بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Amalan wajib dan amalan Sunnah
تنبيه وإعلام
اعلم رحمك الله أنا تلمحنا الواجبات فرأينا الحق تعالى جعل في كل ما أوجبه تطوعا من جنسه في أي الأنواع كان،ليكون ذلك التطوع ذلك الجنس جابرا لما عساه أن يع من الخلل في قيام العبد بالواجبات
وكذلك جاء في الحديث ينظر في مفروض صلاة العبد فان نقص منها شئ كمل من النوافل
فافهم رحمك الله هذا، ولاتكن مقتصرا على ما فرض الله عليك ليكن فيك ناهضة حب توجب إنكبابك على معاملة الله فيما لم يوجبه عليك
ولو كان العباد لا يجدون في موازينهم إلا فعل الواجبات وثواب ترك المحرمات لفاتهم من الخير والمنة ما لم يحصره حاصر، ولا يحزره حازر، فسبحان الفاتح للعباد باب المعاملة والمبين لهم أسباب المواصلة
واعلم أن الحق تعالى علم أن في عباده ضعفاء وأقوياء فأوجب الواجبات وبين المحرمات
فالضعفاء اقتصروا على الواجبات والترك للمحرمات وليس في قلوبهم من سلطان الحب، ووجود الشغف ما يحملهم على المعالي من غير إيجاب، فمثلهم كمثل العبد الذي يعلم السيد منه انه إن لم يخارجه لم يهد إليه شيئا
فلذلك وقت سبحانه الأوراد، ووظف وظائف العبودية، وعرف ذلك بالطالع، والغارب والزوال
وصيرورة كل شيء مثله في الصلاة، وبالحول في الأموال النامية في العين والحرث والماشية، وبوقت حصول المنفعة في الزرع. {وآتوا حقه يوم حصاده}
وبعشر ذي الحجة في الحج، وبشهر رمضان في الصيام
فوظف الوظائف، ووقتها، وجعل للنفوس فيما سواها فسحة للحظوظ والسعي في الأسباب
وأهل الله تعالى، وأهل الفهم عنه جعلوا الأوقات كلها وقتا واحدا، والعمر كله نهجا إلى الله قاصدا، فعلوا أن الوقت كله له، فلم يجعلوا منه شيئا لغيره، ولذلك قال الشيخ أبو الحسن رحمه الله
عليك بورد واحد، وهو إسقاط الهوى ومحبة المولى
أبت المحبة أن تستعمل محبا إلا فيما يوافق محبوبه
وعلموا أن الأنفاس أمانات الحق عندهم، وودائعه لديهم، فعلموا أنهم مطالبون برعايتها فوجهوا هممهم لذلك وكما أن له الربوبية الدائمة كذلك حقوق ربوبيته عليك دائمة، فربوبيته عليك غير مؤقتة بالأوقات، فحقوق ربوبيته ينبغي أن تكون أيضا كذلك
يقول الشيخ أبو الحسن رحمه الله: فان لكل وقت سهما في العبودية يقتضيه الحق منك بحكم الربوبية. ولنحبس عنان المقال لئلا نخرج عن غرض الكتاب
Pemberitahuan dan Pengumuman: Ketahuilah—semoga Allah merahmatimu—bahwa ketika kami mengamati kewajiban-kewajiban (al-wajibat), kami melihat bahwa Allah Yang Maha Benar telah menjadikan pada setiap apa yang Dia wajibkan itu ada bentuk sukarela (tathawwu') yang sejPemberitahuan dan Pengumuman: Ketahuilah—semoga Allah merahmatimu—bahwa ketika kami mengamati kewajiban-kewajiban (al-wajibat), kami melihat bahwa Allah Yang Maha Benar telah menjadikan pada setiap apa yang Dia wajibkan itu ada bentuk sukarela (tathawwu') yang sejenis dengannya, dalam bentuk apa pun itu. Hal ini bertujuan agar amalan sukarela tersebut menjadi penambal bagi kekurangan yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan kewajiban oleh seorang hamba.
Begitu pula yang disebutkan dalam hadis: "Akan dilihat pada shalat fardu seorang hamba, jika ada kekurangan, maka akan disempurnakan dari shalat sunnahnya."
Maka pahamilah ini—semoga Allah merahmatimu—dan janganlah engkau hanya mencukupkan diri pada apa yang difardukan Allah atasmu. Hendaknya dalam dirimu ada dorongan cinta yang mengharuskanmu untuk tekun berinteraksi dengan Allah dalam hal-hal yang tidak Dia wajibkan atasmu.
Seandainya para hamba tidak mendapati dalam timbangan mereka kecuali pahala melaksanakan kewajiban dan pahala meninggalkan keharaman, niscaya mereka akan kehilangan banyak kebaikan dan anugerah yang tidak terbatas jumlahnya. Maka Mahasuci Allah, Dzat yang membukakan pintu interaksi bagi para hamba-Nya dan menjelaskan kepada mereka sebab-sebab untuk sampai (al-muwashalah) kepada-Nya.
Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mengetahui bahwa di antara hamba-hamba-Nya ada yang lemah dan ada yang kuat. Maka Dia mewajibkan hal-hal yang wajib dan mengharamkan hal-hal yang haram.
Orang-orang yang lemah hanya mencukupkan diri pada kewajiban dan meninggalkan keharaman karena di dalam hati mereka tidak ada kekuasaan cinta (sulthan al-hubb) dan rasa rindu mendalam yang membawa mereka pada derajat yang tinggi tanpa adanya kewajiban. Perumpamaan mereka seperti seorang budak yang diketahui tuannya bahwa jika tidak diperintah secara tegas, maka ia tidak akan mempersembahkan sesuatu pun.
Oleh karena itu, Allah menetapkan waktu-waktu wirid dan tugas-tugas penghambaan. Dia menentukan hal itu berdasarkan terbitnya fajar (al-thali'), terbenamnya matahari (al-gharib), dan waktu lingsir (al-zuwal). Juga ketika bayangan sesuatu menjadi sama panjang dengannya (dalam shalat), berdasarkan perputaran haul pada harta yang berkembang, hasil pertanian, dan hewan ternak, serta pada saat memanen hasil tanaman:
{Dan tunaikanlah haknya di hari memanennya}
Serta pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah untuk haji, dan pada bulan Ramadhan untuk puasa. Maka Allah menetapkan tugas-tugas itu dan waktunya, dan menjadikan bagi jiwa-jiwa di luar waktu tersebut kelapangan untuk bagian duniawi dan berusaha mencari sebab-sebab penghidupan.
Adapun Ahlu Allah (orang-orang yang dekat dengan Allah) dan Ahlul Fahm (orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam), mereka menjadikan seluruh waktu adalah satu waktu saja (seluruh hidup adalah ibadah). Seluruh umur mereka adalah jalan menuju Allah dengan satu tujuan. Mereka melakukan hal itu karena seluruh waktu adalah milik-Nya, maka mereka tidak menjadikan sedikit pun dari waktu tersebut untuk selain-Nya.
Oleh karena itu, Syekh Abu al-Hasan—semoga Allah merahmatinya—berkata: "...Hendaklah engkau memiliki satu wirid saja, yaitu menggugurkan hawa nafsu dan mencintai Sang Pelindung (Allah).
Cinta enggan membiarkan seorang pecinta berbuat sesuatu, kecuali pada hal-hal yang disukai oleh yang dicintainya.
Mereka (Ahlu Allah) menyadari bahwa setiap hembusan napas adalah amanah dari Allah Yang Maha Benar dan titipan di sisi mereka. Mereka tahu bahwa mereka dituntut untuk menjaganya, maka mereka memfokuskan seluruh tekad (himmah) mereka untuk hal tersebut.
Sebagaimana sifat Ketuhanan (al-Rububiyyah) itu kekal abadi, maka hak-hak Ketuhanan-Nya atasmu pun kekal abadi. Sifat Ketuhanan-Nya atasmu tidaklah dibatasi oleh waktu-waktu tertentu, maka sudah sepatutnya hak-hak Ketuhanan-Nya pun demikian (dilaksanakan setiap saat).
Syekh Abu al-Hasan—semoga Allah merahmatinya—berkata:
"Sebab pada setiap waktu, terdapat bagian dari penghambaan ('ubudiyyah*) yang dituntut oleh Allah darimu berdasarkan hak Ketuhanan."*
Dan mari kita tahan pembahasan ini agar kita tidak keluar dari tujuan utama kitab ini.
القسم الثالث من أقسام الإيثار: وهو الإيثار بالنفس
فهذا هو أفضل الوجوه الثلاثة، وإنما أوثر بغيره لأجله، فمن آثر الله تعالى بما أوجبه عليه قد لا يؤثره بما في يديه مما لم يوجبه عليه، ومن آثر الله تعالى بما في يديه مما لم يوجهه عليه فقد لا يؤثره بنفسه ولا يسخوا ببذلها، فان السخاء بالنفس والبذل لها من أخلاق الصديقين، وشأن أهل اليقين، الذين عرفوا الله فبذلوا له نفوسهم علما منهم، أن العبد لا يملك مع السيد وإذا كان الإيثار بالنفس هو أكمل الوجوه فيكون ابخل بها أقبح الوجوه
فقد تبين من هذا قول الشيخ: ومن الشح والبخل بعد حصوله. على طريق الإلماح لا الاستقصاء، فان الكتاب غير موضوع لهذا المعنى
القسم الثالث من أقسام العوارض في شأن الرزق
فإذا ذكرنا أن العوارض التي تعرض في شأن الرزق على ثلاثة أقسام
عوارض قبل الحصول، وعوارض في حين الحصول
وقد تقدم ذكرهما في كلام الشيخ فيهما، وبينا نحن ذلك
وعوارض بعد حصوله، ونفاده من الأسف والعدم عليه وداوم التطلع إليه
فينبغي أن تطهر منها أيضا، واسمع قوله تعالى: {لكيلا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما آتاكم}
ومن أسف على فقد شيء، دون الله تعالى فقد نادى على نفسه بوجود الجهل، وثبات القطيعة إذ لو وجد الله لم يفقد شيئا دونه، فمن وجد الله فلا يجد شيئا دونه حتى يكون له فاقدا. وليعلم العبد أن ما فاته ليس له برزق، وما كان عنده ففقده فلس له، لأنه لو كان رزقه ما ذهب عنه إلى غيره، بل كان عارية عنده، أخذ العارية من أعارها، واسترجع الشيء من أوجده
Bagian Ketiga dari Macam-macam Itsar (Mendahulukan Orang Lain): Yaitu Mendahulukan dengan Jiwa (al-Itsar bi al-Nafs).
Ini adalah tingkatan yang paling utama dari tiga jenis itsar, karena seseorang melakukan pengorbanan demi pihak lain. Barangsiapa yang lebih mengutamakan Allah Ta’ala daripada apa yang Dia wajibkan kepadanya, maka bisa jadi ia tidak akan mengutamakan (memberikan) apa yang ada di tangannya untuk sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya. Namun, barangsiapa yang lebih mengutamakan Allah Ta’ala dengan apa yang ada di tangannya untuk sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya, maka sungguh ia tidak akan mengutamakan dirinya sendiri dan tidak akan kikir untuk mengorbankan jiwanya.
Sebab, kedermawanan dengan jiwa dan pengorbanan diri adalah bagian dari akhlak kaum Shiddiqin (orang-orang yang jujur imannya) dan merupakan perilaku Ahlul Yaqin (orang-orang yang memiliki keyakinan kuat). Mereka adalah orang-orang yang mengenal Allah, lalu mereka mempersembahkan jiwa mereka untuk-Nya karena mereka menyadari bahwa seorang hamba tidaklah memiliki apa pun di hadapan Tuannya. Jika itsar (mendahulukan Allah) dengan jiwa adalah tingkatan yang paling sempurna, maka kikir dengan jiwa (untuk Allah) adalah tingkatan yang paling buruk.
Maka telah jelas dari perkataan Syekh ini: mengenai sifat kikir (al-syuhh) dan kebakhilan setelah memperoleh sesuatu, hal ini disampaikan secara sekilas saja dan tidak mendalam, karena kitab ini bukan disusun khusus untuk membahas makna tersebut.
Bagian Ketiga dari Macam-macam Kendala (al-'Awaridh) dalam Hal Rezeki:
Jika kita menyebutkan bahwa kendala-kendala yang terjadi dalam urusan rezeki itu ada tiga bagian:
Kendala sebelum memperoleh rezeki (qabl al-hushul).
Kendala saat memperoleh rezeki (fi hiin al-hushul).
Keduanya telah dijelaskan sebelumnya dalam perkataan Syekh, dan telah kami uraikan hal tersebut..."
"...Dan kendala-kendala setelah memperolehnya (rezeki), serta dampaknya berupa rasa sedih (al-asaf), rasa hampa saat kehilangan, serta keinginan terus-menerus untuk selalu mendapatkannya.
Maka, sudah sepatutnya engkau menyucikan diri dari hal-hal tersebut. Dengarkanlah firman Allah Ta’ala: "(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu." (QS. Al-Hadid: 23).
Barangsiapa yang bersedih atas hilangnya sesuatu selain Allah Ta’ala, maka sungguh ia telah memproklamirkan adanya kebodohan dalam dirinya, dan ketetapan keterputusan (hubungan dengan Allah). Sebab, seandainya ia menemukan Allah, niscaya ia tidak akan merasa kehilangan apa pun selain-Nya. Dan barangsiapa yang menemukan Allah, maka ia tidak akan mendapati sesuatu pun selain-Nya sebagai hal yang hilang darinya.
Hendaknya seorang hamba menyadari bahwa apa yang luput darinya bukanlah rezekinya. Apa yang pernah ada padanya lalu hilang, maka itu pun bukan miliknya. Karena jika itu memang rezekinya, niscaya tidak akan pergi kepada orang lain. Melainkan, sesuatu itu hanyalah titipan ('ariyah) di sisinya; sang pemilik mengambil kembali titipannya, dan Dzat yang mewujudkan sesuatu mengambil kembali apa yang diwujudkan-Nya.
وكان لبعضهم ابنة عم مسماة عليه من الصغر، فلما كبر جرى ما منع زواجه إياها ثم تزوجت بزوج غيره فجاء إليه بعض أهل الفهم وقال له: يصلح لك أن تعتذر إلى هذا الزوج الذي تزوج ابنة عمك، إذ كنت أنت المتطلع لزوجته، إذ هي زوجته في الأزل وكفى بالمؤمن تحذرا من الندم على ما فات قول الله تعالى: {ومن الناس من يعبد الله على حرف فان أصابه خير اطمأن به وان أصابته فتنة انقلب على وجهه خسر الدنيا والآخرة، ذلك هو الخسران المبين}
فقد ذم الحق تعالى من يسكن للأشياء في حين وجدها، إلا تراه كيف قال: {فان أصابه خير اطمأن به}
أي اطمأن بذلك الخير، ولو فهم لما اطمأن بشيء دون الله تعالى ولكانت طمأنينته بالله وحده، وكذلك من يحزن عليها عند فقدها، لقوله تعالى: {وإن أصابته فتنة}
والفتنة فقد ذلك المشتهى الذي كان إليه ساكنا، {انقلب على وجهه} أي دهش عقله، وذهلت نفسه وغفل قلبه وما ذلك إلا لعدم معرفته بالله تعالى، ولو عرف الله تعالى أغناه وجوده من كل موجود، واستغنى به عن كل مفقود
ومن فقد الله لم يجد شيئا، ومن وجده لم يفقد شيئا
وكيف يفقد شيئا من يجد بيده ملكوت كل شيء؟
وكيف يفقد شيئا من وجد الموجد لكل شيء؟
وكيف يفقد شيئا من وجد الظاهر في كل شيء
فما سوى الله عند أهل المعرفة لا يتصف بوجود ولا بفقد، إذ لا يوجد غيره معه، لثبوت أحديته، ولا فقد لغيره لأنه لا يفقد إلا ما وجد ولو انهتك حجاب الوهم لوقع العيان على فقد الأعيان، ولأشرق نور الإيقان فغطى وجود الأكوان
وإذ قد فهمت هذا فينبغي لك أيها العبد أن لا تأس على فقد شيء، وان لا تركن بوجود شيء، فان من وجد شيئا فركن إليه أو فقد شيئا فحزن عليه فقد اثبت عبوديته لذلك الشيء الذي أفرحه وجوده وأحزنه فقده
وافهم ها هنا قوله عليه الصلاة والسلام تعس عبد الدينار، تعس عبد الدرهم، تعس عبد الخميصة تعص وانتكس وإذا شيك فلا انتقش
فلا تحكم في قلبك أيها المؤمن شيئا إلا حب الله ووده، فانك اشرف من أن تكون عبدا لغيره، فقد جعلك عبدا كريما فلا تكن عبدا لئيما
وقد أبى لأهل الفهم عن الله تعالى، فهمهم، أن يركنوا لوجد أو يتطلعوا لفقد، لعبوديتهم وتصحيحا لحريتهم عما سواه
وسمعت شيخنا أبا العباس رحمه الله يقول
الكائن في الحال على قسمين، عبد هو في الحال بالحال، وعبد هو في الحال بالمحول
والذي هو في الحال بالحال: هو عبد الحال الذي يفرح بها. إذا وجدها، ويحزن عليها إذا فقدها
وعبد هو في الحال بالمحول: فذلك عبد الله لا عبد الحال، وهو الذي لا يأس عليها إذا فقدها، ولا يفرح إذا وجدها
فقوله تعالى: {ومن الناس من يعبد الله على حرف} أي على وجهة واحدة، فان زالت طاعته، وانفصلت موافقته، ولو فهم عنا لعبدنا على كل حالة وفي كل وجهة، كما انه ربك تعالى في كل حال كذلك، فكن له عبدا في جميع الأحوال
فقوله سبحانه وتعالى: {فان أصابه خير اطمأن به} أي إن أصابه خير مما يلائم نفسه هو في نظره خير، وقد يكون شرا في نفس الأمر {وان أصابته فتنة انقلب} أي فقد ذلك الخير الذي كان به مطمئنا، وسماه فتنة لأن في الفقد اختبار إيمان المؤمن وفي الفقد يظهر أحوال الرجال
فكم من ظان أن غناه بالله، وإنما غناه بوجود أسبابه، وتعدادات اكتسابه؟
وكم من ظان أن انسه بربه، وإنما انسه بحاله، دليل ذلك فقدانه لأنسه عند فقدان حال. فلو كان انسه بربه لدام انسه بدوامه، ولبقي ببقائه. وقوله تعالى: {خسر الدنيا والآخرة}
خسر الدنيا بفقدان ما أراد منها، وخسر الآخرة، لأنه لم يعمل لها، فقد فاته ما طلبه وهو ما طلبنا حتى نكون له، فافهم
Dikisahkan ada seseorang yang memiliki sepupu perempuan yang telah dijodohkan dengannya sejak kecil. Namun setelah dewasa, terjadi sesuatu yang menghalangi pernikahan tersebut, lalu sepupunya itu menikah dengan pria lain. Maka datanglah sebagian Ahlul Fahm (orang berilmu) kepadanya dan berkata: "Sepatutnya engkau meminta maaf kepada suami yang menikahi sepupumu itu. Karena sebenarnya engkaulah yang sempat 'mengincar' istri orang lain, sebab wanita itu adalah istrinya (si suami tersebut) sejak zaman azali."
Cukuplah bagi seorang mukmin peringatan agar tidak menyesali apa yang telah luput, sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di tepi (dengan sikap ragu-ragu); maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu cobaan, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11).
Allah Ta’ala mencela orang yang merasa tenang (puas) dengan benda-benda saat benda itu ada di tangannya. Tidakkah engkau melihat bagaimana Allah berfirman: "maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah (tenang) ia dalam keadaan itu."
Maksudnya, ia merasa tenang dengan kebaikan (duniawi) tersebut. Seandainya ia paham, niscaya ia tidak akan merasa tenang dengan sesuatu pun selain Allah Ta’ala, dan ketenangannya hanyalah kepada Allah semata. Demikian pula bagi orang yang bersedih saat kehilangan, karena firman-Nya: "dan jika ia ditimpa oleh suatu cobaan (fitnah)."
Fitnah di sini adalah hilangnya sesuatu yang diinginkan yang tadinya membuatnya tenang. "Berbaliklah ia ke belakang," maksudnya akalnya menjadi bingung, jiwanya merana, dan hatinya lalai. Hal itu tidak lain disebabkan karena kurangnya makrifat (pengenalan) kepada Allah Ta’ala. Seandainya ia mengenal Allah, niscaya Allah akan mencukupinya dari segala yang ada, dan ia akan merasa kaya dengan Allah dari segala yang hilang.
Barangsiapa yang kehilangan Allah, maka ia tidak akan menemukan apa pun (sebagai pengganti). Dan barangsiapa yang menemukan Allah, maka ia tidak kehilangan sesuatu pun.
"Dan bagaimana mungkin akan merasa kehilangan sesuatu, bagi orang yang menemukan Dzat yang di tangan-Nya lah kekuasaan (malakut) segala sesuatu?
Bagaimana mungkin akan merasa kehilangan sesuatu, bagi orang yang menemukan Dzat yang mewujudkan (al-muujid) segala sesuatu?
Bagaimana mungkin akan merasa kehilangan sesuatu, bagi orang yang menemukan Dzat yang nampak (al-zhahir) pada segala sesuatu?
Maka segala sesuatu selain Allah, menurut pandangan Ahlu al-Ma’rifah (orang yang mengenal Allah), tidaklah disifati dengan 'ada' (wujud) maupun 'hilang' (faqd). Karena pada hakikatnya tidak ada sesuatu pun selain Dia bersama-Nya, disebabkan ketetapan keesaan-Nya (ahadiyyah). Sesuatu itu tidak dianggap 'hilang' karena selain Dia memang tidak pernah 'ada' (secara hakiki). Dan seandainya tirai ilusi (hijab al-wahm) tersingkap, niscaya akan nampaklah kenyataan atas ketiadaan benda-benda (faqd al-a’yan), dan niscaya cahaya keyakinan akan terbit sehingga ia akan menutupi keberadaan alam semesta (al-akwan).
Jika engkau telah memahami hal ini, maka sepatutnya bagimu wahai hamba, untuk tidak merasa sedih atas hilangnya sesuatu, dan jangan pula engkau merasa tenang dengan keberadaan sesuatu. Karena barangsiapa yang menemukan sesuatu lalu merasa tenang dengannya, atau kehilangan sesuatu lalu bersedih karenanya, maka sungguh ia telah membuktikan penghambaannya kepada sesuatu tersebut; yang keberadaannya membuat ia gembira dan ketiadaannya membuat ia berduka.
Maka pahamilah di sini sabda Nabi Muhammad SAW: "Celakalah penyembah dinar, celakalah penyembah dirham, celakalah penyembah pakaian (al-khamishah). Celakalah ia dan tersungkurlah, dan jika ia tertusuk duri, semoga tidak dapat mencabutnya."
Maka, janganlah engkau membiarkan di dalam hatimu—wahai Mukmin—berkuasa sesuatu apa pun selain cinta kepada Allah dan kasih sayang-Nya. Karena engkau jauh lebih mulia daripada menjadi hamba bagi selain-Nya. Allah telah menjadikanmu seorang hamba yang mulia, maka janganlah engkau menjadi hamba yang hina.
Sungguh, Ahlul Fahm (orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam) tentang Allah Ta’ala telah enggan membiarkan diri mereka merasa tenang karena mendapatkan sesuatu atau menoleh karena kehilangan sesuatu. Hal itu mereka lakukan demi memurnikan penghambaan mereka dan demi mensahihkan kemerdekaan mereka dari segala sesuatu selain Allah.
Aku mendengar guru kami, Abu al-Abbas—semoga Allah merahmatinya—berkata: "Seseorang yang berada dalam suatu kondisi (al-hal) terbagi menjadi dua kelompok: hamba yang terpaku pada kondisi ('abdun huwa fi al-hal bi al-hal*), dan hamba yang fokus pada Dzat yang merubah kondisi ('abdun huwa fi al-hal bi al-muhawwil).*
Adapun hamba yang terpaku pada kondisi: ia adalah hamba yang merasa gembira jika mendapatkan kondisi tersebut, dan bersedih jika kehilangannya.
Sedangkan hamba yang fokus pada Dzat yang merubah kondisi: dialah hamba Allah yang sesungguhnya, bukan hamba kondisi. Ia adalah orang yang tidak bersedih saat kondisi itu hilang, dan tidak pula bersikap congkak (merasa memiliki) saat kondisi itu ada." "Firman Allah Ta’ala: {Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah di tepi}, maksudnya adalah menyembah hanya pada satu sisi saja. Jika ketaatan itu hilang (keinginannya tidak terpenuhi), maka putuslah kesesuaiannya (hubungannya dengan ibadah tersebut). Seandainya mereka paham tentang kami (hakikat ketuhanan), niscaya mereka akan menyembah Kami dalam setiap keadaan dan dalam setiap sisi, sebagaimana Dia adalah Tuhanmu dalam setiap keadaan. Maka jadilah hamba bagi-Nya dalam segala situasi.
Adapun firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala: {maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu}, maksudnya adalah jika ia mendapatkan kebaikan yang sesuai dengan keinginan nafsunya, maka ia menganggapnya sebagai kebaikan (sejati), padahal bisa jadi dalam hakikat perkara tersebut hal itu adalah keburukan baginya.
{dan jika ia ditimpa oleh suatu cobaan (fitnah), berbaliklah ia}, maksudnya adalah kehilangan kebaikan yang sebelumnya membuatnya tenang. Allah menamainya sebagai 'fitnah' (ujian/cobaan) karena di dalam kehilangan itulah nampak ujian keimanan seorang mukmin; sebab dalam kehilangan itulah karakter asli seorang pria (hamba) akan terlihat.
Betapa banyak orang yang menyangka bahwa kekayaannya berasal dari Allah, padahal kekayaannya hanyalah karena adanya sebab-sebab (duniawi) dan banyaknya hasil usahanya.
Dan betapa banyak orang yang menyangka bahwa ia merasa tenang dengan Tuhannya, padahal ketenangannya hanyalah pada kondisinya (hal). Bukti dari hal tersebut adalah hilangnya rasa tenang itu saat kondisinya hilang (misal saat jatuh miskin atau sakit). Seandainya ketenangannya itu benar-benar bersama Tuhannya, niscaya ketenangannya akan kekal karena kekalnya Allah, dan akan tetap ada karena tetap adanya Allah.
Firman Allah Ta’ala: {Rugilah ia di dunia dan di akhirat}.
Ia rugi di dunia karena kehilangan apa yang ia inginkan dari dunia tersebut, dan ia rugi di akhirat karena ia tidak beramal untuk akhiratnya. Maka luputlah darinya apa yang ia cari (dunia) dan luput pula apa yang Kami minta darinya agar ia menjadi milik Kami. Maka pahamilah."
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Bab ke 10
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.