بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
TERJEMAH KITAB
RISALATUL-QUSYAIRIYYAH
Bab Keempat
18. Al-Qurb dan Al-Bu'd
القُرْبُ وَالبُعْدُ
أَوَّلُ رُتْبَةٍ فِي القُرْبِ : القُرْبُ مِنْ طَاعَتِهِ ، وَالاتِّصَافُ فِي دَوَامِ الأَوْقَاتِ بِعِبَادَتِهِ
وَأَمَّا البُعْدُ : فَهُوَ التَّدَنُّسُ بِمُخَالَفَتِهِ ، وَالتَّجَافِي عَنْ طَاعَتِهِ
فَأَوَّلُ البُعْدِ : بُعْدٌ عَنِ التَّوْفِيقِ ، ثُمَّ بُعْدٌ عَنِ التَّحْقِيقِ ، بَلِ البُعْدُ عَنِ التَّوْفِيقِ هُوَ البُعْدُ عَلَى التَّحْقِيقِ ، قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُخْبِراً عَنِ الحَقِّ سُبْحَانَهُ : « مَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ المُتَقَرِّبُونَ بِمِثْلِ أَدَاءِ مَا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِمْ ، وَلَا يَزَالُ العَبْدُ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى يُحِبَّنِي وَأُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ .. كُنْتُ لَهُ سَمْعاً وَبَصَراً ، فَبِي يَسْمَعُ ، وَبِي يُبْصِرُ ... » الخَبَرَ
فَقُرْبُ العَبْدِ أَوَّلاً قُرْبٌ بِإِيمَانِهِ وَتَصْدِيقِهِ ، ثُمَّ قُرْبٌ بِإِحْسَانِهِ وَتَحْقِيقِهِ ، وَقُرْبُ الحَقِّ سُبْحَانَهُ مِنَ العَبْدِ مَا يَخُصُّهُ اليَوْمَ بِهِ مِنَ العِرْفَانِ ، وَفِي الآخِرَةِ مَا يُكْرِمُهُ بِهِ مِنَ الشُّهُودِ وَالعِيَانِ ، وَفِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ بِوُجُوهِ اللُّطْفِ وَالامْتِنَانِ
وَلَا يَكُونُ قُرْبُ العَبْدِ مِنَ الحَقِّ إِلَّا بِبُعْدِهِ عَنِ الخَلْقِ ، فَهَذَا مِنْ صِفَاتِ القُلُوبِ ، دُونَ أَحْكَامِ الظَّوَاهِرِ وَالكَوْنِ
وَقُرْبُ الحَقِّ سُبْحَانَهُ بِالعِلْمِ وَالقُدْرَةِ عَامٌّ لِلْكَافَّةِ ، وَبِاللُّطْفِ وَالنَّصْرَةِ خَاصٌّ بِالمُؤْمِنِينَ ، ثُمَّ بِخَصَائِصِ التَّأْنِيسِ مُخْتَصٌّ بِالأَوْلِيَاءِ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : ﴿ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ ﴾ ، وَقَالَ تَعَالَى : ﴿ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لَا تُبْصِرُونَ ﴾ ، وَقَالَ سُبْحَانَهُ : ﴿ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ﴾ ، وَقَالَ : ﴿ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ
وَمَنْ تَحَقَّقَ بِقُرْبِ الحَقِّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى .. فَأَدُونُهُ دَوَامُ مُرَاقَبَتِهِ إِيَّاهُ ؛ لِأَنَّ عَلَيْهِ رَقِيبَ التَّقْوَى ، ثُمَّ عَلَيْهِ رَقِيبَ الحِفَاظِ وَالوَفَاءِ ، ثُمَّ رَقِيبَ الحَيَاءِ
وَأَنْشَدُوا
كَأَنَّ رَقِيباً مِنْكَ يَزْعَى خَوَاطِرِي ... وَآخَرَ يَزْعَى نَاظِرِي وَلِسَانِي
فَمَا رَمَقَتْ عَيْنَايَ بَعْدَكَ مَنْظَراً ... يَسُوءُكَ إِلَّا قُلْتُ قَدْ رَمَقَانِي
وَلَا بَدَرَتْ مِنْ فِيَّ دُونَكَ لَفْظَةٌ ... بِغَيْرِكَ إِلَّا قُلْتُ قَدْ سَمِعَانِي
وَلَا خَطَرَتْ فِي السِّرِّ بَعْدَكَ خَطْرَةٌ ... لِغَيْرِكَ إِلَّا عُرِّجَا بِعَنَانِي
وَإِخْوَانِ صِدْقٍ قَدْ سَئِمْتُ حَدِيثَهُمْ ... وَأَمْسَكْتُ عَنْهُمْ نَاظِرِي وَلِسَانِي
وَمَا الزُّهْدُ أَسْلَانِي عَنْهُمْ أَنَّنِي ... وَجَدْتُكَ مَشْهُودِي بِكُلِّ مَكَانِ
Kedekatan (Al-Qurb) dan Kejauhan (Al-Bu'd)
Tingkatan pertama dalam kedekatan (al-qurb) adalah: dekat dalam menaati-Nya,
serta senantiasa menghiasi setiap waktu dengan beribadah kepada-Nya.
Adapun kejauhan (al-bu'd) adalah: pengotoran diri dengan kemaksiatan
kepada-Nya, dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya.
Maka tingkatan awal dari kejauhan adalah: jauh dari pertolongan Ilahi (taufiq),
kemudian jauh dari pencapaian hakikat (tahqiq). Bahkan, jauh dari taufik
itu sendiri pada hakikatnya adalah kejauhan yang mendasar. Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda mengabarkan dari Allah Yang Maha
Suci: "Tidaklah para hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu
yang lebih Ku-cintai daripada menunaikan apa yang telah Ku-fardukan atas
mereka. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan
sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya... maka Aku
menjadi pendengarannya dan penglihatannya, dengan-Ku ia mendengar dan dengan-Ku
ia melihat..." (hingga akhir hadis).
Maka kedekatan seorang hamba pada awalnya adalah kedekatan melalui iman dan
pembenarannya, kemudian kedekatan melalui kebaikan (ihsan) dan
pencapaian hakikatnya (tahqiq). Sedangkan kedekatan Allah Maha Suci Dia
dari hamba-Nya adalah apa yang Dia khususkannya hari ini berupa makrifat ('irfan),
dan di akhirat kelak berupa kemuliaan persaksian (syuhud) dan penyaksian
langsung ('iyan), serta karunia di antara keduanya berupa berbagai
bentuk kelembutan (luthf) dan anugerah (imtinan).
Dan tidaklah kedekatan hamba kepada Yang Mahabenar (Allah) dapat terwujud
melainkan dengan kejauhannya dari makhluk. Ini merupakan sifat-sifat hati,
bukan hukum-hukum lahiriah maupun alam semesta semata.
Adapun kedekatan Allah Maha Suci Dia dengan Ilmu dan Power/Kekuasaan-Nya
bersifat umum bagi seluruh makhluk; sedangkan kedekatan dengan Kelembutan dan
Pertolongan-Nya bersifat khusus bagi orang-orang beriman; dan kedekatan dengan
keistimewaan keakraban (ta'nis) bersifat khusus bagi para wali (auliya').
Allah Ta'ala berfirman: "Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya." Allah Ta'ala juga berfirman: "Dan Kami lebih dekat
kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat." Allah Yang Maha
Suci berfirman: "Dan Dia bersamamu di mana saja kamu berada."
Dan Dia berfirman: "Tiada bisikan antara tiga orang, melainkan Dialah
yang keempatnya."
Barangsiapa yang telah meresapi hakikat kedekatan Allah Maha Suci dan Maha
Tinggi... maka standar terendahnya adalah senantiasa merasa diawasi oleh-Nya (muraqabah);
karena ia senantiasa diliputi oleh pengawas ketakwaan, kemudian pengawas
pemeliharaan dan kesetiaan (al-hifaz wa al-wafa'), serta pengawas rasa
malu (al-haya').
Kaum Sufi melantunkan syair:
Seolah-olah ada satu pengawas dari-Mu yang menjaga bisikan hatiku... dan
pengawas lainnya menjaga pandangan serta lidahku.
Maka tidaklah mataku memandang suatu penglihatan yang membuat-Mu murka
setelah-Mu... melainkan aku berkata: 'Kedua pengawas itu telah melihatku.'
Dan tidaklah terucap dari mulutku suatu kata tentang selain-Mu tanpa
kehadiran-Mu... melainkan aku berkata: 'Kedua pengawas itu telah mendengarku.'
Dan tidaklah terlintas dalam rahasia hatiku suatu lintasan untuk
selain-Mu setelah-Mu... melainkan kendali diriku langsung dibelokkan.
Banyak saudara yang jujur yang telah kubosan mendengarkan percakapan
mereka... maka kutahan pandangan dan lidahku dari mereka.
Bukanlah rasa zuhud yang melupakanku dari mereka, melainkan karena... aku
menemukan-Mu hadir disaksikan olehku di setiap tempat.
وَكَانَ بَعْضُ المَشَايِخِ يَخُصُّ وَاحِداً مِنْ تَلَامِذَتِهِ بِإِقْبَالِهِ عَلَيْهِ ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ لَهُ فِي ذَلِكَ ، فَدَفَعَ إِلَى كُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ طَيْراً وَقَالَ : اذْبَحُوهُ حَيْثُ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ
فَمَضَى كُلُّ وَاحِدٍ وَذَبَحَ الطَّيْرَ بِمَكَانٍ خَالٍ ، وَجَاءَ هَذَا الإِنْسَانُ وَالطَّيْرُ مَعَهُ غَيْرُ مَذْبُوحٍ ، فَسَأَلَهُ الشَّيْخُ ، فَقَالَ : أَمَرْتَنِي أَنْ أَذْبَحَهُ بِحَيْثُ لَا يَرَاهُ أَحَدٌ ، وَلَمْ يَكُنْ مَوْضِعٌ إِلَّا وَالحَقُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى يَرَاهُ ! فَقَالَ الشَّيْخُ : لِهَذَا أُقَدِّمُ هَذَا عَلَيْكُمْ ؛ الغَالِبُ عَلَيْكُمْ حَدِيثُ الخَلْقِ ، وَهَذَا غَيْرُ غَافِلٍ عَنِ الحَقِّ
وَلِبَعْضِهِمْ
إِذَا شِئْتِ أَنْ تَرْضَيْ وَأَرْضَى وَتَمْلِكِي ... زِمَامَ قِيَادِي فِي الهَوَى وَعِنَانِي
أَلَا فَانْظُرِي بِعَيْنَيَّ وَاسْمَعِي ... بِأُذُنِي فِيهَا وَأَنْطِقِي بِلِسَانِي
وَرُؤْيَةُ القُرْبِ حِجَابٌ عَنِ القُرْبِ ؛ فَمَنْ شَاهَدَ لِنَفْسِهِ مَحَلّاً أَوْ نَفَساً .. فَهُوَ مَمْكُورٌ بِهِ ، وَلِهَذَا قَالُوا : ( أَوْحَشَكَ اللهُ مِنْ قُرْبِهِ ) أَيْ : مِنْ شُهُودِكَ لِقُرْبِهِ ؛ فَإِنَّ الاسْتِئْنَاسَ بِقُرْبِهِ مِنْ سِمَاتِ الغِرَّةِ بِهِ ؛ إِذِ الحَقُّ سُبْحَانَهُ وَرَاءَ كُلِّ أُنْسٍ ؛ فَإِنَّ مَوَاضِعَ الحَقِيقَةِ تُوجِبُ الدَّهَشَ وَالمَحْوَ
وَفِي قَرِيبٍ مِنْ هَذَا قَالُوا
مِِحْنَتِي فِيكَ أَنَّنِي ... مَا أُبَالِي بِمِحْنَتِي
قُرْبُكُمْ مِثْلُ بُعْدِكُمْ ... فَمَتَى وَقْتُ رَاحَتِي
وَكَانَ الأُسْتَاذُ أَبُو عَلِيٍّ الدَّقَّاقُ رَحِمَهُ اللهُ كَثِيراً مَا يُنْشِدُ
وِدَادُكُمُ هَجْرٌ وَحُبُّكُمُ قِلَى ... وَقُرْبُكُمُ بُعْدٌ وَسِلْمُكُمُ حَرْبُ
وَرَأَى أَبُو الحُسَيْنِ النُّورِيُّ بَعْضَ أَصْحَابِ أَبِي حَمْزَةَ فَقَالَ : أَنْتَ مِنْ أَصْحَابِ أَبِي حَمْزَةَ الَّذِي يُشِيرُ إِلَى القُرْبِ ؟ إِذَا لَقِيتَهُ .. فَقُلْ لَهُ : إِنَّ أَبَا الحُسَيْنِ النُّورِيَّ يَقْرَأُكَ السَّلَامَ وَيَقُولُ : قُرْبُ القُرْبِ فِيمَا نَحْنُ فِيهِ بُعْدُ البُعْدِ
فَأَمَّا القُرْبُ بِالذَّاتِ .. فَتَعَالَى اللهُ المَلِكُ عَنْهُ ؛ فَإِنَّهُ مُتَقَدِّسٌ عَنِ الحُدُودِ وَالأَقْطَارِ ، وَالنِّهَايَةِ وَالمِقْدَارِ ، مَا اتَّصَلَ بِهِ مَخْلُوقٌ ، وَلَا انْفَصَلَ عَنْهُ حَادِثٌ مَسْبُوقٌ ، جَلَّتِ الصَّمَدِيَّةُ عَنْ قَبُولِ الوَصْلِ وَالفَضْلِ
فَقُرْبٌ هُوَ فِي نَعْتِهِ مُحَالٌ ؛ وَهُوَ تَدَانِي [ الذَّاتِ ] ، وَقُرْبٌ هُوَ وَاجِبٌ فِي نَعْتِهِ ؛ وَهُوَ قُرْبٌ بِالعِلْمِ وَالرُّؤْيَةِ ، وَقُرْبٌ هُوَ جَائِزٌ فِي وَصْفِهِ يَخُصُّ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ ؛ وَهُوَ قُرْبُ الفِعْلِ بِاللُّطْفِ
Sebagian syekh pernah memberikan perhatian khusus kepada salah seorang
muridnya melebihi murid yang lain. Rekan-rekannya pun mempertanyakan hal itu
kepada sang syekh. Maka syekh memberikan seekor burung kepada masing-masing
murid lalu berkata: "Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak
terlihat oleh seorang pun!"
Setiap murid pergi dan menyembelih burungnya di tempat yang sepi. Namun
murid pilihan tersebut kembali dengan membawa burungnya yang masih hidup (belum
disembelih). Syekh bertanya kepadanya, dan ia menjawab: "Engkau
memerintahkanku menyembelihnya di tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun,
sedangkan tidak ada satu tempat pun melainkan Allah Yang Maha Suci dan Maha
Tinggi melihatnya!" Maka syekh berkata: "Karena inilah aku mendahulukannya
atas kalian; pikiran kalian masih didominasi oleh urusan makhluk, sedangkan
murid ini tidak pernah lalai dari Allah."
Dan sebagian penyair melantunkan:
Jika engkau ingin merasa ridha dan aku pun ridha, serta engkau
memegang... kendali kepemimpinanku dan kekang cintaku,
maka pandanglah dengan kedua mataku, dengarlah... dengan kedua telingaku,
dan berbicaralah dengan lidahku.
Dan melihat/merasakan kedekatan (melihat diri dekat) itu sendiri
merupakan tirai (hijab) dari kedekatan yang sejati. Barangsiapa
menyaksikan bagi dirinya suatu kedudukan atau helaan napas... maka ia sedang
tertipu/terperdaya (mammkur bihi). Oleh karena itu para sufi berkata: "Semoga
Allah menghindarkanmu dari merasa dekat dengan-Nya," yakni dari
persaksianmu atas kedekatan-Mu sendiri; sebab merasa nyaman (isti'nas)
dengan kedekatan-Nya merupakan salah satu tanda perdayaan/kelalaian. Karena
Yang Mahabenar (Allah) berada di balik setiap rasa nyaman; sebab
kedudukan-kedudukan hakikat itu menuntut kebingungan/kekaguman (dahasy)
dan peleburan (mahw).
Mengenai hal yang serupa dengan ini, mereka berkata dalam syair:
Ujianku pada cinta-Mu adalah bahwasanya aku... tidak lagi peduli dengan
ujianku.
Kedekatan kalian sama saja dengan kejauhan kalian... lantas bilakah waktu
istirahatku?
Al-Ustadz Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah sering kali melantunkan
syair:
Cinta kalian adalah pengabaian, dan kasih kalian adalah kebencian...
kedekatan kalian adalah kejauhan, dan kedamaian kalian adalah peperangan.
Abu al-Husain an-Nuri melihat salah seorang murid Abu Hamzah, lalu beliau
berkata: "Apakah engkau murid Abu Hamzah yang sering memberi isyarat
tentang Al-Qurb (kedekatan)? Jika engkau bertemu dengannya... sampaikan
padanya: 'Sesungguhnya Abu al-Husain an-Nuri menyampaikan salam kepadamu dan
berkata: Kedekatan dari kedekatan (qurb al-qurb) dalam tingkatan yang kita
jalani ini adalah sejauh-jauhnya kejauhan (bu'd al-bu'd).' "*
Adapun Kedekatan Secara Zat (Al-Qurb bi adz-Dzat)... maka Maha
Tinggi Allah Sang Raja dari hal tersebut; karena Dia Maha Suci dari
batas-batas, penjuru-penjuru, akhir, maupun ukuran. Tidak ada makhluk yang
bersambung (it-thasala) dengan-Nya, dan tidak ada hal baru (hadits)
yang terpisah dari-Nya. Maha Agung sifat As-Samad (Maha Mandiri) dari menerima
penyatuan (washl) maupun kelebihan.
Maka kedekatan yang bersifat mustahil dalam sifat-Nya adalah:
mendekatnya Zat. Sedangkan kedekatan yang bersifat wajib dalam sifat-Nya
adalah: kedekatan dengan Ilmu dan Penglihatan-Nya. Dan kedekatan yang bersifat jaiz
(boleh/memungkinkan) dalam sifat-Nya yang dikhususkan bagi siapa saja hamba
yang Dia kehendaki adalah: kedekatan Perbuatan (al-fi'l) dengan
Kelembutan (al-luthf).
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsense. Mohon Keridhoannya dan ikut meng-KLIK iklannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.