بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
**BAB PERTAMA**
**Tokoh-Tokoh Utama Sufi dan Ilmu Tauhid**
kumpulan dari
petikan perkataan Kaum Sufi terkait masalah-masalah *ushul* (akidah dasar) 2
أَخْبَرَنَا الشَّيْخُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ غَالِبٍ قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ أَحْمَدَ بْنَ سَعِيدٍ الإِسْفِيجَابِيَّ يَقُولُ : قَالَ الحُسَيْنُ بْنُ مَنْصُورٍ : ( أَلْزَمَ الكُلَّ الحَدَثَ ؛ لِأَنَّ القِدَمَ لَهُ ، فَالَّذِي بِالجِسْمِ ظُهُورُهُ فَالَعَرَضُ يَلْزَمُهُ ، وَالَّذِي بِالأَدَوَاتِ اجْتِمَاعُهُ فَقُوَاهَا تَمْسَكُهُ ، وَالَّذِي يُؤَلِّفُهُ وَقْتٌ يُفَرِّقُهُ وَقْتٌ ، وَالَّذِي يُقِيمُهُ غَيْرُهُ فَالضَّرُورَةُ تَمَسُّهُ ، وَالَّذِي الوَهْمُ يَظْفَرُ بِهِ فَالَتَّصْوِيرُ يَرْتَقِي إِلَيْهِ ، وَمَنْ آوَاهُ مَحَلٌّ أَدْرَكَهُ أَيْنَ ، وَمَنْ كَانَ لَهُ جِنْسٌ طَالَبَهُ مُكَيِّفٌ )
إِنَّهُ سُبْحَانَهُ لَا يُظِلُّهُ فَوْقٌ ، وَلَا يُقِلُّهُ تَحْتٌ ، وَلَا يُقَابِلُهُ حَدٌّ ، وَلَا يُزَاحِمُهُ عِنْدٌ ، وَلَا يَأْخُذُهُ خَلْفٌ ، وَلَا يَحُدُّهُ أَمَامٌ ، وَلَمْ يُظْهِرْهُ قَبْلُ ، وَلَمْ يُفْنِهِ بَعْدُ ، وَلَمْ يَجْمَعْهُ كُلٌّ ، وَلَمْ يُوجِدْهُ كَانَ ، وَلَمْ يَفْقِدْهُ لَيْسَ
وَصْفُهُ لَا صِفَةَ لَهُ ، وَفِعْلُهُ لَا عِلَّةَ لَهُ ، وَكَوْنُهُ لَا أَمَدَ لَهُ
تَنَزَّهَ مِنْ أَحْوَالِ خَلْقِهِ ، لَيْسَ لَهُ مِنْ خَلْقِهِ مِزَاجٌ ، وَلَا فِي فِعْلِهِ عِلَاجٌ ، بَايَنَهُمْ بِقِدَمِهِ كَمَا بَايَنُوهُ بِحُدُوثِهِمْ
إِنْ قُلْتَ : مَتَى ؟ فَقَدْ سَبَقَ الوَقْتَ كَوْنُهُ ، وَإِنْ قُلْتَ : هُوَ . . فَالَهَاءُ وَالوَاوُ خَلْقُهُ ! وَإِنْ قُلْتَ : أَيْنَ ؟ فَقَدْ تَقَدَّمَ المَكَانَ وُجُودُهُ
فَالْحُرُوفُ آيَاتُهُ ، وَوُجُودُهُ إِثْبَاتُهُ ، وَمَعْرِفَتُهُ تَوْحِيدُهُ ، وَتَوْحِيدُهُ تَمْيِيزُهُ مِنْ خَلْقِهِ ، مَا تُصُوِّرَ فِي الأَوْهَامِ فَهُوَ بِخِلَافِهِ
كَيْفَ يَحُلُّ بِهِ مَا مِنْهُ بَدَا ؟ أَوْ يَعُودُ إِلَيْهِ مَا هُوَ أَنْشَأَهُ ؟ لَا تَمَاقَلُهُ العُيُونُ ، وَلَا تُقَابِلُهُ الظُّنُونُ
قُرْبُهُ كَرَامَتُهُ ، وَبُعْدُهُ إِهَانَتُهُ ، عُلُوُّهُ مِنْ غَيْرِ تَوَقُّلٍ ، وَمَجِيئُهُ مِنْ غَيْرِ تَنَقُّلٍ
هُوَ الأَوَّلُ وَالآخِرُ ، وَالظَّاهِرُ وَالبَاطِنُ ، القَرِيبُ البَعِيدُ ، الَّذِي لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Syekh Abu Abdurrahman As-Sulami mengabarkan kepada kami, ia
berkata: Saya mendengar Muhammad bin Muhammad bin Ghalib berkata: Saya
mendengar Abu Nashr Ahmad bin Said Al-Isfijabi berkata: Al-Husain bin Manshur
(Al-Hallaj) berkata: *(Allah menetapkan kebaharuan/sifat baru [hadats] pada
segala sesuatu karena sifat Qidam [kekal tanpa permulaan] hanyalah milik-Nya.
Maka, barangsiapa yang pemunculannya dengan tubuh/jisim, niscaya sifat baharu
[‘aradh] melekat padanya; barangsiapa yang penyatuannya dengan alat/organ,
niscaya kekuatannya yang menopangnya; barangsiapa yang disatukan oleh waktu,
niscaya akan dipisahkan oleh waktu; barangsiapa yang ditegakkan oleh selain
dirinya, niscaya ia diliputi keterpaksaan/kebutuhan; barangsiapa yang dapat
dicapai oleh prasangka/imajinasi, niscaya rekaan/gambaran dapat menjangkaunya;
barangsiapa yang ditempatkan oleh suatu tempat, niscaya pertanyaan 'di mana'
[ain] dapat mendapatinya; dan barangsiapa yang memiliki jenis/serupa, niscaya
penanya 'bagaimana' [mukayyif] akan menuntutnya).*
Sesungguhnya Dia Maha Suci, tidak dinaungi oleh
"atas", tidak ditopang oleh "bawah", tidak dibatasi oleh
"batas", tidak disesaki oleh "di samping/dekat", tidak
diliputi oleh "belakang", dan tidak dibatasi oleh "depan".
"Sebelum" tidak memunculkan-Nya, "sesudah" tidak
memusnahkan-Nya, "keseluruhan" tidak mengumpulkan-Nya,
"keberadaan" [kaan] tidak mewujudkan-Nya, dan "ketiadaan"
[laisa] tidak menghilangkan-Nya.
Sifat-Nya bukanlah sifat (sebagaimana makhluk),
perbuatan-Nya tidak memiliki sebab (*'illat*), dan keberadaan-Nya tidak
memiliki batas waktu.
Maha Suci Dia dari keadaan-keadaan makhluk-Nya. Tidak ada
pada-Nya pencampuran dari makhluk-Nya, dan tidak ada kerumitan/usaha keras
dalam perbuatan-Nya. Dia berbeda dari mereka dengan sifat *Qidam*-Nya (Maha
Terdahulu/Kekal), sebagaimana mereka berbeda dari-Nya dengan sifat *huduts*
(baru/diciptakan) mereka.
Jika engkau bertanya: *"Kapan?"*, maka
keberadaan-Nya telah mendahului waktu. Jika engkau mengucapkan: *"Dia
(Huwa)"*, maka huruf *Ha* dan *Wawu* itu adalah ciptaan-Nya! Jika engkau
bertanya: *"Di mana?"*, maka keberadaan-Nya telah mendahului tempat.
Huruf-huruf adalah tanda-tanda (kekuasaan)-Nya,
keberadaan-Nya adalah penetapan-Nya, mengenal-Nya adalah mentauhidkan-Nya, dan
mentauhidkan-Nya adalah membedakan-Nya dari makhluk-Nya. Apapun yang tergambar
dalam imajinasi/prasangka, maka Allah berbeda dari hal itu.
Bagaimana mungkin sesuatu yang berasal dari-Nya dapat
bertempat pada Dzat-Nya? Atau bagaimana mungkin sesuatu yang Dia ciptakan dapat
kembali (mempengaruhi) Dzat-Nya? Mata tidak dapat memandang-Nya secara
langsung, dan prasangka tidak dapat menggambarkan-Nya.
Kedekatan-Nya (dengan hamba) adalah kemuliaan dari-Nya, dan
kejauhan-Nya adalah kehinaan. Ketinggian-Nya tanpa perlu mendaki, dan kedatangan-Nya
tanpa perlu berpindah tempat.
Dialah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Zhahir
dan Yang Maha Batin, Yang Maha Dekat sekaligus Maha Jauh, Yang tidak ada
sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat.
سَمِعْتُ أَبَا حَاتِمٍ السِّجِسْتَانِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ الطُّوسِيَّ السَّرَّاجَ يَحْكِي عَنْ يُوسُفَ بْنِ الحُسَيْنِ قَالَ : قَامَ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْ ذِي النُّونِ المِصْرِيِّ فَقَالَ : أَخْبِرْنِي عَنِ التَّوْحِيدِ مَا هُوَ ؟ فَقَالَ : هُوَ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ قُدْرَةَ اللهِ تَعَالَى فِي الأَشْيَاءِ بِلاَ مِزَاجٍ ، وَصُنْعَهُ لِلأَشْيَاءِ بِلاَ عِلاَجٍ ، وَعِلَّةَ كُلِّ شَيْءٍ صُنْعُهُ ، وَلاَ عِلَّةَ لِصُنْعِهِ ، وَلَيْسَ فِي السَّمَاوَاتِ العُلَا وَلاَ فِي الأَرَضِينَ السُّفْلَى مُدَبِّرٌ غَيْرُ اللهِ تَعَالَى ، وَكُلُّ مَا تَصَوَّرَ فِي وَهْمِكَ فَاللهُ تَعَالَى بِخِلاَفِ ذَلِكَ (٣)
وَقَالَ الجُنَيْدُ : ( التَّوْحِيدُ : عِلْمُكَ وَإِقْرَارُكَ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى فَرْدٌ فِي أَزَلِيَّتِهِ ، لاَ ثَانِيَ مَعَهُ ، وَلاَ شَيْءَ يَفْعَلُ فِعْلَهُ ) (٤)
وَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللهِ بْنُ خَفِيفٍ : ( الإِيمَانُ : تَصْدِيقُ القُلُوبِ بِمَا أَعْلَمَهُ الحَقُّ مِنَ الغُيُوبِ ) (٥)
وَقَالَ أَبُو العَبَّاسِ السَّيَّارِيُّ : ( عَطَاؤُهُ عَلَى نَوْعَيْنِ : كَرَامَةٌ وَاسْتِدْرَاجٌ ؛ فَمَا أَبْقَاهُ عَلَيْكَ فَهُوَ كَرَامَةٌ ، وَمَا أَزَالَهُ عَنْكَ فَهُوَ اسْتِدْرَاجٌ ، فَقُلْ : أَنَا مُؤْمِنٌ إِنْ شَاءَ اللهُ ) (٦)
وَأَبُو العَبَّاسِ السَّيَّارِيُّ كَانَ شَيْخَ وَقْتِهِ (١) ، سَمِعْتُ الأُسْتَاذَ أَبَا عَلِيٍّ الحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ الدَّقَّاقَ رَحِمَهُ اللهُ يَقُولُ : غَمَزَ رَجُلٌ رِجْلَ أَبِي العَبَّاسِ السَّيَّارِيِّ ، فَقَالَ : تَغْمِزُ رِجْلًا مَا نَقَلْتُهَا قَطُّ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ تَعَالَى ؟
وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ الوَاسِطِيُّ : ( مَنْ قَالَ : أَنَا مُؤْمِنٌ بِاللهِ حَقًّا . . قِيلَ لَهُ : الحَقِيقَةُ تُشِيرُ إِلَى إِشْرَافٍ أَوْ إِطْلَاعٍ وَإِحَاطَةٍ ، فَمَنْ فَقَدَهُ . . بَطَلَ دَعْوَاهُ فِيهَا ) (٢)
يُرِيدُ بِذَلِكَ : مَا قَالَهُ أَهْلُ السُّنَّةِ : إِنَّ المُؤْمِنَ الحَقِيقِيَّ : مَنْ كَانَ مَحْكُومًا لَهُ بِالجَنَّةِ ، فَمَنْ لَمْ يَعْلَمْ ذَلِكَ مِنْ سِرِّ حُكْمِهِ تَعَالَى (٣) . . فَدَعْوَاهُ بِأَنَّهُ مُؤْمِنٌ حَقًّا غَيْرُ صَحِيحَةٍ
سَمِعْتُ الشَّيْخَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ مَنْصُورَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَقُولُ : سَمِعْتُ أَبَا الحَسَنِ العَنْبَرِيَّ يَقُولُ : سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ عَبْدِ اللهِ التُّسْتَرِيَّ يَقُولُ : ( يَنْظُرُ إِلَيْهِ تَعَالَى المُؤْمِنُونَ بِالأَبْصَارِ مِنْ غَيْرِ إِحَاطَةٍ وَلاَ إِدْرَاكِ نِهَايَةٍ )
وَقَالَ أَبُو الحَسَنِ النُّورِيُّ : ( شَاهَدَ الحَقُّ القُلُوبَ ، فَلَمْ يَرَ قَلْبًا أَشْوَقَ إِلَيْهِ مِنْ قَلْبِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَأَكْرَمَهُ بِالمِعْرَاجِ تَعْجِيلًا لِلرُّؤْيَةِ وَالمُكَالَمَةِ ) (٤)
Saya mendengar Abu Hatim As-Sijistani berkata: Saya
mendengar Abu Nashr At-Thusi As-Sarraj menceritakan dari Yusuf bin Al-Husain,
ia berkata: Seseorang berdiri di hadapan Dzun Nun Al-Mishri lalu bertanya:
"Beritahukan kepadaku tentang tauhid, apakah itu?" Dzun Nun menjawab:
*"Yaitu engkau mengetahui bahwa kekuasaan Allah Ta'ala pada segala sesuatu
tanpa pencampuran, ciptaan-Nya terhadap segala sesuatu tanpa kerumitan/usaha
keras, penyebab segala sesuatu adalah ciptaan-Nya dan tidak ada penyebab bagi
ciptaan-Nya, tidak ada pengatur di langit yang tinggi maupun di bumi yang
rendah selain Allah Ta'ala, dan apa pun yang tergambar dalam imajinasimu, maka
Allah Ta'ala berbeda dari hal tersebut."*
Al-Junaid berkata: *(Tauhid adalah pengetahuan dan
pengakuanmu bahwa Allah Ta'ala Maha Esa dalam keazalian-Nya, tidak ada yang
kedua bersama-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat melakukan perbuatan
seperti perbuatan-Nya).*
Abu Abdillah bin Khafif berkata: *(Iman adalah pembenaran
hati terhadap hal-hal gaib yang telah diberitahukan oleh Al-Haq [Allah]).*
Abu Al-Abbas As-Sayyari berkata: *(Pemberian-Nya ada dua
macam: karamah [kemuliaan] dan istidraj [jebakan kenikmatan]. Apa yang
dikekalkan-Nya padamu maka itu adalah karamah, dan apa yang dihilangkan-Nya
darimu maka itu adalah istidraj. Maka katakanlah: 'Saya adalah seorang mukmin,
insya Allah').*
Abu Al-Abbas As-Sayyari adalah guru pada zamannya. Saya
mendengar Al-Ustadz Abu Ali Al-Hasan bin Ali Ad-Daqqaq —semoga Allah
merahmatinya— berkata: Seseorang memijat/menekan kaki Abu Al-Abbas As-Sayyari,
lalu As-Sayyari berkata: *"Apakah engkau memijat kaki yang tidak pernah
melangkah sekali pun dalam kemaksiatan kepada Allah Ta'ala?!"*
Abu Bakr Al-Wasiti berkata: *(Barangsiapa berkata: 'Saya
adalah orang yang beriman kepada Allah secara hakiki (haqqan)...' maka
dikatakan padanya: 'Hakikat itu mengisyaratkan pada pencapaian, penyaksian,
atau penguatan/penguasaan, barangsiapa yang tidak memilikinya... maka batal
klaimnya dalam hal itu').*
Maksud dari hal tersebut adalah apa yang dikatakan oleh
*Ahlus Sunnah*: Bahwa mukmin sejati adalah orang yang telah ditetapkan baginya
Surga. Barangsiapa yang tidak mengetahui hal tersebut dari rahasia ketetapan
Allah Ta'ala, maka klaimnya bahwa ia adalah mukmin sejati (*haqqan*) tidaklah
benar.
Saya mendengar Syekh Abu Abdurrahman As-Sulami berkata: Saya
mendengar Manshur bin Abdullah berkata: Saya mendengar Abu Al-Hasan Al-Anbari
berkata: Saya mendengar Sahl bin Abdullah At-Tustari berkata: *(Orang-orang
mukmin akan melihat Allah Ta'ala dengan mata kepala tanpa dapat meliput-Nya
[ihatah] dan tanpa batas pencapaian akhir).*
Abu Al-Hasan An-Nuri berkata: *(Al-Haq [Allah] melihat
kepada hati-hati hamba, dan Dia tidak melihat hati yang lebih rindu kepada-Nya
daripada hati Muhammad SAW. Maka Dia memuliakannya dengan Isra' Mi'raj sebagai
penyegeraan untuk penglihatan [ru'yah] dan percakapan [mukalamah]).*
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.