بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

**Hijab Ruh
(Penghalang Ruh)**
**حجاب الروح**
فإن
أضاف المريد إلى العزلة الصمت والجوع والسهر ، فقد كملت ولايته ، وظهرت
عنايته ، وأشرقت عليه الأنوار ، وانمحت من مرآة قلبه صور الأغيار .
وقد أشار الشيخ إلى بعض ذلك متعجبًا من ضده فقال :
**[ كيف يشرق قلب صور الأكوان منطبعة في مرآته ؟ ] **
يشرق
: بضم الياء أى يستنير ويضيء ، وصور الأكوان : أشخاصها وتماثيلها الحسية
والمعنوية ، والأكوان : أنواع المخلوقات دقت أو جلت ، ومنطبعة : أى ثابتة ،
وانطبع الشيء فى الشيء : ظهر أثره فيه ، والمرآة بكسر الميم : آلة صقيلة
ينطبع فيها ما يقابلها ، فكلما قوى صقلها قوى ظهور ما يقابلها فيها ،
واستعيرت هنا للبصيرة التى هى عين القلب التى تتجلى فيها الأشياء حسنها
وقبيحها . قلت : جعل الله قلب الإنسان كالمرآة الصقيلة ينطبع فيها كل ما
يقابلها وليس لها إلا وجهة واحدة ، فإذا أراد الله عنايته بعبد شغل فكرته
بأنوار ملكوته وأسرار جبروته ، ولم يعلق قلبه بمحبة شيء من الأكوان
الظلمانية والخيالات الوهمية ، فانطبعت فى مرآة قلبه أنوار الإيمان
والإحسان ، وأشرقت فيها أقمار التوحيد وشموس العرفان ، وإلى ذلك أشار
الششترى فى بعض أزجاله بقوله
أغمض الطـرف تـرى ... وتـلـوح أخـبـارك
وافـن عن ذى الورى ... تبدو لـك أسـرارك
ويصـقـل المـرآ ... يـه يـزول إنـكـارك
ثم قال
الفلك فيـك يـدور ... ويضيء ويلمع
والشـموس والبدور ... فيـك تغيب وتطلع
أى وبصقل مرآة قلبك يزول إنكارك للحق فتعرفه فى كل شيء ، فيصير قلبك قطب فلك الأنوار ، فيه تبدو أقمار التوحيد وشموس العرفان
Jika seorang
*murid* (pencari Tuhan) menambahkan diam, lapar, dan tidak tidur malam (untuk
ibadah) ke dalam uzlah-nya, maka sempurnalah kewaliannya, tampaklah inayah
(pertolongan Allah) baginya, cahaya-cahaya akan bersinar padanya, dan
terhapuslah bayangan "selain Allah" (*al-aghyar*) dari cermin
hatinya.
Seorang
Syekh telah mengisyaratkan hal ini seraya merasa heran terhadap kebalikannya
dengan berkata:
كيف يشرق قلب صور الأكوان منطبعة في مرآته ؟
**"Bagaimana
mungkin sebuah hati dapat bersinar, sementara bayangan alam semesta masih
terpatri dalam cerminnya?"**
Bersinar: Maksudnya menjadi terang dan bercahaya.
Bayangan
alam semesta: Sosok dan rupa makhluk, baik yang bersifat indrawi maupun
maknawi.
Alam
semesta (*Al-Akwan*): Jenis-jenis makhluk, baik yang halus maupun yang besar.
Terpatri
(*muntabi’ah*): Yaitu tetap/melekat. Sesuatu yang terpatri pada sesuatu
berarti bekasnya tampak padanya.
Cermin
(*al-mir’ah*): Alat yang mengkilap yang dapat memantulkan apa pun yang ada di
hadapannya. Semakin kuat kilapnya, semakin kuat pula penampakan benda di
depannya. Kata ini dipinjam (metafora) untuk *bashirah* (mata batin), yaitu
mata hati tempat tersingkapnya kebaikan dan keburukan segala sesuatu.
Aku katakan:
Allah menjadikan hati manusia seperti cermin yang mengkilap, memantulkan segala
yang ada di hadapannya dan ia hanya memiliki satu arah. Jika Allah menghendaki
inayah-Nya bagi seorang hamba, Dia akan menyibukkan pikirannya dengan cahaya
kerajaan-Nya (*malakut*) dan rahasia kekuasaan-Nya (*jabarut*), serta tidak
membiarkan hatinya terikat dengan cinta pada alam semesta yang gelap dan
khayalan semu. Maka, pada cermin hatinya akan terpatri cahaya iman dan ihsan,
serta terbitlah bulan-bulan tauhid dan matahari makrifat (*عرفان*).
Mengenai hal
ini, Asy-Syusytari berisyarat dalam sebagian syairnya (*azjal*):
>
Pejamkanlah mata, maka kau akan melihat ... dan kabar-kabarmu akan tampak
jelas.
>
Tiadakanlah dirimu dari makhluk ... maka rahasia-rahasiamu akan muncul bagimu.
> Dan
cermin itu akan menjadi mengkilap ... sehingga pengingkaranmu akan lenyap.
Kemudian ia
berkata:
>
Cakrawala berputar di dalam dirimu ... ia bersinar dan berkilauan.
>
Matahari dan bulan purnama ... terbenam dan terbit di dalam dirimu.
Maksudnya,
dengan mengkilapnya cermin hatimu, maka lenyaplah pengingkaranmu terhadap
kebenaran (*Al-Haqq*), sehingga engkau mengenali-Nya dalam segala sesuatu.
Hatimu pun menjadi poros bagi cakrawala cahaya; di dalamnya tampak bulan-bulan
tauhid dan matahari makrifat.
وإذا
أراد الله تعالى خذلان عبد بعدله وحكمته أشغل فكرته بالأكوان الظلمانية
والشهوات الجسمانية ، فانطبعت تلك الأكوان فى مرآة قلبه ، فانحجب بظلماتها
الكونية وصورها الخيالية عن إشراق شموس العرفان وأنوار الإيمان . فكلما
تراكمت فيها صور الأشياء انطمس نورها واشتد حجابها ، فلا ترى إلا الحس ولا
تتفكر إلا فى الحس ، فمنها ما يشتد حجابها وينطمس نورها بالكلية ، فتنكر
وجود النور من أصله ، وهو مقام الكفر والعياذ بالله . ومنها ما يقل صداها
ويرق حجابها ، فتقر بالنور ولا تشاهده ، وهو مقام عوام المسلمين ، وهم
متفاوتون فى القرب والبعد وقوة الدليل وضعفه ، كل على قدر يقينه ، وقلة
تعلقاته الدنيوية ، وعوائقه الشهوانية ، وخيالاته الوهمية
وفى
الحديث : « إنَّ القُلُوبَ تَصْدَأُ كَمَا يَصْدَأُ الحَدِيدُ ، وإِنَّ
الإيمان يَخْلَقُ » أى يبلى « كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الجَدِيدُ » الحديث
وفى حديث آخر : « لِكُلِّ شَيْءٍ مَصْقَلَةٌ ، ومَصْقَلَةُ القُلُوبِ
ذِكْرُ اللهِ »وقال صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أيضًا : « إنَّ
العَبْدَ إذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ في قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ
، فإِنْ هو نَزَعَ واسْتَغْفَرَ صُقِلَتْ وإِنْ عادَ زِيدَ فيها حتى
تَعْلُوَ قَلْبَهُ ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللهُ : ( كَلَّا
بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ) » أو كما قال عليه
الصلاة والسلام وإذا علمت أن القلب ليس له إلا وجهة واحدة ، إذا قابلها
النور أشرقت ، وإذا قابلتها الظلمة أظلمت ، ولا تجتمع الظلمة والنور أبدًا ،
علمت وجه تعجب الشيخ بقوله : كيف يشرق قلب بصور الأكوان الظلمانية منطبعة
فى مرآة قلبه ؟ فالضدان لا يجتمعان . قال الله تعالى
( مَا جَعَلَ اللهُ لِرَجُلٍ مِنْ قَلْبَيْنِ فِى جَوْفِهِ )
فما
لك أيها الفقير إلا قلب واحد . إذا أقبلت على الخلق أدبرت عن الحق ، وإذا
أقبلت على الحق أدبرت عن الخلق فترحل من عالم الملك إلى الملكوت ، ومن
الملكوت إلى الجبروت ، ومادمت مقيدًا في هذا العالم بشهواتك وعوائدك فلا
يمكنك الرحيل إلى ربك
وإلى ذلك أشار بقوله
**[ أم كيف يرحل إلى الله وهو مكبل بشهواته ؟ ] .**
Dan apabila
Allah Ta'ala hendak membiarkan (*khidlan*) seorang hamba berdasarkan keadilan
dan hikmah-Nya, Dia akan menyibukkan pikiran hamba tersebut dengan alam semesta
yang gelap dan syahwat ragawi. Maka, gambaran alam tersebut terpatri dalam
cermin hatinya, sehingga ia terhalang oleh kegelapan duniawi dan imajinasi semu
dari pancaran matahari makrifat dan cahaya iman. Semakin menumpuk gambaran
benda-benda di dalamnya, semakin redup cahayanya dan semakin tebal hijabnya.
Akibatnya, ia tidak melihat kecuali hal-hal indrawi (materi) dan tidak berpikir
kecuali pada hal materi saja.
Di antara
hati tersebut:
* Ada yang
**hijabnya sangat tebal** hingga cahayanya padam sepenuhnya, lalu ia
mengingkari keberadaan cahaya itu sendiri. Inilah derajat kekufuran (*na'udzubillah*).
* Ada yang
**karatnya sedikit** dan hijabnya tipis, sehingga ia mengakui adanya cahaya
namun tidak dapat menyaksikannya (*musyahadah*). Inilah derajat kaum muslimin
awam. Mereka bertingkat-tingkat dalam kedekatan, kejauhan, serta kekuatan atau
kelemahan dalilnya, masing-masing sesuai kadar keyakinan, sedikitnya
keterikatan duniawi, hambatan syahwat, dan khayalan semunya.
Dalam hadis
disebutkan: *"Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat,
dan sesungguhnya iman itu bisa usang sebagaimana pakaian baru bisa
usang."*
Dalam hadis
lain: *"Segala sesuatu ada pembersihnya, dan pembersih hati adalah
dzikrullah (mengingat Allah)."*
Rasulullah
SAW juga bersabda: *"Sesungguhnya seorang hamba jika melakukan kesalahan,
akan dititikkan satu titik hitam di hatinya. Jika ia melepaskannya dan
beristigfar, maka hatinya kembali bersih. Namun jika ia kembali (berbuat dosa),
titik itu akan ditambah hingga menutupi hatinya. Itulah 'Raan' (penutup) yang
disebut Allah dalam firman-Nya: 'Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka
kerjakan itu telah menutupi hati mereka.'"*
Jika engkau
telah mengetahui bahwa hati hanya memiliki satu arah (fokus)—jika menghadap
cahaya maka ia bersinar, dan jika menghadap kegelapan maka ia meredup, serta
cahaya dan kegelapan tidak akan pernah bersatu—maka engkau akan paham alasan
keheranan sang Syekh dalam perkataannya: *"Bagaimana mungkin sebuah hati
bersinar sementara bayangan alam yang gelap terpatri di cermin hatinya?"*
Karena dua hal yang berlawanan tidak mungkin bersatu. Allah Ta'ala berfirman: *(Allah
tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongga dadanya)*.
Maka, wahai
orang yang faqir (butuh kepada Allah), engkau hanya punya satu hati. Jika
engkau menghadap kepada makhluk, maka engkau membelakangi Tuhan (*Al-Haqq*).
Jika engkau menghadap kepada Tuhan, maka engkau membelakangi makhluk. Dengan
begitu, engkau berpindah dari alam *Mulk* (fisik) ke *Malakut* (spiritual), dan
dari *Malakut* ke *Jabarut* (keagungan Illahi). Selama engkau masih terbelenggu
di dunia ini oleh syahwat dan kebiasaanmu, maka engkau tidak akan bisa
melakukan perjalanan menuju Tuhanmu. Hal ini diisyaratkan dalam perkataannya:
أم كيف يرحل إلى الله وهو مكبل بشهواته ؟
**[Atau
bagaimana mungkin seseorang melakukan perjalanan menuju Allah, sementara ia
terbelenggu oleh syahwatnya?]**
#
Penjelasan Singkat
Teks ini
menjelaskan hukum "eksklusivitas" hati:
1. **Hati tidak bisa mendua:** Fokus ke dunia
berarti membelakangi Tuhan, begitu pula sebaliknya.
2. **Dosa adalah Karat:** Setiap kemaksiatan
meninggalkan noda hitam yang bisa menutup cahaya batin jika tidak dibersihkan
dengan istigfar dan dzikir.
3. **Belenggu Syahwat:** Keinginan duniawi
digambarkan sebagai "belenggu" yang menahan ruh untuk
"terbang" atau melakukan perjalanan spiritual menuju Allah.
Ini adalah
bagian ketiga dari teks tersebut, yang memberikan penjelasan mendalam mengenai
konsep "perjalanan spiritual" (*ar-rahil*) menuju Allah dan bahaya
keterikatan hati pada syahwat.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.