لا يعظم الذنب عندك عظمة تصدك عن حسن الظن بالله
[ Janganlah dosa itu terasa sangat
besar bagimu hingga menghalangimu dari berprasangka baik kepada Allah. ]
Aku (pensyarah) katakan: Manusia
dalam hal khauf (rasا takut) dan raja'
(harapan) terbagi menjadi tiga kelompok:
- Kelompok Pemula (Ahlul Bidayah): Hendaknya mengedepankan sikap khauf.
- Kelompok Pertengahan (Ahlul Wasat): Hendaknya menyeimbangkan antara khauf dan raja'.
- Kelompok Akhir/Puncak (Ahlun Nihayah): Mengedepankan sikap raja'.
Adapun kelompok pemula, sebab jika
mereka mengedepankan rasa takut, mereka akan bersungguh-sungguh dalam beramal
dan menahan diri dari kesalahan, sehingga akhir perjalanan mereka akan
bersinar: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari rida) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS.
Al-Ankabut: 69).
Adapun kelompok pertengahan, sebab
ibadah mereka telah beralih pada pembersihan batin (hati). Jika mereka
mengedepankan khauf, mereka akan kembali pada ibadah anggota badan.
Padahal yang dituntut dari mereka adalah ibadah batin dengan berharap sampai (wushul)
dan takut terputus (qathi'ah), sehingga khauf dan raja'
mereka menjadi seimbang.
Adapun orang-orang yang telah sampai
(Al-Washilun), mereka tidak lagi melihat adanya perbuatan atau
meninggalkan perbuatan dari diri mereka sendiri. Mereka memandang pada
pengaturan Allah dan takdir yang telah berlalu, lalu menerimanya dengan
keridaan. Jika berupa ketaatan, mereka bersyukur dan menyaksikan karunia Allah.
Jika berupa kemaksiatan, mereka memohon ampun, bertadabur, dan tidak berfokus
pada diri mereka. Pandangan mereka terhadap kelembutan, ampunan, dan kebaikan
Allah lebih dominan daripada pandangan terhadap siksa dan keperkasaan-Nya.
Semoga Allah meratai Imam Asy-Syafi'i yang bersyair:
Ketika hatiku membatu dan jalanku
terasa sempit ... Kujadikan harapan akan ampunan-Mu sebagai tangga. Dosaku terasa sangat besar bagiku, namun ketika
kubandingkan ... Dengan ampunan-Mu wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih
besar. Engkau senantiasa memiliki kemurahan, karunia, dan kenikmatan ...
Engkau memberi dan mengampuni sebagai bentuk anugerah dan kemuliaan. Duhai,
andai aku tahu apakah aku akan menuju surga ... Hingga aku bahagia, ataukah ke
neraka Sa'ir hingga aku menyesal.
Allah Ta'ala berfirman: "Katakanlah:
'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.'" (QS. Az-Zumar: 53).
Renungkanlah kisah orang yang
membunuh 99 jiwa, kemudian ia bertanya kepada seorang ahli ibadah: "Apakah
ada toulat bagiku?" Ahli ibadah menjawab: "Tidak ada tobat
bagimu." Maka ia genapkan pembunuhannya menjadi 100 jiwa. Kemudian ia
mendatangi seorang alim dan bertanya, alim itu menjawab: "Siapa yang
dapat menghalangi antara engkau dan tobat? Pergilah ke desa anu, di sana ada
kaum yang menyembah Allah, beribadahlah bersama mereka sampai engkau
wafat."
Ketika di tengah perjalanan, maut
menjemputnya. Maka malaikat rahmat dan malaikat azab berselisih tentangnya.
Allah mengilhamkan kepada mereka: "Ukurlah jarak ke desa yang dituju
dan desa yang ditinggalkan, ke mana ia lebih dekat maka ia termasuk
penghatinya." Allah lalu mengilhamkan kepada desa tujuan untuk
mendekat dan desa asal untuk menjauh. Ditemukanlah ia lebih dekat ke desa
tujuan sejauh satu jengkal, maka malaikat rahmat membawanya. Hadis ini
diriwayatkan dalam Kitab Shahihain (Bukhari & Muslim) secara makna.
وقال الشيخ أبو العباس المرسي رضي الله عنه : العامة إذا خوفوا خافوا ، وإذا رجوا رجوا ، والخاصة متى خوفوا رجوا ومتى رجوا خافوا . ا
قال في لطائف المنن : ومعنى كلام الشيخ هذا أن العامة واقفون مع ظواهر الأمر ، فإذا خوفوا خافوا ، إذ ليس لهم نفوذ إلى ما وراء العبارة بنور الفهم كما لأهل الله ، وأهل الله إذا خوفوا رجوا عالمين أن من وراء خوفهم وما خوفوا به أوصاف المرجو الذي لا ينبغي أن يقنط من رحمته ولا أن ييأس من منته ، فاحتالوا على أوصاف كرمه ، علماً منهم ما خوفهم إلا ليجمعهم عليه وليَرُدَّهُم بذلك إليه ، وإذا رجوا خافوا يخافون غيب مشيئته الذي هو من وراء رجائهم ، وخافوا أن يكون ما ظهر من الرجاء اختباراً لعقولهم هل تقف مع الرجاء أو تنفذ إلى ما بطن في مشيئته ، فلذلك أثار الرجاء خوفهم ا.هـ . ا
ودخل الجنيد رضي الله عنه على شيخه السري فوجده مقبوضاً ، فقال له مالك أيها الشيخ مقبوضاً ؟ فقال : دخل عليّ شاب فقال لي ما حقيقة التوبة ؟ فقلت له : ألا تنسى ذنبك ، فقال الشاب : بل التوبة أن تنسى ذنبك ، ثم خرج عني . قال الجنيد : فقلت الصواب ما قاله الشاب ، لأني إذا كنتُ في حالة الجفاء ثم نقلني إلى شهود الصفا فذكر الجفاء في حال الصفا جفاء ا.هـ . ا
قلت : نظر السري إلى أهل البداية ، ونظر الجنيد إلى أهل النهاية والكل صواب ، والله تعالى أعلم . ا
ثم ذكر موجب تصغير الذنب فقال : [ فإن من عرف ربه استصغر في جنب كرمه ذنبه ]
قلت : بل من عرف ربه غاب عن رؤية ذنبه لفنائه عن نفسه بشهود ربه ، فإن صدر منه فعل يخالف الحكمة غلب عليه شهود النعمة قال تعالى : ﴿ نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ ﴾ وأما قوله تعالى : ﴿ وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الْأَلِيمُ ﴾ فإنما هو لمن لم يتب . ا
وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « لَوْ أَذْنَبْتُمْ حَتَّى تَبْلُغَ خَطَايَاكُمْ عَنَانَ السَّمَاءِ ثُمَّ تُبْتُمْ لَتَابَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ، وَلَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِهِمْ ثُمَّ جَاءَ بِقَوْمٍ آخَرِينَ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ » . ا
والله أفرح بتوبة عبده من الظَمآن الوارد ، ومن العقيم الوالد ، ومن الضال الواجد ، لكن لا ينبغي أن يصغر عنده ذنبه حتى يغتر بحلم الله . ا
وقد أوحى الله إلى داود عليه السلام : يا داود قل لعبادي الصديقين لا يغتروا ، فإني إن أقم عليهم عدلي وقسطي أعذبهم غير ظالم لهم ، وقل لعبادي المذنبين : لا يقنطوا فإنه لا يعظم عليّ ذنب أغفره لهم ا.هـ . ا
وقال الجنيد رضي الله عنه : إذا بدت عين من الكريم ألحقت المسيء بالمحسن . ا
Pandangan Syekh Abu al-Abbas al-Mursi
dan Cerita Imam al-Junaid
Syekh Abu al-Abbas al-Mursi
radhiyallahu 'anhu berkata: "Orang awam apabila ditakut-takuti akan
takut, dan jika diberi harapan akan berharap. Sedangkan orang khusus (khawwas),
kapan pun ditakut-takuti mereka justru berharap, dan kapan pun diberi harapan
mereka justru takut."
Disebutkan dalam kitab Latha'if
al-Minan: Makna ucapan Syekh ini adalah bahwa orang awam berhenti pada
hal-hal lahiriah. Jika ditakut-takuti mereka takut, sebab mereka tidak memiliki
penembusan ke balik lafaz dengan cahaya pemahaman sebagaimana yang dimiliki Ahlullah
(kekasih Allah). Sedangkan Ahlullah, jika ditakut-takuti mereka justru
berharap, karena mengetahui bahwa di balik rasa takut dan peringatan itu
terdapat sifat-sifat Dzat yang diharapkan (Allah) yang tidak sepatutnya
seseorang berputus asa dari rahmat-Nya dan karunia-Nya. Mereka mengetuk
sifat-sifat kemurahan-Nya, mengetahui bahwa Allah tidak menakut-nakuti mereka
melainkan untuk mengumpulkan mereka kembali kepada-Nya. Dan jika mereka diberi harapan,
mereka justru takut terhadap kehendak-Nya yang gaib di balik harapan tersebut,
serta khawatir jangan-jangan harapan yang tampak itu adalah ujian bagi akal
mereka—apakah akan berhenti pada harapan saja atau menembus ke dalam takdir
tersembunyi-Nya. Oleh karena itu, munculnya harapan justru memicu rasa takut
mereka.
Imam al-Junaid radhiyallahu 'anhu
pernah menemui gurunya, As-Suri, lalu mendapati gurunya sedang dalam keadaan
murung (maqbudh). Al-Junaid bertanya: "Mengapa wahai Syekh,
engkau tampak murung?" As-Suri menjawab: "Seorang pemuda
datang kepadaku dan bertanya: 'Apa hakikat tobat?' Aku menjawab: 'Engkau tidak
melupakan dosamu.' Pemuda itu membalas: 'Justru tobat itu adalah engkau
melupakan dosamu,' lalu ia pergi meninggalkanku." Al-Junaid berkata: "Aku
katakan, yang benar adalah ucapan pemuda itu. Karena jika aku tadinya berada
dalam keadaan berpaling (jafa'), lalu Allah memindahkanku ke dalam penyaksian
kesucian (shafa'), maka mengingat-ingat kelalaian masa lalu di saat sedang suci
adalah suatu bentuk kealpaan tersendiri."
Aku (pensyarah) katakan: As-Suri
memandang dari sudut pandang pemula (ahlul bidayah), sedangkan al-Junaid
memandang dari sudut pandang tingkat lanjut (ahlun nihayah), dan
kedua-duanya adalah benar. Wallahu Ta'ala A'lam.
Sebab Menganggap Kecil Suatu Dosa
Kemudian beliau menyebutkan hal yang
menyebabkan seseorang menganggap kecil suatu dosa:
فإن من عرف ربه استصغر في جنب كرمه ذنبه
[ Sesungguhnya barang
siapa yang mengenal Rabbnya, niscaya ia akan menganggap kecil dosanya di
samping kemurahan-Nya. ]
Aku (pensyarah) katakan: Bahkan
barang siapa yang mengenal Rabbnya, ia akan luput dari melihat dosanya sendiri
karena ia telah sirna (fana') dari dirinya menuju penyaksian kepada
Rabbnya. Jika lahir darinya perbuatan yang menyelisih hikmah, yang mendominasi
dirinya adalah penyaksian akan nikmat-Nya. Allah Ta'ala berfirman: "Kabarkanlah
kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang." (QS. Al-Hijr: 49). Adapun firman-Nya: "Dan bahwa
sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih." (QS. Al-Hijr:
50), hal itu ditujukan bagi orang yang tidak bertobat.
Rasulullah SAW bersabda: "Jikalau
kalian berbuat dosa hingga dosa-dosa kalian mencapai setinggi langit, kemudian
kalian bertobat, niscaya Allah menerima tobat kalian. Dan seandainya para hamba
tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan mereka dan mendatangkan kaum
lain yang berbuat dosa lalu memohon ampun, maka Allah mengampuni mereka, dan
Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Allah lebih bergembira dengan tobat
hamba-Nya daripada orang aus yang menemukan air, orang mandul yang melahirkan
anak, atau orang sesat yang menemukan kembali jalannya. Namun, tidak sepatutnya
seorang hamba meremehkan dosanya hingga ia tertipu oleh kelembutan Allah.
Allah telah mengilhamkan kepada Nabi
Daud 'alaihissalam: "Wahai Daud, katakan kepada hamba-hamba-Ku yang
ash-shiddiqin (sangat jujur beriman) agar jangan tertipu; sebab jika Aku
tegakkan keadilan dan kesaksian-Ku atas mereka, Aku akan mengazab mereka tanpa
menzalimi mereka sedikit pun. Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang berbuat
dosa: Janganlah berputus asa, karena tidak ada dosa yang terlalu besar bagi-Ku
untuk Mengampuninya."
Imam al-Junaid radhiyallahu 'anhu
berkata: "Jika satu pandangan kemurahan dari Dzat Yang Maha Pemurah
telah tampak, ia akan menyatukan kedudukan orang yang berbuat buruk dengan
orang yang berbuat baik."
وقال الشيخ أبو العباس رضي الله عنه في حزبه : إلهي معصيتك نادتني بالطاعة وطاعتك نادتني بالمعصية ، ففي أيهما أخاف ، وفي أيهما أرجو ؟ إن قلت بالمعصية قابلتني بفضلك فلم تدع لي خوفاً ، وإن قلت بالطاعة قابلتني بعدلك فلم تدع لي رجاء ، فليت شعري كيف أرى إحساني مع إحسانك ، أم كيف أجهل فضلك مع عصيانك ؟ ا.هـ . ا
ومعنى كلام الشيخ رضي الله عنه أن العبد إذا كان في المعصية شهد قهرية الحق وعظمته وضعف نفسه وعجزه ، اكتسب من المعصية انكساراً وذلا لنفسه وتعظيماً وإجلالا لربه ، وهذا أفضل الطاعات فقد نادته معصيته التي هو فيها بالطاعة التي يجتنيها منها . وإذا كان في الطاعة ربما شهد فيها نفسه وقصد متعته وحظه ، فأشرك بربه وأخل بأدبه ، وهذه معصية ، فإذا كان في الطاعة نادته بهذه المعصية التي يجتنيها منها فلا يدري من أيهما يخاف وأيهما يرجو ؟ وقوله إن قلت بالمعصية إلخ ، أي إن نظرت إلى صورة المعصية قابلتني بفضلك فامتحى اسمها واندرس رسمها ، وإن نظرت إلى صورة الطاعة قابلتني بعدلك فاضحلت وامتحت وبقي محض الرجاء من الكريم الوهاب الذي يعطي بلا سبب ويغطي بحلمه المناقشة والعتاب ، والله تعالى أعلم . ا
فتحصل أن العارف لا يقف مع معصية وإن جلت ، ولا مع طاعة وإن عظمت ، وهو معنى قوله : [ لا صغيرة إذا قابلك عدله ، ولا كبيرة إذا واجهك فضله ] . ا
قلت : الصغيرة هي الجريمة التي لا وعيد فيها من القرآن ولا من الحديث ، والكبيرة هي التي تُوُعِّدَ عليها بالعذاب أو الحد في القرآن أو في السنة ، وقيل غير ذلك هذا كله بالنظر لظاهر الأمر ، وأما باعتبار ما عند الله من أمر غيبه وبالنظر إلى حلمه وعدله فقد يبرز خلاف ما يظن . قال تعالى : ﴿ وَبَدَا لَهُم مِّنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ ﴾ (١) . ا
فمن سبقت له العناية لا تضره الجنابة . ﴿ فَأُولَٰئِكَيُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ﴾ (٢) . ا
وإن كانت الأعمال علامات فقد تختلف في بعض المقدمات ، فوجب استواء الرجاء والخوف في بعض المقامات ، والتسليم لله في كل الأوقات ، إذ قد تمت كلمات ربك صدقاً وعدلا لا مبدل لكلماته ، فإذا قابلك الحق سبحانه وتعالى بعدله وجلاله لم تبق لك صغيرة وعادت صغيرتك كبائر ، وإذا واجهك الحق تعالى بفضله وكرمه وإحسانه وجماله لم تبق لك كبيرة وعادت كبائرك صغائر . ا
قال يحيى بن معاذ الرازي رضي الله عنه : إذا أنالهم فضله لم تبق لهم سيئة ، وإذا وضع عليهم عدله لم تبق لهم حسنة ا.هـ . وقيل لو وزن رجاء المؤمن وخوفه ما رجح أحدهما على الآخر ، بل المؤمن كالطائر بين جناحين أو كما قيل ، قاله الشيخ زروق رضي الله عنه . ا
قلت : وحديث الرجل تمد له تسع وتسعون سجلا كل سجل مد البصر ، ثم تخرج له بطاقة قدر الأُنْمُلَةِ فيها شهادة أن لا إله إلا الله فتطيش تلك السجلات ، يدل على عظيم حلمه ورحمته وشمول كرمه ومنته . ا
Munajat Syekh Abu al-Abbas al-Mursi
Syekh Abu al-Abbas radhiyallahu 'anhu berkata dalam hizibnya: "Wahai
Tuhanku, maksiat kepada-Mu memanggilku menuju ketaatan, dan ketaatan kepada-Mu
memanggilku menuju kemaksiatan. Maka pada hal yang manakah aku harus takut, dan
pada hal yang manakah aku harus berharap? Jika aku katakan (aku takut) karena
maksiat, Engkau menyambutku dengan karunia-Mu sehingga tidak menyisakan rasa
takut padaku. Dan jika aku katakan (aku berharap) karena ketaatan, Engkau
menyambutku dengan keadilan-Mu sehingga tidak menyisakan harapan bagiku. Duhai,
andai aku tahu, bagaimana aku dapat melihat kebaikanku di hadapan kebaikan-Mu,
atau bagaimana aku bisa melupakan karunia-Mu di tengah kemaksiatanku?"
Makna ucapan beliau adalah:
·
Maksiat Memanggil
Ketaatan: Ketika hamba berada dalam kemaksiatan, ia menyaksikan kekuasaan
Allah, keagungan-Nya, serta kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya. Dari
kemaksiatan itu ia memperoleh rasa hancur (inqisar), kerendahan diri,
serta penghormatan kepada Rabbnya. Ini adalah sebaik-baik ketaatan.
·
Ketaatan Memanggil Maksiat:
Ketika berada dalam ketaatan, hamba sering kali memandang dirinya sendiri,
mencari kenikmatan atau bagian untuk dirinya, sehingga ia menyerekutukan
Tuhannya dan merusak adab. Hal itu merupakan kemaksiatan.
Oleh karena itu, seorang arif (orang yang mengenal Allah) tidak
berhenti atau tertahan pada kemaksiatan meskipun besar, dan tidak pula pada
ketaatan meskipun agung.
Dosa Kecil dan Dosa Besar di Hadapan Keadilan dan Karunia Allah
Hal ini sesuai dengan perkataan Syekh Ibn Ataillah:
لا صغيرة إذا قابلك عدله ، ولا كبيرة إذا واجهك فضله
[ Tidak ada dosa kecil
jika keadilan-Nya menyambutmu, dan tidak ada dosa besar jika karunia-Nya
menghadapmu. ]
Aku (pensyarah) katakan: Secara lahiriah, dosa kecil adalah kejahatan yang
tidak diancam siksa dalam Al-Qur'an maupun Hadis, sedangkan dosa besar adalah
yang diancam hukuman (had) atau azab. Namun, berdasarkan perkara gaib di
sisi Allah serta dengan memandang kelembutan dan keadilan-Nya, bisa jadi tampak
hal yang berbeda dari sangkaan manusia. Allah Ta'ala berfirman: "Dan
jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan."
(QS. Az-Zumar: 47).
Barang siapa yang telah mendapatkan pertolongan (inayah) dari-Nya
sejak awal, maka dosa tidak akan membahayakannya: "Maka mereka itu,
Allah mengganti kejahatan mereka menjadi kebaikan." (QS. Al-Furqan:
70).
Jika Allah menyambutmu dengan keadilan dan keagungan-Nya, tidak ada
lagi dosa kecil bagimu; dosa kecilmu akan berubah menjadi dosa besar.
Sebaliknya, jika Allah menghadapimu dengan karunia, kemurahan, dan
kebaikan-Nya, tidak ada lagi dosa besar bagimu; dosa besarmu akan menjadi
kecil.
Keseimbangan Rasa Takut dan Harapan (Khauf & Raja')
·
Yahya bin Mu'adz ar-Razi
berkata: "Jika karunia-Nya diberikan kepada mereka, tidak ada satu pun
keburukan yang tersisa. Dan jika keadilan-Nya ditimpakan kepada mereka, tidak
ada satu pun kebaikan yang tersisa."
·
Syekh Zarruq
menyampaikan: "Seandainya harapan dan rasa takut seorang mukmin
ditimbang, niscaya tidak ada yang lebih berat dari yang lain. Mukmin itu
bagaikan burung di antara dua sayap."
Hal ini diperkuat oleh hadis tentang seorang lelaki yang dibentangkan
baginya 99 gulungan catatan dosa (setiap gulungan sejauh mata memandang), lalu
dikeluarkan sebuah kartu kecil (bithaqah) seukuran ujung jari berisi
kalimat syahadat Laa ilaaha illallah. Kartu tersebut membuat seluruh
gulungan dosa itu terangkat dan tidak berbobot. Ini menunjukkan betapa agungnya
kelembutan, rahmat, dan luasnya kemurahan Allah.
ولما ذكر رضي الله عنه علامة موت القلب ذكر الأعمال التي توجب حياته فقال : [ لا عمل أرجى للقلوب من عمل يغيب عنك شهوده ، ويتحقر عندك وجوده ] . ا
ا
قلت : هكذا هي نسخة الشيخ بلفظ القلوب ، وهي أوفق بالسياق إذ الكلام كله في موت القلوب وحياتها . يعني أنه لا عمل أرجى لحياة القلوب من عمل يكون بالله ولله غائباً فيه عما سواه ، غير ملاحظ فيه حظوظه وهواه ، متبرئاً فيه من حوله وقواه ، فإذا أظهرته عليه القدرة غاب عن شهوده وصغر في عينه صورة وجوده ، لما تجلى في قلبه من عظيمة مولاه ، فصغر عنده كل ما سواه ، فمثل هذا العمل تحيا به القلوب ، وتحظى بمشاهدة علام الغيوب ، وهو روح اليقين ، وهو حياة قلوب العارفين ، فإذا أراد الله أن يتولى عبده أنهضه للعمل وصغره في عينه ، فلا يزال جادًّا في عمل الجوارح حتى ينقله إلى عمل القلوب ، فتستريح الجوارح من التعب ، ولا يبقى إلا شهود العظمة مع الأدب . ا
ا
قال النهروجوري رحمه الله : من علامات من تولاه الله في أحواله أن يشهد تقصير في إخلاصه ، والغفلة في أذكاره ، والنقصان في صدقه ، والفتور في مجاهدته ، وقلة المراعاة في فقره ، فتكون جميع أحواله عنده غير مرضية ، ويزداد فقراً إلى الله في قصده وسيره حتى يغنى عن كل شيء دونه ا.هـ . ا
Amal yang Menghidupkan Hati
Setelah beliau (Syekh Ibn Ataillah) radhiyallahu 'anhu menyebutkan
tanda-tanda matinya hati, beliau melanjutkan dengan menyebutkan amal-amal yang
dapat menghidupkan hati, beliau berkata:
لا عمل أرجى للقلوب من عمل يغيب عنك شهوده ، ويتحقر عندك وجوده
[ Tidak ada amal yang lebih
diharapkan untuk (hidupnya) hati melebihi amal yang penyaksiannya luput dari
pandanganmu dan keberadaannya terasa kecil/hina menurutmu. ]
Aku (pensyarah) katakan: Demikianlah naskah dari Syekh dengan lafaz al-qulub
(hati), dan naskah ini lebih sesuai dengan konteks karena seluruh pembahasan
berfokus pada mati dan hidupnya hati.
Maknanya adalah bahwa tidak ada amal yang lebih diharapkan dapat
menghidupkan hati melebihi amal yang dilakukan karena Allah dan bersama
Allah, di mana pelakunya luput dari melihat selain-Nya, tidak
memperhitungkan bagian nafsu dan kehendak pribadinya, serta berlepas diri dari
daya dan upayanya sendiri.
Ketika takdir kekuasaan Allah menampakkan amal tersebut pada dirinya:
·
Ia luput dari menyaksikan
amalnya sendiri (tidak merasa beramal).
·
Bentuk keberadaan amal
tersebut tampak kecil di matanya karena keagungan Tuhannya bertajali (menjelang)
di dalam hatinya.
·
Segala sesuatu selain Allah
menjadi tampak kecil baginya.
Amal seperti inilah yang dapat menghidupkan hati serta memperoleh karunia
menyaksikan Allamul Ghuyub (Zat Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib). Amal
ini merupakan ruh dari keyakinan sekaligus kehidupan bagi hati orang-orang yang
arif (ma'rifatullah).
Jika Allah hendak mengayomi seorang hamba, Dia akan menggerakkannya untuk
beramal sekaligus membuatnya merasa bahwa amal tersebut kecil di matanya. Hamba
tersebut akan terus bersungguh-sungguh dalam ibadah anggota badan hingga Allah
memindahkannya ke tingkat ibadah hati. Dengan demikian, anggota badan dapat
beristirahat dari rasa lelah, dan yang tersisa hanyalah penyaksian (syuhud)
akan Keagungan Allah yang disertai dengan adab.
Tanda-Tanda Perlindungan Allah Menurut Imam An-Nahrajuri
Imam An-Nahrajuri rahmatullah 'alaih berkata: "Di antara tanda orang
yang diayomi oleh Allah dalam setiap keadaannya adalah ia senantiasa melihat:
·
Kekurangan dalam
keikhlasannya,
·
Kelalaian dalam zikirnya,
·
Keterbatasan dalam
kejujurannya,
·
Kelemahan/kelesuan dalam
kesungguhannya (mujahadah),
·
Serta kurangnya
penjagaan dalam ketaatannya.
Sehingga seluruh keadaannya terasa tidak memuaskan menurut pandangannya
sendiri, dan hal itu justru menambah fakir (kebutuhan)-nya kepada Allah dalam
tujuan dan perjalanan spiritualnya, hingga ia merasa cukup dan tidak
membutuhkan segala sesuatu selain-Nya."