بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Tajul ‘Arus Bab 21:
Penjelasan bagi Orang yang
Mengambil Pelajaran dan Petunjuk bagi Orang yang Memiliki Mata Hati
بيان للمعتبرين وهداية للمستبصرين
وهو أن من خرج من تدبيره لنفسه كان الله هو المتولى بحسن التدبير له، والتدبير على قسمين تدبير محمود وتدبير مذموم. فالتدبير المذموم وهو كل تدبير ينعطف على نفسك بوجود حظها ليس لله فيه شيء، كالتدبير في تحصيل معصية أو في حظ بوجود غفلة، أو طاعة بوجود رياء وسمعة، ونحو هذا فهذا لله مذموم لأنه إما موجب عقاباً وإما موجب حجابا
ومن عرف نعمة العقل استحيا من الله سبحانه أن يصرف عقله إلى تدبير ما لا يوصله إلى قربه ولا يكون سبباً لوجود حبه، والعقل أفضل ما منّ الله به على عباده، لأنه سبحانه خلق الموجودات وتفضل عليها بالإيجاد ودوام الإمداد، فاشتركت الموجودات في إيجاده وإمداده، فلما اشتركت أراد الحق سبحانه أن يميز الآدمي عنهم، فأعطاه العقل وأيده به وفضله بذلك على الحيوان، وأكمل به نعمته على الإنسان وبالعقل ووفوره وإشراقه ونوره تتم مصالح الدنيا والآخرة، فصرف نعمة العقل إلى تدبير الدنيا التي لا قدر لها عند الله تعالى كفر لنعمة العقل وتوجهه إلى الاهتمام بإصلاح شأنه في معاده قياماً بشكر المحسن إليه، والمفيض من نوره عليه أحق به وأحرى، وأفضل له وأولى. فلا تصرف عقلك الذي منّ الله به عليك في تدبير الدنيا التي هي كما أخبر عنها رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم بقوله: "الدنيا جيفة قذرة"، كما قال الضحاك: ما طعامك؟ قال اللحم واللبن. قال ثم يعودان إلى ماذا؟ قال إلى ما قد علمت يا رسول الله، قال فإن الله قد جعل ما يخرجه من ابن آدم مثلاً للدنيا
Yaitu bahwasanya
barangsiapa yang keluar dari pengaturan dirinya sendiri (tidak mengandalkan
egonya), maka Allah-lah yang akan mengurusnya dengan pengaturan yang
sebaik-baiknya. Pengaturan (tadbir) itu terbagi
menjadi dua bagian: pengaturan yang terpuji dan pengaturan yang tercela.
·
Pengaturan yang Tercela: Adalah setiap pengaturan yang kembali kepada kepentingan
nafsumu demi mendapatkan bagian duniawi yang di dalamnya tidak ada bagian untuk
Allah sedikit pun. Seperti merencanakan untuk melakukan kemaksiatan, atau
mencari keuntungan dalam kelalaian, atau melakukan ketaatan namun disertai riya
(pamer) dan sum’ah (ingin didengar orang lain). Hal semacam ini tercela di sisi
Allah karena ia bisa mendatangkan siksa atau menjadi penghalang (hijab) antara
hamba dengan Tuhannya.
Barangsiapa yang
mengenal nikmat akal, niscaya ia akan merasa malu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala jika menggunakan akalnya untuk
mengatur hal-hal yang tidak mendekatkan diri kepada-Nya dan tidak menjadi sebab
datangnya cinta-Nya. Akal adalah karunia paling utama yang Allah berikan kepada
hamba-hamba-Nya. Sebab, Allah menciptakan segala yang ada dan memberikan
karunia berupa eksistensi serta pemberian yang terus-menerus. Seluruh makhluk
berserikat dalam hal penciptaan dan pemberian rezeki tersebut. Namun, ketika
semuanya berserikat, Allah ingin membedakan manusia dari makhluk lainnya; maka
Allah memberikan akal, menguatkannya dengan akal, memuliakannya di atas hewan,
dan menyempurnakan nikmat-Nya kepada manusia melalui akal tersebut.
Dengan akal yang
sempurna, terang, dan bercahaya, segala urusan dunia dan akhirat menjadi baik.
Maka, menggunakan nikmat akal hanya untuk mengatur urusan dunia yang tidak
memiliki nilai di sisi Allah merupakan bentuk kekufuran terhadap nikmat akal.
Seharusnya, mengarahkan perhatian akal untuk memperbaiki urusan akhirat sebagai
bentuk syukur kepada Dzat Yang Maha Berbuat Baik—yang telah melimpahkan
cahaya-Nya—adalah hal yang lebih berhak, lebih pantas, lebih utama, dan lebih
layak dilakukan.
Maka janganlah engkau
habiskan akalmu—yang telah Allah karuniakan padamu—untuk mengatur dunia yang
mana Rasulullah ﷺ
telah bersabda tentangnya: "Dunia itu adalah bangkai
yang kotor." Sebagaimana perkataan Ad-Dahhak (saat ditanya
Nabi): "Apa makananmu?" Ia menjawab: "Daging dan susu."
Nabi bertanya lagi: "Kemudian keduanya berubah menjadi apa?" Ia
menjawab: "Menjadi apa yang telah engkau ketahui (kotoran), wahai
Rasulullah." Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah
menjadikan apa yang keluar dari perut anak Adam sebagai perumpamaan bagi
dunia."
والتدبير المحمود: هو ما كان تدبيراً إلى ما يقربك إلى الله سبحانه وتعالى، كالتدبير في براءة الذمة من حقوق المخلوقين، إما وفاءً وإما استحلالاً وتصحيح التوبة إلى رب العالمين والفكرة فيما يؤدي إلى قمع الهوى الردى والشيطان المغوي، فهذا كله محمود لا شك فيه ولذلك قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم "فكر ساعة خير من عبادة سبعين"، والتدبير للدنيا على قسمين:
١-تدبير الدنيا للدنيا.
٢-وتدبير الدنيا للآخرة.
فـتدبير الدنيا للدنيا، هو أن يدبر في أسباب جمعها افتخاراً بها واستكثاراً لها وكلما زيد فيها شيء، ازداد غفلة واغتراراً فأمارة ذلك أن تشغله عن الموافقة، وتؤديه إلى المخالفة.
وتدبير الدنيا للآخرة كمن يدبر المتاجر ليأكل منها حلالاً، ولينعم بها على ذي الفاقة أفضالاً، وليصون بها نفسه عن الناس إجمالاً، فأمارة ذلك عدم الاستكثار والادخار والإسعاف والإيثار فقد تبين من هذا أنه ليس كل طالب للدنيا مذموماً، بل المذموم من طلبها لنفسه لا لربه، ولدنياه لا لآخرته، فالناس إذاً على قسمين: عبد طلب الدنيا للدنيا، وعبد طلب الدنيا للآخرة
Dan Pengaturan (Tadbir) yang
Terpuji:
Adalah segala
pengaturan yang mendekatkan dirimu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Contohnya seperti mengatur cara membebaskan diri dari tanggungan hak-hak sesama
makhluk, baik dengan cara menunaikan (utang/janji) maupun meminta keikhlasan
(maaf), serta memperbaiki tobat kepada Tuhan semesta alam. Termasuk juga
memikirkan hal-hal yang dapat menundukkan hawa nafsu yang merusak dan setan
yang menyesatkan. Semua ini adalah pengaturan yang terpuji tanpa keraguan
sedikit pun. Oleh karena itulah Rasulullah ﷺ
bersabda: "Berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah tujuh puluh
tahun."
Adapun mengatur urusan
dunia itu terbagi menjadi dua jenis:
1. Mengatur Dunia untuk Dunia
Yaitu seseorang yang
mengatur strategi untuk mengumpulkan dunia demi tujuan kesombongan (kebanggaan)
dan memperbanyak harta semata. Setiap kali hartanya bertambah, bertambah pula
kelalaian dan tipu dayanya. Tanda dari orang jenis ini adalah dunianya
menyibukkan dia dari ketaatan (muwafaqah) dan
justru menyeretnya kepada pelanggaran (mukhalafah).
2. Mengatur Dunia untuk Akhirat
Contohnya adalah
seseorang yang mengelola perniagaan agar ia bisa memakan harta yang halal, agar
ia bisa memberi nikmat (sedekah) kepada orang yang membutuhkan sebagai bentuk
keutamaan, dan agar ia bisa menjaga kehormatan dirinya supaya tidak
meminta-minta kepada orang lain secara umum. Tanda dari orang jenis ini adalah
tidak berambisi menumpuk harta (untuk keserakahan), tidak sekadar menimbun,
melainkan gemar menolong dan mendahulukan kepentingan orang lain (itsar).
Maka dari penjelasan
ini, jelaslah bahwa tidak setiap orang yang mencari dunia itu tercela. Yang
tercela adalah orang yang mencari dunia untuk kepentingan nafsunya bukan untuk
Tuhannya, dan untuk kepentingan dunianya bukan untuk akhiratnya. Maka manusia
(dalam hal ini) terbagi dua: Hamba yang mencari dunia untuk
dunia, dan hamba yang mencari dunia untuk akhirat.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.