بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
**BAB PERTAMA**
**Tokoh-Tokoh Utama Sufi dan Ilmu Tauhid**
kumpulan dari
petikan perkataan Kaum Sufi terkait masalah-masalah *ushul* (akidah dasar) 3
سَمِعْتُ الإِمَامَ أَبَا بَكْرٍ مُحَمَّدَ بْنَ الحَسَنِ بْنِ فُورَكٍ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ المَحْبُوبِ خَادِمَ أَبِي عُثْمَانَ المَغْرِبِيِّ يَقُولُ : قَالَ لِي أَبُو عُثْمَانَ المَغْرِبِيُّ يَوْمًا : يَا مُحَمَّدُ ؛ لَوْ قَالَ لَكَ أَحَدٌ : أَيْنَ مَعْبُودُكَ ؟ أَيَّ شَيْءٍ تَقُولُ ؟
قَالَ : فَقُلْتُ : أَقُولُ : حَيْثُ لَمْ يَزَلْ .
قَالَ : فَإِنْ قَالَ لَكَ : فَأَيْنَ كَانَ فِي الأَزَلِ ؟ فَأَيَّ شَيْءٍ تَقُولُ ؟ .
قَالَ : قُلْتُ : أَقُولُ : حَيْثُ هُوَ الآنَ . يَعْنِي : أَنَّهُ كَانَ وَلَا مَكَانَ ، فَهُوَ الآنَ عَلَى مَا كَانَ .
قَالَ : فَارْتَضَى مِنِّي ذَلِكَ ، وَنَزَعَ قَمِيصَهُ وَأَعْطَانِيهِ (١) .
وَسَمِعْتُ الإِمَامَ أَبَا بَكْرِ ابْنَ فُورَكٍ رَحِمَهُ اللهُ عَلَيْهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ المَغْرِبِيَّ يَقُولُ : ( كُنْتُ أَعْتَقِدُ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِ الجِهَةِ (٢) ، فَلَمَّا قَدِمْتُ بَغْدَادَ . . زَالَ ذَلِكَ عَنْ قَلْبِي ، فَكَتَبْتُ إِلَى أَصْحَابِنَا بِمَكَّةَ أَنِّي أَسْلَمْتُ جَدِيدًا ) (٣)
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ المَغْرِبِيَّ يَقُولُ وَقَدْ سُئِلَ عَنِ الخَلْقِ ؟ فَقَالَ : قَوَالِبُ وَأَشْبَاحٌ تَجْرِي عَلَيْهِمْ أَحْكَامُ القُدْرَةِ (٤) .
وَقَالَ الوَاسِطِيُّ : ( لَمَّا كَانَتِ الأَرْوَاحُ وَالأَجْسَادُ قَامَتَا بِاللهِ وَظَهَرَتَا بِهِ لَا بِذَوَاتِهَا . . فَكَذَلِكَ قَامَتِ الخَطَرَاتُ وَالحَرَكَاتُ بِاللهِ لَا بِذَوَاتِهَا ؛ إِذِ الحَرَكَاتُ وَالخَطَرَاتُ فُرُوعُ الأَجْسَادِ وَالأَرْوَاحِ ) ، صَرَّحَ بِهَذَا الكَلَامِ أَنَّ أَكْسَابَ العِبَادِ مَخْلُوقَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى ؛ وَكَمَا أَنَّهُ لَا خَالِقَ لِلْجَوَاهِرِ إِلَّا اللهُ تَعَالَى . . فَكَذَلِكَ لَا خَالِقَ لِلأَعْرَاضِ إِلَّا اللهُ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا جَعْفَرٍ الصَّيْدَلَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الخَرَّازَ يَقُولُ : ( مَنْ ظَنَّ أَنَّهُ بِبَذْلِ الجُهْدِ يَصِلُ . . فَمُتَعَنٍّ ، وَمَنْ ظَنَّ أَنَّهُ بِغَيْرِ الجُهْدِ يَصِلُ . . فَمُتَمَنٍّ ) (٥)
Saya mendengar Imam Abu Bakr Muhammad bin Al-Hasan bin Furak
—semoga Allah merahmatinya— berkata: Saya mendengar Muhammad bin Al-Mahbub,
pelayan Abu Utsman Al-Maghribi, berkata: Suatu hari Abu Utsman Al-Maghribi
berkata kepadaku: "Wahai Muhammad! Jika seseorang bertanya kepadamu: *'Di
mana Sembahanmu?'*, apa yang akan engkau katakan?"
Ia menjawab: Saya katakan: *"Sebagaimana Dia ada secara
azali (tanpa tempat)."*
Abu Utsman bertanya lagi: "Jika ia bertanya kepadamu:
*'Lalu di mana Dia pada masa azali?'*, apa yang akan engkau katakan?"
Ia menjawab: Saya katakan: *"Sebagaimana keberadaan-Nya
sekarang."* Maksudnya: Bahwa Allah telah ada ketika belum ada tempat, dan
Dia sekarang tetap sebagaimana keberadaan-Nya semula (tanpa bertempat).
Muhammad bin Al-Mahbub berkata: *"Maka Abu Utsman
menyukai/meridhai jawabanku itu, lalu beliau melepas gamisnya dan memberikannya
kepadaku."*
Saya mendengar Imam Abu Bakr bin Furak —semoga Allah
merahmatinya— berkata: Saya mendengar Abu Utsman Al-Maghribi berkata: *(Dahulu
aku meyakini sebagian dari paham arah [jihat/penempatan Allah di suatu arah],
namun ketika aku sampai di Baghdad... pemahaman itu hilang dari hatiku. Lalu
aku menulis surat kepada sahabat-sahabat kami di Mekkah bahwa aku baru saja
masuk Islam secara baru [memperbarui keislaman dan iktikad yang lurus]).*
Saya mendengar Muhammad bin Al-Husain berkata: Saya
mendengar Abu Utsman Al-Maghribi berkata ketika ditanya tentang makhluk:
*"Mereka adalah cetakan-cetakan dan raga/jasmani yang berlaku atas mereka
hukum-hukum takdir dan kekuasaan Allah."*
Al-Wasiti berkata: *(Sebagaimana roh dan jasad dapat berdiri
dan tampak dengan pertolongan Allah, bukan dengan kekuatan zatnya sendiri...
maka demikian pula terdetiknya hati dan pergerakan-pergerakan anggota tubuh
berdiri dengan [kuasa] Allah, bukan dengan zatnya sendiri; sebab pergerakan dan
terdetiknya hati merupakan cabang dari jasad dan roh).* Dengan perkataan ini
beliau menegaskan bahwa usaha (*kasb*) para hamba adalah ciptaan Allah Ta'ala;
sebagaimana tidak ada pencipta bagi substansi (*jawahir*) selain Allah
Ta'ala... maka demikian pula tidak ada pencipta bagi sifat/kondisi yang
menempel (*'aradh*) selain Allah.
Saya mendengar Syekh Abu Abdurrahman berkata: Saya mendengar
Muhammad bin Abdullah berkata: Saya mendengar Abu Ja'far Ash-Shaidalani
berkata: Saya mendengar Abu Said Al-Kharraz berkata: *(Barangsiapa menduga
bahwa hanya dengan mencurahkan usaha keras ia akan sampai [kepada Allah]...
maka ia menyusahkan dirinya sendiri; dan barangsiapa menduga bahwa tanpa usaha
ia bisa sampai... maka ia hanyalah berangan-angan kosong).*
وَقَالَ الوَاسِطِيُّ : ( أَقْسَامٌ قُسِّمَتْ وَنُعُوتٌ أُجْرِيَتْ ، كَيْفَ تُسْتَجْلَبُ بِحَرَكَاتٍ ، أَوْ تُنَالُ بِسِعَايَاتٍ ؟! )
وَسُئِلَ الوَاسِطِيُّ عَنِ الكُفْرِ : بِاللهِ أَوْ لِلَّهِ ؟ فَقَالَ : الكُفْرُ وَالإِيمَانُ وَالدُّنْيَا وَالآخِرَةُ مِنَ اللهِ وَإِلَى اللهِ وَبِاللهِ وَلِلَّهِ ؛ مِنَ اللهِ ابْتِدَاءً وَإِنْشَاءً ، وَإِلَى اللهِ مَرْجِعًا وَانْتِهَاءً ، وَبِاللهِ بَقَاءً وَفَنَاءً ، وَلِلَّهِ مُلْكًا وَخَلْقًا
وَقَالَ الجُنَيْدُ : سُئِلَ بَعْضُ العُلَمَاءِ عَنِ التَّوْحِيدِ ، فَقَالَ : هُوَ اليَقِينُ ، فَقَالَ السَّائِلُ : بَيِّنْ لِي مَا هُوَ ؟ فَقَالَ : هُوَ مَعْرِفَتُكَ أَنَّ حَرَكَاتِ الخَلْقِ وَسُكُونَهُمْ فِعْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ ، لَا شَرِيكَ لَهُ ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ . . فَقَدْ وَحَّدْتَهُ (١)
سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ : سَمِعْتُ عَبْدَ الوَاحِدِ بْنَ عَلِيٍّ يَقُولُ : سَمِعْتُ القَاسِمَ بْنَ القَاسِمِ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ مُوسَى الوَاسِطِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الحُسَيْنِ الجَوْهَرِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ ذَا النُّونِ المِصْرِيَّ وَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ : ادْعُ اللهَ تَعَالَى لِي ، فَقَالَ : إِنْ كُنْتَ قَدْ أُيِّدْتَ فِي عِلْمِ الغَيْبِ بِصِدْقِ التَّوْحِيدِ . . فَكَمْ مِنْ دَعْوَةٍ مُجَابَةٍ قَدْ سَبَقَتْ لَكَ ، وَإِلَّا . . فَإِنَّ النِّدَاءَ لَا يُنْقِذُ الغَرِقَ ! (٢)
وَقَالَ الوَاسِطِيُّ : ( ادَّعَى فِرْعَوْنُ الرُّبُوبِيَّةَ عَلَى الكَشْفِ ، وَادَّعَتِ المُعْتَزِلَةُ عَلَى السِّتْرِ ، تَقُولُ : مَا شِئْتَ فَعَلْتَ ) (٣)
وَقَالَ أَبُو الحَسَنِ النُّورِيُّ : ( التَّوْحِيدُ : كُلُّ خَاطِرٍ يُشِيرُ إِلَى اللهِ بَعْدَ أَلَّا تُزَاحِمَهُ خَوَاطِرُ التَّشْبِيهِ ) (٤)
أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى قَالَ : سَمِعْتُ عَبْدَ الوَاحِدِ بْنَ بَكْرٍ يَقُولُ : سَمِعْتُ هِلَالَ بْنَ أَحْمَدَ يَقُولُ : سُئِلَ أَبُو عَلِيٍّ الرُّوذْبَارِيُّ عَنِ التَّوْحِيدِ ، فَقَالَ : التَّوْحِيدُ : اسْتِقَامَةُ القَلْبِ بِإِثْبَاتِ مُفَارَقَةِ التَّعْطِيلِ وَإِنْكَارِ التَّشْبِيهِ ، وَالتَّوْحِيدُ فِي كَلِمَةٍ وَاحِدَةٍ : كُلُّ مَا صَوَّرَهُ الأَوْهَامُ وَالأَفْكَارُ . . فَاللهُ سُبْحَانَهُ بِخِلَافِهِ ؛ لِقَوْلِهِ : ﴿ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ ﴾ (١)
وَقَالَ أَبُو القَاسِمِ النَّصْرَابَاذِيُّ : ( الجَنَّةُ بَاقِيَةٌ بِإِبْقَائِهِ ، وَذِكْرُهُ لَكَ وَرَحْمَتُهُ وَمَحَبَّتُهُ لَكَ بَاقِيَةٌ بِبَقَائِهِ ، فَشَتَّانَ بَيْنَ مَا هُوَ بَاقٍ بِبَقَائِهِ ، وَبَيْنَ مَا هُوَ بَاقٍ بِإِبْقَائِهِ )
Al-Wasiti berkata: *(Bagian-bagian telah dibagi dan sifat-sifat
telah ditetapkan, bagaimana mungkin hal itu dapat ditarik hanya dengan
pergerakan [usaha], atau dicapai dengan kerja keras/perjuangan?!).*
Al-Wasiti ditanya tentang kekufuran: Apakah itu menolak
Allah atau berasal dari ketetapan Allah? Maka ia menjawab: *"Kekufuran,
keimanan, dunia, dan akhirat adalah dari Allah, menuju Allah, dengan [kuasa]
Allah, dan milik Allah. Dari Allah permulaan dan penciptaannya, menuju Allah
tempat kembali dan kesudahannya, dengan Allah kekekalan dan kefanaannya, serta
milik Allah-lah seluruh kerajaan dan ciptaan."*
Al-Junaid berkata: Sebagian ulama ditanya tentang tauhid,
lalu ia menjawab: "Tauhid adalah keyakinan (*al-yaqin*)." Penanya
berkata: "Jelaskan padaku apa maksudnya?" Ia menjawab: *"Yaitu
pengetahuanmu bahwa pergerakan makhluk dan diamnya mereka adalah perbuatan
Allah 'Azza wa Jalla semata, tiada sekutu bagi-Nya. Jika engkau telah meyakini
hal itu... maka engkau telah mentauhidkan-Nya."*
Saya mendengar Muhammad bin Al-Husain —semoga Allah
merahmatinya— berkata: Saya mendengar Abdul Wahid bin Ali berkata: Saya
mendengar Al-Qasim bin Al-Qasim berkata: Saya mendengar Muhammad bin Musa
Al-Wasiti berkata: Saya mendengar Muhammad bin Al-Husain Al-Jauhari berkata:
Saya mendengar Dzun Nun Al-Mishri didatangi oleh seseorang yang berkata:
"Doakanlah kepada Allah Ta'ala untukku." Maka Dzun Nun berkata:
*"Jika engkau telah ditopang dalam ilmu gaib (takdir Allah) dengan
kejujuran tauhid... maka betapa banyak doa terkabul yang telah mendahuluimu.
Namun jika tidak... maka sesungguhnya teriakan tidak akan dapat menyelamatkan
orang yang tenggelam!"*
Al-Wasiti berkata: *(Fir'aun mengklaim ketuhanan
(*rububiyyah*) secara terang-terangan/terbuka, sedangkan kaum Mu'tazilah
mengklaimnya secara terselubung/tersembunyi, dengan mengatakan: 'Apa yang
engkau kehendaki, dapat engkau lakukan sendiri').*
Abu Al-Hasan An-Nuri berkata: *(Tauhid adalah setiap
terdetiknya hati yang mengarah kepada Allah, setelah tidak lagi diusik oleh
prasangka-prasangka penyerupaan [tasybih]).*
Syekh Abu Abdurrahman —semoga Allah Ta'ala merahmatinya—
mengabarkan kepada kami, ia berkata: Saya mendengar Abdul Wahid bin Bakr
berkata: Saya mendengar Hilal bin Ahmad berkata: Abu Ali Ar-Rudzbari ditanya
tentang tauhid, lalu ia menjawab: *"Tauhid adalah keteguhan hati dalam
menetapkan sifat Allah dengan terbebas dari ta'thil [penolakan sifat] dan
menolak tasybih [penyerupaan dengan makhluk]. Dan tauhid dalam satu kalimat
adalah: Apa pun yang digambarkan oleh imajinasi dan pikiran... maka Allah Maha
Suci dari hal tersebut; berdasarkan firman-Nya: 'Tidak ada sesuatu pun yang
serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat'."*
Abu Al-Qasim An-Nashrabadzi berkata: *(Surga itu kekal
karena diekalkan oleh Allah [ibqa'], sedangkan sebutan-Nya untukmu, rahmat-Nya,
dan kecintaan-Nya kepadamu kekal dengan sifat kekekalan Dzat-Nya [baqa']. Maka
sungguh jauh berbeda antara sesuatu yang kekal karena diekalkan-Nya dengan
sesuatu yang kekal karena sifat Kekal Dzat-Nya).*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.