بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Kebatilan Adanya Hijab (Penghalang) 2
زاد فى لطائف المنن : ومن أعجب العجب أن تكون الكائنات موصلة إلى الله فليت شعرى هل لها وجود معه حتى توصل إليه ، أو هل لها من الوضوح ماليس له حتى تكون هى المظهرة له ، وإن كانت الكائنات موصلة له فليس ذلك لها من حيث ذاتها ، لكن هو الذى ولاها رتبة التوصيل فوصلت ، فما وَصَلَ إليه غير إلاهيته ، ولكن الحكيم هو واضع الأسباب وهى لمن وقف معه ، ولاينفذ إلى قدرته عين الحجاب ، فظهور الحق أجلى من كل مظهر ، وما اختفى إلا من شدة ماظهر .
* وَمِنْ شِدَّةِ الظُّهُورِ الْخَفَاءُ *
وإلى هذا المعنى أشار الرفاعى بقوله
يَامَنْ تَعَاظَمَ حَتَّى رَقَّ مَعْنَاهُ ... وَلَا تَرَدَّى رِدَاءَ الْكِبْرِ إِلَّا هُوَ
أى يامن تعاظم فى ظهوره حتى خفى معناه
ثم ذكر السابع فقال
[ كيف يتصور أن يحجبه شىء وهو الواحد الذى ليس معه شىء ]
لتحقق وحدانيته أزلاً وأبدًا كَانَ اللهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ وَهُوَ الْآنَ عَلَى مَا عَلَيْهِ كَانَ » ( أإِلَهٌ مَعَ اللهِ تَعَالَى اللهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ )
أفى الله شك ؟ فكل ماظهر للعيان فإنما هو مظاهر الرحمن ، قال صاحب العينية رضى الله عنه : تَجَلَّى حَبِيبِي فِي مَرَائِي جَمَالِهِ ... فَفِي كُلِّ مَرْءٍ لِلْحَبِيبِ طَلَائِعُ
فَلَمَّا تَجَلَّى حُسْنُهُ مُتَنَوِّعًا ... تَسَمَّى بِأَسْمَاءٍ فُهُنَّ مَطَالِعُ
فالحق تعالى واحد فى ذاته وفى صفاته وفى أفعاله ، فلا شىء قبله ، ولاشىء بعده ، ولاشىء معه
Disebutkan tambahan
dalam kitab Lathaif al-Minan: "Dan di antara keheranan
yang paling mengherankan adalah bagaimana makhluk/alam semesta (al-kainat) bisa
menjadi perantara yang mengantarkan (makrifat) kepada Allah. Duhai, andai aku
tahu, apakah makhluk itu memiliki wujud di samping wujud-Nya sehingga ia bisa
mengantarkan kepada-Nya? Atau apakah makhluk itu memiliki kejelasan yang tidak
dimiliki oleh-Nya, sehingga makhluk itu menjadi penampak bagi-Nya? Kalaupun
makhluk itu bersifat mengantarkan kepada-Nya, maka hal itu bukan berasal dari
zat makhluk itu sendiri, melainkan Dialah yang memberikan kedudukan
mengantarkan tersebut kepada makhluk, sehingga ia pun bisa mengantarkan. Maka
tidak ada yang bisa mengantarkan kepada-Nya selain sifat ketuhanan-Nya sendiri.
Akan tetapi, Zat Yang Maha Bijaksana Dialah yang menetapkan adanya sebab-sebab,
dan sebab-sebab itu berlaku bagi orang yang tertahan bersamanya (belum sampai
pada hakikat). Dan pandangan mata yang terhijab tidak akan pernah bisa menembus
hingga ke kodrat-Nya. Maka tampaknya Al-Haq (Allah) itu lebih terang benderang
daripada segala tempat penampakan (mazhar), dan tidaklah Dia tersembunyi
melainkan karena saking nyatanya penampakan-Nya."
* Dan di antara saking nyatanya penampakan, terjadilah ke-Siri-an
(tersembunyi) *
Ke arah makna inilah
Imam Ar-Rifa'i berisyarat melalui perkataannya:
Wahai Zat yang keagungan-Nya
begitu luar biasa hingga makna-Nya menjadi sangat halus (tersembunyi)... Dan
tidak ada yang memakai selendang kesombongan (keagungan) kecuali Dia.
Maksudnya: Wahai Zat
yang begitu agung dalam penampakan-Nya hingga makna-Nya menjadi tersembunyi
(bagi pandangan orang awam).
Perkara Ketujuh
Kemudian beliau
menyebutkan perkara yang ketujuh, lalu berkata:
كيف يتصور أن يحجبه شىء وهو الواحد الذى ليس معه شىء
[Bagaimana mungkin dibayangkan
ada sesuatu yang dapat menghijabi-Nya, padahal Dialah Yang Maha Esa, yang tidak
ada sesuatu pun bersama-Nya?]
Karena telah terwujud
sifat keesaan-Nya secara azali (tanpa permulaan) dan abadi (tanpa akhir):
“Allah telah ada dan tidak ada
sesuatu pun bersama-Nya, dan Dia yang sekarang adalah tetap seperti ada-Nya
yang semula.” (Apakah ada tuhan di
samping Allah? Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan).
Apakah ada keraguan
tentang Allah? Maka segala sesuatu yang tampak oleh pandangan mata,
sesungguhnya ia hanyalah tempat-tempat penampakan (mazhar) dari Sang
Maha Pengasih (Ar-Rahman). Penulis kitab Al-'Ainiyyah (semoga Allah meridtainya) berkata:
Kekasihku telah bertajalli pada
cermin-cermin keindahan-Nya... Maka pada setiap cermin, tampaklah tanda-tanda
kehadiran Sang Kekasih.
Ketika keindahan-Nya bertajalli
dalam bentuk yang beraneka ragam... Dia dinamai dengan nama-nama (Asmaul Husna)
yang menjadi tempat terbitnya keindahan tersebut.
Maka Al-Haq (Allah) Ta'ala adalah Maha Esa pada Zat-Nya, pada
Sifat-Sifat-Nya, dan pada Perbuatan-Perbuatan-Nya. Maka tidak ada sesuatu pun
sebelum-Nya, tidak ada sesuatu pun setelah-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang
bersama-Nya.
ثم ذكر الثامن فقال
[ كيف يتصور أن يحجبه شىء وهو أقرب إليك من كل شىء ]
قال تعالى :( وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ) وقال تعالى : ( وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ )(٢) وقال تعالى : ( وَكَانَ اللهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيبًا )(٣) وقال تعالى ( إِنْ تَجْهَرْ بِالْقَوْلِ فَإِنَّهُ يَعْلَمُ السِّرَّ وَأَخْفَى )(٤) .
وقربه تعالى قرب علم وإحاطة وشهود لاقرب مسافة ، إذ لامسافة بينك وبينه ، وتقدم فى الحديث :« وَإِنَّ اللهَ مَا حَلَّ فِى شَىْءٍ وَلَا غَابَ شَىْءٌ »
وقال سيدنا على كرم الله وجهه : الحق تعالى ليس من شىء ، ولا فى شىء ، ولا فوق شىء ، ولاتحت شىء ، إذ لو كان من شىء لكان مخلوقًا ، ولو كان فوق شىء لكان محمولاً ولو كان فى شىء لكان محصورًا ، ولو كان تحت شىء لكان مقهورًا اهـ
وقيل له : يا بن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم أين كان ربنا ، أو هل له مكان ؟ فتغير وجهه وسكت ساعة ثم قال : وقولكم أين الله سؤال عن مكان وكان الله ولا مكان ، ثم خلق الزمان والمكان ، وهو الآن كما كان دون مكان ولازمان اهـ
وقال أبو الحسن الشاذلى رضى الله عنه : قيام لى ياعلى بى قل ، وعلى دل ، وأنا الكل اهـ هذا كما فى حديث البخارى؛
« يَقُولُ اللهُ تَعَالَى : يَسُبُّ ابْنُ آدَمَ الدَّهْرَ وَأَنَا الدَّهْرُ ، بِيَدِي اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ »
وقال أيضًا صلى الله عليه وسلم :« لَا تَسُبُّوا الدَّهْرَ ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ » . وتفسيره ما فى الحديث قبله ، والله تعالى أعلم
Perkara Kedelapan
Kemudian beliau
menyebutkan perkara yang kedelapan, lalu berkata:
كيف يتصور أن يحجبه شىء وهو أقرب إليك من كل شىء
[Bagaimana mungkin dibayangkan
ada sesuatu yang dapat menghijabi-Nya, padahal Dialah Yang Lebih Dekat kepadamu
daripada segala sesuatu?]
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh, Kami telah
menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami
lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya." (QS. Qaf: 16). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami lebih dekat
kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." (QS.
Al-Waqi'ah: 85). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu."
(QS. Al-Ahzab: 52). Dan Allah Ta'ala berfirman: "Jika engkau mengeraskan ucapan, maka sesungguhnya Dia
mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi." (QS. Taha: 7).
Kedekatan Allah Ta'ala adalah kedekatan secara ilmu, liputan
(kekuasaan), dan penyaksian, bukan kedekatan jarak (spasial), sebab tidak ada
jarak antara dirimu dengan-Nya. Dan telah disebutkan sebelumnya dalam hadis:
“Dan sesungguhnya Allah tidak
menitis (menyatu) pada sesuatu pun dan tidak pula gaib (hilang) dari sesuatu.”
Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah berkata: "Al-Haq
(Allah) Ta'ala itu tidak berasal dari sesuatu, tidak berada di dalam sesuatu,
tidak berada di atas sesuatu, dan tidak pula berada di bawah sesuatu. Karena
jika Dia berasal dari sesuatu, niscaya Dia adalah makhluk (ciptaan). Jika Dia
berada di atas sesuatu, niscaya Dia ditopang/dibawa. Jika Dia berada di dalam
sesuatu, niscaya Dia terbatasi/terkepung. Dan jika Dia berada di bawah sesuatu,
niscaya Dia dikuasai." Selesai.
Ada yang bertanya
kepada beliau: "Wahai sepupu Rasulullah ﷺ, di manakah Tuhan kita dahulu berada, atau apakah Dia memiliki
tempat?" Maka berubahlah rona
wajah beliau dan diam sejenak, kemudian berkata: "Pertanyaan kalian 'di
mana Allah' adalah pertanyaan tentang tempat. Padahal Allah telah ada sebelum
adanya tempat, kemudian Dia menciptakan zaman (waktu) dan makan (tempat), dan
Dia yang sekarang adalah tetap seperti ada-Nya yang semula; tanpa tempat dan
tanpa waktu." Selesai.
Abu al-Hasan
asy-Syadzili radhiyallahu 'anhu berkata (mengutip ilham/isyarat
batin): "Tegaklah untuk-Ku wahai Ali, dengan-Ku katakanlah, dan
kepada-Ku tunjukkanlah, dan Akulah segalanya." Selesai. Hal ini
seperti yang terdapat dalam hadis riwayat Al-Bukhari:
“Allah Ta'ala berfirman: 'Anak
Adam menyakiti-Ku (dengan) mencela masa/waktu, padahal Akulah (pencipta) masa,
di tangan-Kulah bolak-balik malam dan siang'.”
Dan Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Janganlah kalian mencela masa,
karena sesungguhnya Allah Dialah (pencipta) masa.”
Tafsir/penjelasan
mengenai hal tersebut adalah sebagaimana yang tertera pada hadis sebelumnya.
Dan Allah Ta'ala Maha Mengetahui.
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya iklan adsen. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih. Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Artikel Terkait :