بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ

Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 41.
Hakikat dan Keutamaan Syukur 2
*( وروي )*
عنه ﷺ أنه قال ينادى يوم القيامة ليقم الحمادون فتقوم زمرة فينصب لهم لواء فيدخلون الجنة وقيل من الحمادون قال الذين يشكرون الله تعالى على كل حال وفي لفظ آخر الذين يشكرون الله على السراء والضراء
قال ﷺ : الحمد رداء الرحمن وأوحى الله تعالى إلى أيوب عليه السلام إني رضيت بالشكر مكافأة من أوليائي في كلام طويل وأوحى الله تعالى إليه أيضا في صفة الصابرين أن دارهم السلام إذا دخلوها ألهمتهم الشكر وهو خير الكلام وعند الشكر سنزيدهم وبالنظر إلي أزيدهم ولما نزل في الكنوز ما نزل
وقال عمر رضي الله عنه : أي المال يتخذ فقال عليه السلام ليتخذ أحدكم لسانا ذاكرا وقلبا شاكراً فأمر باقتناء الشكر بدل المال
وقال ابن مسعود : الشكر نصف الايمان اعلم أن الشكر يتعلق بالقلب واللسان وبالجوارح أما بالقلب فقصد الخير وإضماره لكافة الخلق وأما باللسان فاظهار الشكر لله تعالى بالتحميدات الدالة عليه وأما بالجوارح فاستعمال نعم الله تعالى في طاعته والتوقي من الاستعانة بها على معصيته حتى أن شكر العينين أن تستر كل عيب تراه لمسلم وشكر الأذنين أن تستر كل عيب تسمعه فيه فيدخل هذا في جملة شكر نعم الله تعالى بهذه الأعضاء والشكر باللسان لإظهار الرضى عن الله تعالى وهو مأمور به
(Diriwayatkan) dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda: "Pada hari kiamat kelak akan diserukan: 'Hendaklah orang-orang yang gemar memuji (*al-Hammadun*) bangkit!' Maka bangkitlah sekelompok orang, lalu dikibarkanlah panji bagi mereka dan mereka masuk ke dalam surga."
Ditanyakan: "Siapakah orang-orang yang gemar memuji itu?" Beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada Allah Ta'ala dalam setiap keadaan." Dalam redaksi lain disebutkan: "Orang-orang yang bersyukur kepada Allah dalam keadaan lapang maupun sempit."
Nabi ﷺ bersabda: *"Al-Hamdu* (pujian) adalah selendang Ar-Rahman." Allah Ta'ala juga mewahyukan kepada Nabi Ayub AS: "Sesungguhnya Aku rida menjadikan syukur sebagai balasan bagi para kekasih-Ku (wali-Ku)." Dalam kalam yang panjang, Allah Ta'ala juga mewahyukan kepadanya mengenai sifat orang-orang yang sabar: "Sesungguhnya rumah mereka adalah *Darussalam* (Negeri Keselamatan). Jika mereka memasukinya, Aku ilhamkan kepada mereka rasa syukur, dan itu adalah sebaik-baik ucapan. Di sisi syukur, Aku akan menambah nikmat mereka, dan dengan memandang kepada-Ku, Aku akan menambah karunia untuk mereka."
Umar bin Khattab RA pernah bertanya: "Harta apa yang sebaiknya dimiliki?" Maka Nabi ﷺ bersabda: "Hendaklah salah seorang di antara kalian memiliki lisan yang senantiasa berzikir dan hati yang senantiasa bersyukur." Beliau memerintahkan untuk mengumpulkan "harta" berupa syukur sebagai ganti dari harta duniawi.
*Ibnu Mas'ud berkata: "Syukur adalah separuh dari iman." Ketahuilah bahwa syukur berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan:
*Dengan Hati: Bermaksud baik dan menyembunyikan niat baik untuk seluruh makhluk.
*Dengan Lisan: Menampakkan rasa syukur kepada Allah Ta'ala dengan ucapan-ucapan pujian (*tahmid*) yang menunjukkan hal tersebut.
*Dengan Anggota Badan: Menggunakan nikmat-nikmat Allah Ta'ala untuk ketaatan kepada-Nya, serta menjaga diri agar tidak menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat. Bahkan, syukur bagi kedua mata adalah dengan menutupi setiap aib Muslim yang engkau lihat, dan syukur bagi kedua telinga adalah menutupi setiap aib yang engkau dengar tentangnya. Hal ini termasuk dalam cakupan mensyukuri nikmat Allah atas anggota tubuh tersebut. Adapun syukur dengan lisan bertujuan untuk menampakkan keridaan kepada Allah Ta'ala, dan hal itu diperintahkan.
فقد قال ﷺ لرجل كيف أصبحت .
قال : بخير فأعاد ﷺ السؤال حتى قال في الثالثة بخير أحمد الله وأشكره ،
فقال ﷺ هذا الذي أردت منك وكان السلف يتساءلون ونيتهم استخراج الشكر لله
تعالى ليكون الشاكر مطيعاً والمستنطق له به مطيعاً وما كان قصدهم الوفاء
باظهار الشوق كل عبد سائل عن حال فهو بين أن يشكر أو يشكو أو يسكت فالشكر
طاعة والشكوى معصية قبيحة من أهل الدين وكيف لا تقبح الشكوى من ملك الملوك
وبيده كل شيء إلى عبد مملوك لا يقدر على شيء فالأحرى بالعبد إن لم يحسن
الصبر على البلاء والقضاء وأفضى به الضعف إلى الشكوى أن تكون شكواه لله
تعالى فهو المبلي والقادر على إزالة البلاء وذل العبد لمولاه عزّ والشكوى
إلى غيره ذل وإظهار الذل للعبد مع كونه عبداً مثله ذل قبيح
قال الله
تعالى : الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ
رِزْقًا فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا
لَهُ* . وقال الله تعالى : إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ
عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ * فالشكر باللسان من جملة الشكر وقد روي أن وفداً
قدموا على عمر بن عبد العزيز رحمه الله . فقام شاب ليتكلم ، فقال عمر الكبر
الكبر ، فقال : يا أمير المؤمنين لو كان الأمر بالسن لكان في المسلمين من
هو أسن منك ، فقال : تكلم فقال : لسنا وفداً لرغبة ولا وفداً لرهبة أما
الرغبة فقد أوصلها إلينا فضلك وأما الرهبة فقد آمنا منها عدلك ، وإنما نحن
وفد الشكر جئناك نشكرك باللسان وننصرف
Dikisahkan bahwa Nabi ﷺ bertanya kepada seorang laki-laki: "Bagaimana kabarmu pagi ini?" Orang itu menjawab: "Baik." Nabi ﷺ mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, hingga pada kali ketiga orang itu menjawab: "Aku dalam keadaan baik, aku memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Inilah jawaban yang aku inginkan darimu." Para ulama salaf dahulu sering saling bertanya kabar dengan niat untuk memancing ucapan syukur kepada Allah Ta'ala, agar orang yang bersyukur menjadi hamba yang taat dan orang yang memancing ucapan tersebut juga mendapat pahala ketaatan. Tujuan mereka bukanlah sekadar basa-basi menanyakan keinginan, karena setiap hamba yang ditanya kabarnya hanya memiliki tiga pilihan: bersyukur, mengeluh, atau diam.
Bersyukur adalah ketaatan, sedangkan mengeluh adalah maksiat yang buruk bagi ahli agama. Bagaimana tidak buruk jika seseorang mengadu kepada sesama hamba yang lemah dan tidak memiliki daya, atas ketetapan Sang Raja Diraja yang menggenggam segala sesuatu? Maka sepatutnya bagi seorang hamba—jika ia tidak mampu bersabar atas bala dan takdir lalu kelemahannya membawanya pada keluhan—hendaknya ia mengadu hanya kepada Allah Ta'ala. Sebab, Dialah yang memberi ujian dan Dialah yang berkuasa mengangkat bala tersebut. Menghinakan diri di hadapan Allah adalah kemuliaan, sedangkan mengeluh kepada selain-Nya adalah kehinaan. Menampakkan kehinaan kepada sesama hamba adalah hal yang sangat buruk.
Allah Ta'ala berfirman: *"Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya."*
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya mereka yang kamu seru selain Allah adalah hamba-hamba juga seperti kamu."*
Maka bersyukur dengan lisan adalah bagian dari kesempurnaan syukur.
Diriwayatkan pula bahwa suatu delegasi datang menemui Umar bin Abdul Aziz (semoga Allah merahmatinya). Lalu berdirilah seorang pemuda untuk berbicara. Umar berkata: "(Berikan kesempatan kepada) yang lebih tua, yang lebih tua." Pemuda itu menjawab: "Wahai Amirul Mukminin, jika perkara ini diukur berdasarkan usia, niscaya di antara kaum muslimin ada yang lebih tua darimu (untuk menduduki jabatan khalifah)." Umar berkata: "Bicaralah." Pemuda itu berkata: "Kami bukanlah delegasi yang datang karena ambisi, bukan pula karena rasa takut. Adapun ambisi, kemurahan hatimu telah menyampaikannya kepada kami. Adapun rasa takut, keadilanmu telah membuat kami merasa aman. Kami hanyalah *delegasi syukur*; kami datang untuk berterima kasih kepadamu dengan lisan kami, lalu kami akan kembali pulang."
<<Sebelumnya
Selanjutnya>>
KEMBALI KE AWAL (Daftar isi)
Download Terjemah Kitab Mukasyafatul Qulub
Download Kitab Mukasyafatul Qulub (Arab)
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 41. Keutamaan Syukur 2
Description : Kitab Mukasyafatul Qulub Bab 41. Hakikat dan Keutamaan Syukur 2 *( وروي )* عنه ﷺ أنه قال ينادى يوم القيامة ليقم الحمادون فتقوم زمرة في...