiyallahu
'anhu bahwa beliau berkata: "Aku memohon kepada Tuhanku 'Azza wa
Jalla agar membukakan untukku satu pintu rasa takut, lalu dibukakan. Namun aku
merasa takut akan keselamatan akalku, maka aku berdoa: 'Wahai Tuhanku,
bukakanlah sesuai kadar yang sanggup kutanggung.' Maka rasa takut itu pun
mereda."