بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB I:
KETUHANAN (Sifat-sifat Allah) 5
Selain dalil aqli, ada banyak dalil naqli yang
disebutkan di dalam Al qur’an tentang ketidak berbilangan Allah Ta’ala. Di
antaranya adalah firman Allah Ta’ala,: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang
Mahaesa, (tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.)” Allah Ta’ala berfirman: “Sekiranya ada di langit
dan di bumi tuhan tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa.
Maka Mahasuci Allah yang mempunyai Arsy dari apa yang mereka sifatkan.”
Allah Ta’ala berfirman: “Allah sekali-kali tidak
mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau
ada tuhan besertaNya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang
diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang
lain. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.”
Semua rasul Allah dan kitab-kitab-Nya telah menyatakan
kemestian Allah bersifat tidak berbilang. Seperti diungkapkan Allah Ta’ala di
dalam firman-Nya, “Dan tanyakanlah kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus
sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah
Yang Maha Pemurah?” Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan Kami tidak mengutus
seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wah, yukan kepadanya:
“Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah Aku.”
Sifat-sifat yang wajib adanya pada Allah Ta’ala sudah
enam sifat yang telah kami uraikan. Sifat yang pertama, yakni wujud, merupakan
sifat nafsiyyah. Sedangkan lima sifat yang dibahas setelahnya merupakar
sifat-sifat salabiyyah, karena sifat-sifat ini menunjukkan penafian perkara,
perkara yang tidak layak adanya pada Allah Ta’ala. Sifat gidam (terdahulu)
meniadakan sifat hudiuts (kebermulaan). Sifat Baqa’ (kekal tak berakhir)
meniadakan sifat fand’ (rusak dan berakhir). Sifat al-mukhalafah lil-hawadusi
(berbeda dengan yang selain Dia) meniadakan sifat al-mu, matsalah lil-hawaditsi
(serupa dengan yang selain Dia). Sifat giyamuhy binafsihi (berdiri sendiri)
meniadakan iflltiqar ilal-mahalli wal-fa’ih (mem, butuhkan tempat dan
pencipta). Dan sifat wahdaniyyah (tunggal) me niadakan sifat ta’addud
(berbilang), baik dalam dzat, sifat-sifat maupun perbuatan-perbuatan-Nya.
Sifat ketujuh yang mesti ada pada Allah Ta’ala adalah Qudrah,
yaitu sifat kuasa yang ada tanpa mula dan lekat pada dzat Allah Ta’ala, yang
dengannya Allah mewujudkan atau meniadakan segala sesuatu yang mumkin sesuai
dengan kehendak-Nya, entah hal yang mumkin itu umum maupun rinci, berupa jisim
(materi) maupun sifat. Yang mumkin itu meliputi sesuatu yang bersebab.
Misalnya, tingkah kita yang diupayakan, seperti gerak atau diam kita ketika
adanya sabab. Atau peristiwa terbakar ketika api menyentuh sesuatu, atau
kenyang setelah makan dan sejuk setelah minum. Selain meliputi sesuatu yang
ber-sabab, hal mumkin juga meliputi sesuatu yang tidak ber-sabab, seperti adanya
langit dan bumi. Sungguh, tidak ada sesuatu pun selain Allah Ta’ala yang
memiliki pengaruh terhadap sesuatu, sebagaimana telah kami terangkan di muka.
Kami menggunakan kata dengan sifat itu…, bukan dengan
kata karena sifat itu…, untuk menunjukkan bahwa pengaruh itu milik Dzat Allah,
bukan milik qudrah. Barangsiapa menyandarkan pengaruh itu kepada qudrah secara
hakiki, berarti dia kufur.
Ada sebagian orang awam yang berkata, “Al-Oudrah
(kuasa) itu menentukan, maka lihatlah apa yang diperbuat qudrah.” Apabila
pendapat itu muncul dari keyakinan dan kesengajaan, maka dia kafir karena
keyakinan ini mengandung kemusyrikan, sebagaimana kafirnya orang yang
berkeyakinan api ialah yang membakar, atau rotilah yang membikin kenyang dan
pisaulah yang menimbulkan potongan. Namun bila tidak berkeyakinan seperti itu,
dia tidak kafir.

Yang wajib bagi kita adalah meyakini bahwa Allah Ta’ala
bersifat qudrah yang qudrah-nya itu berkaitan dengan semua yang mumkin.
Kebalikan dari sifat qudrah (kuasa) adalah “ajzu (lemah), yakni tidak kuasa
atas segala yang mumkin.
Akal telah menunjukkan kemestian adanya sifat qudrah
pada Allah Ta’ala, dan bahwa sifat qudrah-Nya itu berkaitan dengan semua
maujud. Semua maujud yang selain Dia adalah hadits, didahului ketiadaan,
sebagaimana telah kami kemukakan. Setiap yang baru sudah pasti harus ada yang
menciptakan. Yang menciptakan sudah pasti harus mempunyai kuasa yang dengannya
dia mewujudkan atau meniadakan. Sebab tidak mungkin ada pengaruh tanpa ada
kuasa. Jika Dia tidak kuasa, tentu Dia lemah. Dan jika Dia lemah, tentu tidak
ada sesuatu pun dari alam ini. Karena itu, Allah Ta’ala niscaya bersifat
qudrah. Apabila qudrah Allah Ta’ala itu hanya berkaitan dengan sebagian yang
mumkin dan tidak berkaitan dengan sebagian lainnya, berarti qudrah Allah itu
hadits, karena membutuhkan mukhashshish (yang mengkhususkan). Hal itu tidak
mungkin, sebab gudrah Allah Ta’ala itu terdahulu dengan ke-terdahulu-an
Dzat-Nya.
Selain dalil akal, ada banyak dalil naqli yang menunjukkan
kemestian adanya sifat qudrah pada Allah Ta’ala. Di antaranya adalah firman
Allah Ta’ala, “(Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap
kajj kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila
gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan
pendengaran dan penglihatan mereka.) Sesungguhnya Allah berkuasa, atas
segala sesuatu.” Allah Ta’ala berfirman, “Dan tidak ada sesuatu pun yang
dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha kuasa.”
Allah Ta’ala berfirman, “Adakah pencipta selain Allah.?” Dan Allah pun
berfirman, “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran
(bi-qadarin).”?
Para nabi a.s.
pun tidak mengingkari hal ini. Kesimpulannya, segala sesuatu pada mulanya
bergantung kepada Allah Ta’ala tanpa perantara berdasarkan pilihan, baik
menurut akal, dalil Alqur’an dan hadis, maupun menurut ijma’.
Sifat kedelapan yang mesti adanya pada Allah Ta’ala
adalah iradah (berkehendak). Iradah merupakan sifat wujud terdahulu yang
ada secara nyata pada Dzat Allah Ta’ala. Dengan sifat-Nya ini Allah Ta’ala
memberi karakter khusus pada sesuatu sesuai ilmu-Nya, karakter yang berbeda
dari karakter yang Dia khususkan pada sesuatu lainnya yang saling berlawanan.
Maka, segala sesuatu yang diketahui ada dan tiadanya merupakan kehendak Allah
Azza wa Jalla. Tidak ada sesuatu pun yang nyata di kerajaan Allah Ta’ala selain
yang dikehendaki-Nya.
Kami menggunakan kata merupakan sifat yang dengannya…,
bukan kata merupakan sifat yang kerenanya…, itu untuk menunjukkan bahwa kuasa
memberikan karakter khusus itu milik Dzat, bukan milik sifat.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.