بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
الرسالة القشيرية
8. Bab Takwa
بابُ التَّقْوَى
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ بْنِ جَابِرٍ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى النَّرْسِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ الْقُمِّيُّ ، عَنْ لَيْثٍ ، عَنْ مُجَاهِدٍ ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : يَا نَبِيَّ اللَّهِ ؛ أَوْصِنِي ، فَقَالَ : « عَلَيْكَ بِتَقْوَى اللَّهِ ؛ فَإِنَّهُ جُمَاعُ كُلِّ خَيْرٍ ، وَعَلَيْكَ بِالْجِهَادِ ؛ فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ الْمُسْلِمِ ، وَعَلَيْكَ بِذِكْرِ اللَّهِ ؛ فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ
وَأَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ : حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ الأَسْفَاطِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا أَحْمَدُ ابْنُ يُونُسَ قَالَ : حَدَّثَنَا أَبُو هُرْمُزَ نَافِعُ بْنُ هُرْمُزَ قَالَ : سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ : قِيلَ : يَا مُحَمَّدُ ؛ مَنْ آلُ مُحَمَّدٍ ؟ قَالَ : « كُلُّ تَقِيٍّ
قَالَ الأُسْتَاذُ الإِمَامُ : التَّقْوَى جِمَاعُ الْخَيْرَاتِ
وَحَقِيقَةُ الاتِّقَاءِ : التَّحَرُّزُ بِطَاعَةِ اللَّهِ تَعَالَى عَنْ عُقُوبَتِهِ ، يُقَالُ : اتَّقَى فُلاَنٌ بِتُرْسِهِ
وَأَصْلُ التَّقْوَى : اتِّقَاءُ الشِّرْكِ ، ثُمَّ بَعْدَهُ اتِّقَاءُ الْمَعَاصِي وَالسَّيِّئَاتِ ، ثُمَّ بَعْدَهُ اتِّقَاءُ الشُّبُهَاتِ ، ثُمَّ يَدَعُ بَعْدَهُ الْفُضُولاَتِ ، كَذَلِكَ سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ رَحِمَهُ اللَّهُ يَقُولُ ، وَلِكُلِّ قِسْمٍ مِنْ ذَلِكَ بَابٌ
وَجَاءَ فِي تَفْسِيرِ قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى : ﴿ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ﴾ : أَنْ يُطَاعَ فَلاَ يُعْصَى ، وَيُذْكَرَ فَلاَ يُنْسَى ، وَيُشْكَرَ فَلاَ يُكْفَرَ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ عَلِيِّ بْنِ جَعْفَرٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ ابْنَ عَصَّامٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ : ( لاَ مُعِينَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَلاَ دَلِيلَ إِلاَّ رَسُولُ اللَّهِ ، وَلاَ زَادَ إِلاَّ التَّقْوَى ، وَلاَ عَمَلَ إِلاَّ الصَّبْرُ عَلَيْهِ )
وَبِسَنَدِهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الْكَتَّانِيَّ يَقُولُ : ( قُسِّمَتِ الدُّنْيَا عَلَى الْبَلْوَى ، وَقُسِّمَتِ الْجَنَّةُ عَلَى التَّقْوَى )
وَبِسَنَدِهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ الْجُرَيْرِيَّ يَقُولُ : ( مَنْ لَمْ يُحْكِمْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ التَّقْوَى وَالْمُرَاقَبَةَ . . لَمْ يَصِلْ إِلَى الْكَشْفِ وَالْمُشَاهَدَةِ )
Allah Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling
bertakwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Telah mengabarkan kepada kami Abu
al-Hasan Ali bin Ahmad bin Abdan, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami
Ahmad bin Ubaid al-Saffar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad
bin al-Fadhl bin Jabir, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul A'la
al-Narsi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ya'qub al-Qummi, dari
Laits, dari Mujahid, dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia
berkata:
Seorang laki-laki datang kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Wahai Nabiyullah,
berilah aku wasiat." Maka Nabi bersabda: "Hendaklah engkau
bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah himpunan segala kebaikan. Dan
hendaklah engkau berjihad, karena jihad adalah kerahiban (bentuk penyucian
diri) seorang muslim. Serta hendaklah engkau berzikir kepada Allah, karena
zikir adalah cahaya bagimu."
Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Ahmad bin Abdan, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid,
ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abbas bin al-Fadhl al-Asfathi, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Abu Hormuz Nafii' bin Hormuz, ia berkata: Aku
mendengar Anas berkata: Ditanyakan kepada Nabi: "Wahai Muhammad, siapakah
keluarga Muhammad (aal Muhammad)?" Beliau menjawab: "Setiap
orang yang bertakwa."
Al-Ustadz Al-Imam berkata: Takwa
adalah himpunan (muara) dari seluruh kebaikan.
Hakikat dari al-ittiqaa'
(perlindungan/takwa) adalah: membentengi diri dengan ketaatan kepada Allah
Ta'ala dari siksa-Nya. Sebagaimana dikatakan: "Fulan
berlindung/bertakwa dengan perisainya."
Tingkatan Dasar Takwa:
- Menjauhi syirik,
- Kemudian menjauhi kemaksiatan dan keburukan,
- Kemudian menjauhi hal-hal yang syubhat (samar),
- Dan setelah itu meninggalkan hal-hal yang berlebihan (fadhulat
/ tidak berguna).
Demikianlah aku mendengar Al-Ustadz
Abu Ali rahimahullah berkata, dan setiap tingkatan tersebut memiliki
pembahasannya tersendiri.
Diriwayatkan dalam tafsir firman
Allah Ta'ala: “Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa
kepada-Nya” (QS. Ali 'Imran: 102), maknanya adalah: Allah ditaati dan
tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak
dikufuri.
Aku mendengar Al-Syaikh Abu
Abdurrahman Al-Sulami berkata: Aku mendengar Ahmad bin Ali bin Ja'far berkata:
Aku mendengar Ibn Ashsham berkata: Aku mendengar Sahl bin Abdullah berkata:
"Tidak ada penolong selain Allah,
tidak ada petunjuk jalan selain Rasulullah, tidak ada bekal selain takwa, dan
tidak ada amal kecuali dengan bersabar di atasnya."
Dan dengan sanadnya ia berkata: Aku
mendengar Abu Bakr Al-Razi berkata: Aku mendengar Al-Kattani berkata:
"Dunia dibagikan atas dasar
ujian/cobaan, sedangkan surga dibagikan atas dasar takwa."
Dan dengan sanadnya ia berkata: Aku
mendengar Abu Bakr Al-Razi berkata: Aku mendengar Al-Jurairi berkata:
"Barang siapa yang tidak
mengokohkan antara dirinya dan Allah dengan takwa serta muraqabah (perasaan
selalu diawasi Allah)... niscaya ia tidak akan pernah sampai pada derajat
kasyaf dan musyahadah (penyingkapan rahasia spiritual dan penyaksian mata
hati)."
وَقَالَ النَّصْرَابَاذِيُّ : ( التَّقْوَى : أَنْ يَتَّقِيَ الْعَبْدُ مَا سِوَاهُ تَعَالَى
وَقَالَ سَهْلٌ : ( مَنْ أَرَادَ أَنْ تَصِحَّ لَهُ التَّقْوَى . . فَلْيَتْرُكِ الذُّنُوبَ كُلَّهَا )
وَقَالَ النَّصْرَابَاذِيُّ : ( مَنْ لَزِمَ التَّقْوَى . . اشْتَاقَ إِلَى مُفَارَقَةِ الدُّنْيَا ؛ لأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ : ﴿ وَلَلَّدَارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ﴾ )
وَقَالَ بَعْضُهُمْ : ( مَنْ تَحَقَّقَ فِي التَّقْوَى . . هَوَّنَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ الإِعْرَاضَ عَنِ الدُّنْيَا
وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الرَّوْذَبَارِيُّ : ( التَّقْوَى : مُجَانَبَةُ مَا يُبْعِدُكَ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ )
وَقَالَ ذُو النُّونِ الْمِصْرِيُّ : ( التَّقِيُّ : مَنْ لاَ يَدَنِّسُ ظَاهِرَهُ بِالْمُعَارَضَاتِ ، وَلاَ بَاطِنَهُ بِالْعِلاَلاَتِ ، وَيَكُونُ وَاقِفًا مَعَ اللَّهِ تَعَالَى مَوْقِفَ الاتِّفَاقِ )
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْحُسَيْنِ الْفَارِسِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ ابْنَ عَطَاءٍ يَقُولُ : ( لِلتَّقْوَى ظَاهِرٌ وَبَاطِنٌ ؛ فَظَاهِرُهُ : مُحَافَظَةُ الْحُدُودِ ، وَبَاطِنُهُ : النِّيَّةُ وَالإِخْلاَصُ )
وَقَالَ ذُو النُّونِ : [ من الطويل ] وَلَا عَيْشَ إِلَّا مَعْ رِجَالٍ قُلُوبُهُمْ ... تَحِنُّ إِلَى التَّقْوَى وَتَرْتَاحُ بِالذِّكْرِ سُكُونٌ إِلَى رَوْحِ الْحَيَاةِ وَطِيبِهِ ... كَمَا سَكَنَ الطِّفْلُ الرَّضِيعُ إِلَى الْحِجْرِ
وَقِيلَ : يُسْتَدَلُّ عَلَى تَقْوَى الرَّجُلِ بِثَلاَثٍ : بِحُسْنِ التَّوَكُّلِ فِيمَا لَمْ يَنَلْ ، وَحُسْنِ الرِّضَا فِيمَا قَدْ نَالَ ، وَحُسْنِ الصَّبْرِ عَلَى مَا قَدْ فَاتَ
وَقَالَ طَلْقُ بْنُ حَبِيبٍ : ( التَّقْوَى : عَمَلٌ بِطَاعَةِ اللَّهِ ، عَلَى نُورٍ مِنَ اللَّهِ ؛ مَخَافَةَ عِقَابِ اللَّهِ )
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْفَرَّاءِ يَحْكِي عَنْ أَبِي حَفْصٍ أَنَّهُ قَالَ : ( التَّقْوَى فِي الْحَلاَلِ الْمَحْضِ لاَ غَيْرُ )
وَبِسَنَدِهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الرَّازِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْحُسَيْنِ الزَّنْجَانِيَّ يَقُولُ : ( مَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ التَّقْوَى . . كَلَّتِ الأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ رِبْحِهِ )
وَقَالَ الْوَاسِطِيُّ : ( التَّقْوَى : أَنْ يَتَّقِيَ مِنْ تَقْوَاهُ ) ؛ يَعْنِي : مِنْ رُؤْيَةِ تَقْوَاهُ
An-Nasrabadzi berkata: "Takwa
adalah ketika seorang hamba menjauhi/membentengi diri dari segala sesuatu
selain Allah Ta'ala."
Sahl berkata: "Barang siapa
yang ingin takwanya benar-benar sah (lurus)... maka hendaklah ia meninggalkan
seluruh dosa."
An-Nasrabadzi berkata: "Barang
siapa yang senantiasa memegang teguh takwa... ia akan rindu untuk berpisah
dengan dunia (meninggalkan dunia); karena Allah Ta'ala berfirman: 'Dan sungguh
kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa'." (QS.
Al-An'am: 32 / Al-A'raf: 169)
Sebagian ulama berkata: "Barang
siapa yang benar-benar meresapi hakikat takwa... Allah akan mempermudah hatinya
untuk berpaling (berzuhud) dari dunia."
Abu Abdullah Ar-Rauzhabari berkata: "Takwa
adalah menjauhi segala sesuatu yang menjauhkanmu dari Allah 'Azza wa
Jalla."
Dzun Nun Al-Mishri berkata: "Orang
yang bertakwa adalah orang yang tidak mengotori lahiriahnya dengan penentangan
(terhadap hukum Allah), tidak mengotori batinnya dengan kecacatan/alasan
(kesalahan niat), dan ia selalu berdiri bersanding dengan Allah Ta'ala dalam
posisi persetujuan (penerimaan atas kehendak-Nya)."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Abu Al-Husain Al-Farisi berkata: Aku mendengar Ibn 'Atha
berkata: "Takwa itu memiliki lahir dan batin; lahirnya adalah menjaga
batasan-batasan hukum Allah, sedangkan batinnya adalah niat dan
keikhlasan."
Dzun Nun juga berkata dalam syairnya
(Bahr Ath-Thawil):
Tidak ada nikmatnya kehidupan
kecuali bersama orang-orang yang hatinya...
Selalu merindukan takwa dan merasa tenteram dengan berzikir. Ketenangan
mereka menuju rahmat dan kebaikan hidup... Bagaikan tenang dan nyamannya
bayi susuan berada di pangkuan ibunya.
Dikatakan pula: "Ketakwaan
seseorang dapat ditunjukkan melalui tiga perkara: pasrah (tawakal) dengan baik
terhadap apa yang belum ia dapatkan, ridha dengan baik atas apa yang telah ia
dapatkan, dan bersabar dengan baik atas apa yang telah luput/hilang
darinya."
Thalath bin Habib berkata: "Takwa
adalah beramal dalam ketaatan kepada Allah, di atas cahaya (petunjuk) dari
Allah, karena takut akan siksaan Allah."
Aku mendengar Al-Syaikh Abu
Abdurrahman berkata: Aku mendengar Muhammad bin Al-Farra' menceritakan dari Abu
Hafsh bahwasanya ia berkata: "Takwa itu hanya ada pada hal-hal yang
benar-benar halal murni, tidak ada yang lainnya."
Dan dengan sanadnya ia berkata: Aku
mendengar Abu Bakr Al-Razi berkata: Aku mendengar Abu Al-Husain Al-Zanjani
berkata: "Barang siapa yang modal utamanya adalah takwa... maka
lidah-lidah akan kelu (tak sanggup) menggambarkan besarnya keuntungan yang ia
dapatkan."
Al-Wasithi berkata: "Takwa
adalah bertakwa dari takwanya sendiri"; maksudnya adalah: membentengi
diri dari perasaan ujub atau melihat/merasa bangga atas takwa yang telah ia
lakukan.
وَالْمُتَّقِي مِثْلُ ابْنِ سِيرِينَ ؛ اشْتَرَى أَرْبَعِينَ حُبًّا سَمْنًا ، فَأَخْرَجَ غُلَامُهُ فَأَرَةً مِنْ حُبٍّ ، فَسَأَلَهُ : مِنْ أَيِّ حُبٍّ أَخْرَجْتَهَا ؟ فَقَالَ : لَا أَدْرِي ، فَصَبَّهَا كُلَّهَا وَمِثْلُ أَبِي يَزِيدَ ؛ اشْتَرَى بِهَمَذَانَ حَبَّ الْقِرْطِمِ ، فَفَضَلَ مِنْهُ شَيْءٌ ، فَلَمَّا رَجَعَ إِلَى بِسْطَامَ . . رَأَى فِيهِ نَمْلَتَيْنِ ، فَرَجَعَ إِلَى هَمَذَانَ وَوَضَعَ النَّمْلَتَيْنِ
وَيُحْكَى أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ كَانَ لَا يَجْلِسُ فِي ظِلِّ شَجَرَةِ غَرِيمِهِ ، وَيَقُولُ : فِي الْخَبَرِ : « كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا . . فَهُوَ رِبًا
وَقِيلَ : إِنَّ أَبَا يَزِيدَ غَسَلَ ثَوْبَهُ فِي الصَّحْرَاءِ مَعَ صَاحِبٍ لَهُ ، فَقَالَ صَاحِبُهُ : نُعَلِّقُ الثِّيَابَ مِنْ جُدْرَانِ الْكُرُومِ ؟ فَقَالَ : لَا نَغْرِزُ الْوَتِدَ فِي جِدَارِ النَّاسِ ، فَقَالَ : نُعَلِّقُهُ مِنَ الشَّجَرِ ؟ فَقَالَ : لَا ؛ إِنَّهُ يَكْسِرُ الْأَغْصَانَ ، فَقَالَ : نَبْسُطُهُ عَلَى الْإِذْخِرِ ؟ فَقَالَ : لَا ؛ إِنَّهُ عَلَفُ الدَّوَابِّ لَا نَسْتُرُهُ عَنْهَا
فَوَلَّى ظَهْرَهُ إِلَى الشَّمْسِ وَالْقَمِيصُ عَلَى ظَهْرِهِ حَتَّى جَفَّ جَانِبٌ ، ثُمَّ قَلَبَهُ حَتَّى جَفَّ الْجَانِبُ الْآخَرُ
وَقِيلَ : إِنَّ أَبَا يَزِيدَ دَخَلَ يَوْمًا الْجَامِعَ ، فَغَرَزَ عَصَاهُ فِي الْأَرْضِ ، فَسَقَطَتْ وَوَقَعَتْ عَلَى عَصَا شَيْخٍ بِجَنْبِهِ رَكَزَ عَصَاهُ فِي الْأَرْضِ ، فَانْحَنَى الشَّيْخُ وَأَخَذَ عَصَاهُ ، فَمَضَى أَبُو يَزِيدَ إِلَى بَيْتِ الشَّيْخِ وَاسْتَحَلَّهُ وَقَالَ : كَانَ السَّبَبُ فِي انْحِنَائِكَ تَفْرِيطِي فِي غَرْزِ عَصَايَ
وَرُؤِيَ عُتْبَةُ الْغُلَامُ يَتَصَبَّبُ عَرَقًا فِي الشِّتَاءِ ، فَقِيلَ لَهُ فِي ذَلِكَ ، فَقَالَ : إِنَّهُ مَكَانٌ عَصَيْتُ فِيهِ رَبِّي ، فَسُئِلَ عَنْهُ ، فَقَالَ : كَشَطْتُ مِنْ هَذَا الْجِدَارِ قِطْعَةَ طِينٍ غَسَلْتُ بِهَا ضَيْفٌ لِي يَدَهُ وَلَمْ أَسْتَحِلَّ صَاحِبَهُ
وَقَالَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ : بِتُّ لَيْلَةً تَحْتَ الصَّخْرَةِ بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ ، فَلَمَّا كَانَ بَعْضُ اللَّيْلِ . . نَزَلَ مَلَكَانِ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ : مَنْ هَا هُنَا ؟ فَقَالَ الْآخَرُ : إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ ، فَقَالَ : ذَاكَ الَّذِي حَطَّ اللَّهُ دَرَجَةً مِنْ دَرَجَاتِهِ ، فَقَالَ : لِمَ ؟ قَالَ : لِأَنَّهُ اشْتَرَى بِالْبَصْرَةِ التَّمْرَ ، فَوَقَعَتْ تَمْرَةٌ مِنْ تَمْرِ الْبَقَّالِ عَلَى تَمْرِهِ ، فَأَخَذَهَا وَلَمْ يَرُدَّهَا عَلَى صَاحِبِهَا
قَالَ إِبْرَاهِيمُ : فَمَضَيْتُ إِلَى الْبَصْرَةِ ، وَاشْتَرَيْتُ التَّمْرَ مِنْ ذَلِكَ الرَّجُلِ ، وَأَوْقَعْتُ تَمْرَةً عَلَى تَمْرِهِ ، وَرَجَعْتُ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ ، وَبِتُّ فِي الصَّخْرَةِ ، فَلَمَّا كَانَ بَعْضُ اللَّيْلِ . . إِذَا أَنَا بِمَلَكَيْنِ نَزَلَا مِنَ السَّمَاءِ ، فَقَالَ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ : مَنْ هَا هُنَا ؟ فَقَالَ الْآخَرُ : إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَدْهَمَ ، فَقَالَ : ذَلِكَ الَّذِي رُدَّ الشَّيْءُ مَكَانَهُ وَرُفِعَتْ دَرَجَتُهُ
Dan orang yang bertakwa itu seperti
Ibn Sirin: Ia membeli 40 tempayan minyak samin, lalu pelayannya mengeluarkan
seekor bangkai tikus dari salah satu tempayan. Ibn Sirin bertanya: "Dari
tempayan mana engkau mengeluarkannya?" Pelayannya menjawab: "Aku
tidak tahu." Maka Ibn Sirin menuang (membuang) seluruh minyak dari 40
tempayan tersebut.
Dan seperti Abu Yazid: Ia membeli
benih qirthim (safflower) di Hamadzan. Ketika ada sedikit sisanya dan ia
telah kembali ke Bistham... ia melihat ada dua ekor semut di dalamnya. Maka ia
pun kembali lagi ke Hamadzan hanya untuk mengembalikan kedua ekor semut
tersebut ke tempat asalnya.
Diceritakan pula bahwa Abu Hanifah
tidak mau berteduh di bawah bayangan pohon milik orang yang berutang kepadanya
(debiturnya), dan ia berkata: Disebutkan dalam hadis: “Setiap piutang yang
menarik/memberikan manfaat... maka itu adalah riba.”
Dikatakan bahwa Abu Yazid pernah
mencuci bajunya di padang pasir bersama temannya. Temannya berkata:
"Bolehkah kita menggantungkan baju ini di dinding kebun kurma?" Abu
Yazid menjawab: "Jangan, kita tidak boleh menancapkan pasak di dinding
milik orang lain." Temannya bertanya lagi: "Bagaimana kalau kita
gantungkan di pohon?" Ia menjawab: "Tidak, karena itu bisa mematahkan
rantingnya." Temannya berkata: "Bagaimana jika kita bentangkan di
atas rumput izkhir?" Ia menjawab: "Tidak, karena itu adalah pakan
ternak, kita tidak boleh menutupinya."
Maka Abu Yazid membelakangi matahari
dan mengenakan kemeja itu di punggungnya hingga satu sisinya kering, lalu
membaliknya hingga sisi lainnya ikut kering.
Dikatakan juga bahwa Abu Yazid suatu
hari masuk ke masjid jami', lalu ia menancapkan tongkatnya di tanah. Tongkatnya
jatuh dan mengenai tongkat seorang syekh di sampingnya yang juga menancapkan
tongkatnya. Syekh itu pun membungkuk untuk mengambil tongkatnya. Maka Abu Yazid
mendatangi rumah syekh tersebut untuk meminta maaf/kehalalan, seraya berkata:
"Penyebab engkau harus membungkuk adalah karena kelalaianku saat
menancapkan tongkatku."
Utbah Al-Ghulam pernah terlihat
bercucuran keringat di musim dingin, lalu ditanyakan kepadanya tentang hal itu.
Ia menjawab: "Ini adalah tempat di mana aku pernah bermaksiat kepada
Tuhanku." Ketika ditanya apa maksiatnya, ia menjawab: "Aku pernah
mengelupas sedikit tanah liat dari dinding ini untuk dipakai mencuci tangan
oleh tamuku, tanpa meminta kehalalan dari pemilik dinding tersebut."
Ibrahim bin Adham menceritakan: Aku
pernah menginap suatu malam di bawah batu suci di Baitul Maqdis (Yerusalem).
Ketika tengah malam... dua malaikat turun. Salah satunya bertanya kepada temannya:
"Siapa yang ada di sini?" Yang lain menjawab: "Ibrahim bin
Adham." Malaikat pertama berkata: "Dialah orang yang Allah turunkan
satu derajat dari derajat-derajat kemuliaannya." Malaikat kedua bertanya:
"Mengapa demikian?" Jawabnya: "Karena ia pernah membeli kurma di
Bashrah, lalu ada satu butir kurma milik penjual yang jatuh ke dalam tumpukan
kurmanya, ia mengambilnya dan tidak mengembalikannya kepada pemiliknya."
Ibrahim berkata: Maka aku langsung
pergi ke Bashrah, lalu membeli kurma dari pedagang itu, dan aku jatuhkan satu
butir kurmaku ke tumpukan kurmannya. Setelah itu aku kembali ke Baitul Maqdis
dan menginap di bawah batu suci. Ketika tengah malam... tiba-tiba ada dua
malaikat yang turun dari langit. Salah satunya bertanya: "Siapa yang ada di
sini?" Yang lain menjawab: "Ibrahim bin Adham." Malaikat pertama
berkata: "Dialah orang yang telah mengembalikan sesuatu ke tempatnya dan
derajatnya telah diangkat kembali."
وَقِيلَ : التَّقْوَى عَلَى وُجُوهٍ ؛ لِلْعَامَّةِ تَقْوَى الشِّرْكِ ، وَلِلْخَوَاصِّ تَقْوَى الْمَعَاصِي ، وَلِلْأَوْلِيَاءِ تَقْوَى التَّوَسُّلِ بِالْأَفْعَالِ ، وَلِلْأَنْبِيَاءِ تَقْوَاهُمْ مِنْهُ إِلَيْهِ
وَعَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهُ قَالَ : ( سَادَةُ النَّاسِ فِي الدُّنْيَا الْأَسْخِيَاءُ ، وَسَادَةُ النَّاسِ فِي الْآخِرَةِ الْأَتْقِيَاءُ )
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ الْأَهْوَازِيُّ قَالَ : أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ الْبَصْرِيُّ قَالَ : حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُوسَى قَالَ : حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ قَالَ : حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَيَّوبَ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زَخْرٍ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ ، عَنِ الْقَاسِمِ ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « مَنْ نَظَرَ إِلَى مَحَاسِنِ امْرَأَةٍ فَغَضَّ بَصَرَهُ فِي أَوَّلِ مَرَّةٍ . . أَحْدَثَ اللَّهُ لَهُ عِبَادَةً يَجِدُ حَلَاوَتَهَا فِي قَلْبِهِ
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الْعَبَّاسِ مُحَمَّدَ بْنَ الْحَسَنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْفَرْغَانِيَّ يَقُولُ : كَانَ الْجُنَيْدُ جَالِسًا مَعَ رُوَيْمٍ وَالْجُرَيْرِيِّ وَابْنِ عَطَاءٍ ، فَقَالَ الْجُنَيْدُ : مَا نَجَا مَنْ نَجَا إِلَّا بِصِدْقِ اللَّجَإِ ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ
وَقَالَ رُوَيْمٌ : مَا نَجَا مَنْ نَجَا إِلَّا بِصِدْقِ التَّقَى ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ
وَقَالَ الْجُرَيْرِيُّ : مَا نَجَا مَنْ نَجَا إِلَّا بِمُرَاعَاةِ الْوَفَاءِ ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ
وَقَالَ ابْنُ عَطَاءٍ : مَا نَجَا مَنْ نَجَا إِلَّا بِتَحْقِيقِ الْحَيَاءِ ؛ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى
قَالَ الْأُسْتَاذُ الْإِمَامُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : مَا نَجَا مَنْ نَجَا إِلَّا بِالْحُكْمِ وَالْقَضَاءِ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُولَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ
وَقَالَ أَيْضًا : مَا نَجَا مَنْ نَجَا إِلَّا بِمَا سَبَقَ لَهُ مِنَ الِاجْتِبَاءِ ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : ﴿ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dikatakan: Takwa itu memiliki
beberapa tingkatan:
- Bagi orang awam (masyarakat umum), takwa adalah
menjauhi kesyirikan.
- Bagi orang khawas (orang-orang khusus), takwa
adalah menjauhi kemaksiatan.
- Bagi para wali, takwa adalah membentengi diri
dari merasa bersandar/mengandalkan amal perbuatan (at-tawassul
bil-af'al).
- Bagi para nabi, takwa mereka adalah bertakwa
dari-Nya untuk-Nya (segalanya hanya milik dan menuju Allah).
Dari Amirul Mukminin Ali bin Abi
Thalib karramallahu wajhah, beliau berkata:
"Pemimpin manusia di dunia
adalah orang-orang yang dermawan, sedangkan pemimpin manusia di akhirat adalah
orang-orang yang bertakwa."
Telah mengabarkan kepada kami Ali
bin Ahmad Al-Ahwazi, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al-Hasan
Al-Bashri, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bishr bin Musa, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Ibn Al-Mubarok, dari Yahya bin Ayyub, dari Ubaidillah bin Zakhr,
dari Ali bin Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu,
dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
"Barang siapa yang melihat
keindahan seorang wanita, lalu ia memalingkan pandangannya pada pandangan
pertama... niscaya Allah akan menumbuhkan baginya suatu ibadah yang ia dapat
merasakan manisnya dalam hatinya."
Aku mendengar Muhammad bin Al-Husain
berkata: Aku mendengar Abu Al-Abbas Muhammad bin Al-Hasan berkata: Aku
mendengar Muhammad bin Abdullah Al-Farghani berkata: Suatu ketika Al-Junaid
sedang duduk bersama Ruwaim, Al-Jurairi, dan Ibn 'Atha.
- Al-Junaid
berkata: "Tidaklah selamat orang yang selamat kecuali dengan
kesungguhan berserah diri (memohon perlindungan kepada Allah)."
Allah Ta'ala berfirman: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan
penerimaan taubatnya, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi
mereka, padahal bumi itu luas...” (QS. At-Taubah: 118).
- Ruwaim
berkata: "Tidaklah selamat orang yang selamat kecuali dengan
ketakwaan yang jujur/sebenarnya." Allah Ta'ala berfirman: “Dan
Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka.”
(QS. Az-Zumar: 61).
- Al-Jurairi
berkata: "Tidaklah selamat orang yang selamat kecuali dengan
menjaga kesetiaan janji." Allah Ta'ala berfirman: “(Yaitu)
orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian.”
(QS. Ar-Ra'd: 20).
- Ibn 'Atha
berkata: "Tidaklah selamat orang yang selamat kecuali dengan
merealisasikan rasa malu (kepada Allah)." Allah Ta'ala berfirman:
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala
perbuatannya)?” (QS. Al-'Alaq: 14).
Al-Ustadz Al-Imam radhiyallahu
'anhu berkata: "Tidaklah selamat orang yang selamat kecuali dengan
ketetapan hukum dan takdir Allah." Allah Ta'ala berfirman: “Bahwasanya
orang-orang yang telah ada untuk mereka kebaikan yang telah terdahulu dari
Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (QS. Al-Anbiya: 101).
Beliau juga berkata: "Tidaklah
selamat orang yang selamat kecuali dengan adanya pemilihan (hidayah) yang telah
ditetapkan baginya sebelumnya." Allah Ta'ala berfirman: “Dan Kami
telah memilih mereka serta Kami tunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS.
Al-An'am: 87).
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.