بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Istihsanul Khaud fi Ilimil Kalam Abu Hasan Al-Asyari
Anjuran Mendalami Ilmu Kalam
Dalam sejarah intelektual Islam, sosok Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari
memegang peranan sentral sebagai peletak dasar teologi Ahlussunnah wal
Jama’ah. Salah satu karya monumental beliau yang sering menjadi rujukan
penting adalah Risalah Istihsan al-Khaud fi 'Ilm al-Kalam. Secara harfiah, judul ini dapat diterjemahkan sebagai "Risalah tentang Menganggap Baik (Membolehkan) Mendalami Ilmu Kalam".
Buku kecil namun padat ini merupakan manifesto intelektual yang sangat
krusial dalam mendudukkan posisi nalar dan logika di dalam ruang lingkup
keimanan.
Jika
kita membedah judulnya lebih dalam, terdapat pesan yang sangat kuat
mengenai keterbukaan cara berpikir. Kata istihsan bermakna menganggap
baik atau perlu, sementara al-khaud berarti menyelami atau membahas
secara mendalam. Dengan menyandingkan istilah tersebut dengan ‘Ilm
al-Kalam (teologi rasional), Imam al-Asy'ari ingin menegaskan bahwa
mendalami teologi bukanlah sebuah larangan, melainkan sebuah kebutuhan
strategis untuk membela akidah Islam dari berbagai keraguan dan serangan
eksternal.
Lahirnya kitab ini
dilatarbelakangi oleh kondisi sosiologis di mana terdapat kelompok yang
mengharamkan penggunaan rasio dalam persoalan akidah. Kelompok tersebut
beranggapan bahwa berbicara tentang sifat-sifat Tuhan menggunakan logika
adalah sebuah kesia-siaan bahkan dosa. Melalui risalah ini, Imam
al-Asy’ari hadir memberikan respons cerdas; beliau berargumen bahwa
mempelajari Ilmu Kalam adalah sebuah keharusan demi menegakkan
dalil-dalil agama dan membantah kebatilan dengan argumentasi yang tidak
terpatahkan.
Salah
satu poin menarik yang dibahas adalah jawaban beliau atas tuduhan
bid’ah. Banyak kritikus saat itu menuduh bahwa Ilmu Kalam adalah hal
baru yang tidak pernah dipraktikkan oleh Nabi Muhammad SAW. Namun, Imam
al-Asy’ari memberikan pembelaan yang tajam: meski secara terminologi
istilah "Ilmu Kalam" memang baru, namun substansinya—yakni menggunakan
akal untuk menjelaskan kebenaran Tuhan dan kekuasaan-Nya—adalah sesuatu
yang baik (istihsan) karena tujuannya murni untuk menjaga kemurnian
ajaran Islam dari distorsi pemikiran.
Metodologi
yang diusung dalam kitab ini pun sangat seimbang, yakni sebuah harmoni
antara rasionalitas dan wahyu. Beliau tidak menempatkan akal di atas
Al-Qur'an dan Sunnah, melainkan memfungsikan akal sebagai alat pendukung
bagi nash (teks suci). Dalam perspektif Asy'ariyah, ilmu kalam adalah
cara menggunakan akal budi untuk memperkuat bukti-bukti wahyu, bukan
untuk mendahului atau bahkan menolak otoritas ketuhanan yang telah
termaktub dalam teks agama.
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Download Terjemah Kitab Istihsanul Khaud fi Ilimil Kalam Abu Hasan Al-Asyari pdf.
Description : Istihsanul Khaud fi Ilimil Kalam Abu Hasan Al-Asyari Anjuran Mendalami Ilmu Kalam Dalam sejarah intelektual Islam, sosok Imam Abu al-Hasan ...