بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
اللهُم َّصلِّ علٰى سَيِّدنا مُحَمّدٍ عبدِكَ وَنبيِّكَ ورسولِكَ النَّبيِّ الاُمِيّ وَعلٰى اٰلهِ وَصَحْبِهِ وسَلِّم تسليماً بقدرِ عظمةِ ذاَتِكَ في كـُلِّ وَقتٍ وَحيـنٍ
Al-Ikhlas
الإخلاص
ولما كان الإخلاص شرطًا في كل عمل ذكره بأثره فقال
[الأعمال صور قائمة ، وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها ]
الأعمال هنا : عبارة عن الحركة الجسمانية أو القلبية ، والصور : جمع صورة ، وهو ما يتشخص في الذهن من الكيفيات ، والروح : السر المودع في الحيوانات ، وهو هنا عبارة عما يقع به الكمال المعتبر في الأعمال ، والإخلاص : إفراد القلب لعبادة الرب ، وسره لبه ، وهو الصدق المعبر عنه بالتبرى من الحول والقوة ، إذ لا يتم إلا به وإن صح دونه ، إذ الإخلاص نفى الرياء والشرك الخفى ، وسره : نفى العجب وملاحظة النفس ، والرياء قادح في صحة العمل ، والعجب قادح في كماله فقط .
قلت : الأعمال كلها أشباح وأجساد ، وأرواحها وجود الإخلاص فيها ، فكما لا قيام للأشباح إلا بالأوراح وإلا كانت ميتة ساقطة ، كذلك لا قيام للأعمال البدنية والقلبية إلا بوجود الإخلاص فيها وإلا كانت صورا قائمة وأشباحا خاوية لا عبرة بها قال تعالى ( وَمَا أَمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء ) وقال تعالى فَاعْبُدِ الله مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
وقال صلى الله عليه وسلم حاكيا عن الله تعالى يَقُولُ : أَنَا أَغْنَى الشركاء . مَنْ أَشْرَكَ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشَرِيكَهُ » وقال صلى الله عليه وسلم : « أَخْوفُ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الشَّرْكُ الخَفِيُّ وَهُوَ الرِّيَاءِ
وفي رواية : « اتقوا هذا الشرك الخفى فإنهُ يَدِب دبيب النمل ، قيل : وَمَا الشَّرْكُ الخَفِيُّ ؟ قَالَ الرِّيَاء » اهـ بالمعنى لطول العهد به
Karena ikhlas merupakan syarat dalam setiap amal, maka ia (penulis) menyebutkan dampaknya dengan berkata:
[الأعمال صور قائمة ، وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها]
"Amal-amal itu adalah kerangka yang tegak berdiri, sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia ikhlas di dalamnya."
Amal di sini: Adalah ungkapan untuk gerakan fisik maupun gerakan hati.
Al-Suwar (Bentuk/Kerangka): Bentuk jamak dari shurah, yaitu apa yang terbayang di dalam benak berupa kaifiyat (tata cara).
Al-Ruh (Ruh): Rahasia yang dititipkan pada mahluk hidup. Di sini maksudnya adalah kesempurnaan yang dianggap ada pada amal tersebut.
Ikhlas: Mengesampingkan hati hanya untuk beribadah kepada Tuhan, dan intisarinya (sirr) adalah kejujuran yang diungkapkan dengan berlepas diri dari daya dan upaya (sendiri). Karena suatu amal tidak akan sempurna melainkan dengan ikhlas, meskipun amal itu tetap sah secara hukum tanpanya.
Rahasia Ikhlas: Meniadakan sifat 'ujub (bangga diri) dan pengawasan terhadap diri sendiri (mulahazhatun nafs). Sebab, riya dapat merusak keabsahan amal, sedangkan 'ujub hanya merusak kesempurnaan amal saja.
Penjelasan Tambahan
Aku katakan: Segala amal itu seluruhnya adalah bayangan dan jasad, sedangkan ruhnya adalah keberadaan ikhlas di dalamnya. Sebagaimana jasad tidak akan tegak berdiri tanpa ruh—jika tidak, maka ia hanyalah mayat yang tergeletak—begitu pula amal jasmani dan hati tidak akan tegak (bernilai) kecuali dengan adanya ikhlas di dalamnya. Jika tidak, maka amal itu hanyalah kerangka yang berdiri dan bayangan yang hampa, tidak ada harganya sama sekali.
Allah Ta'ala berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus..." (QS. Al-Bayyinah: 5)
Dan Allah Ta'ala berfirman: "Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya." (QS. Az-Zumar: 2)
Rasulullah ﷺ bersabda meriwayatkan dari Allah (Hadits Qudsi): "Aku adalah yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amal dengan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya."
Dan Nabi ﷺ bersabda: "Hal yang paling aku takuti menimpa umatku adalah syirik kecil, yaitu riya."
Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Waspadalah kalian terhadap syirik yang tersembunyi (asy-syirku al-khafi), karena ia merayap lebih halus daripada rayapan semut."
Ada yang bertanya: "Apakah syirik yang tersembunyi itu?" Beliau menjawab: "Itu adalah riya." (Selesai kutipan secara makna karena teks aslinya sudah lama).
وفي حديث مسلسل إلى النبي صلى الله عليه وسلم
أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الإِخْلاصِ ، فَقَالَ : حَتَّى أَسْأَلَ جِبْرِيلَ ، فَلَمَّا سَأَلَهُ قَالَ : حَتَّى أَسْأَلَ رَبَّ الْعِزَّةِ ، فَلَمَّا سَأَلَهُ قَالَ لَهُ : هُوَ سِرٌ مِنْ أَسْرَارِي أودِعُهُ قَلْبَ مَنْ أَحْبَبْتُ مِنْ عِبَادِي ، لَا يَطَّلِعُ عَلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكْتُبَهُ ، وَلَا شَيْطَانُ فَيُفْسِدَهُ » : قال بعضهم : هو مقام الإحسان « أن تَعْبُدَ الله كَأَنكَ تَرَاهُ
والإخلاص على ثلاث درجات : درجة العوام ، والخواص ، وخواص الخواص . فإخلاص العوام : هو إخراج الخلق من معاملة الحق ، مع طلب الحظوظ الدنيوية والأخروية ، كحفظ البدن والمال وسعة الرزق والقصور والحور . وإخلاص الخواص : طلب الحظوظ الأخروية دون الدنيوية وإخلاص خواص الخواص إخراج الحظوظ بالكلية ، فعبادتهم تحقيق العبودية ، والقيام بوظائف الربوبية ، أو محبة وشوقا إلى رؤيته كما قال ابن الفارض
لَيْسَ سُوْلِي مِنَ الْجِنَانِ نَعِيبًا غَيْرَ أَنِّي أَحِبُّهَا لِأَرَاكَا
وقال آخر
كُلُّهُمْ يَعْبُدُونَ مِنْ خَوفِ نَارٍ وَيَرَوْنَ النَّجَاةَ حَظًّا جَزِيلًا
أو بأن يَسْكُنُوا الجَنَانَ فَيَضْحَوا في رياض وَيَشْرَبُوا السَّلْسَبِيلًا
لَيْسَ لي في الجِنَانِ وَالنَّارِ رأى أنا لا أُبْتَغِي بِحِبِّي بَدِيلًا
قال الشيخ أبو طالب رضى الله عنه : الإخلاص عند المخلصين إخراج الخلق من معاملة الحق ، وأول الخلق النفس ، والإخلاص عند المحبين : ألا يعملوا عملا لأجل النفس وإلا دخل عليها مطالعة العوض أو الميل إلى حظ النفس . والإخلاص عند الموحدين : خروج الخلق من النظر إليهم في الأفعال ، وعدم السكون والاستراحة إليهم في الأحوال
Dalam sebuah hadits musalsal sampai kepada Nabi ﷺ:
Bahwasanya beliau ditanya tentang ikhlas, lalu beliau bersabda: "Hingga aku bertanya kepada Jibril." Ketika Jibril ditanya, ia berkata: "Hingga aku bertanya kepada Tuhan Yang Maha Mulia." Ketika Allah ditanya, Dia berfirman: "Ikhlas adalah sebuah rahasia dari rahasia-rahasia-Ku yang Aku titipkan di dalam hati hamba-hamba-Ku yang Aku cintai; tidak ada malaikat yang melihatnya sehingga ia bisa mencatatnya, dan tidak ada setan yang mengetahuinya sehingga ia bisa merusaknya."
Sebagian ulama berkata: "Ikhlas adalah maqam (tingkatan) Ihsan, yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya."
Tingkatan Ikhlas
Ikhlas terbagi menjadi tiga tingkatan: Tingkatan Awam, tingkatan Khawas (khusus), dan tingkatan Khawasul Khawas (sangat khusus).
Ikhlas Awam: Mengeluarkan makhluk dari interaksi dengan Al-Haq (Allah), namun masih disertai mencari bagian keuntungan duniawi dan ukhrawi. Seperti (beribadah) demi menjaga kesehatan badan, harta, kelapangan rezeki, serta mengharap istana surga dan bidadari.
Ikhlas Khawas: Mencari keuntungan ukhrawi semata tanpa mencampurinya dengan keuntungan duniawi.
Ikhlas Khawasul Khawas: Mengeluarkan segala bentuk keuntungan secara total. Ibadah mereka adalah bentuk realisasi penghambaan (tahqiqul ubudiyyah) dan menunaikan hak-hak ketuhanan (rububiyyah), atau didasari rasa cinta dan rindu untuk melihat-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Al-Faridh:
"Bukanlah permintaanku akan surga itu karena kenikmatannya,
Melainkan aku mencintainya hanya karena ingin melihat-Mu."
Penyair lain berkata:
"Semua orang menyembah karena takut neraka, > Dan melihat keselamatan sebagai keberuntungan yang besar."
"Atau agar mereka menghuni surga lalu bersantai,
Di taman-taman bunga dan meminum air Salsabil."
"Bagiku, tidak ada pendapat tentang surga maupun neraka,
Aku tidak menginginkan pengganti bagi cintaku (kepada-Mu)."
Pendapat Syekh Abu Thalib (r.a):
Ikhlas menurut orang-orang yang ikhlas (Al-Mukhlishin): Mengeluarkan makhluk (perhatian orang lain) dari interaksi dengan Al-Haq (Allah).
Ikhlas menurut orang-orang yang mencintai (Al-Muhibbin): Tidak beramal demi kepentingan nafsu (diri sendiri). Jika sebuah amal dimasuki oleh motif mengharap imbalan atau condong pada kepentingan diri, maka itu bukan lagi ikhlas bagi mereka.
Ikhlas menurut orang-orang yang bertauhid (Al-Muwahhidin): Keluarnya makhluk dari pandangan mereka dalam setiap perbuatan, tidak merasa tenang kepada makhluk, dan tidak bersandar kepada mereka dalam segala keadaan.
وقال بعض المشايخ : صحح عملك بالإخلاص ، وصحح إخلاصك بالتبرى من الحول والقوة . اهـ كلامه
وقال بعض العارفين : لا يتحقق الإخلاص حتى يسقط من عين الناس ويُسقط الناس من عينه ، ولذلك قال آخر : كلما سقطت من عين الخلق عظمت في عين الحق وكلما عظمت في عين الخلق سقطت من عين الحق ، يعنى مع ملاحظتهم ومراقبتهم
وسمعت شيخنا يقول : مادام العبد يراقب الناس ويها بهم لا يتحقق إخلاصه أبدا وقال أيضا : لا تجتمع مراقبة الحق مع مراقبة الخلق أبدا ، إذ محال أن تشهده وتشهد معه سواه اهـ والحاصل : لا يمكن الخروج من النفس والتخلص من دقائق الرياء من غير شيخ أبدًا ، والله تعالى أعلم
Sebagian guru (Masyayikh) berkata:
"Perbaikilah amalmu dengan ikhlas, dan perbaikilah ikhlasmu dengan berlepas diri dari daya dan upaya (merasa itu hasil kekuatan sendiri)." Selesai perkataan beliau.
Sebagian orang yang makrifat (Arifin) berkata:
"Ikhlas tidak akan terwujud secara nyata hingga seseorang gugur (tidak bernilai) dari pandangan manusia dan ia pun menggugurkan manusia dari pandangannya."
Oleh karena itu, yang lain berkata:
"Setiap kali engkau rendah/gugur di mata mahluk, maka engkau akan menjadi agung di mata Al-Haq (Allah). Dan setiap kali engkau merasa agung di mata mahluk, maka engkau akan rendah di mata Al-Haq." Maksudnya adalah (rendah/agung) dalam hal memperhatikan dan mempedulikan pengawasan mereka.
Aku mendengar guru kami berkata:
"Selama seorang hamba masih mengawasi manusia (menginginkan penilaian mereka) dan merasa segan/takut kepada mereka, maka ikhlasnya tidak akan pernah terwujud selamanya."
Beliau juga berkata:
"Sikap merasa diawasi oleh Al-Haq (Allah) tidak akan pernah bisa bersatu dengan sikap merasa diawasi oleh mahluk. Sebab, mustahil bagimu untuk menyaksikan Allah, sementara di saat yang sama engkau menyaksikan selain-Nya bersama-Nya." Selesai.
Kesimpulan (Al-Hashil):
Seseorang tidak akan mungkin bisa keluar dari belenggu ego diri (nafs) dan tidak akan bisa selamat dari halus dan lembutnya penyakit riya tanpa bimbingan seorang Guru (Syaikh) selamanya.
Wallahu Ta'ala A'lam (Dan Allah Ta'ala lebih mengetahui).
<<Sebelumnya
Sesudahnya>>
Daftar Isi
Silahkan Download Kitab Aslinya Disini
Silahkan Download Kitab Terjemahnya Disini
Silahkan Bagikan Artikel ini
Mohon Maaf, Kepada Semua Sahabat, Atas Ketidak Nyamanannya, Dengan adanya Iklan Adsens. Mohon Keridhoannya. Terima Kasih.**** Apabila ada link Download yg rusak/mati, mohon beritahu kami lewat komentar dibawah ini.
Title : Kitab Iqazh al-Himam BAB 1: Al-Ikhlas
Description : Al-Ikhlas الإخلاص ولما كان الإخلاص شرطًا في كل عمل ذكره بأثره فقال [الأعمال صور قائمة ، وأرواحها وجود سر الإخلاص فيها ] الأعمال هنا : عبار...