Jika seorang hamba lalai dari
bersyukur atas nikmat-nikmat ini, kemudian wujud nikmat tersebut tetap bertahan
padanya, maka janganlah ia tertipu. Sebab, bisa jadi hal tersebut adalah istidraj
(jebakan berupa penundaan azab), sebagaimana diisyaratkan oleh ucapan Syekh Ibn
Atha'illah:
خف من وجود إحسانه إليك ، ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك استدراجًا - سنستدرجهم من حيث لا يعلمون
[ Takutlah jika kebaikan Allah
kepadamu terus mengalir, sementara engkau terus-menerus berbuat keburukan
kepada-Nya, jangan-jangan hal itu adalah istidraj — "Nanti Kami akan
menarik mereka sedikit demi sedikit (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak
mereka ketahui." ]
Istidraj secara bahasa/istilah adalah: tersembunyinya ujian/bencana
di balik wujud kenikmatan. Kata ini diambil dari kata daraja ash-shabi
(berjalannya anak kecil), yaitu mulai berjalan sedikit demi sedikit. Dari akar
kata yang sama terbentuk kata ad-daraj (tangga) yang digunakan untuk
naik ke tempat yang tinggi. Demikian pula orang yang di-istidraj;
kenikmatan/kesadarannya dicabut darinya sedikit demi sedikit tanpa ia sadari.
Allah Ta'ala berfirman: "Nanti Kami akan menarik mereka sedikit demi
sedikit dari arah yang tidak mereka ketahui."
Maksudnya: Kami memberikan
kenikmatan kepada mereka hingga Kami menyeret mereka menuju siksaan (bencana)
dalam keadaan mereka tidak menyadarinya. Hal ini disampaikan oleh Syekh Zarruq radhiyallahu
'anhu.
Maka takutlah wahai seorang murid
(pencari keridaan Allah), jika kebaikan Allah yang Maha Benar terus-menerus
melimpah kepadamu berupa kesehatan, waktu luang, kelapangan rezeki, serta
dukungan nikmat lahiriah maupun batiniah secara terus-menerus, sementara engkau
terus-menerus berbuat buruk kepada-Nya dengan kelalaian, meremehkan perintah,
dan tidak bersyukur kepada Raja Yang Maha Besar — takutlah jika hal itu
merupakan istidraj dari Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman: "Nanti
Kami akan menarik mereka sedikit demi sedikit dari arah yang tidak mereka
ketahui."
Sahl bin 'Abdullah radhiyallahu
'anhu berkata: "Kami membentangkan kenikmatan kepada mereka dan
membuat mereka lupa untuk bersyukur atasnya. Ketika mereka telah
bersandar/bergantung pada nikmat tersebut dan terhalang dari Sang Pemberi
Nikmat (Allah), maka mereka pun ditangkap/disiksa."
Ibn 'Atha radhiyallahu 'anhu
berkata: "Setiap kali mereka melakukan suatu dosa, Kami perbarui nikmat
bagi mereka dan Kami buat mereka lupa untuk memohon ampun (istighfar) dari dosa
tersebut." Kemudian Allah Yang Maha Benar berfirman: "Dan Aku
memberi penangguhan waktu kepada mereka."
Maksudnya: Kami membentangkan
kesehatan dan nikmat kepada mereka hingga Kami menyiksa mereka secara
tiba-tiba. Allah Ta'ala berfirman:
"Maka ketika mereka melupakan
peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membuka membentangkan
bagi mereka pintu-pintu segala sesuatu; sehingga apabila mereka bergembira
dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara
tiba-tiba, maka seketika itu mereka terdiam putus asa."
Maksudnya: Ketika mereka lalai dari
peringatan berupa siksaan dan azab, Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu
kenikmatan dan Kami lapangkan rezeki lahiriah untuk mereka. (sehingga
apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka)
dari nikmat-nikmat tersebut serta merasa aman menguasainya, (Kami siksa
mereka) dengan kebinasaan (secara tiba-tiba) yaitu mendadak, (maka
seketika itu mereka terdiam putus asa) yaitu hilang harapan dari segala
kebaikan.
Begitulah kebiasaan (sunnatullah)
terhadap makhluk-Nya; Dia mengutus kepada mereka orang yang mengingatkan mereka
kepada Allah dan menunjukkan jalan menuju Allah. Namun apabila mereka berpaling
dan menolak perkataannya, Allah bentangkan nikmat-nikmat lahiriah kepada mereka
hingga ketika mereka merasa tenang dan bergembira dengannya, Allah membinasakan
mereka dan mengambil mereka secara mendadak agar hukuman tersebut terasa lebih
berat. Seorang penyair berkata:
"Dan hal yang paling dahsyat
adalah ketika kebinasaan mendadak menyergapmu."
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Dan
jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa penangguhan waktu yang
Kami berikan kepada mereka itu lebih baik bagi diri mereka. Sesungguhnya
penangguhan yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin
bertambah; dan bagi mereka azab yang menghinakan."
فَالْوَاجِبُ عَلَى الْإِنْسَانِ إِذَا أَحَسَّ بِنِعْمَةٍ ظَاهِرَةٍ أَوْ بَاطِنَةٍ حِسِّيَّةٍ أَوْ مَعْنَوِيَّةٍ، أَنْ يَعْرِفَ حَقَّهَا وَيُبَادِرَ إِلَى شُكْرِهَا نُطْقًا وَاعْتِقَادًا وَعَمَلًا، فَالنُّطْقُ الْحَمْدُ وَالشُّكْرُ بِاللِّسَانِ، وَالِاعْتِقَادُ شُهُودُ الْمُنْعِمِ فِي النِّعْمَةِ وَإِسْنَادُهَا إِلَيْهِ، وَالْغَيْبَةُ عَنِ الْوَاسِطَةِ بِالْقَلْبِ مَعَ شُكْرِهَا بِاللِّسَانِ : « مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ » . « أَشْكَرُكُمْ لِلنَّاسِ أَشْكُرُكُمْ لِلَّهِ » . فإذا قال له جزاك الله خيرا فقد أدى شكرها . ا
والشُّكْرُ بِالْعَمَلِ صَرْفُهَا فِي طَاعَةِ اللَّهِ كَمَا تَقَدَّمَ ، فإِنْ لَمْ يَقُمْ بِهَذَا الْوَاجِبِ خِيفَ عَلَيْهِ السَّلَبُ وَالِاسْتِدْرَاجُ وَهْوَ أَقْبَحُ .ا
وَالْحَاصِلُ : أَنَّ الشُّكْرَ هُوَ الْأَدَبُ مَعَ الْمُنْعِمِ ، وَمَنْ جَاءَتْ عَلَى يَدَيْهِ ، فَإِنْ أَسَاءَ الْأَدَبَ أَدَبَ ، وَقَدْ يُؤَدِّبُ فِي الْبَاطِنِ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ ، كَمَا أَشَارَ إِلَى ذَلِكَ بِقَوْلِهِ : [ مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ يُسِيءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرَ الْعُقُوبَةُ عَنْهُ ، فَيَقُولَ : لَوْ كَانَ هَذَا سُوءَ أَدَبٍ لَقَطَعَ الْأَمْدَادَ وَأَوْجَبَ الْبِعَادَ ، فَقَدْ يَقْطَعُ الْمَدَدَ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا مَنَعَ الْمَزِيدَ . وَقَدْ تُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَأَنْتَ لَا تَدْرَى وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا أَنْ يُخَلِّيكَ وَمَا تُرِيدُ ] .ا
قُلْتُ : مِنَ الْأُمُورِ الْمُؤَكَّدَةِ عَلَى الْمُرِيدِ الصَّادِقِ أَنْ يُرَاعَى الْأَدَبَ مَعَ اللَّهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، وَيَلْتَزِمَ التَّعْظِيمَ لِكُلِّ شَيْءٍ ، وَيَحْفَظَ الْحُرْمَةَ فِي كُلِّ شَيْءٍ ، فَإِنْ أَخْلَ عَلَى بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْأُمُورِ وَأَسَاءَ الْأَدَبَ مَعَ رَبِّهِ فَلْيُبَادِرْ بِالتَّوْبَةِ وَالِاعْتِذَارِ مَعَ الذِّلَّةِ وَالِانْكِسَارِ ، فَإِنْ أَخَّرَ التَّوْبَةَ إِلَى وَقْتِ آخَرَ انْقَطَعَتْ عَنْهُ الْأَمْدَادُ ، وَاسْتَوْجَبَ الطَّرْدَ وَالْبُعَادَ ، وَقَدْ لَا يَشْعُرُ بِذَلِكَ فِي الْحِينِ ، فَيَحْتَجُّ لِنَفْسِهِ وَيَقُولُ لَوْ كَانَ هَذَا سُوءَ أَدَبٍ لَانْقَطَعَ عَنِّي الْمَدَدُ ، وَهَذَا مِنْهُ جَهْلٌ قَبِيحٌ يُفْضِي إِلَى الْعَطَبِ إِنْ لَمْ تُدْرِكْهُ الْعِنَايَةُ مِنْ رَبِّ الْأَرْبَابِ ، وَإِنَّمَا كَانَ هَذَا جَهْلًا مِنَ الْمُرِيدِ لَانْتِصَارِهِ لِنَفْسِهِ وَقْتَ سُوءِ أَدَبِهِ ، وَعَدَمِ شُعُورِهِ بِنُقْصَانِ قَلْبِهِ ، إِذْ لَوْ كَانَ عَالِمًا بِمَخَادِعِ النَّفْسِ لَاتَّهَمَهَا وَمَا انْتَصَرَ لَهَا ، وَلَوْ كَانَ عَارِفًا بِرَبِّهِ لَشَعَرَ بِنُقْصَانِ قَلْبِهِ ، فَقَدْ جَمَعَ بَيْنَ جَهَالَةٍ وَجَهْلٍ ؛ فَالْجَهَالَةُ هِيَ سُوءُ الْأَدَبِ الَّذِي صَدَرَ مِنْه ، وَالْجَهْلُ هُوَ مُخَاصَمَتُهُ عَنْ نَفْسِهِ ، وَإِنْكَارُهُ أَنْ يَكُونَ مَاصَدَرَ مِنْه سُوءُ أَدَبٍ ، وَمَا احْتَجَّ بِه مِنْ كَوْنِه لَمْ يُحِسَّ بِالْعُقُوبَةِ وَلَوْ كَانَ ذَلِكَ سُوءَ أَدَبٍ لَأَحَسَّ بِقَطْعِ الْأَمْدَادِ وَلَأَوْجَبَ الطَّرْدَ وَالْبُعَادِ لَا يَنهَضُ ، فَقَدْ يَقْطَعُ عَنْهُ الْمَدَدَ وَهُوَ لَا يَشْعُرُ . وَمِثَالُ ذَلِكَ الْأَشْجَارِ الَّتِي عَلَى الْمَاءِ ، فَإِذَا قُطِعَ عَنْهَا الْمَاءُ لَا يَظْهَرُ أَثَرُ الْعَطَشِ عَلَيْهَا إِلَّا بَعْدَ حِينٍ فَإِذَا طَالَ الْأَمْرُ يَبِسَتْ شَيْئًا فَشَيْئًا ، كَذَلِكَ قَلْبُ الْمُرِيدِ قَدْ لَا يُحِسُّ بِقَطْعِ الْمَدَدِ فِي الْقُرْبِ حَتَّى يَغْرَقَ فِي الْوَهْمِ وَيَحْتَرِقَ بِالْحِسِّ ، فَإِنْ كَانَتْ لَهُ سَابِقَةُ خَيْرٍ تَابَ وَأَصْلَحَ
Maka wajib bagi seseorang apabila
merasakan suatu nikmat, baik yang lahir maupun batin, yang bersifat indra
maupun maknawi, untuk mengenali hakikatnya serta segera mensyukurinya melalui
lisan, keyakinan, dan perbuatan. Syukur dengan lisan adalah ucapan alhamdulillah
dan terima kasih. Syukur dengan keyakinan adalah menyaksikan Allah Yang Maha
Pemberi Nikmat di balik nikmat tersebut, menyandarkannya kepada-Nya, serta
melupakan perantara dengan hati di samping tetap mensyukurinya dengan lisan: « Barang
siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada
Allah. » « Orang yang paling bersyukur di antara kalian kepada manusia
adalah yang paling bersyukur kepada Allah. » Maka jika seseorang berkata
kepadanya: "Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan," sungguh
ia telah menunaikan syukurnya. Adapun syukur dengan perbuatan adalah dengan
membelanjakan nikmat tersebut dalam ketaatan kepada Allah sebagaimana telah
dijelaskan. Jika ia tidak melaksanakan kewajiban ini, maka dikhawatirkan akan
tertimpa pencabutan nikmat dan istidraj (pembiaran dalam kemaksiatan),
dan itu adalah hal yang paling buruk.
Kesimpulannya: Bahwa syukur adalah beradab kepada Zat Yang Maha Pemberi
Nikmat dan kepada pihak yang menjadi perantara kebaikan-Nya. Jika seseorang
berbuat buruk dalam adabnya, maka ia akan diberi didikan (teguran), dan
terkadang ia dididik secara batin tanpa ia sadari, sebagaimana diisyaratkan
melalui pernyataan:
مِنْ جَهْلِ الْمُرِيدِ أَنْ
يُسِيءَ الْأَدَبَ فَتُؤَخَّرَ الْعُقُوبَةُ عَنْهُ ، فَيَقُولَ : لَوْ
كَانَ هَذَا سُوءَ أَدَبٍ لَقَطَعَ الْأَمْدَادَ وَأَوْجَبَ الْبِعَادَ ،
فَقَدْ يَقْطَعُ الْمَدَدَ مِنْ حَيْثُ لَا يَشْعُرُ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ
إِلَّا مَنَعَ الْمَزِيدَ . وَقَدْ تُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَأَنْتَ لَا
تَدْرَى وَلَوْ لَمْ يَكُنْ إِلَّا أَنْ يُخَلِّيكَ وَمَا تُرِيدُ
[ Di antara kebodohan seorang murid
adalah ketika ia beradab buruk, lalu hukuman ditunda darinya, sehingga ia
berkata: "Seandainya ini adalah suatu keburukan adab, niscaya Allah akan
memutus limpahan karunia (amdad) dan menuntut kemarahan serta penjauhan."
Padahal, bisa jadi Allah memutus pasokan karunia tersebut dari arah yang ia
tidak sadari, dan sekurang-kurangnya adalah tercegahnya penambahan karunia
(al-mazid). Bisa jadi pula engkau telah ditempatkan pada posisi dijauhkan,
sedangkan engkau tidak menyadarinya, dan sekurang-kurangnya adalah Dia
membiarkanmu menuruti apa saja yang engkau inginkan. ]
Aku (penulis) berkata: Di antara
perkara yang sangat ditekankan bagi seorang murid yang jujur adalah agar ia
senantiasa menjaga adab kepada Allah dalam segala hal, senantiasa mengagungkan
segala sesuatu, dan memelihara kehormatan pada setiap keadaan. Jika ia melanggar
salah satu dari hal ini dan beradab buruk kepada Tuhannya, maka hendaknya ia
segera bertaubat dan memohon ampun disertai rasa hina dan tunduk. Jika ia
menunda taubatnya ke waktu yang lain, maka pasokan karunia (amdad) akan
terputus darinya, serta mendatangkan hak untuk diusir dan dijauhkan.
Terkadang ia tidak menyadari hal
tersebut seketika itu juga, sehingga ia membela diri dan berkata: "Seandainya
ini adalah adab yang buruk, niscaya pasokan karunia telah terputus
dariku." Ini adalah kebodohan yang buruk dari dirinya yang dapat
membawa kepada kebinasaan jika tidak diselamatkan oleh inayah
(perhatian/pertolongan) dari Tuhan sekalian alam. Hal tersebut dianggap sebagai
kebodohan dari seorang murid karena ia membela hawa nafsunya sendiri pada saat
ia berbuat tidak beradab, serta ketidaksadarannya akan kekurangan yang ada pada
hatinya. Seandainya ia adalah seorang yang faham akan tipu daya nafsu, tentu ia
akan mencurigai nafsunya dan tidak membelakannya. Dan seandainya ia adalah
seorang ‘arif (mengenal Tuhannya), tentu ia akan merasakan kekurangan di
dalam hatinya. Dengan demikian, ia telah menggabungkan antara dua kebodohan:
kebodohan pertama adalah adab buruk yang telah ia perbuat, dan kebodohan kedua
adalah pembelaannya terhadap nafsunya sendiri serta pengingkarannya bahwa apa
yang ia lakukan adalah sebuah keburukan adab.
Adapun argumennya yang mengatakan
bahwa ia tidak merasakan adanya hukuman —dan jika hal itu adab yang buruk
niscaya ia akan merasakan terputusnya limpahan karunia serta dijauhkan— adalah
argumen yang tidak berdasar, sebab bisa jadi Allah memutus karunia dari dirinya
sedangkan ia tidak menyadarinya. Perumpamaan hal ini bagaikan pepohonan yang
berada di dekat sumber air; jika aliran air diputus dari mereka, efek
kehausannya tidak akan langsung terlihat seketika melainkan setelah beberapa
waktu. Apabila hal itu berlangsung lama, pohon tersebut akan mengering sedikit
demi sedikit. Demikian pula hati seorang murid; ia mungkin tidak merasakan
terputusnya karunia kendati ia merasa dekat, hingga akhirnya ia tenggelam dalam
angan-angan kosong dan terbakar oleh kehampaan rasa. Maka, jika ia memiliki
catatan kebaikan di masa lalu, ia pasti akan bertaubat dan memperbaiki diri.
فَإِنْ كَانَتْ لَهُ سَابِقَةُ خَيْرٍ تَابَ وَأَصْلَحَ مَا أَفْسَدَ فَيَرْجِعُ إِلَيْهِ الْمَدَدُ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ سَابِقَةٌ رَجَعَ إِلَى وَطَنِهِ وَأَقَامَ فِي بُعْدِهِ، نَسْأَلُ اللَّهَ السَّلَامَةَ مِنْ سَلْبِ نِعْمَتِهِ بَعْدَ عَطَائِهِ؛ وَلَوْ لَمْ يَكُنْ مِنَ الْعُقُوبَةِ إِلَّا مَنْعُ الْمَزِيدِ مِنَ السَّيْرِ أَوِ التَّرَقِّي لَكَانَ كَافِيًا، لِأَنَّ مَنْ لَمْ يَكُنْ فِي زِيَادَةٍ فَهُوَ فِي نُقْصَانٍ، وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ الْخُسْرَانُ، وَقَوْلُهُ فِي الِاحْتِجَاجِ أَيْضًا: لَوْ كَانَ هَذَا سُوءَ أَدَبٍ لَأَوْجَبَ الْبِعَادَ، فَقَدْ يُقَامُ مَقَامَ الْبُعْدِ وَهُوَ يَظُنُّ أَنَّهُ فِي مَحَلِّ الْقُرْبِ، لِأَنَّ مَرَاتِبَ الْقُرْبِ وَالْبُعْدِ لَا نِهَايَةَ لَهَا، وَمَا مِنْ مَقَامٍ فِي الْقُرْبِ إِلَّا وَمَا بَعْدَهُ أَعْظَمُ مِنْهَ حَتَّى يَكُونَ ذَلِكَ الْقُرْبُ بِالنِّسْبَةِ إِلَى مَا بَعْدَهُ بُعْدًا، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ ذَلِكَ الْبُعْدِ إِلَّا أَنْ يَتْرَكَكَ مَعَ مَا تُرِيدُ لَكَانَ كَافِيًا فِي الطَّرْدِ وَالْبُعْدِ، إِذْ تَرْكُ الْعَبْدِ مَعَ هَوَاهُ وَشَهَوَاتِهِ مِنْ عَلَامَةِ الْإِهْمَالِ، وَإِخْرَاجُ الْعَبْدِ عَنْ هَوَاهُ وَمَاتَرْكَنَ إِلَيْهِ نَفْسُهُ مِنْ عَلَامَةِ الِاعتِنَاءِ وَالْإِقْبَالِ، فَإِذَا اعْتَنَى اللَّهُ تَعَالَى بِعَبْدٍ وَأَرَادَ أَنْ يُوصِلَهُ إِلَى حَضْرَتِهِ شَوَشَ عَلَيْهِ كُلَّ مَاتَرَكْنَ إِلَيْهِ نَفْسَهُ وَأَزْعَجَهُ طَوْعًا أَوْ كَرْهًا حَتَّى يُؤْيِسَهُ مِنْ هَذَا الْعَالَمِ، وَلَمْ يَبْقَ لَهُ رُكُونٌ إِلَى شَيْءٍ مِنْهُ، فَحِينَئِذٍ يَصْطَفِيهِ لِحَضْرَتِهِ وَيَجْتَبِيهِ لِمَحَبَّتِهِ، فَلَيْسَ لَهُ حِينَئِذٍ عَنْ نَفْسِهِ أَخْبَارٌ وَلَامَعَ غَيْرِ اللَّهِ قَرَارٌ. وَأَصْلُ ذَلِكَ قَضِيَّةُ سَيِّدِنَا مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَمَّا عَلِمَ اللَّهُ تَعَالَى مَحَبَّتَهُ لِعَصَاهُ وَرُكُونَهُ إِلَيْهَا قَالَ له الحق تعالى : ( وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَامُوسَىٰ ؟ قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّؤُا عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ ) أَيْ حوَائِج أخر ( قَالَ ) له ( أَلْقِهَا يَامُوسَىٰ فَالْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ ) فلما فر عنها وقطع يأسه منها ( قَالَ ) له ( خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ) (1). لأنها لا تضرک حيث رجعت إليها بالله . ويقال للفقير وماتلك بيمينك أيها الفقير ؟ فيقول هي دنياي أعتمد عليها وأقضى بها مآربى فيقال له ألقها من يدك . فإذا هي حية تسعى كانت تلدغه وهو لا يشعر ، فإذا أيس منها واستأنس بالله واطمأن به قيل له خذها ولا تخف لأنك تأخذها بالله لا بنفسك ، والله تعالى أعلم . ومواطن الآداب التي يخل بها المريد فيعاقب عليها ثلاثة : آداب مع الله ورسوله ، وآداب مع الشيخ ، وآداب مع الإخوان. ا
Maka
jika ia memiliki catatan kebaikan di masa lalu, ia akan bertaubat dan
memperbaiki apa yang telah ia rusak, sehingga limpahan karunia akan kembali
kepadanya. Namun jika ia tidak memiliki catatan kebaikan, ia
akan kembali kepada tabiat asalnya dan menetap dalam keadaan terjauhkan. Kita memohon kepada Allah keselamatan dari pencabutan
nikmat-Nya setelah Dia menganugerahkannya. Seandainya hukuman itu tidak ada kecuali sekadar
terhalang dari tambahan perjalanan (spiritual) atau kenaikan derajat, niscaya
itu sudah cukup. Karena barang siapa yang tidak berada dalam
penambahan (kebaikan), maka ia berada dalam pengurangan, dan barang siapa yang
harinya lebih buruk daripada hari kemarinnya, sungguh ia adalah orang yang
merugi.
Argumen
pembelaannya yang lain: "Seandainya
ini adalah adab yang buruk, niscaya Allah akan menjauhkanku." Padahal,
seseorang bisa saja ditempatkan pada posisi dijauhkan, sementara ia menyangka
dirinya berada di tempat kedekatan. Sebab, tingkatan kedekatan dan penjauhan itu tidak
ada batasnya. Tiada suatu maqam kedekatan pun melainkan setelahnya
terdapat maqam yang lebih besar, sehingga kedekatan yang ada terasa seperti
kejauhan jika dibandingkan dengan maqam setelahnya. Dan seandainya bentuk kejauhan itu tidak ada bentuk
lain kecuali Allah membiarkanmu bersama apa yang engkau inginkan, niscaya itu
sudah cukup sebagai bentuk pengusiran dan penjauhan. Sebab, membiarkan seorang hamba bersama hawa nafsu
dan syahwatnya adalah termasuk tanda penelantaran (i'mal), sedangkan
mengeluarkan hamba dari hawa nafsu dan kecenderungan nafsunya adalah tanda
kepedulian dan periksa-Nya (i'tina'
wal-iqbal).
Maka
apabila Allah Ta'ala telah peduli kepada seorang hamba dan hendak menyampaikan
ke hadirat-Nya, Dia akan menggoncangkan segala hal yang dicintai nafsunya dan
membuatnya gelisah baik secara suka maupun terpaksa, hingga Dia membuat dunia
ini terasa putus asa di matanya dan tidak ada lagi kecenderungan hatinya kepada
sedikit pun dari dunia tersebut. Pada saat itulah Allah mengkhususkannya bagi
hadirat-Nya dan memilihnya untuk kecintaan-Nya. Ketika itu, ia tidak lagi membawa berita tentang
dirinya sendiri dan tidak ada lagi ketenangan selain kepada Allah.
Pokok
dari hal ini adalah kisah Nabi Musa 'alaihis salam. Ketika Allah Ta'ala mengetahui kecintaan Musa
terhadap tongkatnya serta kecenderungan hatinya kepada tongkat tersebut, Allah
Ta'ala berfirman kepadanya:
[
"Dan apakah itu yang ada di tangan kananmu, wahai Musa? Dia berkata: 'Ini
adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul dengannya (daun-daun)
untuk kambingku, dan bagiku ada keperluan yang lain padanya' [QS. Taha:
17-18]" —maksudnya adalah hajat-hajat yang lain— Allah berfirman
kepadanya: "Lemparkanlah ia, wahai Musa! Maka ia pun melemparkannya,
tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap cepat [QS. Taha: 19-20]" ]
. Ketika Musa lari darinya dan terputus harapan
darinya, Allah berfirman kepadanya: "Ambillah ia dan jangan takut [QS. Taha: 21]".
Sebab,
tongkat itu tidak akan membahayakanmu sekembalinya engkau mengambilnya dengan
pertolongan Allah. Dikatakan kepada seorang yang fakir (hamba yang
butuh kepada Allah): "Apakah
yang ada di tangan kananmu, wahai orang yang fakir?" Ia menjawab: "Ini adalah duniaku, aku
menyandarkan diri kepadanya dan dengannya aku memenuhi hajat-hajatku."
Maka dikatakan kepadanya: "Lemparkanlah
ia dari tanganmu!" Ternyata tongkat dunia itu adalah ular yang merayap
yang tadinya hampir menyengatnya sementara ia tidak menyadarinya. Maka ketika ia telah berputus asa darinya, merasa
tenang dengan Allah, serta tenteram kepada-Nya, dikatakan kepadanya: "Ambillah ia dan jangan
takut, karena engkau mengambilnya dengan pertolongan Allah, bukan dengan
kekuatan dirimu sendiri." Dan Allah Ta'ala lebih mengetahui.
Adapun
tempat-tempat penjagaan adab yang apabila dilanggar oleh seorang murid maka ia
akan dijatuhi hukuman, ada tiga:
·
Adab kepada Allah dan
Rasul-Nya.
·
Adab kepada guru.
·
Adab kepada sesama saudara
(sesama penempuh jalan).
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini