بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Allah Ta’ala berbicara kepada Nabi Musa di gunung (Thursina)
( ومما يجب اعتقاده )
أن الله تعالى كلم موسى عليه الصلاة والسلام على الجب لقوله تعالى ( وَكَلمَ اللهُ مُوسَى تكليما ) وقوله ( وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لميقاتنا وَكَلَّمَهُ رَبه ( أى أزال عنه الحجاب وأسمعه الكلام القديم ثم أعاد الحجاب : وليس المعنى أنه ابتدأ كلاماً ثم سكت لأنه متكلم أزلا وأبداً . وروى أن موسى عند قدومه من المناجاة كان يسد أذنيه لئلا يسمع كلام الخلق ( ومما يجب اعتقاده ) منع استراق السمع يبعثه صلى الله عليه وسلم قال تعالى: ( فَمَنْ يَسْتَمِع الآنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَصَداً ) وأنه لا يبلى جسده الشريف وكذا سائر الأنبياء كمارواه أبو داود وغيره. وأنه صلى الله عليه وسلم حي في قبره وكذا سائر الأنبياء أيضاً ولهذا قيل لاعدة على أزواجه. وقد وقع لبعض العارفين مخاطبته له ورده عليه صلى الله عليه وسلم ، ومن ذلك ما تواتر عن القطب الرفاعي رضى الله عنه حتى صار معلوماً بالضرورة فى حالة زيارته للقبر الشريف من قوله
في حالة البعد روحي كنت أرسالها وهذه دولة الأشباح قد حضرت
تقبل الأرض عنى وهى نائبتي فامدد يمينك كي تحظى بها شفتي
فمدله صلى الله عليه وسلم يده الشريفه فقبلها وشاهد ذلك الحاضرون من العارفين ويؤيد ذلك ما جاء في رواية للطبراني أنه صلى الله عليه وسلم قال ( لَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يُصَلى عَلَى إِلا بَلَغَتْنِي صَلَاتُهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَبَعْدَ وَفَاتِكَ ؟ قَالَ وَ بَعْدَ وَفَاتِي إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكل أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاء) وعن العارف الوقائى قال : رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال لي عن نفسه الشريفة : لست بميت وإنما موتى عبارة عن تسترى عمن لا يفقه عن الله وأما من يفقه عن الله فهأناذا أراه ويرانى
Hal lain yang wajib diimani oleh setiap mukmin adalah kenyataan bahwa Allah Ta’ala berbicara kepada Nabi Musa di gunung (Thursina), berdasarkan firman Allah Ta’ala sebagaimana disebutkan di dalam Alqur’an, “Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”
Allah Ta’ala berfirman, “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ta tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihatKu”. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.”
Maksudnya, saat itu Allah menyingkapkan hijab antara Dia dan Nabi Musa, lalu Allah memperdengarkan firman-Nya yang qadim ke, pada Musa. Setelah itu hijab ditutup kembali. Bukan berarti bahwa Allah mulai berfirman lalu setelah berfirman itu Dia diam. Sebab Allah senantiasa bersifat kalam (berfirman), dan kalam-Nya qadim (tidak bermula dan tidak berakhir). Di dalam satu riwayat disebutkan bahwa sekembalinya dari munajat itu, Musa menutup telinganya agar tidak sampai dia mendengar suara makhluk.
Hal lain yang wajib diyakini oleh setiap mukallaf adallah keterlarangan mencuri dengar tentang kebangkitan Rasulullah Muhammad saw. Allah Ta’ala berfirman, “… Tetapi sekarang barang siapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya).”
Jasad Nabi Muhammad yang mulia itu tidak rusak
Kita juga mesti meyakini bahwa jasad Nabi Muhammad yang mulia itu tidak rusak. Demikian pula jasad para nabi dan rasul Allah lainnya. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan lainnya. Selain itu, kita mesti yakin pula bahwa Rasulullah Muhammad saw. itu hidup di dalam kuburnya. Demikian pula halnya para nabi dan rasul selain beliau. Karena itu istri-istri Nabi saw. tidak mempunyai masa iddah setelah menjanda dan tidak boleh dinikahi orang lain.
Kenyataan Rasulullah saw. hidup di kuburnya terbukti dengan adanya peristiwa dialog sejumlah orang ‘arif dengan beliau. Seperti riwayat mutawatir tentang al-Quthb ar-Rifa’i r.a. saat ia berziarah ke makam Nabi Muhammad saw., sebagaimana terungkap di dalam syairnya,
Dari jauh ruhku aku kirimkan
menciumi bumi itu mewakiliku
Dan ini, negeri impian telah hadir
Ulurkanlah tangan kananmu agar bisa kukecup
Kemudian Rasulullah saw. mengulurkan tangannya yang mulia kepada ar-Rifa’i, dan ar-Rifa’i pun menciuminya. Peristiwa tersebut disaksikan oleh para ‘arif yang hadir saat itu.
Kenyataan bahwa Rasulullah saw. serta para nabi dan rasul lainnya hidup di kubur mereka diperkuat dengan hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani yang menuturkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidak seorang pun hamba bershalawat kepadaku melainkan shalawatnya itu sampai kepadaku.” Lalu para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, walaupun setelah engkau wafat?” Rasulullah saw. menjawab, “Walaupun setelah aku wafat. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bumi menghancurkan jasad para nabi.”
Al-‘arif billah al-Wafa’i berkata, “Aku mimpi bertemu Rasulullah saw., dan saat itu beliau bersabda kepadaku tentang dirinya yang mulia, ‘Aku bukan mayat. Karena sesungguhnya kematianku itu hanya merupakan ketertabiran aku dari orang yang tidak mengenal Allah. Adapun bagi orang yang mengenal Allah, inilah aku, aku melihat dia dan dia bisa melihat aku.”
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB II :Allah Ta’ala berbicara kepada Nabi Musa di gunung (Thursina)
Description : Allah Ta’ala berbicara kepada Nabi Musa di gunung (Thursina) ( ومما يجب اعتقاده ) أن الله تعالى كلم موسى عليه الصلاة والسلام على الجب لقو...