بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Keragaman Amal
تنوع الأعمال
ولما تكلم على الأعمال وثمراتها وهو الأدب ، ومرجعه إلى السكون تحت مجارى الأقدار من غير تدبير ولا اختيار ، ولا تعجيل لما تأخر ولا تأخر لما تعجل ، بل يكون محط نظره إلى ما يبرز من عنصر القدرة فيتلقاه بالمعرفة ، تكلم على تنويعها وتهذيبها بتهذيب عاملها فقال : [تنوعت أجناس الأعمال بتنوع واردات الأحوال]
تنويع الشيء : تكثيره . والأعمال هنا عبارة عن حركة الجسم ، والواردات والأحوال عبارة عن حركة القلب . فالمخاطر والوارد والحال محلها واحد وهو القلب ، لكن مادام القلب تخطر فيه الخواطر الظلمانية والنورانية سمى ما يخطر فيه خاطراً ، وإن انقطعت عنه الخواطر الظلمانية سمى ما يخطر فيه واردا أو حالا فإضافة أحدهما إلى الآخر إضافة بيانية وكلاهما يتحولان ، فإن دام ذلك سمى مقاما
قلت : قد تنوعت أجناس الأعمال الظاهرة بتنوع الأحوال الباطنة . أو تقول : أعمال الجوارح تابعة لأحوال القلوب ، فإن ورد على القلب قبض ظهر على الجوارح أثره من السكون ، وإن ورد عليه بسط ظهر على الجوارح أثره من الخفة والحركة ، وإن ورد على القلب زهد وورع ظهر على الجوارح أثره وهو ترك وإحجام أى تأخر ، وإن ورد على القلب رغبة وحرص ظهر على الجوارحأثره ، وهو كد وتعب ، وإن ورد على القلب محبة وشوق ظهر على الجوارح أثره وهو شطح ورقص ، وإن ورد على القلب معرفة وشهود ظهر على الجوارح أثره وهو راحة وركود ، إلى غير ذلك من الأحوال وما ينشأ عنها من الأعمال
وقد تختلف هذه الأحوال على قلب واحد فيتلون الظاهر في أعماله . وقد يغلب على قلب واحد حال واحد فيظهر عليه أثر واحد ، فقد يغلب على الشخص القبض فيكون مقبوضا في الغالب ، وقد يغلب عليه البسط كذلك إلى غير ذلك من الأحوال والله تعالى أعلم
Ketika
syeikh Athaillah berbicara tentang amal-amal dan buah-buahnya, yaitu adab, yang kembali kepada ketenangan di bawah aliran-aliran
takdir tanpa pengaturan, tanpa pilihan, tanpa mempercepat apa yang tertunda, dan
tanpa menunda apa yang dipercepat, melainkan pandangannya tertuju pada apa yang muncul
dari unsur kekuasaan sehingga ia menyambutnya dengan pengenalan, ia berbicara
tentang keragaman dan penyuciannya
dengan penyucian pelakunya. Ia berkata:
تنوعت أجناس الأعمال بتنوع واردات الأحوال
“Jenis-jenis amal menjadi beragam karena keragaman
dorongan-dorongan keadaan.”
Tanawwu‘ sesuatu adalah memperbanyaknya. A‘māl di sini
adalah ekspresi dari gerakan tubuh. Wāridāt dan ahwāl adalah
ekspresi dari gerakan hati. Pikiran, dorongan,
dan keadaan memiliki tempat yang sama, yaitu hati.
Namun, selama hati masih diliputi oleh pikiran-pikiran gelap dan terang, apa yang
melintas di dalamnya disebut pikiran. Jika
pikiran-pikiran gelap terputus darinya, apa yang
melintas di dalamnya disebut dorongan atau keadaan. Penambahan salah satunya kepada yang
lain adalah penambahan penjelasan.
Keduanya dapat berubah. Jika itu menetap, maka disebut
maqam.
Jenis-jenis amal zahir menjadi beragam karena
keragaman keadaan batin. Atau dapat dikatakan, amal-amal anggota tubuh mengikuti keadaan
hati. Jika dorongan penyempitan
masuk ke hati, pengaruhnya tampak pada anggota tubuh
berupa ketenangan. Jika dorongan pelebaran masuk ke dalamnya, pengaruhnya tampak pada
anggota tubuh berupa ringan dan gerakan. Jika dorongan zuhud dan wara‘ masuk ke
hati, pengaruhnya tampak pada anggota tubuh berupa meninggalkan dan menahan diri,
yaitu mundur. Jika dorongan keinginan dan ketamakan masuk ke hati, pengaruhnya
tampak pada anggota tubuh berupa
usaha keras dan keletihan.
Jika dorongan cinta dan
kerinduan masuk ke hati, pengaruhnya tampak pada anggota tubuh berupa kegoncangan dan
tarian. Jika dorongan pengenalan
dan syuhudah masuk ke
hati, pengaruhnya tampak pada anggota tubuh berupa ketenangan dan diam. Demikian pula dengan keadaan-keadaan lain
dan amal-amal yang muncul
darinya. Keadaan-keadaan ini dapat berbeda pada satu
hati, sehingga zahirnya berubahubah dalam amal-amalnya. Kadang satu keadaan
mendominasi satu hati, sehingga satu
pengaruh tampak padanya. Maka, penyempitan bisa mendominasi
seseorang sehingga ia kebanyakan
dalam keadaan tersempitkan. Pelebaran bisa mendominasi seseorang, demikian pula keadaan-keadaan lain. Wallahu A’lam.
وفي الحديث : « إِنَّ في الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
قلت : ولأجل هذا المعنى اختلفت أحوال الصوفية ، فمنهم عباد ، ومنهم زهاد ومنهم الورعون ، والمريدون ، والعارفون
قال الشيخ زروق رضي الله عنه في قواعده : قاعدة : النسك الأخذ بكل مسلك من الفضائل من غير مراعاة لغير ذلك
فإن رام التحقيق في ذلك : أي النسك فهو العابد ، وإن مال للأخذ بالأحوال فهو الورع ، وإن أثر جانب الترك طالبا للسلامة فهو الزاهد ، وإن أرسل نفسه في مراد الحق فهو العارف ، وإن أخذ بالتخلق والتعلق فهو المريد . اهـ المراد منه
وقال في قاعدة أخرى : لا يلزم من اختلاف المسالك اختلاف المقاصد ، بل يكون متحدا مع اختلاف مسالكه كالعبادة والزهادة والمعرفة مسالك لقرب الحق على سبيل الكرامة وكلها متداخلة ، فلابد للعارف من عبادة وإلا فلا عبرة بمعرفته إذ لم يعبد معروفه ، ولابد له من زهادة وإلا فلا حقيقة عنده ، إذ لم يعرض عما سواه ، ولابد للعابد منها إذ لا عبادة إلا بمعرفة : أي في الجملة ،ولا فراغ للعبادة إلا بزهد ، والزاهد كذلك إذ لا زهد إلا بمعرفة أي في الجملة
ولا زهد إلا بعبادة وإلا عاد بطالة . نعم من غلب عليه العمل فعابد ، أو الترك فزاهد ، أو النظر لتصريف الحق فعارف . والكل صوفية ، والله أعلم اهـ
Hadits Nabi SAW:
"Dalam hadits disebutkan: 'Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging; apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Ketahuilah, ia adalah Hati.'"
Penjelasan Penulis:
Aku (penulis) berkata: Karena makna inilah, keadaan para penganut tasawuf (shufiyyah) berbeda-beda. Di antara mereka ada yang menjadi ahli ibadah ('ubbad), ahli zuhud (zuhhad), orang yang wara' (war-uun), murid (muridun), dan orang yang makrifat ('arifun).
Pendapat Syekh Zarruq (Semoga Allah meridhainya) dalam kaidah-kaidahnya:
Kaidah Pertama:
"Ibadah adalah mengambil setiap jalan dari berbagai keutamaan tanpa memandang hal lainnya. Jika seseorang bertujuan mencari hakikat dalam hal itu (yakni ibadah), maka ia disebut Abid (ahli ibadah). Jika ia cenderung mengambil keadaan yang wara' (hati-hati), maka ia disebut Wari'. Jika ia lebih mengutamakan sisi meninggalkan dunia demi keselamatan, maka ia disebut Zahid. Jika ia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada kehendak Allah (Al-Haq), maka ia disebut 'Arif (orang yang makrifat). Dan jika ia mengambil jalan dengan berakhlak dan keterikatan (kepada guru/Allah), maka ia disebut Murid."
Kaidah Lainnya:
"Perbedaan jalan (masalik) tidak serta-merta menunjukkan perbedaan tujuan (maqasid). Justru jalan-jalan tersebut bisa bersatu meskipun jalurnya berbeda, seperti ibadah, zuhud, dan makrifat, yang semuanya adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah atas dasar kemuliaan. Semua jalan tersebut saling berkaitan."
"Seorang yang makrifat ('arif) tidak bisa lepas dari ibadah, jika tidak maka makrifatnya tidak ada artinya karena ia tidak menyembah Tuhan yang ia kenali. Ia juga tidak bisa lepas dari zuhud, jika tidak maka makrifatnya tidak memiliki hakikat karena ia belum berpaling dari selain Allah. Begitu pula seorang ahli ibadah ('abid) harus memiliki makrifat, dan seorang zahid harus memiliki makrifat serta ibadah. Jika tidak, maka ia hanyalah pengangguran (sia-sia)."
Kesimpulan:
"Benar, barangsiapa yang didominasi oleh amal perbuatan (fisik), maka ia disebut Abid. Barangsiapa yang didominasi oleh sikap meninggalkan dunia, maka ia disebut Zahid. Dan barangsiapa yang didominasi oleh pandangannya terhadap pengaturan Allah, maka ia disebut 'Arif. Semuanya adalah bagian dari tasawuf. Wallahu A'lam."
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.