بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III :
**Makna dan Hakikat Ihsan**
وَأَمَّا حَقِيقَةُ الإِحْسَانِ فَهِيَ أَنْ يَعْبُدَ العَبْدُ رَبَّهُ كَأَنَّهُ يَرَاهُ . كَمَا فِي حَدِيثِ جِبْرِيلَ . وَقَالَ الجَلَالُ المَحَلِّي حَقِيقَةُ الإِحْسَانِ : مُرَاقَبَةُ اللهِ تَعَالَى فِي جَمِيعِ العِبَادَاتِ الشَّامِلَةِ لِلإِيمَانِ وَالإِسْلَامِ حَتَّى تَقَعَ عِبَادَاتُ العَبْدِ كُلُّهَا فِي حَالِ الكَمَالِ مِنَ الإِخْلَاصِ وَغَيْرِهِ . ( وَاعْلَمْ ) أَنَّ عِلْمَ العَبْدِ بِأَنَّ اللهَ تَعَالَى يَرَاهُ أَكْمَلُ فِي التَّنْزِيهِ مِنْ شُهُودِهِ هُوَ لِلْحَقِّ لِأَنَّهُ لَا يَشْهَدُهُ إِلَّا بِقَدْرِ دَائِرَةِ عَقْلِهِ هُوَ فَقَطْ ، وَتَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ ، بِخِلَافِ عِلْمِهِ بِأَنَّ اللهَ يَرَاهُ ، وَإِذَا عَبَدَ العَبْدُ رَبَّهُ كَأَنَّهُ يَرَاهُ لَمْ يَجِدِ الفِعْلَ إِلَّا للهِ وَحْدَهُ وَلَيْسَ لِلْعَبْدِ فِيهِ أَثَرٌ ، وَإِنَّمَا لَهُ حُكْمٌ فِيهِ لِكَوْنِهِ مَحَلًّا لِبُرُوزِهِ مِنَ الجَوَارِحِ لَا غَيْرَ ، وَمَنْ شَهِدَ هَذَا المَشْهَدَ فَهُوَ الَّذِي أَخْلَصَ عَمَلَهُ للهِ ، وَلَمْ يُشْرِكْ فِيهِ نَفْسَهُ مَعَ اللهِ .
ثُمَّ اعْلَمْ أَنَّ أَهْلَ مَقَامِ الإِحْسَانِ لَا يَتَصَوَّرُ مِنْهُمْ مَعْصِيَةٌ مَا دَامُوا فِي حَضْرَةِ الإِحْسَانِ ، وَمِنْ هُنَا عِصَمَ الأَنْبِيَاءُ ، وَحِفْظُ غَيْرِهِمْ مِنَ الأَوْلِيَاءِ لِعُكُوفِهِمْ فِيهَا، أَمَّا الأَنْبِيَاءُ فَهُمْ عَلَى الدَّوَامِ . وَأَمَّا الأَوْلِيَاءُ فَفِي غَالِبِ الأَحْوَالِ « وَأَمَّا الدِّينُ » فَهُوَ وَالشَّرْعُ وَالشَّرِيعَةُ وَالمِلَّةُ بِمَعْنَى وَاحِدٍ ، وَهُوَ مَا شَرَعَهُ اللهُ تَعَالَى عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الأَحْكَامِ « فَإِنْ قُلْتَ » هَلْ يَكْفُرُ مَنْ سَبَّ الدِّينَ وَيَنْفَسِخُ نِكَاحُ زَوْجَتِهِ ؟ « قُلْتَ » نَعَمْ ، كَمَا أَنَّ الحُكْمَ كَذَلِكَ فِيمَنْ أَنْكَرَ شَيْئًا مِمَّا عُلِمَ مِنَ الدِّينِ بِالضَّرُورَةِ « فَإِنْ قُلْتَ » مَا الحُكْمُ إِذَا تَابَ وَرَجَعَ إِلَى الإِسْلَامِ ، هَلْ تَرْجِعُ زَوْجَتُهُ إِلَى عِصْمَتِهِ أَوْ لَا ؟ « قُلْتَ » إِنْ كَانَ شَافِعِيًّا وَرَجَعَ قَبْلَ انْقِضَاءِ العِدَّةِ رَجَعَتْ زَوْجَتُهُ إِلَى عِصْمَتِهِ ، وَإِنْ كَانَ مَالِكِيًّا أَوْ حَنَفِيًّا لَا تَرْجِعُ إِلَّا بِعَقْدٍ وَمَهْرٍ جَدِيدَيْنِ ، وَلَا فَرْقَ بَيْنَ ارْتِدَادِ الزَّوْجِ وَالزَّوْجَةِ بَلْ هُمَا فِي الحُكْمِ السَّابِقِ سَوَاءٌ « وَأَمَّا القَضَاءُ » فَهُوَ تَعَلُّقُ إِرَادَةِ اللهِ بِالأَشْيَاءِ فِي الأَزَلِ عَلَى مَا هِيَ عَلَيْهِ فِيمَا لَا يَزَالُ عَلَى وَفْقِ عِلْمِهِ فَهُوَ مِنْ صِفَاتِ الذَّاتِ .
**Adapun hakikat Ihsan**, maka ia adalah seorang hamba
menyembah Tuhannya seakan-akan ia melihat-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam
hadits Jibril. Al-Jalal Al-Mahalli mengatakan bahwa hakikat Ihsan adalah:
*Muraqabah* (merasa diawasi oleh) Allah Ta'ala dalam seluruh ibadah yang
mencakup Iman dan Islam, sehingga seluruh ibadah hamba tersebut terlaksana
dalam kondisi yang sempurna, baik dari segi ikhlas maupun aspek lainnya.
**(Dan ketahuilah)** sesungguhnya pengetahuan seorang hamba
bahwa Allah Ta'ala melihat dirinya itu lebih sempurna dalam hal *tanzih*
(mensucikan Allah) daripada penyaksian hamba itu sendiri kepada Al-Haqq
(Allah). Sebab, seorang hamba tidak mungkin menyaksikan-Nya melainkan sebatas
lingkaran akalnya saja, dan Allah Maha Suci dari keterbatasan tersebut; hal ini
berbeda dengan pengetahuan sang hamba bahwa Allah melihatnya.
Ketika seorang hamba menyembah Tuhannya seakan-akan ia
melihat-Nya, ia tidak akan mendapati adanya perbuatan melainkan milik Allah
semata, dan hamba tersebut sama sekali tidak memiliki pengaruh (*atsar*) di
dalamnya. Hamba tersebut hanyalah berlaku sebagai tempat baginya manifestasi
perbuatan itu melalui anggota badannya saja, tidak lebih. Barangsiapa yang
menyaksikan pemandangan batin (*masyhad*) ini, dialah orang yang telah
mengikhlaskan amalnya karena Allah, dan tidak menyekutukan dirinya bersama
Allah dalam amal tersebut.
Kemudian ketahuilah, sesungguhnya orang-orang yang berada
pada maqam Ihsan tidak akan terbayang melakukan kemaksiatan selagi mereka
berada dalam kehadiran (*hadhrah*) Ihsan tersebut. Dari sinilah muncul sifat
maksum bagi para nabi, serta terjaganya selain mereka dari kalangan para wali
Allah karena ketekunan mereka di dalam maqam ini. Bagi para nabi, kondisi ini
berlangsung secara terus-menerus (*dawam*), sedangkan bagi para wali terjadi
pada sebagian besar waktu/keadaan mereka.
# **Makna Agama (Ad-Din) dan Hukum Mencaci Agama**
*Adapun Agama (Ad-Din) *, maka kata *Ad-Din*, *Asy-Syar'u*,
*Asy-Syari'ah*, dan *Al-Millah* memiliki satu makna yang sama, yaitu
hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah Ta'ala melalui lisan Nabi-Nya
*shallallahu 'alaihi wa sallam*.
Jika engkau bertanya:** Apakah orang yang mencaci agama
menjadi kafir dan otomatis membatalkan pernikahan istrinya?
Maka jawabannya:** Ya, sebagaimana hukum tersebut juga
berlaku bagi orang yang mengingkari sesuatu yang telah diketahui dari agama
secara aksiomatis (*maklum biddharurah*).
Jika engkau bertanya:** Bagaimana hukumnya jika ia bertaubat
dan kembali masuk Islam, apakah istrinya otomatis kembali ke dalam
pernikahannya atau tidak?
Maka jawabannya:** Jika ia bermadzhab Syafi'i dan ia kembali
(masuk Islam) sebelum masa iddah istrinya habis, maka istrinya otomatis kembali
ke dalam ikatan pernikahannya. Namun, jika ia bermadzhab Maliki atau Hanafi,
maka istrinya tidak dapat kembali melainkan harus dengan akad dan mahar yang
baru. Tidak ada perbedaan hukum antara suami yang murtad maupun istri yang
murtad, melainkan keduanya sama saja dalam hukum yang telah disebutkan di atas.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar Isi
Download Terjemah Kitab Tanwirul Qulub
Cara cepat dan tanpa Ribet untuk memiliki 200 + Kitab Terjemah. Klik disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III : Makna dan Hakikat Ihsan
Description : Terjemah Kitab Tanwir al Qulub BAB III : **Makna dan Hakikat Ihsan** وَأَمَّا حَقِيقَةُ الإِحْسَانِ فَهِيَ أَنْ يَعْبُدَ العَبْدُ ...