بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
BAB 1 KETUHANAN (Sifat-sifat Allah) 4
Sifat keenam yang mesti ada pada Allah Ta’ala adalah
al-Wahdiniyyah, yaitu tiada berbilang. Sifat wahdantyyah atau ketidak berbilangan
Allah ini terpilah dalam tiga bagian. Pertama, tidak berbilang dalam Dzat-Nya.
Maksudnya, Dzat Allah tidak tersusun dari bagian-bagian dan tidak ada bandingan
bagi Dzat-Nya. Kedua, tidak berbilang di dalam sifat-sifat-Nya. Maksudnya,
Allah tidak bersifat dengan dua sifat sejenis atau lebih. Misalnya, Allah
bersifat dengan dua sifat Qudrah, dua sifat Iradah atau dua sifat Ilmu. Dan
tidak ada makhluk yang memiliki sifat yang sama seperti sifat Allah. Ketiga,
tidak berbilang di dalam perbuatan-perbuatan-Nya. Artinya, Allah-lah Yang
menciptakan secara bebas segala sesuatu yang mungkin mengada, entah dzat, sifat
maupun perbuatan. Allah Ta’ala berfirman, “..Allah-lah yang menciptakan kamu
dan apa yang kamu perbuat itu.”? Tidak ada sesuatu pun yang menyertaiNya di
dalam semua itu. Matahari, bulan, bintang, air, debu, udara, api dan lainnya,
semuanya tidak ada yang berpengaruh terhadap lainnya. Demikian juga makanan
tidak akan membuat kenyang dan pisau tidak bisa memotong tanpa kehendak Allah.
Suatu tindakan bebas seorang hamba, adalah ciptaan
Allah, bukan milik hamba. Allah menciptakan perbuatan itu dengan qudrah-Nya
berbarengan dengan kemampuan hamba untuk melakukannya, bukan karena kemampuan
hamba. Hamba sama sekali tidak memiliki kuasa, yang ada padanya hanya usaha
(al-kasb). Al-kasb adalah keselarasan al-qudrah al-haditsah (kuasa yang baru
muncul) terhadap al-maqdur (objek) ketika al-maqdur itu menjadi tujuan. Saat
itu Allah memunculkan tindakan, dengan mewujudkan musabbab (akibat) ketika ada
sebab. Meskipun yang tampak secara lahiriah sepertinya si hambalah yang menjadi
pelaku, seperti api yang secara lahiriah tampak membakar. Dari sini dipahami
bahwa sesungguhnya pahala merupakan kemurahan Allah Ta’ala, dan siksa murni
merupakan keadilan-Nya. Allah tidak bisa dimintai pertanggungjawaban atas
perbuatan-perbuatan-Nya, kitalah yang akan dimintai pertanggungjawaban atas
perbuatan-perbuatan kita. Sebab, Allah Ta’ala berbuat sesuatu dengan perbuatan
hamba-Nya.
Apabila Anda memahami hal ini, Anda akan tahu bahwa
perbuatan yang diupayakan hamba (ikhtiyariyyah) hanya merupakan tanda-tanda
syara’ atas pahala atau siksa yang diciptakan Allah Ta’ala bagi hamba, hamba-Nya,
untuk menunjukkan apa yang Allah kehendaki bagi mereka di akhirat. Semua hamba
dimudahkan oleh perbuatan Allah untuk men, capai tujuan penciptaan mereka.

Jika ditanyakan, “Apabila Allah yang menciptakan
perbuatan hamba, berarti Dialah yang berdiri, duduk, makan, minum dan lain
sebagainya?” Jawabannya, “Pendapat ini sungguh bodoh dan tolol. Karena, yang
disifati dengan sesuatu adalah ia yang dengan sesuatu itu menjadi, bukan yang
menciptakan sesuatu itu. Apakah tidak Anda lihat, Allahlah Yang menciptakan
putih, hitam dan lain sebagainya, tetapi bukan berarti Allah disifati dengan
putih atau hitam.
Kebalikan dari sifat wahdaniyyah adalah ta ‘addud
(berbilang), dalam dzat, sifat maupun perbuatan. Dalil yang menunjukkan
ketunggalan Allah dalam Dzat-Nya diambil dari dalil tentang kemestian Allah
bersifat mukhalafah lil-hawaditsi. Sebab jika Dzat Allah itu tersusun, berarti
ia serupa dengan hawadits dan membutuhkan sesuatu yang menyusunnya. Dengan
demikian berarti Dia baru, dan itu mustahil.
Dalil yang menunjukkan ketidak berbilangan Allah di
dalam sifat sifat-Nya adalah kenyataan bahwa Allah tidak bersifat dengan dua
sifat yang sejenis. Sebab jika sifat-Nya itu berbilang, tentu sifat-Nya itu
baru, padahal sudah ditegaskan bahwa sifat-Nya itu terdahulu.
Dalil yang menunjukkan ketidak berbilangan Allah di
dalam Dzat dan sifat-Nya adalah kenyataan bahwa Allah tidak berbanding di dalam
Dzat-Nya dan tidak ada sesuatu pun selain Dia yang bersifat dengan
sifat-sifat-Nya. Adapun dalil yang menunjukkan ketidakberbilangan Allah di
dalam perbuatan-Nya, yakni kenyataan tidak adanya sesuatu pun selain Dia yang
bisa menciptakan perbuatan, itu karena keberbilangan di dalam perbuatan berarti
persekutuan. Dan persekutuan merupakan aib serta kekurangan, karena menunjukkan
kelemahan. Sedangkan ketunggalan dan ketidakberbilangan adalah sifat
kesempurnaan. Semakin besar kuasa seorang raja, akan semakin besar pula
kebenciannya terhadap sekutu yang menyainginya. Lalu bagaimana pendapat Anda
berkenaan dengan kerajaan dan kekuasaan Allah Yang ketuhanan-Nya menuntut
penguasaan mutlak? Bayangkan seandainya di dunia ini ada dua Tuhan dan salah
satunya ingin mengalahkan yang lain. Apabila yang satu ini sanggup mengalahkan
saingannya, berarti yang kalah itu lemah dan fakir, dan tentu dia bukan Tuhan.
Lalu apabila yang satu itu tidak dapat mengalahkannya, berarti dia yang lemah,
dan itu berarti dia bukan Tuhan, tetapi yang kedualah yang tuhan.
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Download Kitab Tanwirul Qulub (arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.