بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Wasiat No. (51):
(Memutuskan Perkara/Menghukumi
dengan Hak/Kebenaran)
الوصية رقم ٥١
القضاء بالحق
وإن كنت والياً فاقض بالحق بين الناس ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله، إن الذين يضلون عن سبيل الله - وسبيل الله هو ما شرعه لعباده في كتبه وعلى ألسنة رسله - فالذين يضلون عن سبيل الله لهم عذاب شديد بما نسوا يوم الحساب، يعني به - والله أعلم - يوم الدنيا، حيث لم يحاسبوا أنفسهم فيه، فإن النسيان الترك، يقول رسول الله ﷺ (حاسبوا أنفسكم قبل أن تُحاسبوا) ولقد أطهدني الله في هذا مشهداً عظيماً بإشبيلية سنة ست وثمانين وخمسمائة. ويوم الدنيا أيضاً هو يوم الدين أي يوم الجزاء لما فيه من إقامة الحدود، قال تعالى ﴿ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ﴾ وهو جزاء ﴿بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ﴾ وهذا عين الجزاء، وهو أحسنُ في حق العبد المذنب من جزاء الآخرة، لأن جزاء الدنيا مُذَكِّر وهو يوم عمل، والمُذَكَّر فيه إذا رجع إلى الله قُبِلَ، والآخرة ليست كذلك، ولهذا قال في الدنيا ﴿لعّلهم يرجعون﴾ إلى الله بالتوبة، فيوم الجزاء أيضاً يوم الدنيا كما هو الآخرة، وهو في يوم الدنيا أنفعُ، فاقضِ بالحق فإن الله تعالى قد قضى في الدنيا بالحق بما شرعه لعباده، وفي الآخرة بما قال، فإن القضاة في الدنيا ثلاثة: واحد في الجنة واثنان في النار
والذي أوصيتك به إذا فتح الله عين بصيرتك ورزقك الرجوع إليه، المسمى توبةً، فانظر أيّ حالة أنت عليها من الخير لا تَزُلْ عنها: فإن كنت والياً أثبت على ولايتك، وأن كنت عزبأ أثبت على ذلك، وإن كنت ذا زوجٍ فلا تُطلّق، وأثبت على ذلك مع أهلك، واشرع في العمل بتقوى الله في الحالة التي أنت عليها من الخير كانت ما كانت، فإن الله في كل حال بابُ قربةٍ إليه تعالى، فاقرع ذلك الباب يفتح لك ولا تحرم نفسك خيره. وأقلُّ الأحوال أنك في الحال التي كنت عليها في زمان مخالفتك، إذا ثَبَتَّ عليها عند توبتك تحمَدُك تلك الحالة عند الله، فإن فارقتها كانت عليك لا لك، فإنها ما رأت منك خيراً وهذا معنى دقيق لطيف لا يتنبه له كلُّ أحد، فإنها لا تشهد لك إلا بما رأته منك، فإذا رأت منك خيراً شهدت لك به، ولا يفوتك ما ذكرته لك من نيل ما فيها من الخير المشروع - وأعني بذلك كلَّ حال أنت عليها من المباحات - فإن توبتك إنما كان رجوعَك عن المخالفات
Wasiat No. (51): Jika engkau seorang pemimipin/pemegang kekuasaan, maka
putuskanlah perkara di antara manusia dengan hak (adil/benar) dan janganlah
engkau mengikuti hawa nafsu, karena hal itu akan menyesatkanmu dari jalan
Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah—dan jalan Allah
adalah apa yang Dia syariatkan untuk hamba-hamba-Nya dalam kitab-kitab-Nya dan
melalui lisan para rasul-Nya—maka bagi mereka azab yang keras disebabkan mereka
melupakan hari perhitungan. Yang dimaksud dengannya—wallahu a'lam—adalah
hari-hari di dunia, di mana mereka tidak mengoreksi (memhisab) diri mereka
sendiri di dalamnya, sebab 'melupakan' berarti menyia-nyiakan/meninggalkan.
Rasulullah ﷺ bersabda: "(Hisablah/periksalah
diri kalian sebelum kalian dihisab)." Dan sungguh Allah telah
memperlihatkan kepadaku sebuah kesaksian yang agung di Sevilla pada tahun 586
Hijriah. Hari-hari di dunia juga merupakan hari pembalasan (yaumud din),
yaitu hari diberikannya balasan atas perbuatan karena di dalamnya terdapat
penegakan hukum (hudud). Allah Ta'ala berfirman: “Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut”, dan itu merupakan balasan “disebabkan
karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian
dari (dampak) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”
(QS. Ar-Rum: 41). Dan inilah hakikat balasan, dan balasan ini justru lebih baik
bagi seorang hamba yang berdosa daripada balasan di akhirat. Sebab, balasan di
dunia berfungsi sebagai pengingat saat masih berada di hari beramal (dunia),
dan orang yang diingatkan jika ia kembali kepada Allah maka (taubatnya)
diterima, sedangkan di akhirat tidaklah demikian. Oleh karena itu Allah
berfirman mengenai dunia: “agar mereka kembali” kepada Allah dengan
bertaubat. Maka hari pembalasan juga terjadi di dunia sebagaimana di akhirat,
dan balasan di dunia itu jauh lebih bermanfaat. Maka putuskanlah perkara dengan
hak, sebab Allah Ta'ala telah memutuskan perkara di dunia dengan hak melalui
apa yang Dia syariatkan bagi hamba-hamba-Nya, dan di akhirat sesuai dengan apa yang
Dia firmankan. Sesungguhnya hakim/penentu hukum di dunia itu ada tiga: satu di
surga dan dua di neraka.
Dan apa yang aku wasiatkan kepadamu
jika Allah telah membuka mata hatimu dan mengaruniakan kepadamu jalan untuk
kembali kepada-Nya—yang dinamakan taubat—maka lihatlah keadaan kebaikan apa pun
yang sedang engkau jalani, janganlah engkau meninggalkannya: Jika engkau
seorang pemimpin, bertahanlah pada kepemimpinanmu (dengan bertindak adil); jika
engkau seorang lajang, bertahanlah dalam keadaan itu; jika engkau memiliki
istri, janganlah engkau menceraikannya dan bertahanlah dalam kebaikan itu
bersama keluargamu. Mulailah beramal dengan ketakwaan kepada Allah dalam
keadaan kebaikan apa pun yang sedang engkau jalani saat itu. Sebab dalam setiap
keadaan, selalu ada pintu untuk mendekatkan diri (qurbah) kepada Allah
Ta'ala. Ketuklah pintu tersebut niscaya akan dibukakan bagimu, dan jangan
haramkan dirimu dari kebaikannya. Sekurang-kurangnya, keadaan yang sedang
engkau jalani di masa maksiatmu dulu, jika engkau tetap berada di dalamnya
(dalam ketaatan) saat bertaubat, maka keadaan tersebut akan memujimu di hadapan
Allah. Namun jika engkau meninggalkannya, keadaan itu akan menjadi saksi yang
memberatkanmu, bukan membelamu, karena ia tidak melihat kebaikan darimu (pada
saat itu). Ini adalah makna yang sangat halus dan mendalam yang tidak disadari
oleh semua orang; sebab keadaan/tempat tersebut tidak akan bersaksi untukmu
melainkan atas apa yang dilihatnya darimu. Jika ia melihat kebaikan darimu, ia
akan bersaksi bagimu. Dan jangan sampai engkau melewatkan apa yang telah aku
sebutkan kepadamu untuk meraih kebaikan syariat yang ada di dalamnya—yang aku
maksud dengan hal itu adalah setiap keadaan مباح
(mubah/yang diperbolehkan) yang sedang engkau jalani—karena sesungguhnya
taubatmu itu hanyalah bentuk kembalinya dirimu dari hal-hal yang melanggar
hukum (maksiat).
وإياك أن تتحرك بحركةٍ إلا وأنت تنوي بها قربةً إلى الله تعالى حتى المباح، إذا كنت في أمر مباحٍ فانوِ فيه القربةَ إلى الله من حيث إيمانك به أنه مباحٌ، ولذلك أتيته فتؤجرُ فيه على ذلك ولا بدّ، حتى المعصية إذا أتيتها انوِ فيها أنها معصية فتؤجر على الإيمان بها أنها معصية، ولذلك لا تخلصُ معصيةٌ لمؤمن أبداً من غير أن يخالطها عملٌ صالح - وهو الإيمان بكونها معصية - وهم الذين قال الله فيهم ﴿وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا﴾ فهذا معنى المخالطة، فالعمل الصالح هنا: الإيمان بالعمل الآخر السيء و(عسى) من الله واجبةٌ فيرجعُ عليهم بالرحمة فيغفرُ لهم تلك المعصية بالإيمان الذي خُلِطَ بها، فمُتَعلَّق (عسى) هنا رجوعُه سبحانه عليهم بالرحمة، لا رجوعهم إليه، فإنه ما ذكر لهم توبةً، كما قال في موضع آخر ﴿ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا﴾ وهنا جاء بحكم آخر، ما فيه ذكر توبتهم بل فيه توبةُ الله تعالى عليهم
والذي أوصيك به أنك لا تنقل مجلساً ولا تبلّغ ذا سلطان حديثاً إلا خيراً، خرّج الترمذي حديثاً عن حذيفة أو غيره - أنا الشاك - أن رجلاً مرّ عليه، فقيل له عنه: إن هذا يبلغ الأمراء الحديث فقال: سمعتُ رسولَ الله ﷺ يقول (لا يدخلُ الجنةَ قَتّاتٌ) قال أبو عيسى: والقتاتُ النمّامُ. وإذا حدّثك إنسانٌ وتراه يلتفتُ يميناً وشمالاً يحذرُ أن يسمع حديثَه أحدٌ فاعلم أن ذلك الحديثَ أمانةٌ أودعك إياه، فاحذر أن تخونه في أمانته بأن تُحدّث ذلك عند أحد فتكون ممن أدّى الأمانة إلى غير أهلها فتكون من الظالمين، وقد ثبتَ أن المجالس بالأمانة. وأما وصيتي لك أن لا تبلغ ذا سلطان حديثاً بشرٍّ فإن ذلك نميمة قال الله تعالى في ذمه ﴿مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ﴾ ذمّه بذلك
...Dan berhati-hatilah, janganlah engkau melakukan suatu gerakan/tindakan
melainkan engkau meniatkannya sebagai bentuk mendekatkan diri (qurbah)
kepada Allah Ta'ala, bahkan hingga perkara yang mubah (boleh) sekalipun.
Jika engkau berada dalam perkara yang mubah, maka niatkanlah di dalamnya
untuk mendekatkan diri kepada Allah dari sisi keimananmu bahwa hal itu adalah mubah.
Oleh karena itu, engkau melakukannya dan pasti akan diberi pahala atas hal
tersebut. Bahkan dalam perbuatan maksiat, jika engkau (terlanjur) melakukannya,
niatkanlah di dalamnya keyakinan bahwa itu adalah maksiat, sehingga engkau
diberi pahala atas keimananmu bahwa hal itu adalah maksiat. Karena itulah,
sebuah kemaksiatan bagi seorang mukmin tidak pernah lepas dari campuran amal
saleh—yaitu keimanannya bahwa perbuatan itu adalah maksiat. Mereka itulah yang
difirmankan oleh Allah tentang diri mereka: “Dan (ada pula) orang-orang lain
yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik
dengan pekerjaan lain yang buruk” (QS. At-Tawbah: 102). Inilah makna
'percampuran' tersebut. Maka amal saleh di sini adalah: Keimanan (pengakuan)
terhadap perbuatan lain yang buruk tersebut.
Dan kata 'Asaa (harapan/mudah-mudahan) dari Allah adalah suatu
kepastian, sehingga Allah kembali memberikan rahmat-Nya kepada mereka dan
mengampuni maksiat tersebut disebabkan keimanan yang bercampur dengannya. Jadi,
keterkaitan kata 'Asaa di sini adalah kembalinya (pemberian) rahmat
Allah kepada mereka, bukan kembalinya (taubat) mereka kepada-Nya, karena di
ayat ini tidak disebutkan taubat mereka. Hal ini berbeda seperti yang Dia
firmankan di tempat lain: “Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka
bertaubat” (QS. At-Tawbah: 118). Sedangkan di sini, datang dengan hukum
yang lain, yang di dalamnya tidak disebutkan taubat mereka, melainkan
penerimaan taubat (pemberian rahmat) dari Allah Ta'ala kepada mereka.
Dan apa yang aku wasiatkan kepadamu adalah: Janganlah engkau memindahkan
percakapan suatu majelis dan jangan pula menyampaikan suatu perkataan kepada
penguasa (pejabat) kecuali perkataan yang baik. At-Tirmidzi meriwayatkan hadits
dari Hudzaifah atau yang lainnya—aku yang ragu (tentang perawinya)—bahwa ada
seorang laki-laki melintas di hadapannya, lalu dikatakan kepadanya tentang
orang itu: "Sesungguhnya orang ini suka menyampaikan perkataan/berita
kepada para umara (penguasa)." Maka ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "(Tidak
akan masuk surga seorang Qattat)." Abu 'Eisa (At-Tirmidzi)
berkata: "Qattat adalah adu domba (nammam)."
Jika seseorang berbicara kepadamu dan engkau melihatnya menoleh ke kanan dan
ke kiri karena takut pembicaraannya didengar orang lain, maka ketahuilah bahwa
pembicaraan itu adalah amanah yang dia titipkan kepadamu. Maka berhati-hatilah
jangan sampai engkau mengkhianati amanahnya dengan menceritakan hal itu kepada
orang lain, sehingga engkau menjadi orang yang menyerahkan amanah kepada yang
bukan berhak/ahlinya dan menjadi bagian dari orang-orang zalim. Sungguh telah
tetap (dalam riwayat) bahwa majelis-majelis itu terjaga dengan amanah. Adapun
wasiatku kepadamu adalah agar engkau tidak menyampaikan perkataan yang buruk
kepada penguasa, karena hal itu adalah adu domba (namimah). Allah Ta'ala
berfirman dalam mencela perbuatan tersebut: “(Orang yang) ke sana kemari
menyebarkan fitnah/adu domba” (QS. Al-Qalam: 11)—Dia mencelanya dengan
sifat tersebut.
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
Daftar isi Kitab Wasiat – Wasiat Ibn ‘Arabi
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.