بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Hijab al-Ruh 2
**[ أم كيف يرحل إلى الله وهو مكبل بشهواته ؟ ]**
الرحيل : هو النهوض والانتقال من وطن إلى وطن ، وهو هنا من نظر الكون إلى شهود المكوِّن ، أو من الملك إلى الملكوت ، أو من الوقوف مع الأسباب إلى رؤية مسبب الأسباب ، أو من وطن الغفلة إلى اليقظة ، أو من حظوظ النفس إلى حقوق الله أو من عالم الأكدار إلى عالم الصفا ، أو من رؤية الحس إلى شهود المعنى ، أو من الجهل إلى المعرفة ، أو من علم اليقين إلى عين اليقين ، أو من عين اليقين إلى حق اليقين ، أو من المراقبة إلى المشاهدة ، أو من مقام السائرين إلى وطن المتمكنين ، والمكبل هو المقيد ، والمراد بالشهوات كل ما تشتهيه النفس وتميل إليه
قلت : الرحيل مع التكبيل لا يجتمعان ، فمادام القلب محبوسًا بالميل إلى شيء من هذا العرض الفاني ولو كان مباحًا في الشرع فهو مقيد به ومكبل في وطنه ، فلا يرحل إلى الملكوت ، ولا تشرق عليه أنوار الجبروت ، فتعلق القلب بالشهوات مانع له من النهوض إلى الله لاشتغاله بالالتفات إليها ، وعلى تقدير النهوض معها تكون مثبطة له عن الإسراع بالميل إليها ، وعلى تقدير الإسراع ، فلا يأمن العثار معها لأنس النفس بها ، ولذلك ترك الأكابر لذتها حتى قال بعضهم : لدغ الزنابير على الأجسام المقرحة أيسر من لدغ الشهوات على القلوب المتوجهة اهـ
قال الشيخ زروق رضى الله عنه : قلت هذا إن تعلق القلب بطلبها قبل حصولها وإلا فلا ، لعدم تعلق القلب بها . وقد تقدم فى حقيقة التصوف أن تكون مع الله بلا علاقة . وكان شيخنا رضى الله عنه يقول : إن شئتم أن نقسم لكم لا يدخل عالم الملكوت من فى قلبه علقة اهـ
فاقطع عنك يا أخى عروق العلائق ، وفر من وطن العوائق ، تشرق عليه أنوار الحقائق ، ولهذا كانت السياحة والهجرة من الأمور المؤكدة على المريد ، إذ الإقامة فى وطنه الحسى لا يخلو معها من التعلقات الحسية . وقد قالوا : الفقير كالماء إذا طال فى موطن واحد تغير ، وإذا جرى عذب ، وبقدر ما يسير فى الحس يسير فى المعنى ، وبقدر ما يسير القالب يسير القلب ، والهجرة سنة نبوية ، ومنذ هاجر النبى صلى الله عليه وسلم لم تكن له راحة إلا فى السفر للجهاد ، حتى فتح الله عليه البلاد وكذلك الصحابة رضوان الله عليهم لم يستقر فى وطنه إلا القليل منهم ، حتى فتح الله على أيديهم سائر البلاد وهدى الله بهم العباد ، فنفعنا الله ببركاتهم آمين
**[Atau
bagaimana mungkin seseorang melakukan perjalanan menuju Allah, sementara ia
terbelenggu oleh syahwatnya?]**
Perjalanan
(*Ar-Rahil*): Adalah bangkit dan berpindah dari satu "tanah air" ke
"tanah air" lainnya. Dalam konteks ini, berarti berpindah dari
memandang makhluk (*al-kawn*) menuju penyaksian Sang Pencipta (*al-Mukawwin*);
atau dari alam fisik (*mulk*) ke alam malakut; atau dari terpaku pada
sebab-akibat menuju melihat Sang Pencipta Sebab; atau dari tanah kelalaian
menuju kesadaran; atau dari kepentingan nafsu menuju hak-hak Allah; atau dari
dunia yang keruh menuju alam yang jernih; atau dari melihat yang lahiriah ke
penyaksian makna batin; atau dari kebodohan menuju makrifat; atau dari *Ilmul
Yaqin* ke *Ainul Yaqin*; atau dari *Ainul Yaqin* ke *Haqqul Yaqin*; atau dari
derajat pengawasan (*muraqabah*) ke penyaksian langsung (*musyahadah*); atau dari
maqam para pejalan (*sa'irin*) ke tanah air orang-orang yang telah teguh
(*mutamakkinin*).
Adapun **terbelenggu** berarti terikat, dan yang dimaksud
dengan **syahwat** adalah segala sesuatu yang diingini oleh nafsu dan
dicenderungi oleh hati.
Aku katakan:
"Perjalanan" dan "Terbelenggu" tidak mungkin bersatu.
Selama hati masih terpenjara oleh kecenderungan pada pernak-pernik dunia yang
fana ini—meskipun itu perkara yang mubah secara syariat—maka hati itu tetap
terikat dan terbelenggu di tempatnya. Ia tidak akan bisa melakukan perjalanan
ke alam malakut dan tidak akan disinari oleh cahaya *jabarut*. Keterikatan hati
pada syahwat adalah penghalang untuk bangkit menuju Allah karena ia sibuk
menoleh kepada syahwat tersebut. Kalaupun ia dipaksakan bangkit, syahwat itu
akan memperlambat geraknya. Kalaupun ia bergerak cepat, ia tidak akan aman dari
ketersinggungan karena nafsunya masih merasa nyaman dengan syahwat itu. Oleh
karena itu, para tokoh besar (*al-akabir*) meninggalkan kelezatan syahwat,
hingga sebagian mereka berkata: *"Sengatan tawon pada tubuh yang penuh
luka masih lebih ringan daripada sengatan syahwat pada hati yang sedang
menghadap Allah."*
Syekh
Zarruq RA berkata: Aku katakan bahwa hal ini berlaku jika hati terikat untuk
mencarinya sebelum ia mendapatkannya. Jika tidak (sudah didapat namun hati
tidak terikat), maka tidak mengapa karena hati tidak bergantung padanya. Telah
dijelaskan dalam hakikat tasawuf bahwa engkau harus "bersama Allah tanpa
ketergantungan (*'alaqah*)". Guru kami RA sering berkata: *"Jika
kalian mau, aku bisa bersumpah untuk kalian bahwa tidak akan masuk ke alam
malakut orang yang di dalam hatinya masih ada satu ketergantungan pun."*
Maka
putuskanlah wahai saudaraku, urat-urat ketergantunganmu, dan larilah dari tanah
air hambatan-hambatanmu, niscaya cahaya hakikat akan bersinar padamu. Oleh
karena itulah, *siyahah* (perjalanan spiritual) dan hijrah merupakan hal yang
sangat ditekankan bagi seorang *murid*. Sebab, berdiam di tanah air yang
bersifat indrawi seringkali tidak luput dari keterikatan materi. Para ulama
berkata: *"Seorang faqir (pencari Tuhan) itu seperti air; jika diam
terlalu lama di satu tempat ia akan berubah (menjadi payau/busuk), namun jika
ia mengalir maka ia akan menjadi tawar/segar."* Sejauh mana seseorang
melakukan perjalanan secara fisik, sejauh itu pula ia berjalan secara maknawi.
Sejauh mana raga bergerak, sejauh itu pula hati melangkah.
Hijrah
adalah sunnah Nabi. Sejak Nabi SAW berhijrah, beliau tidak pernah beristirahat
kecuali dalam perjalanan untuk jihad hingga Allah memberikan kemenangan atas
negeri-negeri. Demikian pula para sahabat RA, hanya sedikit dari mereka yang
menetap di tanah air mereka sendiri, hingga lewat tangan merekalah Allah
membebaskan negeri-negeri dan memberi petunjuk kepada para hamba. Semoga Allah
memberi kita manfaat melalui berkah-berkah mereka. Amin.
# Poin
Utama:
1. **Makna Hijrah Spiritual:** Bukan sekadar
berpindah tempat, tapi berpindah dari kelalaian ke kesadaran.
2. **Syahwat sebagai Beban:** Hati yang mencintai
dunia diibaratkan seperti orang yang kakinya dirantai; ia ingin berlari namun
tertahan.
3. **Kemandirian Hati:** Hakikat tasawuf adalah
memiliki dunia di tangan, tapi tidak membiarkannya masuk ke dalam hati.
4. **Dinamika Ruh:** Perjalanan fisik (seperti
ziarah atau menuntut ilmu) seringkali menjadi katalis bagi pertumbuhan ruhani
agar tidak "mandek" seperti air yang menggenang.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Kitab Iqazh al-Himam BAB 1: Hijab al-Ruh 2
Description : Hijab al-Ruh 2 **[ أم كيف يرحل إلى الله وهو مكبل بشهواته ؟ ]** الرحيل : هو النهوض والانتقال من وطن إلى وطن ، وهو هنا من نظر الكون إلى شه...