بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Kitab Tajul ‘Arus Bab 18:
Wahai Murid,
Waspadalah
Terhadap Tarikan Keterikatan Selain kepada Allah
أيها المريد إياك وجواذب التعلق بغير الله
قال الشيخ أبو الحسن رضي الله تعالى عنه: ليس الفقيه من فقأ الحجاب عن عيني قلبه، وإنما الفقيه من فهم سر الإيجاد وأنه ما أوجده إلا لطاعته ولا خلقه إلا لخدمته، فإذا فهم هذا كان هذا الفقه منه سبباً لزهده في الدنيا وإقباله على الآخرة، وإهماله لحظوظ نفسه واشتغاله بحقوق سيده مفكراً في الميعاد قائماً بالاستعداد
قال رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم: «المؤمن القوي خير عند الله من المؤمن الضعيف، وفي كل خير». والمؤمن القوي هو الذي أشرق في قلبه نور اليقين. قال الله تعالى: ﴿وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ * أُولَٰئِكَ الْمُقَرَّبُونَ فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ﴾. سبقت قلوبهم إلى الله فخلصت مما سواه فلم تعقهم العوائق ولم تشغلهم عن الله الخلائق، فسبقوا إلى الله إذاً لا مانع لهم وإنما منع العباد من السبق جواذب التعلق بغير الله، فكلما همت قلوبهم أن ترحل إلى الله سبحانه وتعالى جذبها ذلك التعلق الذي به تعلقت فكرت راجعة إليه ومقبلة عليه، فالحضرة محرمة على من هذا وصفه وممنوعة على من هذا نعته وافهم هاهنا قوله تعالى: ﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾. القلب السليم هو الذي لا تعلق له بشيء غير الله تعالى
Syaikh Abu Al-Hasan
(al-Syadzili) radhiyallahu 'anhu berkata: "Bukanlah seorang faqih (ahli
pemahaman) itu orang yang sekadar mampu menyingkap tabir dari mata hatinya.
Sesungguhnya faqih yang sejati adalah orang yang memahami rahasia penciptaan;
bahwa Allah tidak mewujudkannya melainkan untuk ditaati, dan tidak
menciptakannya melainkan untuk mengabdi kepada-Nya. Jika ia memahami hal ini,
maka pemahaman tersebut akan menjadi sebab baginya untuk zuhud di dunia,
menghadap penuh pada akhirat, mengabaikan kepentingan nafsunya, dan menyibukkan
diri dengan hak-hak Tuhannya sembari memikirkan hari perjanjian serta bersiap
diri."
Rasulullah ﷺ bersabda: "Mukmin yang kuat lebih
baik di sisi Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada
kebaikan." Mukmin yang kuat adalah ia yang di dalam hatinya
terpancar cahaya keyakinan. Allah Ta'ala berfirman: "Dan
orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dahulu (masuk
surga). Mereka itulah orang yang dekat kepada Allah, berada dalam surga
kenikmatan." Hati mereka telah mendahului menuju Allah, maka
hati itu bersih dari segala sesuatu selain-Nya. Mereka tidak terhambat oleh
rintangan dan tidak disibukkan dari Allah oleh makhluk, maka mereka sampai
kepada Allah karena tidak ada lagi penghalang.
Sesungguhnya yang
menghalangi para hamba untuk melampaui (menuju Allah) adalah tarikan keterikatan
kepada selain Allah. Setiap kali hati mereka berkeinginan untuk melakukan
perjalanan menuju Allah Subhanahu wa Ta'ala, keterikatan itu menariknya
kembali, sehingga hati itu kembali memikirkan dan menghadap kepada
(dunia/makhluk) tersebut. Maka, "Kehadiran" (di sisi Allah)
diharamkan bagi orang yang sifatnya demikian. Pahamilah di sini firman Allah
Ta'ala: "(yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak lagi
berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat
(salim)." Hati yang selamat adalah hati yang tidak memiliki
keterikatan pada apa pun selain Allah Ta'ala.
وقوله تعالى: ﴿وَلَقَدْ
جِئْتُمُونَا فُرَادَىٰ كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَتَرَكْتُم مَّا خَوَّلْنَاكُمْ
وَرَاءَ ظُهُورِكُمْ﴾
يفهم منه أنه لا يصلح مجيئك
إلى الله، ولا الوصول إليه إلا إذا كنت فرداً مما سواه
وقوله تعالى: ﴿أَلَمْ يَجِدْكَ
يَتِيمًا فَآوَىٰ﴾ يفهم منه أنه لا يأويك الله إلا إذا صح يتمك مما سواه
وقوله صلى الله عليه وآله
وسلم: «إن الله وتر يحب الوتر» أي يحب القلب الذي لا يشفع بمثنيات الآثار، فكانت هذه
القلوب لله وبالله فهم أهل الحضرة المخاطبون بعين المنة، فكيف يمكنهم أن يكونوا لسواه
مستندين، وهم لوجود الأحدية مشاهدون
Dan firman Allah
Ta'ala: "Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri
sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu
apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu." (QS. Al-An'am: 94).
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa tidaklah layak kedatanganmu kepada Allah,
dan tidak akan sampai (wushul) kepada-Nya, kecuali jika engkau telah menyendiri
(terputus) dari segala sesuatu selain-Nya.
Dan firman Allah
Ta'ala: "Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungimu?" (QS. Ad-Duha: 6). Dari ayat ini dapat dipahami
bahwa Allah tidak akan melindungimu (memberimu tempat bernaung yang hakiki)
kecuali jika telah nyata "keyatimanmu" (keterputusanmu) dari segala
sesuatu selain-Nya.
Dan sabda Rasulullah ﷺ: "Sesungguhnya Allah itu Ganjil (Maha Esa)
dan Dia menyukai yang ganjil." Maknanya adalah Allah menyukai
hati yang tidak mendua dengan keterikatan pada jejak-jejak makhluk (atsar).
Maka hati yang demikian adalah milik Allah dan bersama Allah; mereka itulah
"Ahli Hadrat" (orang yang hadir di hadirat Tuhan) yang diseru dengan
pandangan anugerah. Maka bagaimana mungkin mereka bersandar kepada selain-Nya,
padahal mereka adalah penyaksi bagi keberadaan Yang Maha Tunggal (Al-Ahad).
Catatan Singkat:
Teks ini menggunakan
metafora "Yatim" dan "Ganjil"
bukan dalam makna harfiah, melainkan makna spiritual:
·
Yatim: Kondisi hati yang
tidak lagi bergantung pada "orang tua" atau sebab-sebab duniawi
sebagai sandaran.
·
Ganjil (Witir): Hati yang murni hanya berisi satu tujuan (Allah), tidak
terpecah atau berpasangan dengan kecintaan pada dunia.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Kitab Tajul ‘Arus Bab 18: Waspadalah Terhadap Tarikan Keterikatan Selain kepada Allah
Description : Kitab Tajul ‘Arus Bab 18: Wahai Murid, Waspadalah Terhadap Tarikan Keterikatan Selain kepada Allah أيها المريد إياك وجواذب التعلق بغير...