بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Masuknya Hati ke Hadirat Yang
Maha Suci 1
دخول القلب حضرة القدس
وإذا رحل القلب من وطن شهوته ، وتطهر من لوث غفلاته ، وصل إلى حضرة ربه ، وتنعم بشهود قربه ،
ولذلك أشار بقوله
أم كيف يطمع أن يدخل حضرة الله وهو لم يتطهر من جنابة غفلاته ؟
الحضرة : هي حضور القلب مع الرب . وهي على ثلاثة أقسام : حضرة القلوب ، وحضرة الأرواح ، وحضرة الأسرار . فحضرة القلوب للسائرين ، وحضرة الأرواح للمستشرفين ، وحضرة الأسرار للمتمكنين . أو تقول : حضرة القلوب لأهل المراقبة ، وحضرة الأرواح لأهل المشاهدة ، وحضرة الأسرار لأهل المكالمة وسر ذلك أن الروح مادامت تتقلب بين الغفلة والحضرة كانت في حضرة القلوب ، فإذا استراحت بالوصال سميت روحاً وكانت في حضرة الأرواح ، وإذا تمكنت وتصفت وصارت سراً من أسرار الله سميت سراً وكانت في حضرة الأسرار ، والله تعالى أعلم
قلت : الحضرة مقدسة منزهة مرفوعة لا يدخلها إلا المطهرون ، فحرام على القلب الجنب أن يدخل مسجد الحضرة ، وجنابة القلب غفلته عن ربه ، قال تعالى
( يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا )
أي لا تقربوا صلاة الحضرة وأنتم سكارى بحب الدنيا وشهود السوى وحتى تتيقظوا وتتدبروا ما تقولون في حضرة الملك ، ولا جنباً من جماع الغفلة وشهود السوى حتى تتطهروا بماء الغيب الذى أشار إليه الحاتمي رضى الله عنه ، كما في الطبقات الشعرانية في ترجمة أبي المواهب بقوله
تَوَضَّأ بِمَاء الغَيْبِ إنْ كُنْتَ ذَا سِرِّ ... وَإِلَّا تَيَمَّمْ بِالصَّعِيدِ أَوِ الصَّخْرِ
وَقَدِّمْ إِمَاماً كُنْتَ أَنْتَ إِمَامَهُ ... وَصَلِّ صَلَاةَ الظُّهْرِ فِي أَوَّلِ العَصْرِ
فَهَذِي صَلَاةُ العَارِفِينَ بِرَبِّهِمْ ... فَإِنْ كُنْتَ مِنْهُمْ فَانْضَحِ البَرَّ بِالبَحْرِ
يعني تطهر من شهود نفسك بماء الغيبة عنها بشهود ربك ، أو تطهر من شهود الحس بشهود المعنى ، أو تطهر من شهود عالم الشهادة بماء شهود عالم الغيب ، أو تطهر من شهود السوى بماء العلم بالله ، فإنه يغيب عنك كل ما سواه . وإذا تطهرت من شهود السوى تطهرت من العيوب كلها
Apabila hati telah
beranjak dari kediaman hawa nafsunya dan bersuci dari noda kelalaiannya, maka
ia akan sampai ke hadirat Tuhannya dan menikmati persaksian akan kedekatan
dengan-Nya. Oleh karena itu, ia (penulis) mengisyaratkan dengan perkataannya:
أم كيف يطمع أن يدخل حضرة الله وهو لم يتطهر من جنابة غفلاته ؟
"Bagaimana mungkin
seseorang berambisi masuk ke hadirat Allah, padahal ia belum bersuci dari
janabat kelalaiannya?"
Al-Hadhrah (Kehadiran) adalah hadirnya hati bersama Tuhan. Ini
terbagi menjadi tiga tingkatan: Hadirat Hati (Hadhrah al-Qulub),
Hadirat Roh (Hadhrah al-Arwah), dan Hadirat Rahasia (Hadhrah al-Asrar).
·
Hadirat Hati
adalah bagi para pejalan (as-sa'irin).
·
Hadirat Roh
adalah bagi mereka yang mulai menyingkap tirai (al-mustashrifin).
·
Hadirat Rahasia adalah bagi mereka yang telah kokoh kedudukannya (al-mutamakkinin).
Atau dapat dikatakan:
Hadirat Hati bagi ahli Muraqabah (kewaspadaan), Hadirat
Roh bagi ahli Musyahadah (penyaksian), dan Hadirat Rahasia bagi ahli Mukalamah (dialog batin). Rahasianya adalah bahwa
selama jiwa masih berbolak-balik antara lalai dan hadir, maka ia berada di
Hadirat Hati. Jika ia telah tenang dalam penyatuan (wushul),
maka ia disebut Roh dan berada di Hadirat Roh. Dan jika ia telah kokoh, murni,
dan menjadi salah satu rahasia Allah, maka ia disebut Sirr (Rahasia) dan berada di Hadirat Rahasia. Wallahu Ta'ala A'lam.
Aku katakan: Hadirat
itu suci, mulia, dan ditinggikan, tidak ada yang memasukinya kecuali mereka
yang telah disucikan. Maka haram bagi hati yang dalam keadaan "janabat"
untuk memasuki masjid Hadirat tersebut. Adapun janabatnya hati adalah
kelalaiannya terhadap Tuhannya. Allah Ta'ala berfirman:
"Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mendekati salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk,
sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri masjid)
sedang kamu dalam keadaan junub, kecuali sekadar berlalu saja, hingga kamu
mandi." (QS. An-Nisa: 43).
Artinya: Janganlah
mendekati salat di hadirat Allah sementara kalian mabuk oleh cinta dunia dan
penyaksian terhadap selain Allah, sampai kalian sadar dan merenungkan apa yang
kalian ucapkan di hadapan Sang Raja. Jangan pula dalam keadaan junub akibat
"persetubuhan" dengan kelalaian dan penyaksian terhadap selain Allah,
sampai kalian bersuci dengan Air Gaib yang diisyaratkan
oleh Al-Hatimi ra., sebagaimana disebutkan dalam Thabaqat asy-Sya’rani
mengenai biografi Abu al-Mawahib:
Berwudulah dengan Air Gaib jika
engkau pemilik rahasia...
Jika tidak, bertayammumlah
dengan debu atau batu.
Majukanlah seorang imam yang tadinya
engkau adalah imamnya...
Dan kerjakanlah salat Zuhur di
awal waktu Ashar.
Itulah salat bagi mereka yang
mengenal Tuhannya (Arifin)...
Jika engkau termasuk bagian
dari mereka, maka percikkanlah daratan dengan lautan.
Artinya: Bersucilah
dari penyaksian terhadap dirimu sendiri dengan "air kegaiban" (fana)
dari dirimu melalui penyaksian terhadap Tuhanmu. Atau bersucilah dari
penyaksian alam indrawi dengan penyaksian terhadap makna (hakikat). Atau
bersucilah dari penyaksian alam nyata (alam asy-syahadah)
dengan air penyaksian alam gaib. Atau bersucilah dari penyaksian terhadap
"selain Allah" (as-siwa) dengan air
makrifat kepada Allah, karena hal itu akan membuat segala sesuatu selain-Nya
gaib (lenyap) darimu. Jika engkau telah suci dari menyaksikan selain Allah,
maka engkau telah suci dari segala aib.
وإلى ذلك أشار الششتري رضي الله عنه بقوله
طَهِّرِ العَيْنَ بِالمَدَامِعِ سَكْبًا ... مِنْ شُهُودِ السِّوَى تَزُلْ كُلُّ عِلَّهْ
وهذا الماء الذى هو ماء الغيب هو النازل من صفاء بحار الجبروت ، إلى حياض رياض الملكوت ، فتغرقه سحائب الرحمة ، وتثيره رياح الهداية ، فتسوقه إلى أرض النفوس الطيبة ، فتملأ منه أودية القلوب المنورة ، وخلجان الأرواح المطهرة ، وإليه الإشارة بقوله تعالى
أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا الآية
شبه الحق تعالى العلم النافع بالمطر النازل من السماء ؛ فكما أن المطر تغمر منه الأودية والغدران ، وتجرى منه العيون والأنهار ، كل على قدر سعته وكبره ، كذلك العلم النافع نزل من سماء عالم الغيب إلى أرض عالم الشهادة ، فسالت به أودية القلوب ، كل على قدر طاقته ، وحسب استعداده ، وكما أن المطر يطهر الأرض من الأوساخ ، وهو معنى قوله تعالى : ( فاحتمل السيل زبداً رابياً ) أى مرتفعاً على وجه الماء ، كذلك العلم النافع يطهر النفوس من الأدناس والقلوب من الأغيار ، والأرواح من الأكدار والأسرار من لوث الأنوار وهذا الماء هو الذى أشار إليه بقوله : توضأ بماء الغيب إن كنت ذا سر : أى كنت صاحب سر ، والشهود شهود الوحدة ونفى الكثرة ، أو شهود العظمة بالعظمة ، ومن لم يتحقق بهذا فلا يمكنه التطهير بماء الغيب بالكلية لفقده ذلك الماء ، أو لعدم قدرته عليه ، فينتقل للتيمم الذى هو رخصة للضعفاء وطهارة المرضى ، وإلى ذلك أشار بقوله : وإلا تيمم بالصعيد أو بالصخر : أى وإن لم تقدر على الطهارة الأصلية ، وهى الغيبة عن السوى لمرض قلبك مع عدم صدقك فانتقل للطهارة الفرعية التى هي العبادة الظاهرية
Mengenai hal ini, Asy-Syusytari ra.
mengisyaratkan dalam perkataannya:
"Sucikanlah mata dengan
kucuran air mata... dari menyaksikan selain-Nya, maka niscaya segala penyakit
akan hilang."
Air ini, yaitu
"Air Gaib", adalah air yang turun dari jernihnya samudera Jabarut menuju kolam-kolam taman Malakut. Ia dicurahkan oleh awan rahmat dan digerakkan
oleh angin hidayah, lalu digiring ke tanah jiwa-jiwa yang baik, sehingga
memenuhi lembah hati yang bercahaya dan teluk-teluk roh yang disucikan. Hal ini
diisyaratkan oleh firman Allah Ta'ala:
"Allah telah menurunkan
air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut
ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang..." (QS. Ar-Ra'd: 17).
Allah Ta'ala
mengibaratkan ilmu yang bermanfaat seperti hujan yang turun dari langit.
Sebagaimana hujan menggenangi lembah dan kolam, serta mengalirkan mata air dan
sungai—masing-masing sesuai dengan luas dan besarnya—demikian pula ilmu yang
bermanfaat turun dari langit alam gaib ke bumi alam nyata, lalu mengalirlah
lembah-lembah hati dengannya, masing-masing sesuai kapasitas dan kesiapannya.
Sebagaimana hujan menyucikan bumi dari kotoran—inilah makna firman-Nya: "maka arus itu membawa buih yang mengambang"
(yaitu kotoran yang naik ke permukaan air)—demikian pula ilmu yang bermanfaat
menyucikan jiwa dari noda, hati dari gangguan selain Allah, roh dari kekeruhan,
dan rahasia batin (asrar) dari polusi cahaya-cahaya
antara.
Inilah air yang
diisyaratkan dalam perkataan: "Berwudulah dengan air
gaib jika engkau pemilik rahasia", maksudnya jika engkau adalah
orang yang memiliki rahasia batin (sirr). Adapun
penyaksian (syuhud) yang dimaksud adalah penyaksian terhadap Yang
Esa (al-Wahdah) dan meniadakan yang banyak (al-Katsrah), atau menyaksikan Keagungan dengan
Keagungan itu sendiri. Barangsiapa yang belum mencapai hakikat ini, maka ia
tidak mungkin bersuci dengan air gaib secara sempurna karena ketiadaan air
tersebut padanya atau ketidakmampuannya. Maka ia beralih ke tayammum yang merupakan keringanan (rukhshah) bagi orang yang lemah dan sarana bersuci bagi
orang yang sakit. Hal ini diisyaratkan dalam perkataannya: "Jika tidak, maka bertayammumlah dengan debu atau batu",
artinya jika engkau tidak mampu melakukan penyucian yang asli—yaitu lenyapnya
kesadaran dari selain Allah karena penyakit hatimu serta kurangnya
kejujuranmu—maka beralihlah ke penyucian cabang (furu'), yaitu ibadah
lahiriah.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.