Adapun adab dalam bergaul dengan
sesama saudara (al-ikhwan) itu ada empat perkara:
Pertama: Menjaga kehormatan mereka, baik ketika mereka tidak ada
(ghaib) maupun saat hadir. Seseorang tidak boleh melakukan ghibah (menggunjing)
atau merendahkan orang lain. Tidak boleh seseorang berkata: "Pengikut
si fulan adalah orang-orang yang sempurna, sedangkan pengikut si fulan adalah
orang-orang yang kurang," atau "Fulan adalah seorang arif
(mengenal Allah), sedangkan fulan bukan orang yang arif," atau "Fulan
itu lemah dan fulan itu kuat," dan perkataan semacamnya. Yang demikian
itu adalah bentuk ghibah yang nyata, yang hukumnya haram berdasarkan ijmak
(kesepakatan ulama), terlebih lagi terhadap para wali Allah. Sesungguhnya
daging mereka (para ulama dan wali) adalah racun yang mematikan, sebagaimana
daging para ulama dan orang-orang saleh.
Maka hendaknya seorang murid
mengerahkan sekuat tenaga untuk menjauhi sifat yang tercela ini, dan lari dari
orang yang memiliki tabiat seperti ini sebagaimana larinya seseorang dari
seekor singa. Barang siapa yang gemar melakukan hal ini, ia tidak akan pernah
beruntung selamanya. Para wali itu bagaikan para nabi; barang siapa yang
memecah belah di antara mereka, maka ia akan terhalang dari kebaikan mereka dan
mengingkari nikmat Allah. Sebagian kaum sufi berkata: "Barang siapa
yang menyakiti/mengecewakan orang-orang fakir (kaum sufi), maka sang syekh
tidak akan bisa memperbaikinya (menambal hatinya), namun barang siapa yang
disakiti oleh syekh, maka kaum fakir dapat memperbaikinya." Pernyataan
ini benar dan telah diuji kebenarannya, karena menyakiti seorang wali saja
tidak sama tingkatannya dengan menyakiti banyak wali. Seseorang yang disakiti
oleh syekh masih bisa dicarikan syafaat oleh saudara-saudara sesama ikhwan
sehingga hati sang syekh kembali baik. Berbeda halnya dengan hati orang-orang
fakir apabila telanjur kecewa; sangat sulit bagi mereka untuk sepakat memaafkan
atau memulihkannya, dan Allah Ta'ala lebih mengetahui.
Kedua: Memberikan nasihat kepada mereka, yaitu dengan mengajarkan
orang yang bodoh di antara mereka, membimbing orang yang tersesat, serta
menguatkan orang yang lemah meskipun harus menempuh perjalanan untuk mendatangi
mereka. Di tengah-tengah mereka terdapat orang yang baru memulai perjalanan
(mubtadi'in), orang yang telah mencapai puncak (nihayat), orang yang kuat, dan
orang yang lemah. Oleh karena itu, perlakukanlah setiap orang sesuai dengan
kedudukannya, dan bicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman
mereka, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis.
Ketiga: Bersikap tawaduk (rendah hati) kepada mereka, bersikap adil
terhadap diri sendiri dalam berinteraksi dengan mereka, serta melayani mereka
semampu mungkin. Pelayan suatu kaum adalah pemimpin mereka. Barang siapa yang
memiliki kesibukan yang tidak membahayakan agamanya, maka wajib bagi saudara
yang lain untuk membantunya agar ia bisa memfokuskan waktunya untuk berzikir
kepada Allah jika kesibukan itu ringan. Allah Ta'ala berfirman: ﴿
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa
﴾ [QS. Al-Ma'idah: 2].
Maka segala hal yang mengganggu hati seorang fakir, lalu berupaya menghilangkannya
adalah sebuah bentuk jihad dan kebaikan.
Keempat: Menyaksikan kejernihan (shafa) yang ada pada diri
mereka serta meyakini kesempurnaan mereka. Janganlah merendahkan seorang pun di
antara mereka, meskipun engkau melihat daripadanya sesuatu yang secara lahiriah
nampak sebagai sebuah kekurangan. Seorang mukmin senantiasa mencari-cari uzur
(alasan baik), maka carilah untuk saudaramu tujuh puluh macam uzur. Jika sifat
yang engkau anggap kurang itu masih tetap ada pada dirinya, maka renungkanlah
dan sadarilah bahwa kekurangan itu sebenarnya ada pada dirimu sendiri. Sebab,
sebuah adagium menyatakan: "Seorang mukmin adalah cermin bagi
saudaranya."
Apa yang ada pada diri seseorang
yang memandang akan terpancar padanya. Orang-orang yang jiwanya jernih (ahli
shafa) tidak akan menyaksikan kecuali kejernihan. Orang-orang yang masih
bercampur orientasinya tidak akan menyaksikan kecuali pencampuran. Orang-orang
yang mencapai kesempurnaan tidak akan menyaksikan kecuali kesempurnaan. Dan
orang-orang yang penuh kekurangan hanya akan menyaksikan kekurangan.
Sebagaimana telah disebutkan dalam
hadis dari Nabi ﷺ:
« Dua perkara yang tidak ada sesuatu
pun kebaikan di atas keduanya: berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka
baik kepada hamba-hamba Allah. Dan dua perkara yang tidak ada sesuatu pun
keburukan di atas keduanya: berprasangka buruk kepada Allah dan berprasangka
buruk kepada hamba-hamba Allah. »
Dan hanya kepada Allah-lah segala taufik.
فَهَذِهِ مِنْ جُمْلَةِ الْآدَابِ الَّتِي يَجِبُ عَلَى الْفَقِيرِ مُرَاعَاتُهَا وَالتَّحَفُّظُ عَلَيْهَا سَوَاءٌ كَانَ طَالِبًا أَوْ سَائِرًا أَوْ وَاصِلًا ، وَقَدْ تَقَدَّمَتْ فِي أَوَّلِ الْبَابِ الْأَوَّلِ ثَمَانِيَةُ آدَابٍ ، بَعْضُهَا فِي حَقِّ الْعَارِفِ ، وَبَعْضُهَا فِي حَقِّ السَّائِرِ ، فَلْيُرَاجِعْهَا وَلِيَعْمَلْ بِمُقْتَضَاهَا ، فَإِنَّ الطَّرِيقَ كُلَّهَا آدَابٌ حَتَّى قَالَ بَعْضُهُمْ : اجْعَلْ عَمَلَكَ مِلْحًا وَأَدَبَكَ دَقِيقًا. وَقَالَ أَبُو حَفْصٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : التَّصَوُّفُ كُلُّهُ آدَابٌ ، لِكُلِّ وَقْتٍ آدَابٌ ، وَلِكُلِّ حَالٍ آدَابٌ ، وَلِكُلِّ مَقَامٍ آدَابٌ ، فَمَنْ لَزِمَ الْأَدَبَ بَلَغَ مَبْلَغَ الرِّجَالِ ، وَمَنْ حُرِمَ الْأَدَبَ فَهُوَ بَعِيدٌ مِنْ حَيْثُ يَظُنُّ الْقُرْبَ ، مَرْدُودٌ مِنْ حَيْثُ يَظُنُّ الْقَبُولَ. وَقَالَ بَعْضُهُمْ : الْزَمِ الْأَدَبَ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا ، فَمَا أَسَاءَ أَحَدٌ الْأَدَبَ ظَاهِرًا إِلَّا عُقِبَ فِي الظَّاهِرِ ، وَمَا أَسَاءَ أَحَدٌ الْأَدَبَ بَاطِنًا إِلَّا عُقِبَ فِي الْبَاطِنِ : وَقَالَ فِي الْمَبَاحِثِ الْأَصْلِيَّةِ : ا
ا
وَالْأَدَبُ الظَّاهِرُ لِلْعِيَانِ ٭٭٭ دَلَالَةُ الْبَاطِنِ فِي الْإِنْسَانِ
وَهُوَ أَيْضاً لِلْفَقِيرِ سَنَدْ ٭٭٭ وَلِلْغِنَى زِينَةٌ وَسُؤْدُدْ
وَقِيلَ مَنْ يَحْرِمُ الْأَدَبْ $٭٭٭ فَهُوَ بَعِيدٌ مَا تَدَانَى وَاقْتَرَبْ
وَقِيلَ مَنْ تَحْبِسُهُ الْأَنْسَابُ ٭٭٭ فَإِنَّمَا تُطْلِقُهُ الْآدَابُ
فَالْقَوْمُ بِالْآدَابِ حَقّاً سَادُوا ٭٭٭ مِنْهُ اسْتَفَادَ الْقَوْمُ مَا اسْتَفَادُوا
وَقَالَ أَبُو حَفْصٍ السِّرَاجِ رَحْمَهُ اللَّهُ : وَالنَّاسُ فِي الْآدَابِ عَلَى ثَلَاثِ طَبَقَاتٍ : أَهْلِ الدُّنْيَا ، وَأَهْلِ الدِّينِ ، وَأَهْلِ الْخُصُوصِيَّةِ مَعَ أَهْلِ الدِّينِ. فَأَمَّا أَهْلُ الدُّنْيَا ، فَأَكْثَرُ آدَابِهِمْ فِي الْبَلَغَةِ ، وَأَخْبَارِ الْمُلُوكِ ، وَأَشْعَارِ الْعَرَبِ. وَأَمَّا أَهْلُ الدِّينِ ، فَأَكْثَرُ آدَابِهِمْ حِفْظُ الْعُلُومِ ، وَرِيَاضَةُ النُّفُوسِ ، وَتَأْدِيبُ الْجَوَارِحِ وَتَهْذِيبُ الطِّبَاعِ ، وَحِفْظُ الْحُدُودِ ، وَتَرْكُ الشَّهَوَاتِ ، وَاجْتِنَابُ الشُّبُهَاتِ ، وَالْمُسَارَعَةُ إِلَى الْخَيْرَاتِ. وَأَمَّا أَهْلُ الْخُصُوصِيَّةِ مِنْ أَهْلِ الدِّينِ ، فَآدَابُهُمْ ، حِفْظُ الْقُلُوبِ وَمُرَاعَاةُ الْأَسْرَارِ وَاسْتِوَاءُ السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ . فَالْمُرِيدُونَ يَتَفَاضَلُونَ بِالْعِلْمِ ، وَالْمُتَوَسِّطُونَ بِالْآدَابِ ، وَالْعَارِفُونَ بِالْهِمَمِ اهـ. ثُمَّ مَا ذَكَرَهُ الشَّيْخُ مِنْ لُزُومِ الْجَهْلِ لِلْمُرِيدِ مُقَيَّدٌ بِمَا ذَكَرَهُ مِنْ احْتِجَاجِهِ لِنَفْسِهِ وَمُدَافَعَتِهِ عَنْهَا ، لِأَنَّهُ فِي هَذِهِ الْحَالَةِ صَاحِبُ جَدَلٍ لِتَرْكِيبِهِ الْمُقَدِّمَةَ وَالنَّتِيجَةَ ، وَعَلَيْهِ يَفْهَمُ قَوْلَهُمْ : مَا أَهْلَمَ قَوْمَ الْجَدَلِ إِلَّا حَرَمُوا الْعَمَلَ. وَأَمَّا لَوْ اعْتَرَفَ بِإِسَاءَتِهِ وَأَنْصَفَ مِنْ نَفْسِهِ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ فِي حَقِّهِ جَهْلًا وَلا جَهَالَةً ، وَقَدْ قَالُوا : عَدَمُ الْأَدَبِ إِنْ كَانَ يَجُرُّ إِلَى الْأَدَبِ فَهُوَ أَدَبٌ ، وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ. ا
Maka inilah sebagian dari keseluruhan adab yang wajib diperhatikan dan
dijaga oleh seorang fakir (penempuh jalan sufi), baik ia berstatus sebagai
seorang pencari (thalib), yang sedang berjalan (sair), maupun
yang telah sampai (washil). Delapan adab telah disebutkan di awal Bab
Pertama—sebagiannya menyangkut hak seorang 'arif (yang mengenal Allah)
dan sebagiannya menyangkut hak seorang sair (musafir ruhani)—maka
hendaknya ia merujuk kembali kepadanya dan mengamalkan tuntunannya. Karena
sesungguhnya jalan (tasawuf) ini seluruhnya adalah adab, hingga sebagian ulama
berkata: "Jadikanlah amalmu sebagai garam dan adabmu sebagai tepung
(porsi adab jauh lebih dominan)."
Abu Hafs radhiyallahu 'anhu berkata: "Tasawuf itu seluruhnya adalah
adab; setiap waktu ada adabnya, setiap keadaan ada adabnya, dan setiap maqam
ada adabnya. Barang siapa yang konsisten dengan adab, maka ia akan mencapai
derajat kaum lelaki sejati (para wali), dan barang siapa yang terhalang dari
adab, maka ia akan menjadi jauh dari tempat ia menyangka dekat, serta ditolak
dari tempat ia menyangka diterima."
Sebagian ulama juga berkata: "Berpeganglah pada adab secara lahir
dan batin, karena tidaklah seseorang beradab buruk secara lahir melainkan ia
akan dijatuhi hukuman secara lahir, dan tidaklah seseorang beradab buruk secara
batin melainkan ia akan dijatuhi hukuman secara batin." Di dalam kitab
Al-Mabahis Al-Ashliyyah disebutkan:
Adab lahir yang terlihat oleh pandangan $\quad$
Adalah petunjuk atas keadaan batin pada diri manusia
Ia juga merupakan benteng bagi seorang fakir $\quad$
Serta hiasan dan kemuliaan bagi orang yang berkecukupan
Dan dikatakan, barang siapa yang terhalang dari adab $\quad$ Maka ia adalah orang jauh yang tidak akan
pernah dekat
Dan dikatakan, orang yang terbelenggu oleh nasab $\quad$ Maka sesungguhnya adablah yang akan
membebaskannya
Maka kaum sufi benar-benar menjadi mulia karena adab $\quad$ Dari sanalah mereka meraup segala kebaikan
yang mereka peroleh
Abu Hafs As-Siraj rahimahullah berkata: Manusia dalam hal adab terbagi
menjadi tiga tingkatan: ahli dunia, ahli agama, dan ahli kekhususan dari
kalangan ahli agama.
·
Adab ahli dunia:
Kebanyakan adab mereka berkisar pada kefasihan berbahasa, kisah-kisah para
raja, dan syair-syair bangsa Arab.
·
Adab ahli agama:
Kebanyakan adab mereka adalah menjaga ilmu, melatih jiwa (riyadhah),
mendisiplinkan anggota badan, menghaluskan tabiat, menjaga batasan-batasan
syariat, meninggalkan syahwat, menjauhi perkara syubhat, serta bersegera dalam
melakukan kebaikan.
·
Adab ahli kekhususan
dari kalangan ahli agama: Adab mereka adalah menjaga hati, merawat
rahasia-rahasia ketuhanan (asrar), serta menyamakan antara keadaan
sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Para murid (pencari)
bertingkat-tingkat keutamaannya berdasarkan ilmu; para mutawassith (yang
di tengah) berdasarkan adab; dan para 'arifun (yang mengenal Allah)
berdasarkan kekuatan tekad (himmah).
Adapun apa yang disebutkan oleh Syekh tentang kebodohan yang melekat pada
diri seorang murid, hal itu dibatasi pada kondisi ketika ia membela diri dan
mendebbat demi nafsunya. Sebab, dalam kondisi demikian ia sedang bersikap
argumentatif karena memaksakan premis dan kesimpulan demi kepentingannya
sendiri. Atas dasar inilah dipahami perkataan para ulama: "Tidaklah
kaum yang suka berdebat itu disesatkan melainkan mereka diharamkan dari
(mendapatkan) amal."
Akan tetapi, jika ia mengakui kesalahannya dan bersikap adil terhadap
dirinya sendiri, maka hal itu tidak dianggap sebagai kebodohan ataupun
kesesatan pada dirinya. Para ulama pun berkata: "Sikap kurang beradab,
jika ia pada akhirnya menyeret pelakunya kepada adab yang benar, maka itu adalah
adab." Dan Allah Ta'ala lebih mengetahui.
ومن جملة الآداب ألا يستحقر مقاماً أقام الحق تعالى فيه عبداً من عباده كائناً ما كان كما أشار إليه بقوله : [ إذا رأيت عبداً أقامه الله بوجود الأوراد ، وأدامه عليها مع طول الإمداد ، فلا تستحقَرَنَّ ما منحه مولاه ، لأنك لم تر عليه سيما العارفين ، ولا بهجة المحبين فلولا وارد وما كان ورد ] . قلت : ما ذكره الشيخ هنا من مؤكدات هذا الباب كلها في الآداب . وهو ألا يستحقر شيئاً من تجليات الحق على أي حال كانت ، فلا ينبغي أن ينازع مقتدر ، ولا أن يضاد قهار ، ولا أن يعترض على حكيم . ا
فإذا رأيت عبداً أقامه الله تعالى بوجود الأوراد ، ككثرة صلاة وصيام وذكر وتلاوة واجتهاد وأدامه عليها مع طول الإمداد بكسر الهمزة : أي استمراره معه ، وهو تقويته في الباطن وصرف الشواغل والشواغب في الظاهر لكنه لم يفتح عليه في علم الأذواق وعمل القلوب ، فلا تستحقِرَنَّ حاله وما منحه مولاه ، لأجل أنك لم تر عليه سيما العارفين من السكينة والطمأنينة وراحة الجوارح والقلب ، بسبب هبوب نسيم الرضا والتسليم على أرواحهم وقال الشيخ زروق : سيما العارفين ثلاث : ا
أولها : الإعراض عما سوى معروفهم بكل حال وعلى كل وجه .ا
الثاني : الإقبال عليه بترك الحظوظ وإقامة الحقوق .ا
الثالث : الرضا عنه فى مجارى أقداره اهـ . ولا تستحقِر حاله أيضاً لأجل أنك لم تر عليه بهجة المحبين ، وهي الفرح بمحبوبه ، والإاكثار من ذكره ، والقيام بشكره ، والاغتباط بمحبته ، والمسارعة إلى محابه وطلب مرضاته ، والخضوع لعظمته ،
والتذلل لقهره وعزته :ا
تذلل لمن تهوى فليس الهوى سهلُ ٭٭٭ إذا رضى المحبوب صح لك الوصلُ
تذلل له تحظى برؤيا جماله ٭٭٭ ففي وجه من تهوى الفرائض والنفلُ
فكيف تستحقر من دامت خدمته واتصلت أوراده ؟ فلولا وجود الوارد الإلهي في باطنه ما قدر على إدامة أوراده ، ولولا وارد ما كان ورد . فالوارد ما منه إليك والورد ما منك إليه . ( ولولا فضل الله عليكم ورحمته ما زكى منكم من أحد أبداً ) ، ( ولولا فضل الله عليكم ورحمته لاتبعتم الشيطان إلا قليلا ) ، ( يحبهم ويحبونه ) ، ( ثم تاب عليهم ليتوبوا ) . ا
فالعناية سابقة ، والهداية لاحقة والأمر كله بيده . وفى التحقيق : ما ثم إلا سابقة التوفيق ، ولا حول ولا قوة إلا بالله .ا
قال الشيخ أبو الحسن رضى الله عنه : أكرم المؤمنين وإن كانوا عصاة فاسقين ، وأقم عليهم الحدود ، واهجرهم رحمة بهم لا تقذراً لهم . وقال الشيخ زروق رضى الله عنه : فالمتنسب لجانب الحق يتعين إكرامه مراعاة لنسبته . ثم إن كان كاذباً فالأمر بينه وبين من انتسب إليه ، فإن أمرنا بإقامة حقه عليه بحيث يتعين عليه كنا معه كعبد السيد يضرب ولد سيده بإذنه يؤدبه ولا يحتقره . ولأبى الحسن الحراني رحمه الله :ا
إرحم بني جميع الخلق كلهم ٭٭٭ وانظر إليهم بعين اللطف والشفقة
وقر كبيرهم وارحم صغيرهم ٭٭٭ وراع في كل خلق حق من خلقه
Dan termasuk bagian dari adab adalah agar seseorang tidak meremehkan suatu
kedudukan yang Allah Ta'ala jadikan seorang hamba-Nya berada di dalamnya,
bagaimanapun keadaannya, sebagaimana diisyaratkan melalui perkataan:
إذا رأيت عبداً أقامه الله
بوجود الأوراد ، وأدامه عليها مع طول الإمداد ، فلا تستحقَرَنَّ ما منحه
مولاه ، لأنك لم تر عليه سيما العارفين ، ولا بهجة المحبين فلولا وارد وما
كان ورد
[ "Jika engkau melihat seorang hamba yang ditegakkan oleh Allah
dengan keberadaan amalan-amalan wirid, dan Allah melanggengkannya bersama
amalan tersebut disertai limpahan karunia yang panjang, maka janganlah
sekali-kali engkau meremehkan apa yang dianugerahkan oleh Tuhannya, karena
engkau tidak melihat pada dirinya tanda-tanda orang yang arif (mengenal Allah),
dan tidak pula melihat kebahagiaan para pencinta; padahal sekiranya bukan
karena adanya warid (pemberian batin dari Allah), niscaya tidak akan ada
wirid." ]
Aku (penulis) berkata: Apa yang disebutkan oleh Syekh di sini termasuk
penekanan dalam bab adab ini seluruhnya. Yaitu agar seseorang tidak meremehkan
suatu bentuk tajalli (manifestasi) dari Allah dalam keadaan apa pun. Maka tidak
layak seseorang menentang Zat Yang Maha Berkuasa, tidak pula melawan Zat Yang
Maha Perkasa, dan tidak boleh pula melayangkan protes kepada Zat Yang Maha
Bijaksana.
Maka apabila engkau melihat seorang hamba yang ditegakkan oleh Allah Ta'ala
dengan pelaksanaan wirid, seperti banyaknya salat, puasa, zikir, membaca
Al-Qur'an, dan kesungguhan beribadah, serta Allah melanggengkannya bersama
amalan tersebut disertai limpahan karunia yang panjang (dengan kasrah huruf
hamzah pada kata al-imdad, yakni kelanggengannya bersama hamba tersebut,
yang merupakan penguatan bagi batinnya serta penjauhan dari segala gangguan dan
kesibukan lahiriah), namun Allah belum membukakan baginya ilmu tentang hakikat dzauq
(rasa spiritual) dan amal hati; maka janganlah sekali-kali engkau meremehkan
keadaan dan anugerah yang diberikan oleh Tuhannya. Hal itu karena engkau tidak
melihat pada dirinya tanda-tanda orang arif berupa ketenangan, ketenteraman,
serta kenyamanan jasmani dan hati, akibat berhembusnya angin sejuk keridaan dan
kepasrahan pada jiwa mereka. Syekh Zarruq berkata: Tanda-tanda orang arif itu
ada tiga:
1. Pertama: Berpaling dari segala sesuatu selain Zat yang
telah mereka kenal dalam setiap keadaan dan dengan segala cara.
2. Kedua: Menghadap penuh kepada-Nya dengan meninggalkan
ambisi pribadi dan menegakkan hak-hak Allah.
3. Ketiga: Rida kepada-Nya dalam segala aliran takdir-Nya.
Maka jangan pula engkau meremehkan keadaannya hanya karena engkau tidak melihat
pada dirinya kebahagiaan para pencinta, yaitu rasa gembira dengan Sang Kekasih,
memperbanyak zikir kepada-Nya, menegakkan syukur kepada-Nya, merasa beruntung
dengan kecintaan kepada-Nya, bersegera kepada hal-hal yang dicintai-Nya,
mencari rida-Nya, tunduk kepada keagungan-Nya, serta merendahkan diri di
hadapan keperkasaan dan kemuliaan-Nya:
Merendahlah kepada Zat yang engkau cintai, karena cinta itu tidaklah
sulit *** Jika Sang Kekasih rida,
maka sambungan (وصل) akan benar untukmu
Merendahlah kepada-Nya, niscaya engkau akan beruntung menyaksikan
keindahan-Nya *** Karena pada wajah
Zat yang engkau cintai terdapat salat fardu dan sunnah
Maka bagaimana mungkin engkau meremehkan seseorang yang ibadahnya terus
berjalan dan amalan wiridnya senantiasa tersambung? Sekiranya bukan karena
keberadaan warid (pemberian spiritual) Ilahi di dalam batinnya, niscaya
ia tidak akan mampu melanggengkan wiridnya; dan sekiranya bukan karena adanya warid,
niscaya tidak akan pernah ada wirid. Warid adalah apa yang datang
dari-Nya kepadamu, sedangkan wirid adalah apa yang darimu diserahkan
kepada-Nya.
﴿ Dan sekiranya bukan karena
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu, niscaya tidak seorang pun dari kamu
bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya ﴾
﴿ Dan sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada
kamu, niscaya kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja ﴾ ﴿ Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya ﴾ ﴿ Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka
tetap bertobat ﴾
Maka inayah (perhatian Allah) datang lebih dahulu, hidayah menyusul
setelahnya, dan segala urusan sepenuhnya berada di tangan-Nya. Dalam hakikat
yang sebenarnya: Tidak ada apa pun kecuali terdahulunya taufik dari Allah, dan
tidak ada daya serta kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah.
Syekh Abu Al-Hasan radiyallahu 'anhu berkata: "Muliakanlah
orang-orang mukmin meskipun mereka adalah para pelaku maksiat dan fasik,
tegakkanlah hukum-hukum Allah atas mereka, dan jauhilah mereka semata-mata
karena rasa sayang kepada mereka, bukan karena rasa jijik terhadap
mereka."
Syekh Zarruq radiyallahu 'anhu berkata: "Orang yang menisbatkan dirinya
kepada pihak Allah, maka ia wajib dimuliakan demi menjaga kehormatan
penisbatannya itu. Jika ia berdusta, maka urusannya adalah antara dirinya
dengan Zat yang ia nisbatkan dirinya kepada-Nya. Namun jika kita diperintahkan
untuk menegakkan hukum-hukum Allah atasnya sekadar yang diwajibkan, maka kita
memperlakukannya bagaikan seorang hamba sahaya (budak) yang bapaknya (tuan
rumah) memukul anak tirinya dengan izin tuannya—ia mendidiknya namun tidak
menghinakannya."
Syekh Abu Al-Hasan Al-Harrani rahimahullah berkata:
Kasihanilah anak-anak dari seluruh makhluk-Nya *** Dan pandangilah mereka dengan pandangan
kelembutan dan kasih sayang
Hormatilah orang yang tua di antara mereka dan sayangilah yang muda *** Dan perhatikanlah pada setiap makhluk akan
hak dari Sang Pencipta mereka.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini