بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
الرسالة القشيرية
Bab Wasiat untuk Para Murid
بابُ الوَصِيَّةِ للمُريدينَ
قالَ الأستاذُ الإمامُ: لَمّا أثْبَتنا طرَفاً مِن سِيَرِ القومِ ، وضمُمنا إلى ذلِكَ أبواباً مِنَ المقامَاتِ .. أرَدنا أنْ نختِمَ هذِهِ الرسالةَ بوصيَّةِ المُريدينَ ، نرجو مِنَ اللَّهِ تعالى حُسنَ توفيقِهِم لاستعمالِها ، وألَّا يحرمَنَا القيامَ بها ، ولا يجعلَهَا حُجَّةً علينا . ا
فأوَّلُ قَدمِ المُريدِ في هذِهِ الطريقةِ : ينبغي أنْ يكونَ على الصدقِ ؛ ليصحَّ لَهُ البناءُ على أصلٍ صحيحٍ ؛ فإنَّ الشيوخَ قالوا: إنَّما حُرِموا الوصُولَ لتضييعِهِمُ الأصولَ (١).ا
كَذلِكَ سمعتُ الأستاذَ أبا عليٍّ الدَّقّاقَ رضيَ اللَّهُ عنهُ يقولُ .ا
فتجبُ البدايةُ بتصحيحِ اعتقادِ بينهُ وبينَ اللَّه تعالى صافٍ عَنِ الظنونِ والشُّبَهِ ، خالٍ مِنَ الضلالِ والبدعِ ، صادرٍ عنِ البراهينِ والحُجَجِ .ا
ويقبُحُ بالمُريدِ أن ينتسبَ إلى مذهبٍ مِنْ مذاهبِ مَنْ ليسَ مِنْ هذهِ الطريقةِ ، وليسَ انتسابُ الصوفيِّ إلى مذهبِ مِنْ مذاهبِ المخالفينَ (٢) سوى طريقةِ الصوفيةِ إلَّا نتيجةَ جهلِهِمْ (٣) بمذاهبِ أهلِ هذهِ الطريقةِ ؛ فإنَّ هؤلاءِ حُجَجُهُمْ في مسائلِهِم أظهرُ مِنْ حُجَجِ كلِّ أحدٍ ، وقواعدُ مذاهبِهِم أقوى مِنْ قواعدِ كلِّ مذهبٍ .ا
والناسُ إمَّا أصحابُ النقلِ والأثرِ ، وإمَّا أربابُ العقلِ والفِكْرِ ، وشيوخُ هذِهِ الطَّائفةِ ارتقوا عَنْ هذهِ الجملةِ ؛ فالذي للناسِ غَيبٌ فلهمُ (٤) ظهورٌ ، والذي للخلقِ مِنَ المعارفِ مقصودٌ فلهمْ مِنَ الحقِّ سبحانَهُ موجودٌ ؛ فهم أهلُ الوصالِ ، والناسُ أهلُ الاستدلالِ .ا
وهم كما قالَ القائلُ :ا
لَيلِي بِوَجهِكَ مُشْرِقٌ ... وَظَلَامُهُ في النَّاسِ سَارِي (١)
فَالنَّاسُ فِي شُدُفِ الظَّلَا ... مِ وَنَحْنُ فِي ضَوْءِ النَّهَارِ
ولم يكنْ عصرٌ مِنَ الأعصارِ في مدَّةِ الإِسْلامِ إلَّا وفيهِ شيخٌ مِن شيوخِ هذهِ الطائفةِ ممَّنْ لهُ علومُ التوحيدِ وإمامةُ القومِ إلَّا وأئمَّةُ ذلِكَ الوقتِ مِن العلماءِ استسلمُوا لذلِكَ الشيخِ ، وتواضعُوا لهُ ، وتبرَّكُوا بهِ ، ولولا مزيَّةٌ وخصوصيَّةٌ لهمْ ، وإلَّا .. لكانَ الأمرُ بالعكسِ مِنْ هذا .ا
Ustadz Imam berkata: Ketika kami
telah menetapkan sebagian dari perjalanan hidup kaum (sufi), dan kami himpunkan
ke dalamnya beberapa bab dari maqamat (tingkatan spiritual)... kami ingin
mengakhiri risalah ini dengan wasiat untuk para murid, kami memohon kepada
Allah Taala semoga mereka diberikan taufik yang baik untuk mengamalkannya, dan
semoga Allah tidak mengharamkan kami untuk menegakkan wasiat tersebut, serta
tidak menjadikannya sebagai hujjah (alasan yang merugikan) atas kami.
Maka langkah awal seorang murid
dalam jalan ini: hendaknya ia berada di atas kejujuran (sedq); agar bangunannya
sah di atas fondasi yang benar; karena para sesepuh (syaikh) telah berkata:
"Sesungguhnya mereka diharamkan dari mencapai tujuan adalah karena
menyia-nyiakan fondasi-fondasi (dasar)".
Demikian pula aku mendengar Ustadz
Abu Ali ad-Daqqaq radhiyallahu 'anhu berkata.
Maka permulaan (perjalanan) wajib
dimulai dengan meluruskan keyakinan antara dirinya dengan Allah Taala, yang
bersih dari persangkaan dan keraguan, terbebas dari kesesatan dan bid'ah, serta
bersumber dari dalil-dalil dan hujjah.
Dan adalah suatu hal yang tercela
bagi seorang murid jika ia dinisbatkan kepada suatu mazhab dari mazhab-mazhab
orang yang bukan dari jalan (tasawuf) ini. Dan tidaklah dinisbatkannya seorang
sufi kepada mazhab dari mazhab-mazhab orang yang menyelisihi jalan kaum sufi,
melainkan itu adalah akibat dari ketidaktahuan mereka terhadap mazhab
(pandangan) para pengikut jalan ini. Sesungguhnya argumen-argumen mereka dalam
berbagai persoalan lebih nyata daripada argumen setiap orang, dan kaidah-kaidah
mazhab mereka lebih kuat daripada kaidah setiap mazhab.
Manusia itu terbagi menjadi dua: ada
yang mengandalkan riwayat dan atsar (teks/nash), dan ada yang mengandalkan akal
dan pemikiran. Sedangkan para guru (syaikh) dari golongan ini telah melampaui
tingkatan tersebut; apa yang bagi orang lain merupakan hal yang gaib, bagi
mereka tampak jelas (zuhur). Dan apa yang dicari oleh makhluk berupa
pengetahuan, bagi mereka telah wujud dari Allah Subhanahu; merekalah ahli
al-wishal (orang-orang yang sampai kepada Allah), sedangkan manusia yang lain
adalah ahli istidlal (pencari dalil dengan penalaran).
Dan mereka adalah sebagaimana yang
dikatakan oleh penyair: [dari bahar Majzu' al-Kamil] Malamku menjadi terang
karena wajahmu... sementara kegelapannya merata bagi manusia Maka manusia
berada dalam pekatnya kegelapan... sedangkan kami berada dalam cahaya siang
Dan tidaklah ada suatu masa pun
dalam sejarah Islam, melainkan padanya terdapat seorang syaikh dari para syaikh
golongan ini yang memiliki ilmu-ilmu tauhid dan kepemimpinan atas kaum (sufi),
kecuali para ulama terkemuka pada masa itu tunduk kepada syaikh tersebut, bersikap
tawadhu' (rendah hati) kepadanya, dan mencari keberkahan darinya. Sekiranya
tidak ada keutamaan dan kekhususan bagi mereka, niscaya keadaannya akan terjadi
sebaliknya dari hal ini.
هذا أحمدُ ابنُ حنبلٍ كانَ عندَ الشافعيِّ رضيَ اللَّهُ عنهما ، فجاءَ شيبانُ الراعي ، فقالَ أحمدُ : أريدُ يا أبا عبدِ اللَّهِ أن أنبِّهَ هذا على نقصانِ علمِهِ ؛ ليستَغِلَّ بتحصيلِ بعضِ العلومِ ، فقالَ الشافعيُّ لهُ : لا تفعلْ ، فلمْ يَقنعْ . ا
فقالَ لشيبانَ : ما تقولُ فيمَنْ نسِيَ صلاةً مِنْ خمسِ صلواتٍ في اليومِ والليلةِ ولا يدرِي أَيَّةَ صلاةٍ نسِيَها ؟ ما الواجبُ عليهِ يا شيبانُ ؟
فقالَ شيبانُ : يا أحمدُ ؛ هذا قلبٌ غفَلَ عنِ اللَّهِ تعالى ، فالواجبُ أنْ يؤدَّبَ حتَّى لا يَغفُلَ عن مولاهُ [ بعْدُ ] .ا
فغُشِيَ على أحمدَ ، فلَمَّا أفاقَ .. قالَ لَهُ الشافعيُّ رضيَ اللَّهُ عنهُ : ألمْ أقلْ لَكَ : لا تحرِّكْ هذا ؟!ا
وشيبانُ الراعي كانَ أميَّاً منهُمْ ، فإذا كانَ محلُّ الأُمِّيِّ منهُمْ هكذا .. فما الظنُّ بأئمَّتِهِم ؟! وقد حُكيَ أنَّ فقيهاً مِنْ أكابرِ الفقهاءِ كانتْ حلقتُهُ بجانبِ حلقةِ الشِّبليِّ في جامعِ المنصورِ ، وكانَ يُقالُ لذلكَ الفقيهِ : أبو عمرانَ ، وكانَ تَعطُّلُ عليهمْ حلقتُهُمْ بكلامِ الشِّبليِّ .ا
فسأَلَ أصحابُ أبي عمرانَ يوماً الشِّبليَّ عن مسألةٍ في الحيضِ ـ وقصدوا إحجالَهُ ـ فذَكَرَ مقالاتِ الناسِ في تلكَ المسألةِ والخلافَ فيها ، فقامَ أبو عمرانَ وقَبَّلَ رأسَ الشِّبليِّ وقالَ : يا أبا بكرٍ ؛ استفدتُ في هذهِ المسألةِ عشرَ مقالاتٍ لم أسمعْها ، وكانَ عندي مِنْ جملةِ ما قلتُ ثلاثةُ أقاويلَ (١) .ا
وقيلَ : اجتازَ أبو العباسِ ابنُ سريحٍ الفقيهُ بمجلسِ الجنيدِ رحمهما اللَّه ، فسمعَ كلامَهُ ، فقيلَ لَهُ : ما تقولُ في هذا ؟
فقالَ : لا أدري ما يقولُ ، ولكنِّي أرى لهذا الكلامِ صولةً ليستْ بصولةِ مبطلٍ (٢) .ا
وقيلَ لِعبدِ اللَّهِ بنِ سعيدِ بنِ كُلَّابٍ (٣) : أنتَ تتكلَّمُ على كلامِ كلِّ أحدٍ ، وها هنا رجلٌ يُقالُ لَهُ الجنيدُ ، فانظُرْ هل تعترضُ عليهِ أم لا .ا
فحضَرَ حلقتَهُ ، فسأَلَ الجنيدَ عن التوحيدِ ، فأجابَهُ ، فتحيَّرَ عبدُ اللَّهِ وقالَ : أعدْ عليَّ ما قلتَ ، فأعادَ ولكنْ لا بتلكَ العبارةِ ، فقالَ عبدُ اللَّهِ : هذا شيءٌ آخرُ لم أحفظْهُ ! تعيدُ عليَّ مرَّةً أُخرى ؟
فأعادَ بعبارةٍ أخرى ، فقالَ عبدُ اللَّهِ : ليسَ يمنُّني حفظُ ما تقولُ ، أملِهِ علينا ، فقالَ : إنْ كنتُ أجريهِ .. فأنا أمليهِ ، فقامَ عبدُ اللَّهِ وقالَ بفضلِهِ ، واعتَرَفَ بعلوِّ شأنِهِ .ا
Adalah Ahmad bin Hanbal yang saat
itu berada di sisi Asy-Syafii radhiyallahu 'anhuma, lalu datanglah Syiban
Ar-Rai. Ahmad berkata: "Wahai Abu Abdillah, aku ingin memperingatkan orang
ini atas kekurangan ilmunya; agar ia menyibukkan diri dengan menuntut sebagian
ilmu." Asy-Syafii berkata kepadanya: "Jangan kau lakukan," namun
ia tidak (mau) puas.
Maka Ahmad berkata kepada Syiban:
"Apa pendapatmu tentang seseorang yang lupa satu salat dari lima salat
dalam sehari semalam, dan ia tidak tahu salat mana yang ia lupakan? Apa yang
wajib atasnya wahai Syiban?"
Maka Syiban berkata: "Wahai
Ahmad; ini adalah hati yang lalai dari Allah Taala, maka yang wajib adalah
dididik (diberi pelajaran) agar ia tidak lalai dari Tuhannya [lagi]."
Maka Ahmad pun jatuh pingsan. Ketika
ia sadar... Asy-Syafii radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: "Bukankah
sudah kukatakan kepadamu: Jangan kauusik orang ini?!"
Padahal Syiban Ar-Rai adalah seorang
yang umi (buta huruf/tidak belajar ilmu formal) di antara mereka. Jika
kedudukan orang yang umi di antara mereka seperti itu... lalu bagaimana lagi
dengan prasangka terhadap para imam (pemimpin) mereka?!
Dan telah diceritakan bahwa seorang
ahli fikih dari kalangan ulama besar, halaqahnya (majelis belajarnya) berada di
samping halaqah Asy-Syibli di Masjid Al-Manshur. Ahli fikih tersebut dipanggil
dengan nama Abu Imran, dan halaqah mereka menjadi sepi karena beralih
mendengarkan perkataan Asy-Syibli.
Maka pada suatu hari, para murid Abu
Imran bertanya kepada Asy-Syibli tentang suatu masalah haid —dengan maksud
hendak mempermalukannya— lalu Asy-Syibli menyebutkan berbagai pendapat orang dalam
masalah tersebut beserta ikhtiarnya (perbedaan pendapatnya). Maka Abu Imran
berdiri, mencium kepala Asy-Syibli, dan berkata: "Wahai Abu Bakar, aku
telah mengambil faedah sepuluh pendapat dalam masalah ini yang belum pernah aku
dengar sebelumnya, padahal dari seluruh (pendapat) yang aku miliki hanya ada
tiga pendapat [saja]."
Dan diriwayatkan: Abu al-Abbas bin
Suraij Al-Faqih melewati majelis Al-Junaid rahimahumallah, lalu ia mendengarkan
perkataannya, maka dikatakan kepadanya: "Apa pendapatmu tentang ini?"
Ia menjawab: "Aku tidak tahu
apa yang ia katakan, tetapi aku melihat perkataan ini memiliki kehebatan
(wibawa) yang bukan merupakan kehebatan orang yang batil."
Dan dikatakan kepada Abdullah bin
Said bin Kullab: "Engkau membongkar/mengomentari perkataan setiap orang,
dan di sini ada seorang lelaki yang dipanggil Al-Junaid, maka perhatikanlah
apakah engkau ingin membantahnya atau tidak."
Maka ia pun mendatangi halaqahnya,
lalu bertanya kepada Al-Junaid tentang tauhid. Al-Junaid pun menjawabnya, sehingga
Abdullah menjadi bingung dan berkata: "Ulangi atasku apa yang telah
kaukatakan." Al-Junaid mengulanginya, tetapi tidak dengan ungkapan/redaksi
yang sama. Abdullah berkata: "Ini adalah hal lain yang belum aku hafal!
Maukah engkau mengulanginya lagi atasku?"
Maka Al-Junaid mengulanginya dengan
redaksi yang berbeda. Abdullah berkata: "Kemampuanku tidak sanggup
menghafal apa yang engkau katakan, diktekanlah kepada kami." Al-Junaid
menjawab: "Jika aku mengalirkannya (menyampaikannya secara spontan)...
maka aku akan mendtekan-nya." Maka Abdullah berdiri, mengakui
keutamaannya, serta mengakui ketinggian derajatnya.
وكانَ الشِّبْلِيُّ يقولُ لِلحُضَرِيِّ في ابتداءِ أمرِهِ : إنْ خطَرَ ببالِكَ مِنَ الجمعةِ إلى الجمعةِ الثانيةِ التي تأتينِي غيرُ اللَّهِ تعالى .. فحرامٌ عليكَ أنْ تحضُرَنِي . ا
وإذا أرادَ الخروجَ عنِ العلائقِ .. فأوَّلُها الخروجُ عنِ المالِ ؛ فإنَّ ذلكَ الذي يميلُ بِهِ عنِ الحقِّ ، ولمْ يُوجَدْ مريدٌ دخلَ في هذا الأمرِ ومعهُ علاقهٌ مِنَ الدنيا إلَّا جرَّتْهُ تلكَ العلاقةُ عنْ قريبٍ إلى ما منهُ خرجَ . ا
فإذا خرجَ مِنَ المالِ .. فالواجبُ عليهِ الخروجُ عنِ الجاهِ ؛ فإنَّ ملاحظةَ الجاهِ مقطعةٌ عظيمةٌ
وما لمْ يستَوِ عندَ المريدِ قبولُ الخلقِ وردُّهُمْ .. لا يجيءُ منهُ شيءٌ ، بلْ أضرُّ الأشياءِ لهُ ملاحظةُ الناسِ إيَّاهُ بعينِ الإثباتِ والتبرُّكِ بِهِ ؛ لإفلاسِ الناسِ عنْ هذا الحديثِ (١) ، وهوَ بعدُ لمْ يصِحَّ الإرادةَ ، فكيفَ يصِحُّ أنْ يُتَبرَّكَ بِهِ ؟! فخروجُهُمْ مِنَ الجاهِ واجبٌ عليهمْ ؛ لأنَّ ذلكَ سمٌّ قاتلٌ لهمْ . ا
فإذا خرجَ عنْ مالِهِ وجاهِهِ .. فيجبُ أنْ يصحِّحَ عقدَهُ بينَهُ وبينَ اللَّهِ تعالى أنَّ لَا يخالفَ شيخَهُ في كلِّ ما يشيرُ عليهِ ؛ لأنَّ الخلافَ للمريدِ في ابتداءِ أمرِهِ عظیمُ الضررِ ؛ لأنَّ ابتداءَ حالِهِ دليلٌ على جميعِ عمرِه . ا
ومِنْ شرطِهِ : أَلَّا يكونَ لهُ بقلبِهِ اعتراضٌ على شيخِهِ ، وإذا خطَرَ ببالِ المريدِ أنَّ لهُ في الدنيا والآخرةِ قَدْراً أو قيمةً ، أوْ على بسيطِ الأرضِ أحداً دونَهُ .. لمْ يصِحَّ لهُ في الإرادةِ قدمٌ ؛ لأنَّهُ يجبُ أنْ يجتهدَ ليعرِفَ ربَّهُ ، لا ليحصِّلَ لنفسِهِ قَدْراً ، وفرقٌ بينَ مَنْ يريدُ اللَّهَ تعالى وبينَ مَنْ يريدُ جاهَ نفسِهِ ؛ إمَّا في عاجلِهِ وإمَّا في آجلِهِ . ا
ثمَّ يجبُ عليهِ حفظُ سرِّهِ حتَّى عنْ زَورِهِ ، إلَّا عنْ شيخِهِ ، ولوْ كتمَ نَفَساً مِنْ أنفاسِهِ عنْ شيخِهِ .. فقدْ خانَهُ في حقِّ صحبتِه . ا
ولوْ وقعَ لهُ مخالفةٌ فيما أشارَ عليهِ شيخُهُ .. فيجبُ أنْ يقرَّ بينَ يديهِ في الوقتِ ، ثمَّ يستسلِمَ لما يحكُمُ بِهِ عليهِ شيخُهُ عقوبةً لهُ على جنايتِه ومخالفتِهِ (٢) ؛ إمَّا بسفرٍ يُكلِّفُهُ ، أوْ أمرٍ ما يراهُ (٣) . ا
Dahulu Asy-Syibli berkata kepada
Al-Hushari pada awal perjalanannya: "Jika terlintas di dalam hatimu sejak
hari Jumat ini hingga Jumat berikutnya saat engkau mendatangi aku selain Allah
Taala.. maka haram bagimu untuk mendatangi majelisku."
Apabila seorang murid ingin keluar
dari keterikatan duniawi.. maka yang pertama adalah keluar dari harta kekayaan;
karena harta itulah yang memalingkan dirinya dari Kebenaran (Allah). Tidak
pernah ditemukan seorang murid yang masuk ke dalam jalan ini sedangkan padanya
masih ada keterikatan terhadap dunia, melainkan keterikatan itu akan menariknya
kembali dalam waktu dekat kepada apa yang telah ia tinggalkan.
Maka apabila ia telah keluar dari
hartanya.. wajib baginya untuk keluar dari kedudukan/pangkat (jah); karena
memelihara kedudukan merupakan penghalang yang sangat besar.
Selama belum sama bagi seorang murid
antara penerimaan manusia dan penolakan mereka.. tidak akan membuahkan hasil
apa pun darinya. Bahkan hal yang paling berbahaya baginya adalah tatkala
manusia memandangnya dengan pandangan pengagungan dan mengambil keberkahan
darinya; sebab manusia mengalami kebangkrutan dari pemahaman ini (ilmu
hakikat), sementara murid tersebut belum lurus kehendak (kemauan
spiritual)-nya, maka bagaimana bisa dibenarkan orang-orang mengambil keberkahan
darinya?! Oleh karena itu, keluar dari kedudukan adalah wajib bagi mereka; karena
hal itu adalah racun yang mematikan bagi mereka.
Apabila ia telah keluar dari harta
dan kedudukannya.. maka wajib baginya untuk memantapkan ikatan janjinya antara
dirinya dengan Allah Taala untuk tidak menyelisihi gurunya (syaikhnya) dalam
setiap apa yang diisyaratkan/diperintahkan kepadanya; karena perselisihan bagi
murid pada awal perjalanannya mendatangkan bahaya yang sangat besar; sebab
permulaan keadaannya merupakan cerminan bagi seluruh sisa umurnya.
Dan di antara syaratnya: hendaknya
tidak ada di dalam hatinya penentangan/sanggahan terhadap gurunya. Jika
terbesit di dalam pikiran murid bahwa dirinya memiliki harga diri atau nilai di
dunia dan akhirat, atau merasa ada orang lain di muka bumi ini yang lebih
rendah darinya.. maka belum kokoh pendiriannya dalam jalan keinginan spiritual
ini; karena ia wajib bersungguh-sungguh untuk mengenal Tuhannya, bukan untuk
meraih kedudukan bagi dirinya sendiri. Sungguh berbeda antara orang yang
menginginkan Allah Taala dengan orang yang menginginkan keagungan bagi dirinya
sendiri; baik untuk masa segeranya (dunia) maupun masa mendatangnya (akhirat).
Kemudian wajib baginya untuk menjaga
rahasia (spiritual)-nya bahkan dari teman dekatnya, kecuali kepada gurunya.
Sekiranya ia menyembunyikan walau satu helaan napas dari gurunya.. maka sungguh
ia telah mengkhianatinya dalam hak persahabatan/berguru.
Dan jika terjadi padanya suatu
pelanggaran/perselisihan terhadap apa yang diisyaratkan oleh gurunya.. maka
wajib baginya untuk berterus terang (mengaku) di hadapan gurunya seketika itu
juga, kemudian berserah diri terhadap apa yang dihukuminya sebagai hukuman atas
pelanggaran dan kesalahannya; baik berupa tugas perjalanan (rihlah/safar) yang
dibebankan kepadanya, atau perkara lain yang dipandang baik oleh gurunya.
ولا يصِحُّ للشيوخِ التجاوزُ عنْ زَلَّاتِ المريدينَ ؛ لأنَّ ذلكَ تضييعٌ لحقوقِ اللَّهِ تعالى . ا
وما لمْ يتجرَّدِ المريدُ عنْ كلِّ علاقةٍ .. لا يجوزُ لشيخِهِ أنْ يلقِّنَهُ شيئاً مِنَ الأذكارِ ، بلْ يجبُ أنْ يقدِّمَ التجربةَ لهُ ، فإذا شهِدَ قلبُهُ للمريدِ بصحَّةِ العَزمِ .. حينئذٍ يشترَطُ عليهِ أنْ يرضى بما يستقبلُهُ في هذِهِ الطريقةِ مِنْ فنونِ تصاريفِ القضاءِ ، فيأخُذُ عليهِ العهدَ بألَّا ينصرِفَ عنْ هذِهِ الطريقةِ بما يستقبلُهُ مِنَ الضرِّ ، والذُّلِّ والفقرِ ، والأنسِقامِ والآلامِ ، وألَّا يجنَحَ بقلبِهِ إلى السهولةِ ، ولا يترخَّصَ عندَ هجومِ الفاقاتِ وحصولِ الضروراتِ ، ولا يؤثِرَ الدَّعَةَ ، ولا يستشعِرَ الكسلَ ؛ فإنَّ وَقْفَةَ المريدِ شرٌّ مِنْ فَتْرَتِهِ .ا
والفرقُ بينَ الفترةِ والوقفةِ : أنَّ الفترةَ رجوعٌ عنِ الإرادةِ وخروجٌ منها ، والوقفةُ سكونٌ عنِ السيرِ باستحلاءِ حالاتِ الكسلِ (١) .ا
وكلُّ مريدٍ وقفَ في ابتداءِ إرادتِهِ .. لا يجيءُ منهُ شيءٌ . ا
فإذا جرَّبَهُ شيخُهُ .. فيجبُ أنْ يلقِّنَهُ ذكراً مِنَ الأذكارِ على ما يراهُ شيخُهُ ، فيأمرُهُ أنْ يذكُرَ ذلكَ الاسمَ بلسانِهِ ، ثمَّ يأمرُهُ أنْ يسوِّيَ قلبَهُ معَ لسانِهِ ، ويقولُ لهُ : اثبُتْ على استدامةِ هذا الذكرِ كأنَّكَ معَ ربِّكَ أبداً بقلبِكَ ، ولا يجري على لسانِكَ غيرُ هذا الاسمِ ما أمكنَكَ . ا
ثمَّ يأمرُهُ أنْ يكونَ أبداً في الظاهرِ على الطهارةِ ، وألَّا يكونَ نومُهُ إلَّا غلبةً ، وأنْ يقلِّلَ مِنْ غذائِهِ بالتدريجِ شيئاً بعدَ شيءٍ حتَّى يقوى على ذلكَ ، ولا يأمرُهُ أنْ يتركَ عادتَهُ بمرَّةٍ ؛ فإنَّ في الخبرِ : « إنَّ المُنْبَتَّ لا أرضاً قطعَ ، ولا ظهراً أَبْقَى » (٢) .ا
ثمَّ يأمرُهُ بإيثارِ الخلوةِ والعزلةِ ، ويجعلُ اجتهادَهُ في هذِه الحالةِ ـ لا محالةَ ـ في نفيِ الخواطرِ الدنيَّةِ والهواجسِ الشاغلةِ عنِ القلبِ .ا
Dan tidak dibenarkan bagi para syekh
(guru) membiarkan (memaklumi) kekhilafan/kesalahan para murid; karena hal itu
termasuk menyia-nyiakan hak-hak Allah Taala.
Selama seorang murid belum
melepaskan diri secara total dari segala keterikatan duniawi.. tidak boleh bagi
gurunya untuk mengajarkan (menuntun) suatu dzikir kepadanya. Sebaliknya, guru
wajib mengujinya terlebih dahulu. Jika hati guru telah menyaksikan kebenaran
dan kesungguhan tekad murid tersebut.. barulah disyaratkan kepadanya untuk
meredai apa pun yang akan dihadapinya di jalan ini berupa berbagai macam
ketetapan takdir (qadha). Guru mengambil janji padanya untuk tidak berpaling
dari jalan ini disebabkan oleh mara bahaya, kehinaan, kefakiran, penyakit, dan
rasa sakit yang mungkin menimpanya; ia tidak boleh mencondongkan hatinya kepada
kemudahan, tidak memburu keringanan (rukhshah) saat datang kesusahan dan
kebutuhan mendesak, tidak memilih kemanjaan/kenyamanan, serta tidak memelihara
rasa malas; sebab waqfah (berhentinya) seorang murid itu lebih buruk
daripada fatrah-nya (kelemasan/kemunduran semangatnya).
Perbedaan antara fatrah dan waqfah
adalah: bahwa fatrah itu berpaling dari kehendak spiritual dan keluar
darinya, sedangkan waqfah adalah berhentinya perjalanan karena
menganggap nikmat keadaan malas.
Dan setiap murid yang berhenti (waqaf)
pada awal kehendak spiritualnya.. tidak akan menghasilkan sesuatu pun.
Maka jika gurunya telah selesai
mengujinya.. wajib baginya untuk menuntunkan suatu dzikir dari dzikir-dzikir
yang dipandang sesuai oleh gurunya. Guru memerintahkannya untuk menyebut nama
(lafaz dzikir) itu dengan lisannya, kemudian memerintahkannya untuk
menyelaraskan hatinya dengan lisannya, lalu berkata kepadanya: "Tetaplah
dalam merutinkan dzikir ini seakan-akan engkau senantiasa bersama Tuhanku
dengan hatimu selamanya, dan jangan sampai terucap di lisanmu selain nama ini
sebisa mungkin."
Kemudian gurunya memerintahkannya
agar senantiasa secara lahiriah berada dalam keadaan suci (berwudhu), tidak
tidur melainkan karena sangat tertidur (terkalahkan oleh kantuk), dan
mengurangi porsi makanannya secara bertahap sedikit demi sedikit sampai ia
mampu melakukannya. Namun guru tidak memerintahkannya untuk meninggalkan
kebiasaannya sekaligus secara mendadak; karena dalam hadis disebutkan: "Sesungguhnya
orang yang memaksakan kendaraannya melebihi batas (al-munbatt), ia tidak dapat
menempuh jarak perjalanan dan tidak pula menyisakan kendaraan yang utuh."
Kemudian gurunya memerintahkannya
untuk mengutamakan khulwah (menyendiri) dan 'uzlah (mengasingkan
diri), serta menjadikan kesungguhannya dalam keadaan ini —tanpa ragu lagi—
untuk menolak terlintasnya pikiran-pikiran yang hina dan bisikan-bisikan yang
merintangi hati dari mengingat Allah.
واعلمْ : أنَّ في هذِهِ الحالةِ قلَّما يخلو المريدُ في أوانِ خلوتِه في ابتداءِ إرادتِه مِنَ الوساوسِ في الاعتقادِ ، لا سيَّما إذا كانَ في المريدِ كِياسَةُ قلبٍ ، وقلَّ مريدٌ لا تستقبلُهُ هذِه الحالةُ في ابتداءِ إرادتِه ، وهذا مِنَ الامتحاناتِ التي تستقبلُ المريدينَ . ا
فالواجبُ على شيخِه إنْ رأى فيهِ كياسةً : أنْ يحيَلَهُ على الحُجَجِ العَقليَّةِ ؛ فإنَّ بالعلمِ يتخلَّصُ ـ لا محالةَ ـ المتعرِّفُ ممَّا يعتريهِ مِنَ الوساوسِ . ا
وإنْ تفرَّسَ شيخُهُ فيهِ القُوَّةَ والثباتَ في الطريقةِ .. أمرَهُ بالصبرِ واستدامةِ الذكرِ حتَّى تسطعَ في قلبِه أنوارُ القَبولِ ، وتطلعَ في سرِّه شموسُ الوصولِ ، وعن قريبٍ يكونُ ذلكَ ، ولكنْ لا يكونُ هذا إلَّا لأفرادِ المريدينَ ، فأمَّا الغالبُ أنْ تكونَ معالجتُهُم بالردِّ إلى النظرِ (١) وتأمُّلِ الآياتِ ، بشرطِ تحصيلِ علمِ الأصولِ على قدرِ الحاجةِ الداعيةِ للمريدِ . ا
واعلمْ : أنَّهُ يكونُ للمريدينَ على الخصوصِ بلايا مِنْ هذا البابِ ؛ وذلكَ أنَّهُم إذا خلَوْا في مواضعِ ذكرِهِم ، أوْ كانوا في مجالسِ سماعٍ ، أوْ غيرِ ذلكَ .. يهجِسُ في نفوسِهِم ويخطرُ ببالِهِم أشياءُ منكرةٌ ، يتحقَّقونَ أنَّ اللَّهَ سبحانهُ منزَّهٌ عنْ ذلكَ ، وليسَ تعتريهمْ شبهةٌ في أنَّ ذلكَ باطلٌ ، ولكنْ يدومُ ذلكَ ، فيشتدُّ تأذِّيهمْ بهِ ، حتَّى يبلغَ ذلكَ حدّاً يكونُ أصعبَ شتمٍ وأقبحَ قولٍ وأشنعَ خاطرٍ ؛ حيثُ لا يمكنُ للمريدِ إجراءُ ذلكَ على اللسانِ وإبداؤُهُ لأحدٍ ، وهذا أشدُّ شيءٍ يقعُ لهُم . ا
فالواجبُ عندَ هذا تركُ مبالاتِهِم بتلكَ الخواطرِ ، واستدامةُ الذكرِ والابتهالِ إلى اللَّهِ عزَّ وجلَّ باستدفاعِ ذلكَ (٢) . ا
وتلكَ الخواطرُ ليستْ مِنْ وساوسِ الشيطانِ ، وإنَّما هيَ مِنْ هواجسِ النفسِ ، فإذا قابلَها العبدُ بتركِ المبالاةِ بها .. ينقطعُ ذلكَ عنهُ . ا
ومِنْ آدابِ المريدِ ، بلْ مِنْ فرائضِ حالِه : أنْ يلازمَ موضعَ إرادتِه ، وألَّا يسافرَ قبلَ أنْ تقبلَهُ الطريقُ (١) ، وقبلَ الوصولِ بالقلبِ إلى الربِّ ؛ فإنَّ السفرَ للمريدِ في غيرِ وقتِه سمٌّ قاتلٌ ، ولا يصلُ أحدٌ منهُم إلى ما كانَ يُرجى لهُ إذا سافرَ في غيرِ وقتِه . ا
وإذا أرادَ اللَّهُ بمريدٍ خيراً .. ثبَّتَهُ في أوَّلِ إرادتِه ، وإذا أرادَ بمريدٍ سوءاً .. ردَّهُ إلى ما خرجَ عنهُ مِنْ حرفتِه وحالتِه ، وإذا أرادَ بمريدٍ محنةً .. شرَّدَهُ في مطارحِ غُربتِه ، هذا إذا كانَ المريدُ يصلحُ للوصولِ . . ا
Ketahuilah: Bahwa dalam keadaan ini,
jarang sekali seorang murid pada masa berkhalwatnya (menyendiri) di awal
perjalanan spiritualnya terbebas dari was-was/keraguan dalam hal
akidah/keyakinan, terutama jika murid tersebut memiliki kecerdasan (kepekaan)
hati. Dan jarang ada murid yang tidak menghadapi keadaan ini di awal
perjalanannya, dan ini merupakan bagian dari ujian-ujian yang menimpa para
murid.
Maka wajib bagi gurunya, jika
melihat padanya ada kecerdasan: untuk mengarahkannya kepada dalil-dalil dan
argumen akal (hujjah 'aqliyyah); karena dengan ilmu, orang yang
belajar/mencari kebenaran itu pasti akan terbebas dari was-was yang menimpanya.
Namun jika gurunya melihat firasat
padanya berupa kekuatan dan keteguhan dalam jalan spiritual.. maka guru
memerintahkannya untuk bersabar dan merutinkan dzikir sampai memancar di dalam
hatinya cahaya-cahaya penerimaan (qabul), dan terbit di dalam rahasia
hatinya (sirr) matahari-matahari pencapaian (wushul). Hal itu
akan terjadi dalam waktu dekat, akan tetapi hal ini tidaklah terjadi melainkan
bagi murid-murid pilihan (istimewa). Adapun umumnya murid, penanganannya adalah
dengan mengembalikan mereka kepada penalaran dan perenungan ayat-ayat, dengan
syarat mempelajari ilmu ushul (akidah) sesuai kadar kebutuhan yang diperlukan
oleh murid tersebut.
Dan ketahuilah: Bahwa bagi para
murid secara khusus terdapat ujian-ujian dari bab ini; yaitu bahwa apabila
mereka menyendiri di tempat-tempat dzikir mereka, atau berada di
majelis-majelis sima' (mendengarkan nasihat/lantunan spiritual), atau
selainnya.. berbisik di dalam jiwa mereka dan terlintas di pikiran mereka
hal-hal yang mungkar, padahal mereka meyakini sepenuhnya bahwa Allah Mahasuci
dari hal tersebut, dan tidak ada keraguan sedikit pun pada mereka bahwa hal itu
adalah batil. Akan tetapi hal itu terus berlangsung, sehingga penderitaan
mereka karenanya semakin berat, sampai mencapai batas yang menjadi makian
paling berat, perkataan paling buruk, dan lintasan pikiran paling menjijikkan;
di mana murid tidak mungkin mengucapkannya dengan lisan dan menyatakannya
kepada siapa pun, dan ini adalah hal paling berat yang menimpa mereka.
Maka yang wajib dilakukan ketika
mengalami hal ini adalah tidak mempedulikan lintasan-lintasan pikiran tersebut,
merutinkan dzikir, serta berdoa dan memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah
'Azza wa Jalla untuk menolak hal tersebut.
Dan lintasan-lintasan pikiran itu
bukanlah dari was-was setan, melainkan dari bisikan-bisikan nafsu. Maka apabila
hamba menghadapinya dengan tidak mempedulikannya.. hal itu akan terputus
darinya.
Dan di antara adab murid, bahkan di
antara kewajiban keadaannya: hendaknya ia menetap di tempat tujuan/bergurunya,
dan tidak melakukan perjalanan (safar) sebelum jalan spiritual
menerimanya, serta sebelum hatinya sampai kepada Tuhan. Sebab, perjalanan bagi
murid yang dilakukan bukan pada waktunya adalah racun yang mematikan, dan tidak
ada seorang pun dari mereka yang akan mencapai apa yang diharapkan baginya jika
ia melakukan perjalanan bukan pada waktunya.
Apabila Allah menghendaki kebaikan
bagi seorang murid.. Dia akan meneguhkannya di awal perjalanan spiritualnya.
Dan jika Allah menghendaki keburukan bagi seorang murid.. Dia akan
mengembalikannya kepada apa yang telah ia tinggalkan berupa profesi dan keadaannya
semula. Dan jika Allah menghendaki ujian/cobaan bagi seorang murid.. Dia akan
membuatnya terlunta-lunta di tempat-tempat perasingannya; ini semua berlaku
jika murid tersebut memang layak untuk mencapai tujuan (wushul).
فأمَّا إذا كانَ شاباً طريقَتُهُ الخِدمةُ في الظاهِرِ بالنَفْسِ للفقَراءِ ، وهوَ أَدونُهُم في هذِه الطريقةِ رتبةً .. فهو وأمثالُهُ يكتفونَ بالترسُّمِ في الظاهِرِ ، فينقَطِعونَ في الأسفارِ ، وغايَةُ نصيبِهِم مِنْ هذِه الطريقةِ حجَّاتٌ حصَّلُونَها ، وزيارَةُ لمواضِعَ يُرحَلُ إليها ، ولقاءُ شيوخٍ بظاهِرِ سلامٍ ، فيشاهدونَ الظواهِرَ ، ويكتفونَ بما في هذا البابِ مِنَ السَيرِ ، فهؤُلاءِ الواجِبُ لهُم دوامُ السَفرِ ، حتَّى لا تؤدِّيَهُمُ الدَّعَةُ إلى ارتكابِ محظورٍ ؛ فإنَّ الشابَّ إذا وجَدَ الراحةَ والدَّعَةَ .. كانَ بعُرضِ الفَترةِ (٢) . ا
وإذا توسَّطَ المريدُ جمعَ الفقراءِ والأصحابِ في بدايتِهِ .. فهو أضرُّ لَهُ جدّاً ، فإنِ امتُحِنَ واحدٌ بذلِكَ .. فليَكُنْ سبيلُهُ احترامَ الشيوخِ ، والخدمةَ للأصحابِ ، وتَرْكَ الخِلافِ عليهِم ، والقيامَ بما فيهِ راحةُ فقيرٍ ، والجهدَ في أَلَّا يستوحِشَ منهُ قلبُ شيخٍ . ا
ويجبُ أنْ يكونَ في صُحبَتِهِ معَ الفقراءِ أبداً خصمَهُم على نفسِه ، ولا يكونَ خصمَ نفسِه عليهِم ، ويَرى لكلِّ واحدٍ حقّاً واجباً ، ولا يَرى لنفسِهِ واجباً على أحدٍ . ا
ويجبُ ألَّا يخالِفَ المريدُ أحداً وإنْ علِمَ أنَّ الحقَّ معَهُ ؛ يسْكُتُ ويُظهِرُ الوفاقَ لكلِّ أحدٍ (١) ، وكلُّ مريدٍ يكونُ فيهِ مَحْكٌ ولِجاجٌ ومِماراةٌ (٢) .. فإنَّهُ لا يجيءُ منهُ شيءٌ . ا
وإذا كانَ المريدُ في جمعٍ مِنَ الفقراءِ ؛ إمَّا في سفرٍ أوْ حضَرٍ .. فينبغي ألَّا يخالِفَهُم في الظاهِرِ ، لا في أكلٍ ولا في صومٍ ، ولا سكونٍ ولا حركةٍ ، بلْ يخالِفُهُم بسِرِّهِ وقلبِه ، فيحفَظُ قلبَهُ معَ اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، وإذا أشاروا عليهِ بالأكلِ مثلاً .. يأكُلُ لُقمةً أوْ لُقمتينِ ، ولا يعطي النفسَ شهوَتَها . ا
وليسَ مِنْ آدابِ المريدينَ كثرةُ الأورادِ بالظاهِرِ ؛ فإنَّ القومَ في مكابَدَةِ خواطِرِهِم ، ومُعالجَةِ أخلاقِهِم ، ونفيِ الغفلةِ عنْ قلوبِهِم ، لا في تكثيرِ أعمالِ البِرِّ . ا
والذي لا بُدَّ لهُم منهُ إقامةُ الفرائضِ والسُننِ الراتبةِ (٣) ، فأمَّا الزيادةُ مِنَ الصلواتِ النافلةِ .. فاستدامةُ الذكرِ بالقلبِ أتمُّ لهُم . ا
ورأسُ مالِ المريدِ : الاحتمالُ عنْ كلِّ أحدٍ بطيبةِ النفسِ ، وتلقِّي ما يستقبلُهُ بالرِضا ،والصبرُ على الضرِّ والفقرِ ، وتَرْكَ السؤالِ والمعارضةِ في القليلِ والكثيرِ فيما هوَ حَظٌّ لَهُ . ا
ومَنْ لمْ يصبرْ على ذلِكَ .. فليدخُلِ السوقَ ؛ فإنَّ مَنِ اشتَهى ما يشتَهِيهِ الناسُ .. فالواجبُ عليهِ أنْ حصِّلَ شهوتَهُ مِنْ حيثُ حصَّلَها الناسُ ؛ مِنْ كَدِّ اليمينِ وعَرَقِ الجَبينِ (٤) . ا
Adapun jika ia adalah seorang pemuda
yang jalannya adalah berkhidmat secara lahiriah dengan dirinya sendiri kepada
orang-orang fakir (kaum sufi), padahal tingkatan kedudukannya adalah yang
paling rendah di antara mereka dalam jalan ini.. maka ia dan orang-orang
sepertinya cukup dengan formalitas lahiriah saja. Mereka menghabiskan waktu
dalam perjalanan-perjalanan (safar), dan puncak bagian yang mereka
peroleh dari jalan ini hanyalah ibadah haji yang mereka tunaikan, menziarahi
tempat-tempat yang dituju, serta menemui para syekh sekadar ucapan salam
lahiriah; mereka menyaksikan hal-hal lahiriah dan merasa cukup dengan
perjalanan semacam ini. Maka bagi orang-orang seperti mereka, wajib untuk
terus-menerus melakukan perjalanan (safar), agar kenyamanan dan
kemanjaan tidak membawa mereka kepada pelanggaran hal yang dilarang; sebab
seorang pemuda jika menemukan kenyamanan dan bersenang-senang.. ia berada di
ambang kelesuan spiritual (fatrah).
Dan apabila seorang murid sudah
berada di tengah-tengah perkumpulan orang-orang fakir dan para sahabat pada
awal perjalanannya.. maka hal itu sangat berbahaya baginya. Namun jika
seseorang diuji dengan keadaan seperti itu.. hendaknya jalannya adalah
menghormati para syekh, berkhidmat kepada para sahabat, meninggalkan
perselisihan dengan mereka, melakukan apa yang memberikan kenyamanan bagi orang
fakir, serta bersungguh-sungguh agar hati seorang syekh tidak merasa
asing/kecewa kepadanya.
Dan wajib baginya dalam
kebersamaannya dengan orang-orang fakir untuk senantiasa membela mereka melawan
dirinya sendiri, dan bukan membela dirinya melawan mereka. Ia harus melihat
bahwa setiap orang memiliki hak yang wajib atas dirinya, sementara ia tidak
melihat dirinya memiliki hak yang wajib dipertanyakan atas seorang pun.
Dan wajib bagi murid untuk tidak
membantah/menyelisihi siapa pun meskipun ia tahu bahwa kebenaran ada di
pihaknya; ia hendaknya diam dan memperlihatkan kesepakatan kepada setiap orang.
Setiap murid yang di dalamnya terdapat sifat percekcokan, keras kepala, dan
suka berdebat.. tidak akan menghasilkan sesuatu pun dari perjalanan
spiritualnya.
Dan apabila seorang murid berada di
tengah kumpulan orang-orang fakir, baik dalam perjalanan (safar) maupun
saat menetap (hadhar).. maka sepantasnya ia tidak menyelisihi mereka
secara lahiriah: tidak dalam hal makan, tidak dalam puasa, tidak dalam diam,
dan tidak pula dalam gerakan. Akan tetapi ia menyelisihi mereka dalam rahasia
batin dan hatinya, yaitu dengan tetap menjaga hatinya bersama Allah 'Azza wa
Jalla. Jika mereka memintanya untuk makan misalnya.. ia makan satu atau dua
suapan saja, tanpa menuruti syahwat nafsunya.
Dan bukanlah termasuk adab para
murid memperbanyak wirid-wirid secara lahiriah semata; karena kaum (sufi) itu
fokus dalam menundukkan lintasan-lintasan pikiran, memperbaiki akhlak, dan
menepis kelalaian dari hati mereka, bukan sekadar memperbanyak kuantitas
amal-amal kebaikan.
Adapun hal yang wajib dan tidak
boleh ditinggalkan oleh mereka adalah mendirikan shalat-shalat fardhu dan
sunnah-sunnah rawatib. Sedangkan mengenai penambahan shalat-shalat sunnah
nafilah.. maka merutinkan dzikir dengan hati adalah lebih sempurna bagi mereka.
Modal utama (ra'sul mal)
seorang murid adalah: bersikap sabar dan menanggung perlakuan dari siapa pun
dengan kelapangan hati, menyambut apa yang dihadapinya dengan rida, bersabar
atas bahaya dan kefakiran, serta meninggalkan sikap meminta-minta dan menentang
dalam hal sedikit maupun banyak mengenai apa yang menjadi bagian/hak baginya.
Barang siapa yang tidak bisa
bersabar atas hal tersebut.. maka hendaknya ia masuk ke pasar; sebab barang
siapa yang menginginkan apa yang diinginkan oleh manusia pada umumnya.. wajib
baginya untuk meraih keinginannya tersebut sebagaimana manusia meraihnya: dari
hasil kerja keras tangan dan keringat dahinya sendiri.
وإذا التزَمَ مريدٌ استدامةَ الذكِرِ وآثَر الخلوةَ ؛ فإنْ وجَدَ في خلوَتِه ما لمْ يجدْهُ قَبْلَها ؛ إمَّا في النومِ ، وإمَّا في اليقظةِ ، أوْ بينَ اليقظةِ والنومِ ؛ مِنْ خطابٍ يُسْمَعُ ، أوْ معنَى يُشاهدُ ، ممَّا يكونُ نقضاً للعادةِ .. فينبغي ألَّا يشتغلَ بذلكَ أَلبتَّةَ ، ولا يسَكُنَ إليهِ ، ولا ينبغي أنْ ينتظرَ حصولَ أمثالِ ذلكَ ؛ فإنَّ هذِه كلَّها شواغلُ عنِ الحقِّ سبحانَهُ ، ولا بُدَّ لَهُ في هذِهِ الأحوالِ مِنْ وصْفِ ذلكَ لِشيخِه ؛ حتَّى يصيرَ قلبُهُ فارغاً عنْ ذلكَ . ا
ويجبُ علَى شيخِهِ أنْ يحفظَ عليهِ سرَّهُ ، ويكتُمَ عنْ غيرِهِ أمرَهُ ، ويصغِّرَ ذلكَ في عينِهِ ؛ فإنَّ ذلكَ كلَّهُ اختباراتٌ ، والمساكنةُ إليها مَكْرٌ ، فليحذرِ المريدُ عنْ ذلكَ وعنْ ملاحظتِها ، وليجعلْ همَّتَهُ فوقَ ذلكَ .ا
واعلمْ : أنَّ أضرَّ الأشياءِ بالمريدِ : استئناسُهُ بما يُلقَى إليهِ في سرِّهِ مِنْ تقريباتِ الحقِّ سبحانَهُ لهُ ومِنَنِهِ عليهِ ؛ بأنَّي خصصتُكَ بهذا ، وأفردتُكَ عنْ أشكالِكَ ؛ فإنَّهُ لو قالَ بتركِ هذا (١) .. فعَنْ قريبٍ سيُختطَفُ عنْ ذلكَ بما يبدو لهُ مِنْ مكاشفاتِ الحقيقةِ ، وشرحُ هذِه الجملةِ بإثباتِه في الكتبِ متعدِّرٌ (٢) .ا
ومِنْ أحكامِ المريدِ إذا لمْ يجدْ مَنْ يتأدَّبُ بهِ في موضِعِهِ : أنْ يهاجرَ إلى مَنْ هوَ منصوبٌ في وقتِه لِإرشادِ المريدينَ ، ثمَّ يقيمَ عليهِ ولا يبرَحَ سُدَّتَهُ إلى وقتِ الإذنِ (٣) .ا
واعلمْ : أنَّ تقديمَ معرفةِ ربِّ البيتِ علَى زيارةِ البيتِ واجبٌ ؛ فلولا معرفةُ ربِّ البيتِ .. ما وجَبَتْ زيارةُ البيتِ ، والشُّبَّانُ الذينَ يخرجونَ إلى الحجِّ مِنْ هؤُلاءِ القومِ مِنْ غيرِ إشارةِ الشيوخِ .. فهيَ بدلالاتِ نشاطِ النفوسِ ، فهُم مترسِّمونَ بهذِه الطريقةِ ، وليسَ سفرُهُم علَى أصلٍ ، والذي يدلُّ علَى ذلكَ أنَّهُ لا يزدادُ سفرُهُم إلَّا وتزدادُ تفرقةُ قلوبِهِم ، فلوْ أنَّهُم ارتحلوا مِنْ عندِ أنفُسِهِم بخَطْوةٍ .. لكانَ أحظى لهُم مِنْ ألفِ سفرةٍ .ا
ومِنْ شرطِ المريدِ إذا زارَ شيخاً : أنْ يدخلَ بالحرمةِ ، وينظرَ إليهِ بالحِشْمةِ ، فإنْ أهَّلَهُ الشيخُ لشيءٍ مِنَ الخدمةِ .. عدَّ ذلكَ مِنْ جزيلِ النعمةِ .ا
Dan apabila seorang murid merutinkan
kesinambungan dzikir serta mengutamakan khulwah (menyendiri); lalu ia
menemukan dalam khulwahnya apa yang belum pernah ia temukan sebelumnya —baik
dalam tidur, dalam keadaan sadar (jaga), atau antara sadar dan tidur; berupa
sapaan/suara yang terdengar, atau makna/keajaiban luar biasa yang disaksikan—
maka hendaknya ia tidak menyibukkan diri dengan hal tersebut sama sekali, tidak
merasa tenang dengannya, dan tidak menunggu-nunggu terjadinya hal-hal serupa.
Sebab semua itu adalah pengalih (kesibukan yang memalingkan) dari Allah Yang
Mahasuci. Dan dalam keadaan-keadaan seperti ini, ia wajib
menceritakan/menggambarkan hal itu kepada gurunya agar hatinya menjadi kosong
(bebas) dari hal tersebut.
Dan wajib bagi gurunya untuk menjaga
rahasianya, menyembunyikan urusannya dari orang lain, serta mengecilkan
(menganggap remeh) hal itu di matanya. Sebab semua itu hanyalah ujian-ujian,
dan merasa tenang dengannya adalah bentuk tipu daya (makar). Maka
hendaklah murid berhati-hati dari hal itu dan tidak memperhatikannya, serta
hendaknya ia menjadikan cita-cita spiritualnya (himmah) melampaui hal
tersebut.
Dan ketahuilah: Bahwa hal yang
paling berbahaya bagi murid adalah merasa nyaman/bangga dengan apa yang
dibisikkan ke dalam rahasia hatinya (sirr) berupa bentuk-bentuk
pemuliaan/kedekatan dari Allah Yang Mahasuci kepadanya dan kenikmatan-Nya
atasnya, seperti: "Aku telah mengkhususkanmu dengan ini, dan
membedakanmu dari orang-orang yang sepertimu". Sebab jika ia terbuai
dengan hal ini, maka dalam waktu dekat ia akan tersambar/terpalingkan darinya
oleh apa yang tampak baginya dari mukasyafah hakikat. Dan penjelasan tentang
kalimat ini dengan memuatnya secara rinci di dalam buku-buku adalah hal yang
sangat sulit/mustahil (muta'addzir).
Dan di antara ketentuan bagi murid
apabila ia tidak menemukan orang yang dapat membimbing adabnya di daerahnya: ia
wajib berhijrah (bepergian) kepada orang yang ditunjuk pada zamannya untuk
membimbing para murid, kemudian ia menetap bersamanya dan tidak meninggalkan
ambang pintunya sampai datang waktu yang diizinkan.
Dan ketahuilah: Bahwa mendahulukan
pengenalan terhadap Pemilik Rumah (Allah) atas kunjungan ke Rumah-Nya (Ka'bah)
adalah wajib; sebab sekiranya bukan karena mengenal Pemilik Rumah, niscaya
tidak diwajibkan mengunjungi Rumah itu. Adapun para pemuda dari golongan ini
yang berangkat menunaikan ibadah haji tanpa adanya isyarat/arahan dari para
syekh, maka hal itu disebabkan oleh dorongan semangat nafsu semata. Mereka
sekadar menjalankan formalitas lahiriah dalam jalan ini, dan perjalanan mereka
tidak berpijak pada landasan yang benar. Yang menunjukkan hal itu adalah bahwa
semakin bertambah perjalanan mereka, semakin bertambah pula
bercerai-berai/kegelisahan hati mereka. Sekiranya mereka melangkah keluar
meninggalkan keegoan diri mereka walau satu langkah saja, tentu itu jauh lebih
beruntung bagi mereka daripada seribu kali perjalanan.
Dan di antara syarat bagi murid
apabila mengunjungi seorang syekh: hendaklah ia masuk dengan penuh rasa hormat
(hurmah), dan memandangnya dengan rasa wibawa/sopan santun (hisymah).
Apabila syekh tersebut memandangnya layak untuk melakukan suatu khidmat
(pelayanan), hendaklah ia menganggap hal itu sebagai bagian dari kenikmatan
yang sangat besar.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.